Dear Mas Budi

terima kasih atas pencerahannya
hal besar yang disampaikan dengan cara sederhana

I like it !
 
Thanks & Best Regards,
adjie
 
 



----- Original Message ----
From: Budi Setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 21, 2007 4:56:48 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Berpikir sirkuler lagi

Di milis psikologi, percikanku tentang berpikir
sirkuler mendapat tanggapan dari beberapa kawan. Jadi
menarik diskusinya.. .aku ikutan nimbrung lagi ah...dan
jadilah percikan ini.

Dalam metode penelitian kuantitatif (dan kebanyakan
cara pikir orang modern, kayak kita-kita kali ya..)
cenderung menggunakan berpikir linear, seperti jika a
maka b. Relasi antara dua hal (biasa disebut variabel)
dapat dipotret sebagai sebuah hubungan langsung antara
keduanya. Dengan asumsi ini, maka sangat mudah
menentukan penyebab dari sesuatu. Semisal, budi (nama
sebenarnya kok hehehe) tidak naik kelas karena dia
nakal di kelas (emang gitu...). Selesai urusan.
Kebanyakan dari kita akan berdamai dengan penjelasan,
nah itu buah dari kenakalannya.

Di perusahaan. Ketika turn over karyawan tinggi.
Ketika tingkat penjualan drop. Ketika kepuasan
karyawan turun. Seberapa jauh kita menyelusuri rantai
sebab akibat? Bagaimana kita peka terhadap relasi
antar subsistem dalam perusahaan yang memicu hal
tersebut?

Dalam berpikir sirkuler, kita harus terus melakukan
penggalian relasi sebab-akibat dalam sebuah sistem
(ingat senge berbicara tentang sistem). Simpelnya,
jika a maka b, jika b maka c, jika c maka d, jika d
maka a. Semisal, budi tidak naik kelas karena nakal,
budi nakal karena...bla. .bla Sehingga, kita bisa
melihat relasi keseluruhan elemen dalam sebuah sistem
(sistem sekolah, sistem keluarga dan yang lainnya)
secara menyeluruh.

Di dalam kelas saya paling suka mencontohkan bagaimana
relasi antara dosen dan mahasiswa yang saling membantu
dalam keburukan. Mahasiswa X (ini baru bukan nama
sebenarnyanya) bertanya pada seniornya tentang sebuah
kuliah yang akan diambilnya, semisal kuliah PIO. Ia
mempunyai image tertentu, semisal kelasnya
membosankan. Image ini bahwa sudah bekerja ketika
mahasiswa bangun tidur pada hari kuliah PIO, ia sudah
merasa rasa-rasen (males-malesan) . Ia datang ke kelas
mepet waktunya, bahkan terlambat. Ia sudah
mempersiapkan membawa segala peralatan agar tidak
merasa bosan. Di dalam kelas pun, ia sudah menunjukkan
sikap pasif. Di sisi lain, dosen masuk melihat
mahasiswanya bersikap pasif. Dosen berusaha untuk
memancing inisiatif tapi hasilnya nihil, malah kalah
melakukan tindakan yang aneh-aneh. Dosen pun mempunyai
image mahasiswa x itu kalau dikelas pasif dan aneh.

Lalu sang dosen berkumpul di ruang dosen ngobrol
ngrasani mahasiswa x. "wah mahasiswa x itu kalau di
kelas pasif dan aneh...bla.. .bla...bikin mangkel..."
Nah sudah, virus image negatif dah nyebar ke
dosen-dosen yang lain. Dosen yang lain ketika ngajar
mahasiswa x pun berpegang pada image negatif tersebut.
Memperlakukan mahasiswa x sebagai orang yang pasif dan
aneh. Mahasiswa x yang mulanya bersemangat, menjadi
down karena tidak pernah diperhatikan, dicuekin dan
mungkin juga dipermalukan. Nah mahasiswa x punya image
negatif terhadap sang dosen. Ketika kumpul di kantin
ngobrol dengan mahasiswa yang lain, ngerasani
dosennya. "wah kalau dosen itu payah...ngajarnya gak
enak bla.bla.." dan selanjutnya. ...menjadi sebuah
spiral, lingkaran setan.Kalau begini, mana yang sebab
mana yang akibat?

Di perusahaan. Saya kembali ke cerita tentang oli
tercecer. Waktu itu seorang manajer od mengajak
seorang konsultan mengunjungi pabriknya. Ketika
berkunjung, mereka menjumpai oli tercecer. Sang
manajer langsung memanggil seorang karyawan dan
berniat untuk menyuruh membersihkan ceceran oli
itu.Tapi sang konsultan mencegahnya, "tanyakan apa
yang membuat oli itu tercecer?". Sang manajer
mengajukan pertanyaan itu kepada sang karyawan.
"Olinya berasal dari mesin itu Pak", jawab sang
karyawan.Sambil manggut-manggut sang manajer
mendengarkan dan kemudian akan menyuruh. Tapi sang
konsultan mencegahnya, "tanyakan kenapa mesin itu
mengeluarkan oli?. Sang manajer menanyakan dan
mendapatkan jawaban, " karena saringannya bocor pak".
Sambil manggut-manggut puas, manajer mendengar lalu
menyuruh. Tapi sang konsultan mencegahnya, "tanyakan
kenapa saringannya bocor?". Sang manajer bertanya.
Sang karyawan menjawab, "Kualitas saringannya buruk,
lebih buruk dari yang dulu". Dan terulang kembali.
Sang konsultan berbisik, "kenapa kualitas saringannya
buruk?". Dan jawabannya, "waduh pak...saya kurang
tahu..bukan bagian saya". Kemudian, sang karyawan
membersihkan ceceran oli. Manajer dan konsultan
kembali ke kantor. Manajer kemudian bertanya kepada
manajer pengadaan, "apa yang membuat perusahaan kita
membeli saringan dengan kualitas buruk?". Dan tahukah
apa jawabannya? "Setahun yang lalu direksi kan
menetapkan kebijakan efisiensi. Sehingga, kami harus
mencari barang yang lebih murah, dan kualitasnya pun
tidak sebaik dulu," ujar manajer pengadaan.

Wah panjang juga ya perjalanan ceceran oli itu.
Ceceran oli bermula dari sebuah kebijakan setahun yang
lalu. Bagaimana dengan perusahaan kita? Tekun
menyelusuri relasi sebab akibat? Atau menyalahkan
karyawan/operator? Sepertinya lebih mudah menyalahkan
karyawan deh.....

Lalu, apa manfaatnya berpikir sirkuler?

____________ _________ _________ _________ _________ ________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo. com/



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke