Rakyat Indonesia Menyukai PEMIMPIN JAHAT

SEBAGAI negara dan bangsa yang telah 62 tahun merdeka, rakyat dalam semua 
lapisan , kecuali di lingkungan pejabat dan penjahat negara terus menerus 
mengeluh dengan berbagai macam penderitaan, kemiskinan, kebodohan, penyakit, 
pengangguran, kriminalitas yang semakin bringas dan biadab membuat kita harus 
bertanya, mengapa semua ini menimpa negeri kita?
 
 Siapa biang kerok yang menangung kesalahan fatal ini? Apa sebabnya begitu lama 
bangsa ini dirundung kemurungan dan kenistaan, padahal kita mengaku sebagai 
bangsa religius, beradab, berhati lembut, dan berjiwa santun? Menguap ke 
manakah sifat-sifat baik dari bangsa ini, sehingga kini hanya menyisakan 
moralitas tercela dan rendah? Apakah pengakuan bahwa bangsa ini religius, 
berhati lembut dan berjiwa santun sekadar lip service dan propaganda palsu, 
ataukah fakta sejarahnya memang demikian? :foto

 Agaknya kita harus berani mengkritik diri sendiri dan membongkar topeng-topeng 
palsu bangsa kita dengan menengok sejarah masa lalu kita. Dari situ kita 
memulai untuk bercermin diri, untuk mengetahui dengan yakin apakah kita ini 
bangsa yang bobrok atau bangsa yang baik?
 
 Menyukai Pemimpin Jahat
 Bahwa Indonesia adalah bangsa yang bobrok, rusak moral, dan kacau fikirannya, 
sudah banyak contohnya. Selama ini, belum pernah Indonesia dinilai positif oleh 
dunia internasional, dan belum pernah rakyatnya merasakan kebaikan para 
pemimpin negaranya.
 
 Di zaman orde lama, selama 22 tahun dipimpin Soekarno, Indonesia dikenal 
sebagai bangsa tempe, melarat, kemiskinan merajalela. Selama 32 tahun dipimpin 
Soeharto, rezim orde baru dikenal sebagai negara pelanggar HAM parah, sementara 
warisan hutang luar negeri bejibun, dan menjadi beban rakyat Indonesia. Setelah 
Orla dan Orba berlalu, negeri kita belum juga naik peringkat, malah lebih 
terpuruk dari sebelumnya.
 
 Sejak BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono 
yang terkenal dengan slogan “bersama kita bisa”, berturut-turut Indonesia 
menduduki posisi teratas dalam hal jeleknya. Sebagai negara terkorup se Asia, 
produsen ekstasi terbesar di dunia, paling akrab dengan bencana, paling miskin 
rakyatnya, paling banyak hutang luar negerinya. Selain itu, negeri kita juga 
dikenal sebagai negara teroris, maju dibidang pornografi dan pornoaksi, dan 
yang paling parah negara pengekor asing paling setia.
 
 Kondisi Indonesia yang kian carut-marut hampir dalam segala kehidupan, 
membenarkan adagium (anggapan), bahwa munculnya pemimpin jahat datang dari 
masyarakat yang rusak. Dan kerusakan di masyarakat, disebabkan berkuasanya 
pemimpin jahat, koruptor, perusak moral, mmengejar hawa nafsu, bohong kepada 
masyarakat. Pemimpin jahat biasa memanipulasi kepentingan pribadi dan partainya 
menjadi kepentingan negara dan masyarakat.
 
 Firman Allah: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami 
perintahkan kepada mutrafin (orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) supaya 
mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka 
sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami 
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra’ : 16).
 
 Kepemimpinan mutrafin artinya serakah cirinya ada tiga: Hedonis; Menuntut 
rakyat memenuhi kepentingannya tetapi dia tidak bisa memenuhi kebutuhan 
rakyatnya; Tidak peduli dan tidak berpihak kepada rakyat miskin dengan berbagai 
aturan yang dibuat. Semua kebijakannya hanya menguntungkan kepentingan hidupnya 
sendiri. Adanya pengaruh-pengaruh merusak dari tiga kelompok kekuatan di tengah 
masyarakat akan berdampak lahirnya pemimpin-pemimpin yang buruk manajemennya, 
rusak moralnya dan berhati serigala dalam menghadapi kelompok masyarakat yang 
lemah.
 
 Contoh, import barang mewah, mobil mewah, mendirikan rumahsakit mewah, 
industrialisasi, eksploitasi hutan dan tambang, nasionalisasi kebutuhan pokok 
masyarakat yang tidak memihak kepada rakyat luas. Jalan raya yang dibutuhkan 
rakyat tidak diurus, keretaapi tidak diurus, namun ketika anggota DPR butuh 
laptop malah dibiayai oleh uang negara. Kasus Lumpur Lapindo terkatung-katung, 
hak-hak tanah masyarakat dikalahkan oleh kepentingan penguasa untuk airport, 
mall, pabrik dan sebagainya. Rakyat dihargai hak-haknya setelah melawan, 
seperti yang dilakukan Aceh (GAM dan NII Daud Beureuh).
 
 Mengapa rakyat Indonesia menolak pemimpin yang baik? Karena mental rakyat 
Indonesia adalah mental aji mumpung. Menderita sekian lama dapat kesenangan 
sedikit sudah lupa, tidak tahu diuntung. Dalam praktik demokrasi, pemimpin 
terpilih menunjukkan kualitas rakyat.
 
  Menolak Pemimpin Baik
 Sebagai bangsa yang baik, agak sulit bagi kita untuk menemukan faktanya. 
Mencari pejabat yang jujur dan bertanggung jawab saja, betapa sulitnya. 
Saat-saat menghadapi ujian nasional tahun ini, masyarakat disuguhi kenyataan 
memalukan: ujian nasional diawasi aparat kepolisian, dan soal ujian sebelum 
dibagikan pada hari-H disimpan untuk diamankan di lemari polisi. Kejujuran 
telah menjadi barang mewah dan langka di negeri ini. Belum lagi, kasus 
pencucian uang haram, yang merebak dan seakan menjadi zona aman bagi penjahat, 
termasuk pedagang narkoba.
 
 Dalam kasus IPDN, orang baik-baik seperti Inu Kencana misalnya, dibenci oleh 
almamaternya sendiri. Sementara para pembunuh, pejabat jahat, diberi naik 
pangkat. Untuk itu marilah kita lihat respon masyarakat kita terhadap 
kepemimpinan yang baik sepanjang Indonesia menjadi negeri merdeka. Dengan 
fakta-fakta sejarah ini, semoga negara dan bangsa ini tahu diri dan bercermin 
pada masa lalunya. Fakta-fakta sejarah justru bericara kepada kita bahwa 
masyarakat Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga hari ini menolak dipimpin 
orang-orang yang baik.
 
 Dalam sejarah Indonesia merdeka, sebenarnya tidak sepi sama sekali dari 
pemimpin yang baik, memperhatikan kepentingan rakyat, dan membangun negara yang 
berdaulat penuh.
 
 
   Mr. Assaat (18 September 1904 – 16 Juni 1976) adalah tokoh pejuang 
Indonesia, pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan 
RI di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). 
Selama dua tahun kekuasaannya, Mr. Assaat membuat program pemerintahan yang 
relevan saat itu, dan mencerminkan pembelaan kepada rakyat kecil yang baru saja 
lepas dari penjajah Belanda. Di antara program pemerintahannya adalah: Bisnis 
asing (Cina) tidak boleh masuk di Kabupaten ke bawah, kecuali hanya boleh di 
tingkat propinsi saja. Hal ini berkaitan dengan jaringan bisnis Cina yang 
menjadi tulang punggung PKI kala itu. Namun kebijakan Assaat ini dijegal di 
Parlemen, sehingga masa pemerintahannya tidak bisa bertahan dan kemudian 
dijatuhkan.


   Mohammad Natsir (Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – Jakarta, 6 
Februari 1993) adalah pemimpin Masyumi dan salah seorang tokoh politik dan 
tokoh Islam di Indonesia. Pada 5 September 1950 hingga 26 April 1951 Natsir 
dipilih menjadi Perdana Menteri RI. Hanya dalam waktu tidak lebih 8 bulan saja 
bertugas memimpin negara, Natsir berhasil menyatukan Indonesia yang saat itu 
terbagi dalam negara-negara bagian, sehingga dia ditunjuk menjadi Perdana 
Menteri, kemudian mengambil langkah penyelesaian damai dengan para pejuang Aceh 
di bawah kepemimpinan Daud Beureueh. Tetapi langkah ini ditorpedo oleh Soekarno 
(PNI dan PKI) dan menimbulkan konflik berkepanjangan di Aceh yang membuat 
rakyat Aceh terlambat menikmati masa-masa kemerdekaan.


   Kabinet Burhanuddin Harahap, bertugas pada periode 12 Agustus 1955 – 24 
Maret 1956. Kabinet ini demosioner paad 1 Maret 1956 seiring dengan 
diumumkannya hasil pemilihan umum pertama Indonesia. Tidak sampai dua tahun 
menjadi PM atas rekomendasi wakil presiden Moh. Hatta, dia berhasil menciptakan 
reputasi spektakuler dalam menyelesaikan problem bangsa. Program 
pemerintahannya: satu, menurunkan harga kebutuhan pokok; dua, melunasi hutang 
luar negeri; dan tiga, mengadakan pemilu pertama yang demokratis. Sayangnya 
setelah pemilu yang paling jurdil terselenggara justru Sekarno (PNI dan PKI) 
memprovokasi rakyat untuk menggembosi partai Masyumi, sehingga PNI dan PKI 
memperoleh suara lebih banyak dari Masyumi dan NU. Akhirnya mandat Burhanuddin 
sebagai PM tidak dapat dipertahankan. Ia digantikan, justru dari PKI, yang 
terkenal dengan Perdana Menteri Asu (Ali Surahman). Indonesia kian terpuruk, 
secara ekonomi dan politik. Konflik daerah kian berkecamuk.


   Kabinet Djuanda, disebut juga Kabinet Karya, memerintah pada periode 9 April 
1957 – 10 Juli 1959. PM Djuanda yang dalam programnya menanggulangi 
pemberontakan daerah dan membenahi penyalahgunaan birokrasi oleh PNI dan PKI, 
tetapi gagal karena dihadang oleh PNI dan PKI dengan dukungan Soekarno.


   Di masa reformasi, sebenarnya kita optimis akan dipimpin orang baik. 
Baharuddin Jusuf Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia 
menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 
21 Mei 1998. Namun jabatannya tidak bertahan lama, digantikan oleh Abdurrahman 
Wahid (Gus Dur) yang terpilih pada 20 Oktober 1999 oleh suara MPR dari hasil 
Pemilu 1999. Dengan 373 suara MPR, Gus Dur mengalahkan calon presiden Megawati 
Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara.
 
 Di antara keberhasilan Habibie yang menjabat presiden hanya setahun lebih tiga 
bulan, berhasil membuka kran hak rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan 
kekuasaan politik, membebaskan tahanan-tahanan politik, mengendalikan moneter 
sehingga rupiah menguat dan menciptakan jaring pengaman sosial (JPS) serta 
menyelenggarakan pemilu ke-2 yang paling demokratis. Tetapi Habibie dijegal 
oleh PDIP dan kaum oportunis politik yang merasa mampu memimpin negara, tetapi 
realitanya hanya menciptakan kemiskinan dan kekacauan di tengah rakyat, 
akhirnya Habibie harus turun tahta walaupun dengan hati yang berat.


 
 Di negeri ini terbukti kepemimpinan orang baik tidak pernah bertahan lama. 
Sekalipun nama-nama pemimpin yang kita sebutkan di atas bukanlah pemimpin ideal 
yang dikehendaki Islam, namun mereka muncul di tengah kegalauan politik yang 
menyengsarakan rakyat. Mereka orang-orang terbaik di antara yang paling jelek.
 
 Sementara itu, orang-orang jahat, koruptor, bertahan hingga puluhan tahun. 
Soekarno berkuasa lebih dari 22 tahun, dan Soeharto yang korup berkuasa selama 
32 tahun. Kenyataan demikian bisa disaksikan dalam pemilihan Pilkada yang 
sekarang berlangsung di berbagai daerah dan provinsi. Mulai dari 
Cawagub-cawagub, bupati dan calon bupati hingga terpilih, yang muncul hampir 
semuanya tidak terbebas dari pekat. Ada yang kedapatan mengisap sabu-sabu, 
berjudi, bahkan sedang berbuat mesum.
 
 Dalam praktik demokrasi, pemimpin terpilih menunjukkan kondisi dan kualitas 
rakyat pemilih. Maka, benarlah sabda Rasululah SAW dalam sebuah hadits riwayat 
Al-Baihaqi dari Ibnu Shihab: “Sebagaimana keberadaan kamu, maka begitulah 
munculnya pemimpin-pemimpin di tengah-tengah kamu.”
 
  Kepemimpinan Syar’i
 Proses memperbaiki masyarakat, sekaligus dalam memperbaiki kepemimpinan dalam 
masyarakat diajarkan dalam Al-Qur’an. Mengangkat para Rasul atau nabi untuk 
menjadi pemimpin di tengah masyarakat, sebagaimana Allah sebutkan dalam QS 
As-Sajdah ayat 24 yang artinya: “Dan Kami angkat di antara mereka 
pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan Syari’at Kami ketika mereka 
menerimanya dengan kesabaran dan mereka beriman kepada ayat-ayat Kami.”
 
 Petunjuk Al-Qur’an di atas menjelaskan proses munculnya pemimpin yang baik di 
tengah masyarakat. Yaitu, bilamana masyarakat beriman kepada ayat-ayat Allah, 
kemudian bersabar serta konsisten menjalankan syari’at-Nya sebagai pedoman 
hidup, walaupun menghadapi tantangan hidup yang berat. Sebaliknya, bila 
masyarakat condong pada perbuatan maksiat, melecehkan agama Allah, mengumbar 
kebringasan hawa nafsu, dan menjadikan kaum perempuan sebagai komoditas seni, 
budaya, dan politik untuk memperdayakan masyarakat, maka tentulah memberi 
peluang besar munculnya para pemimpin yang bermoral rusak, berpikrian 
materialistis, bermental hedonis, dan berprilaku feodalis kolonialis.
 
 Berkuasanya pemimpin demikian, pasti mengundang bencana bagi masyarakat di 
belahan bumi mana pun mereka berada. “Ketika para pemimpin kamu adalah 
orang-orang baik di antara kamu, dan orang kaya kamu adalah orang-orang 
dermawan di antara kamu dan urusan kamu diselesaikan secara musyawarah, maka 
berada di muka bumi lebih baik bagi kamu daripada di liang kubur. Tetapi bila 
pemimpin-pemimpin kamu orang yang jahat di antara kamu dan orang-orang kaya 
kamu adalah orang-orang yang bersifat kikir di kalangan kamu dan persoalan kamu 
tergantung penyelesaiannya kepada kaum perempuan kamu. Maka liang kubur lebih 
baik bagi kamu daripada tinggal di permukaan bumi.” (HR Turmudzi).
 
 Hadits di atas menggambarkan, bahwa munculnya pemimpin jahat akibat adanya 
kerusakan di tengah masyarakat, terutama disebabkan kerusakan yang terjadi 
sebelumnya. Fakta semacam ini ratusan kali terjadi di belahan dunia sejak 
ribuan tahun yang lalu sebagaimana dapat kita baca dalam sejarah.
 
 Dalam urusan pemimpin, Islam tidak main-main. Seorang dapat dipilih sebagai 
pemimpin negara, setidaknya memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
 
   Orang yang paling mengerti Al-Qur’an dan Sunnah.

   Paling baik akhlaknya di antara umat.

   Mengerti kepentingan umat dan mampu menyelesaikannya.

   Sabar menghadapi segala macam problema umat dan paling bijaksana untuk 
menetapkan kebijakan.

   Mengerti karakter musuh-musuh umat sehingga dapat mempertahankan keutuhan 
umat.

   Sederhana di dalam kehidupannya, sehingga tidak membebani rakyat dengan 
berbagai belanja negara yang bersifat pemborosan dan mewah.




 Open New Window : http://swaramuslim.com/galery/sejarah/index.php?page=makam_PM
 Oleh : Redaksi,  
http://swaramuslim.com/more.php?id=5584_0_15_0_M
Risalah Mujahidin Edisi 8 Th I Rabiul Akhir 1428 H / Mei 2007, hal. 11-16


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke