Jumat, 06 Juni 2008  8:30:00

14 OKP: Jangan Ada Diskriminasi
<http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=336592&kat_id=3>

JAKARTA--Forum Umat Islam (FUI) menuntut pemerintah tak berlebihan merespons
insiden Monas, Ahad (1/6) lalu. Sikap berlebihan justru menciptakan
ketegangan dan menambah provokasi terjadinya adu domba.

''Saya tidak tahu siapa yang mengadu domba, tapi adu dombanya sudah terjadi
di mana-mana,'' kata penasihat FUI, Ahmad Sumargono, dalam jumpa pers di
Jakarta, Kamis (5/6).

Pemerintah juga diminta adil dan tidak diskriminatif menangani kasus
tersebut. Pengerahan ratusan personel polisi bersenjata lengkap yang memburu
anggota Front Pembela Islam (FPI) dipertanyakan urgensinya. ''Padahal,
mereka bukan teroris,'' kecamnya.

Kelambanan pemerintah membubarkan Ahmadiyah justru menjadi pangkal masalah.
''Pemerintah berkali-kali janji (soal Ahmadiyah). Pemimpin yang memberi
pernyataan dan tak mewujudkan, bagaimana bisa dipercaya?'' Bentuk sikap adil
pemerintah, kata KH Didin Hafidhuddin, semua pihak yang terlibat harus
diproses.

Di tempat terpisah, Forum Pemuda Mahasiswa Islam (FPMI) yang terdiri atas
berbagai elemen kepemudaan menyerukan umat tak terjebak adu domba. ''Insiden
Monas kental rekayasa intelijen asing yang sengaja menghendaki bentrokan
sosial antarumat Islam,'' kata Ketua PB HMI MPO, Syahrul Effendi Dasopang.

FPMI juga menolak pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan
melambungnya harga-harga menjadi isu konflik agama dan kekerasan. ''Kami
melihat adanya indikasi pengalihan isu,'' kata Ketua Gema Pembebasan, Elwin
El-Jundi.

''Kalau pemerintah sigap dan cepat mengambil keputusan soal Ahmadiyah,
insiden Monas tak akan terjadi,'' tambah Ketua Umum KAMMI, Taufiq Amrullah.

Usai menjenguk Ketua FPI Habib Rizieq Shihab, Ketua Umum DPP PPP Suryadharma
Ali mengatakan insiden Monas berpotensi menimbulkan konflik antarumat Islam.
Karenanya, pemerintah diminta mencermati akar masalahnya.

''Ahmadiyah adalah anak-anak bangsa dan saudara sebangsa juga, tapi mereka
tak bisa seenaknya,'' katanya. Kebebasan beragama dan penistaan agama adalah
dua hal berbeda.

Di Yogyakarta, mantan ketua MPR, Amien Rais, meminta masyarakat menahan
diri. Akar kerusuhan Monas, yaitu pro-kontra Ahmadiyah, adalah rekayasa
politik. ''Rezim yang gagal menyejahterakan rakyat, menambah pengangguran
dan kemiskinan, pasti akan mencari isu untuk mengalihkan perhatian rakyat.''

Mengenai SKB Ahmadiyah, Mensesneg, Hatta Rajasa, mengatakan prosesnya memang
butuh waktu lama, asalkan hasilnya menyejukkan. ''Kami ingin begitu keluar
SKB, kondisinya kondusif, suasana damai, tenang, dan tak ada permusuhan.''

Kemarin, *sweeping* anggota FPI oleh polisi masih berlanjut. Dengan
berkekuatan 480 personel gabungan Polda Metro Jaya, kata Waka Satreskrim
Polres Jakarta Barat, AKP Luthfie S, diamankan 20 anggota FPI yang masuk
daftar pencarian orang (DPO).

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Abubakar Nataprawira, mengungkapkan, dari 20
tersangka yang masuk DPO, tujuh anggota FPI telah ditahan, termasuk Habib
Rizieq. Lima pasal KUHP dijeratkan kepada Habib, yakni penghasutan,
pengeroyokan, penganiayaan, menyebar kebencian, dan menyembunyikan pelaku
tindak pidana.

Kuasa hukum dari Advokasi Anti-Ahmadiyah, Ari Yusuf Amir, mengatakan, Habib
Rizieq menolak menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) karena pasal
yang dijeratkan dianggap tak memenuhi unsur tuduhan. Polisi juga dinilai tak
adil karena tak memproses laporan FPI tentang 289 orang anggota AKKBB.
*ann/c64/hri/evy/djo/dwo/c54/c62/osa/yli/c63/san/kie/lis*

**

*Sumber : Republika*


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke