Kesulitan dan Kebahagiaan (1)

Semua orang yang memutuskan untuk hidup berkeluarga pasti 
mengangankan adanya kebahagiaan dalam hidup rumah tangganya, meski 
angan-angan tentang kebahagiaan juga berbeda-beda. Kebahagiaan sangat 
subyektip tetapi universal. Ada orang yang bahagia karena memperoleh 
sesuatu yang banyak, tetapi yang lain sudah cukup merasa bahagia 
meski hanya memperoleh sedikit. Ada orang yang merasa bahagia karena 
memperoleh susuatu tanpa bersusah payah, tetapi yang lain merasa 
bahagia justeru telah bersusah payah lebih dahulu. Kebahagiaan ada 
yang sifatnya sesaat, ada yang lama dan bahkan ada kebahagiaan abadi.

Makna bahagia
Ada dua ungkapan, senang dan bahagia. Senang adalah terpenuhinya 
tuntutan syahwat, misalnya sedang lapar menemukan makanan lezat, 
sedang haus menemukan minuman segar, sedang sulit menemukan 
kemudahan, sedang kesepian ketemu teman atau kekasih, sedang nganggur 
dapat pekerjaan dan sebangsanya. Adapun bahagia berhubungan dengan 
misteri yang sangat subyektip, tetapi intinya adalah datangnya 
pertolongan ilahiyah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai 
kebaikan ilahiyah (al khoir). Rasa bahagia misalnya terasa ketika 
anaknya lahir laki-laki setelah sekian lama mendambakan ingin 
mempunyai anak lelaki. Keberhasilan memeliliki anak-lelaki tidak 
diklaim sebagai prestasi – ini karena aku bisa bikinnya misalnya; 
kata sang ayah- tetapi orang yang mempunyai anak lelaki setelah 
hampir putus asa mendambakan kehadirannya merasa bahwa kehadiran anak 
lelaki itu merupakan anugerah Tuhan yang tak ternilai. Kebahagiaan 
juga terasa ketika seorang ibu yang membesarkan anak gadisnya tanpa 
kehadiran suami sehingga ia dalam keadaan berat selalu berharap agar 
anaknya memiliki masa depan yang baik. Pada saatnya anak gadisnya 
dipersunting oleh seorang pemuda saleh yang cerah masa depannya. Masa 
depan cerah anak gadisnya itu tidak diklaim sebagai prestasinya 
tetapi benar-benar dipandang sebagai anugerah Tuhan.

Jadi kebahagiaan itu datang dalam rangkaian kesulitan yang panjang 
tetapi ketika hadir tidak dakui sebagai prestasinya. Orang lainpun 
akan berkomentar, ibu itu sungguh sudah bekerja keras melampaui 
berbagai kesulitan dalam mengasuh anaknya sendirian, maka pantaslah 
jika Allah menganugerahinya kebahagiaan yang sempurna kepadanya.

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com


Kirim email ke