ini saya forward dari milis sebelah

Bila anda prihatin dengan isi tayangan televisi, maka ikut gerakan : 

 

 "HARI TANPA TV 2007" 

 

Minggu, 22 Juli 2007 Berapa jam anak menonton televisi ?

 

 Rata-rata anak Indonesia, menonton TV jauh lebih lama dibanding dengan

 jam belajar mereka di sekolah. Mereka menghabiskan sekitar 1.600 jam

 untuk menonton TV, dan hanya sekitar 740 jam untuk belajar di sekolah.

 Perhitungan ini didasarkan pada hasil penelitian YPMA tahun 2006

 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Jakarta-Bandung yang mendapati

 angka sekiar 30-35 jam seminggu, atau 4,5 jam dalam sehari sehingga dalam

 setahun mencapai kurang lebih 

1.600 jam.  

 

Sementara jumlah hari sekolah yang hanya sekitar 185 hari dalam setahun

 dengan 5 jam perhari untuk kelas tinggi dan 3 jam untuk kelas rendah,

 menghasilkan angkat rata-rata anak belajar di sekolah dalam setahun

 hanya 740 jam. Selain menonton televisi, anak-anak juga mengkonsumsi jenis

 media yang lain seperti video game,

  komik, internet, dan lain-lain sehingga total waktu yang digunakan

 untuk mengkonsumsi media diperkirakan hampir 2.500 jam atau sekitar 7 jam

  dalam sehari. Dari semua media yang diakses oleh anak-anak, 

televisi adalah media yang paling dominan dan paling berpengaruh.

 Contoh nyatanya adalah jatuhnya 2 anak korban meninggal dan puluhan lainnya

 luka dan cacat akibat  menirukan adegan dalam tayangan TV Smackdown.

 Namun sayangnya dalam interaksi antara anak dengan televisi ini, ada 

beberapa kondisi yang sangat merugikan  anak : Ø

 

      Belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat.

 

 Menonton TV yang sehat, setidaknya mencakup 2 hal yakni memperhatikan

 isi acara yang ditonton yang harus sesuai dengan usia anak, dan kapan

 waktu menonton serta lamanya menonton yang semestinya tidak lebih dari 2

 jam sehari. Di sekolah, anak-anak tidak mendapatkan pendidikan media

 atau 

Media Education yang sangat penting bagi mereka dalam menghadapi

  perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Kebiasaan menonton televisi

 orangtua yang takut kehilangan episode sinetron, juga sangat

 mempengaruhi pola kebiasaan anak.

 

Ø

 

      Isi acara TV yang lebih banyak tidak aman untuk anak.

 

 Pengelola televisi pada umumnya tidak memperhatikan kepentingan dan

 perlindungan terhadap anak dan remaja. 

 

Dalam kaitan ini, kondisi pertelevisian kita saat ini sungguh-sungguh

 sangat mengkhawatirkan.  

 

 

Ø

 

      Tidak adanya peraturan mengenai 'jam anak'

 

 dan acara yang dapat ditayangkan oleh stasiun televisi pada saat anak

 biasa menonton TV (pagi - siang - sore hari). Harus dilakukan upaya

 untuk menekan kondisi-kondisi yang merugikan anak tersebut. Salah satunya

 adalah dengan membangun dan mengembangkan sikap kritis dalam

 mengkonsumsi siaran televisi, agar dampak negatif menonton televisi dapat 
ditekan

 serendah mungkin. Selain itu, perlu dilakukan upaya untuk menekan dan

 mempengaruhi industri penyiaran agar lebih memperhatikan isi tayangan

 dan pola penyiaran yang memperlihatkan adanya perlindungan terhadap

 anak. 

 Sebagai salah satu bentuk keprihatinan kami terhadap situasi tersebut,

 maka Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) bekerja sama dengan Yayasan

 Pengembangan Media Anak (YPMA) bermaksud menyelenggarakan kegiatan yang

 kami beri nama Hari Tanpa TV 2007 (HTTV 2007), dengan rangkaian acara

 sebagai berikut : 

 

Hari / Tgl

     Acara

     Tempat & Waktu 

     Bentuk Kegiatan

     

      Rabu, 18 Juli '07 

     Konfrensi Pers

     - Pasca Sarjana Komunikasi Universitas Indonesia, Gd. IASPH Lt.6,

 Salemba-Jak Pus

- Pkl. 14.00 WIB

     Sosialisasi Acara HTTV dengan pembicara : 

 

      - Nina Armando (YPMA)

 

      - Elly Risman (YKBH)

 

      - Shahnaz Haque

     

      Jum'at, 

 

      20 Juli '07

     Aksi Damai Hari Tanpa Tv

     - Bunderan HI

      - Pkl. 09.00 WIB

     Penyebaran leaflet, flyer, stiker dan media lainnya kepada para

 pengguna jalan 

     

      Minggu, 22 Juli '07

     Hari Tanpa TV 

     - Rumah masing-masing

 

      - Sepanjang hari 

     Acara keluarga tanpa menonton TV

     

Melalui kegiatan "HARI TANPA TV" ini, sejumlah LSM, sekolah, individu

 dan berbagai unsur lainnya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat

 yang prihatin dengan isi tayangan televisi yang tidak aman dan tidak

 sehat untuk anak, agar menyatakan keprihatinan tersebut dengan cara 

mematikan televisi selama sehari, pada hari Minggu 22 Juli 2007.

 Pemilihan hari  ini terkait dengan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh

 pada tanggal 23 Juli 2007. Ingat bahwa tekanan yang paling efektif bagi

 industri televisi adalah dengan bersama-sama tidak menonton TV sama

 sekali, atau secara selektif tidak menonton acara tertentu dalam jangka

 waktu yang panjang.

 Agar acara HTTV 2007 ini dapat tersosialisasikan kepada seluruh

 masyarakat, kami mengajak Anda atau organisasi Anda untuk turut mendukung dan

 berpartisipasi dalam acara tersebut. Dukungan dan partisipasi Anda

 dapat berupa keikutsertaan pada kegiatan yang akan kami laksanakan, atau

 melakukan bentuk kegiatan lainnya di lingkungan Anda. Kami mohon

 kesediaan Anda untuk menyampaikan kegiatan tersebut kepada kami, sehingga kami

 dapat menginformasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang

 luasnya sambutan acara ini. 

 

Informasi lebih lanjut dan pemberian dukungan kepada acara HTTV 2007

 ini, dapat dilayangkan ke : 

 

Ø       Yayasan Kita & Buah Hati (YKBH) : 

 

Telp.            :  (021) 8087 1763, (021) 9824 6539

 

Fax.            :  (021) 8087 1763

 

E-mail            :  [EMAIL PROTECTED]

 

 

 

Ø       Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) : 

 

Hp.            :  0813 1699 4405 ( Short Message Service / SMS )

 

Telp.            :  (021) 7088 4101 

 

Fax.            :  (021) 864 9102

 

E-mail            :  [EMAIL PROTECTED]

 

 

 

Kesediaan Anda untuk turut mendukung acara ini, sangat bermanfaat untuk

 melindungi generasi muda kita dari dampak negatif televisi. 

 

 Jakarta, 6 Juli 2007

 

 

Gerakan HARI TANPA TV 2007 

  B. Guntarto

 

Koordinator 
   var callCount = 0; function rmvScroll( msg ) {  if ( ++callCount > 10 ) { 
msg.style.visibility = "visible"; }    if ( callCount  msg.clientHeight ) {   
newHeight = msg.scrollHeight + delta;  }  delta = msg.offsetWidth - 
msg.clientWidth;  delta = ( isNaN( delta )? 1 : delta + 1 );  if ( 
msg.scrollWidth > msg.clientWidth ) {   newWidth = msg.scrollWidth + delta;  }  
msg.style.overflow = "visible";  msg.style.visibility = "visible";    if ( 
newWidth > 0 || newHeight > 0 ) {   var ssxyzzy = document.getElementById( 
"ssxyzzy" );   var cssAttribs = ['#' + msg.id + '{'];   if ( newWidth > 0 ) 
cssAttribs.push( 'width:' + newWidth + 'px;' );   if ( newHeight > 0 ) 
cssAttribs.push( ' height:' + newHeight + 'px;' );   cssAttribs.push( '}' );   
try {    ssxyzzy.sheet.deleteRule( 0 );    ssxyzzy.sheet.insertRule( 
cssAttribs.join(""), 0 );   } catch( e ){}  } } function imgsDone( msg ) // for 
Firefox, we need to scan for images that haven't set their width yet {  var 
imgList =
 msg.getElementsByTagName( "IMG" );  var len = ((imgList == null)? 0 : 
imgList.length);  for ( var i = 0; i  
     [input]  [input]  [input]  [input]  [input]  [input]  [input]  [input] 
    

       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke