Kesulitan Dan Kebahagiaan (2) 

Dalam bahasa Arab ada empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, 
yaitu sa`adah (bahagia), falah (beruntung) dan najat (selamat) dan 
najah (berhasil). Jika saadah (bahagia) mengandung nuansa anugerah 
Tuhan setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan, maka falah 
mengandung arti menemukan apa yang dicari (idrak al bughyah). Falah 
ada dua macam, dunyawi dan ukhrawi. Falah duniawi adalah memperoleh 
kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa nikmat, yakni 
menemukan (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus, 
kebutuhan tercukupi terus dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki 
jauh melebihi dari yang dibutuhkan, dan (c) kehormatan sosial. 
Sedangkan falah ukhrawi terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian 
tanpa batas, (b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, (c) 
kehormatan tanpa ada unsur kehinaan dan (d) pengetahuan hingga tiada 
lagi yang tidak diketahui. Sedangkan najat merupakan kebahagiaan yang 
dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan, 
misalnya ketika menerima putusan bebas dari pidana, ketika mendapat 
grasi besar dari presiden, ketika ternyata seluruh keluarganya 
selamat dari gelombang tsunami dan sebagainya. Adapun najah adalah 
perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul, 
padahal ia sudah merasa pesimis, misalnya keluarga miskin yang 
sepuluh anaknya berhasil menjadi sarjana semua.

Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi 
horizontal dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi 
kesenangan yang diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian 
kebahagiaan yang dirasakannya. Air mata bahagia merupakan wujud 
ketidakmampuan kata-kata. Prof. Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman 
Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan kenapa beliau menangis di 
depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami berdimensi 
vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi. Banyak mempelai 
menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua orang 
tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya.

Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami. 
Kebahagiaan sesungguhynya dalam kehidupan rumah tangga bukan ketika 
akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu 
telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke 
pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang 
sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita ketika di ujung 
umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan hina, 
meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses story. 
Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan 
yang panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan 
yang sebenarnya.

Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah 
tangga; (1) isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3) 
lingkungan sosial yang sehat dan (4) rizkinya dekat. Kesetiaan 
membuat hati tenang dan bangga, anak-anak yang berbakti menjadikannya 
sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa 
khawatir dan rizki yang dekat merangsang optimisme, idealisme dan 
imajinasi.

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com


Kirim email ke