Catatan Reporter: nasip... Nasib.. jadi rakyat kecil.. semua harus nyicil

HARI BIDAN NASIONAL
Biaya Persalinan Rp 200.000 Pun Dicicil
     KOMPAS/LASTI KURNIA / Kompas Images <http://www.kompasimages.com/>
Bidan Ria Anugrah di luar jam kerjanya tetap siap memenuhi panggilan untuk
memeriksa pasien yang hamil, melahirkan, atau sakit ringan di Desa
Cikondang, Kecamatan Cisompet, Garut, Jawa Barat, Jumat (20/6). Untuk
mengirit ongkos, ia kerap berjalan kaki.
Selasa, 24 Juni 2008 | 03:00 WIB

Oleh *Evy Rachmati*

Hawa dingin menyelimuti kawasan Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, sekitar
75 kilometer arah selatan pusat kota Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu
(21/6) pagi. Kesibukan telah tampak di pondok bersalin desa atau polindes
yang dihuni Ria Anugerah (25).

Seusai berberes rumah, ia sibuk mengemasi peralatan medis di tempat
praktiknya yang mendompleng bangunan puskesmas pembantu. Stetoskop,
dopler—alat pendeteksi detak jantung janin—dan obat-obatan dimasukkan ke
dalam tas kerjanya. Sementara vaksin untuk imunisasi disimpan dalam termos
es.

Pagi itu, ibu dari satu anak tersebut hendak mengunjungi pos pelayanan
terpadu di desa yang berbatasan dengan wilayah tugasnya, menggantikan
temannya yang tengah cuti melahirkan.

Yusep Undang (28), suaminya yang berprofesi sebagai mantri di desa yang
sama, telah menanti di atas sepeda motor di depan pintu rumah.

Pasangan muda itu pun berboncengan menuju tempat pelaksanaan posyandu di
Kampung Leuwi Se'eng, Desa Jatisari, Kecamatan Cisompet, Garut.

Di lokasi posyandu, dengan telaten, Ria memeriksa kesehatan para ibu hamil
dan anak-anak di bawah usia lima tahun (balita). Ia juga melayani sejumlah
perempuan yang ingin menggunakan KB suntik. Sang suami pun ikut membantu
mengimunisasi dan memeriksa kesehatan anak balita.

*Medan sulit*

Bertugas di daerah terpencil sering kali menuntut para bidan harus menempuh
medan sulit dan berbahaya dalam memberi layanan persalinan. Saat berbadan
dua hingga menjelang melahirkan pun, banyak bidan masih menunaikan tugasnya.
Bahkan, ada bidan yang keguguran saat bertugas membantu persalinan.

Koordinator Bidan Kecamatan Cisompet Sundini menuturkan, pada tahun 1990-an
ia sering berjalan kaki beberapa jam naik-turun bukit dan melintasi sungai
menuju rumah pasien, termasuk ketika sedang hamil. Sebab, warga setempat
cenderung memilih melahirkan di rumah sendiri dengan alasan lebih nyaman
karena ditunggui keluarga.

Karena wilayah geografis luas dan sulit dijangkau, biaya operasional bidan
di daerah terpencil, terutama terkait transportasi pun membengkak. Untuk
menuju Kampung Hegar, Desa Cikondang, misalnya, ongkos ojek mencapai Rp
50.000 sekali jalan. Jadi, sering kali uang pengobatan dari pasien tidak
bisa menutup biaya operasional.

Saat ini, standar biaya persalinan normal yang ditangani bidan desa berkisar
Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Karena mayoritas warga setempat memiliki
kemampuan ekonomi menengah ke bawah, biaya persalinan itu kebanyakan
diangsur beberapa kali sesuai kemampuan keluarga bersangkutan. "Kadang,
warga tidak bayar. Kalaupun membayar, semampunya," tutur Ria.

Sebagai bidan desa, ia memperoleh gaji sekitar Rp 1 juta, sebagian habis
untuk biaya operasional. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia dan
suaminya berjualan pulsa telepon dan membuka usaha rental komputer di tempat
tinggal mereka yang berada di belakang puskesmas pembantu. "Kalau tak ada
penghasilan sampingan, gaji tak akan cukup," kata Yusep.

*Mengubah perilaku*

Bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak balita bagi
masyarakat pedesaan. "Banyak perempuan yang malu berobat ke mantri pria
waktu sakit. Mereka lebih suka diperiksa bidan," ujar Ria.

Meski keberadaannya sangat dibutuhkan, perhatian pemerintah terhadap nasib
para bidan masih minim. Hal ini bisa dilihat dari buruknya kondisi sejumlah
polindes hingga tak bisa ditempati bidan yang bertugas.

Bangunan polindes Cipucung, Kecamatan Banyuresmi, Garut, yang dihuni bidan
Nurzah Akmalia bersama keluarganya, misalnya, tampak reyot. Ruang praktik
bersalin berukuran 4 meter persegi dipakai bergantian dengan suaminya yang
jadi mantri desa.

Selain fasilitas fisik terbatas, para bidan desa juga memikul tanggung jawab
terhadap masalah angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Bidan
Leni Martini yang bertugas di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Garut,
mengaku sangat sedih tatkala ada seorang ibu di desa itu meninggal dunia
dalam proses persalinan yang ditangani paraji (dukun beranak).

Sulitnya mengubah perilaku kesehatan masyarakat dirasakan para bidan desa
terutama yang bertugas di daerah terpencil. Meski demikian, di tengah medan
yang sulit, para perempuan perkasa itu tetap mengabdikan diri demi
meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak balita.

sumber : kompas


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

ANDA INGIN BERUBAH ? 

Apakah Anda menderita fobia, insomnia, psikosomatis, mudah pusing, berdebar 
debar, sesak nafas, nyeri ulu hati, leher kaku, sakit mag, dsb. ? 

Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk, mania, kecanduan makan, kecanduan rokok, 
gangguan/penyimpangan seksual, tidur berlebihan, obsesif kompulsif, malas, 
menunda pekerjaan, lari dari masalah dsb. ? 

Apakah tiba tiba suka muncul perasaan negatif seperti gelisah, gampang marah, 
panik, gugup, bingung, lupa, sedih, sunyi dsb. yang semakin lama semakin buruk 
dan sulit dikendalikan ? 

Apakah Anda merasa semakin terpuruk dan berlarut larut, terperangkap dalam 
"penjara emosi" seperti : malu, fobia, cemas, stress, takut, malas,  depresi, 
rendah diri, rasa bersalah, rasa gagal dsb. ? 

Apakah Anda mulai merasa frustasi, lelah, tidak berdaya, paling bernasib buruk, 
sial dan sangat menderita ?

HUBUNGI KLINIK S.E.R.V.O, SEKARANG ! 

Hotline : (021) 554 6009, 5574 5555

http://klinikservo.wordpress.com/kesaksian/

-------------

Ingin dikusi bersama rekan milis Taman Bintang lainnya ? 
Invite [EMAIL PROTECTED] melalui Yahoo Messenger (YM) Anda 
http://messenger.yahoo.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke