Catatan Reporter: hallo.. Ayin.....

[ Rabu, 18 Juni 2008 ]
Fenomena Ringtone ''Halo Ayin''
*SUNGGUH* tak terduga kreativitas masyarakat kita mengambil sudut pandang
lain dari ''sakit hati'' akibat korupsi. Terbongkarnya percakapan ''intim''
antara makelar kasus Arthalyta Suryani alias Ayin dan para pembesar
Kejaksaan Agung menginspirasi gerakan antikorupsi di Makassar untuk
menggunakannya sebagai *ringtone.* Ini jelas sebuah tanggapan kontemporer
yang menggemaskan. Ternyata, dalam kehebohan kasus korupsi ada aspek *
entertainment*-nya!

Reaksi ini mengingatkan kepada betapa penasarannya publik setelah beredar
video adegan porno antara pasangan selingkuh, baik itu pejabat maupun bukan
pejabat. Banyak yang ingin melihat. Maka, beredarlah gambar itu dari*handphone
* ke *handphone*. Bisa dimaklumi kalau video porno itu bikin penasaran.
Karena secara naluriah, manusia tertarik kepada hal-hal yang berbau skandal,
apalagi seks.

Ternyata, kini sekadar skandal percakapan antara pejabat dan orang yang
ditangkap KPK karena menyuap juga bisa terasa ''seksi''. Bisa saja
percakapan itu sangat menggemaskan. Mendengar betapa ''intimnya'' orang yang
dijuluki penegak hukum dengan makelar kasus pun cukup mengundang gairah
mendengarkan. Mungkin, mendengarkan percakapan itu banyak yang
geleng-geleng. Apalagi melihat penampilan Ayin yang selalu berdandan komplet
setiap sidang.

Fenomena* ringtone* ''Halo Ayin'' itu menunjukkan persoalan korupsi bangsa
ini ikut mewarnai budaya pop. Seperti diketahui, ciri-ciri budaya pop selalu
cepat berganti. Gampang bosan dan gampang berganti yang baru.
*Ringtone*''Halo Ayin'' juga akan berlalu. Jadi, kalau mantan JAM
Pidsus Kemas Yahya
Rahman protes dan menganggap pemakaian suaranya dan Ayin untuk
*ringtone *kurang
baik, tunggu saja orang bosan.

Namun, fenomena ketertarikan orang menjadikan percakapan telepon kasus
korupsi jelas berbeda dengan kegemaran orang memasang lagu Dewa atau Niji
sebagai *ringtone.* Kalau yang belakangan ini murni tren budaya pop.
Lagu-lagu anak muda itu dipasang karena memang enak didengar atau sedang
top. Ada perasaan ikut menikmati dan mengikuti perkembangan zaman.

Kalau kasus *ringtone* ''Halo Ayin'' itu jelas sebagai ekspresi sinisme dan
protes. Kalau biasanya pencipta *ringtone* bangga bila kreativitasnya
dipakai orang, kali ini ''produsennya'' justru merasa malu. Karena itu,
banyak yang berharap *ringtone* ini akan memberikan efek pencegah tindak
korupsi yang memalukan. Seperti dampak orang yang terekam video sedang
beradegan tak senonoh dengan pasangan selingkuh.

Kampanye semacam ini baik bagi masyarakat. Tetapi, jangan berharap, setelah
ini pejabat korup akan mudah menggunakan telepon. Mereka pasti berhati-hati.
Pengungkapan-pengungkapan hasil penyadapan oleh KPK itu jelas membuat jagat
para koruptor dan antek-anteknya akan lebih waspada. Mereka tak akan gampang
bertelepon, apalagi ber-SMS (ingat, kasus jaksa Burdju Roni dan Cecep
Sunarta yang terjerat SMS minta uang dalam kasus mantan Dirut Jamsostek).

Transaksi itu juga akan sulit dilacak lewat transfer bank. Koruptor akan
makin ''tunai banget''. Mereka tak mau transaksi yang tak *liquid*, misalnya
dengan permata.

Selain tak menggunakan telepon, mereka akan lebih berhati-hati dalam memilih
tempat transaksi. Kalau tempat-tempat di dalam negeri sudah ''tak aman'',
mereka bisa terbang sejenak ke negeri tetangga untuk bertransaksi. Bisa saja
itu di Singapura, Malaysia, atau negara yang tak terduga seperti Brunei.

Maka, untuk KPK pasanglah *ringtone*: Waspadalah, waspadalah...(*)

sumber : jawapos


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke