Psikologi Interpelasi Nuklir Iran (1)

Hiruk pikuk politik diseputar interpelasi DPR atas dukungan Indonesia 
terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB sungguh sangat ramai, dari yang 
pro maupun yang kontra, dari yang memandang substansi interpelasi; 
yang menunggu jawaban Pemerintah maupun yang mengejar-ngejar tubuh 
Presiden SBY supaya hadir di Senayan.

Sesungguhnya dukungan RI kepada resolusi Dewan Keamanan PBB yang 
menjatuhkan sanksi kepada Iran adalah memang tidak pada tempatnya –
untuk tidak mengatakan kesalahan fatal. Tetapi lolosnya dukungan RI 
sesungguhnya lebih disebabkan karena kelemahan strategi diplomasi 
dubes RI di PBB yang bertentangan dengan arah diplomasi yang selama 
ini justeru dibangun Presiden SBY untuk membela hak-hak Iran. 
Mestinya dari awal , diplomasi dubes PBB adalah menolak resolusi, 
nanti endingnya adalah abstain. Karena dubes RI menjalankan langkah 
diplomasi dengan mengusulkan perubahan redaksi dengan semangat 
menyodorkan usulan agar  Timur Tengah dijadikan sebagai daerah bebas 
nuklir, maka ketika redaksi itu diterima konsekwensinya Indonesia 
harus mendukung Resolusi itu, padahal gagasan pembebasan Timur Tengah 
dari Nuklir pasti hanya akan mengenai Iran yang baru memulia era 
nuklir-itupun untuk damai (listrik)-, sebab Israel yang sudah punya 
lebih dari 200 hulu ledak nuklir tidak akan tersentuh oleh eksekusi 
karena dibela mati-matian oleh Amerika. Sudah banyak sekali resolusi 
PBB tentang Israel yang tidak pernah bisa dieksekusi karena factor 
Amerika.

Keputusan mendukung Resolusi Dewan Keamaan PBB bukan saja mengejutkan 
Iran, tetapi juga mengejutkan rakyat Indonesia. Bukan hanya politisi 
di parlemen yang protes, tapi ormas NU dan Muhammadiyah pun kompak.  
Apa boleh buat, kelemahan diplomasi dubes RI di PBB harus dipikul 
oleh Presiden. Jika Pakistan berdiplomasi tentang al Qaidah dan 
Taliban langsung dapat uang tunai dari Bush, Indonesia tidak 
memperoleh apa-apa dari Amerika, buktinya kasus penembakan oleh 
Marinir di Jawa Timur pun langsung menggerakkan Amerika untuk kembali 
mengembargo Indonesia. Dukunganj Indonesia terhadap resolusi PBB 
hanya menyenangkan Amerika, sebaliknya membuat sakit Iran, membuat 
kehilangan kesempatan dihormati oleh Negara-negara OKI, plus caci 
maki dari rakyat sendiri.

Tetapi, apakah Presiden SBY harus hadir sendiri ke DPR menjawab 
interpelasi DPR ? Dari interpelasi yang telah lalu, tentang flu 
burung maupun tentang Bulog, Presiden cukup mengutus menterinya untuk 
hadir ke DPR, nggak ada yang memasalahkan.  Memang dulu Presiden Gus 
Dur selalu datang sendiri, tetapi kan sudah ketahuan, berbuntut 
politiking yang melengserkan Gus Dur, padahal secara substansial Gus 
Dur tidak bersalah. Oleh karena itu  sudah tepat SBY tidak perlu 
hadis sendiri ke DPR, cukup mengirimkan pembantunya untuk membacakan 
jawaban presiden, seperti yang sudah sudah. Tidak hadir diributkan, 
hadirpun tidak menjamin tidak diributkan, karena politisi DPR memang 
sedang mengidap kegenitan politik. 

Tetapi mubazirkah interpelasi DPR? tidak!. Interpelasi kasus nuklir 
Iran oleh DPR sangat diperlukan dalam pembelajaran politik luar 
negeri Indonesia. Selama ini ada konsep diri kebangsasan yang keliru, 
yakni konsep diri  negatip. Bangsa yang begini besar, tetapi merasa 
dirinya kecil, menyetarakan dirinya dengan Qatar yang sebesar 
kecamatan atau kawedanan di Indonesia, padahal di Amerika Latin 
muncul Morales dan Gonzales yang punya konsep diri positip sehingga 
meski negaranya kecil tetapi dengan berani menatap keatas melawan 
hegemoni Amerika Serikat  Mahatir (Malaysia) saja vocal menentang 
pasar global, masa Indonesia sebagai pasar terbesar tidak berani 
meski hanya vokal,   Dalam sejarah,  Amerika tak pernah benar-benar 
membantu negeri berkembang untuk maju, oleh karena itu "pelacuran" 
politik dengan Amerika tak pernah menguntungkan.

Wassalam,
agussyafii

===============================================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui 
http://mubarok-institute.blogspot.com, [EMAIL PROTECTED]
===============================================================


Kirim email ke