19 Tanda Gagal Ramadhan

(dikutip dari Hidayatullah.com, 
blog.jashtis.org/tarbiyah/ )

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. 
Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini kiat-Kiat 
menghindarinya gagalnya Ramadhan

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. 
Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban, sebagaimana telah disunnahkan 
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, 
dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha berkata,

”Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan 
Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan 
Sya’ban.”

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan 
shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui 
kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.” (Maryam: 59)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=19&No=59#59

“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam 
shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)
http://ccc.1asphost.com/assalamquran/Alquran_Surah.asp?SuratKe=107&No=4#4

Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan 
shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya 
menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, 
shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak 
segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan 
sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali 
shalat fardhu di bulan lain.

Artikel:
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Wajib%20Sholat%20Berjamaah.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Peringatan%20Meninggalkan%20Shalat.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Keutamaan%20Shalat.asp

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada 
Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan 
perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. 
Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, 
sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah 
satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada 
makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan 
(Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia 
lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama 
kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur’an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan 
Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang 
maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.

“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi)
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan 
mengajarkannya“.(HR Bukhari)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin 
kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak 
berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan 
suci.

Al-Qur’an Online + (Murottal-Tafsir-Asbabun Nuzul)
http://ccc.1asphost.com/assalamquran/

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang 
yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang 
bisa menguasai diri ketika marah.”

Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah 
seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan 
membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka 
katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari 
Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah 
tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat 
bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu 
Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah 
supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa 
ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga 
dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” (Al Muhalla 
VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang 
hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: “Bicara dulu baru 
berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “…Barangsiapa 
menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan 
menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di 
bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya…” 
Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali 
cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti 
dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya 
Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda 
kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang 
menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya: ‘ Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’

Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka 
tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’

Allah berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu 
sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami 
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan 
kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang 
berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” 
(Al-Mu’minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan 
melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama 
Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani 
hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah 
memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci 
semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam 
yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam 
itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.” (HR Ahmad, Nasa’i, 
Baihaqi dari Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, 
perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang 
meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat 
mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, 
karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana 
dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya 
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. 
Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih 
menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang 
nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik 
dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama’ah.

Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain 
itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama 
manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang 
secara berjama’ah, yang saling menguatkan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam 
saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun 
kokoh.” (Ash-Shaf: 4)
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

Artikel tambahan:
http://ccc.1asphost.com/assalam/Gerakan%20Islam%20Wajib%20Bersatu.asp

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan 
merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa 
seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka 
yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat 
kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir 
berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan 
penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang 
kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi 
Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan 
kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang 
bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai 
pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan 
ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan 
menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan 
masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam 
kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta 
jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera 
instrospeksi.
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Surah.asp?SuratKe=107&No=1#1

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri 
puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar 
dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. 
Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan 
muhasabah (introspeksi) diri.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri 
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah 
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
(Al-Hasyr: 18 )

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah 
Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat 
genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. 
Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan 
kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa 
seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun 
kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari 
“penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan 
meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, 
syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri 
seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran 
khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada 
puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.

(dikutip dari Hidayatullah.com, 
blog.jashtis.org/tarbiyah/ )





      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

ANDA INGIN BERUBAH ? 

Apakah Anda menderita fobia, insomnia, psikosomatis, mudah pusing, berdebar 
debar, sesak nafas, nyeri ulu hati, leher kaku, sakit mag, dsb. ? 

Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk, mania, kecanduan makan, kecanduan rokok, 
gangguan/penyimpangan seksual, tidur berlebihan, obsesif kompulsif, malas, 
menunda pekerjaan, lari dari masalah dsb. ? 

Apakah tiba tiba suka muncul perasaan negatif seperti gelisah, gampang marah, 
panik, gugup, bingung, lupa, sedih, sunyi dsb. yang semakin lama semakin buruk 
dan sulit dikendalikan ? 

Apakah Anda merasa semakin terpuruk dan berlarut larut, terperangkap dalam 
"penjara emosi" seperti : malu, fobia, cemas, stress, takut, malas,  depresi, 
rendah diri, rasa bersalah, rasa gagal dsb. ? 

Apakah Anda mulai merasa frustasi, lelah, tidak berdaya, paling bernasib buruk, 
sial dan sangat menderita ?

HUBUNGI KLINIK S.E.R.V.O : 

Hotline : (021) 554 6009, 5574 5555

http://klinikservo.wordpress.com/kesaksian/

-------------

Ingin dikusi bersama rekan milis Taman Bintang lainnya ? 
Invite [EMAIL PROTECTED] melalui Yahoo Messenger (YM) Anda 
http://messenger.yahoo.com/

-------------

Apakah Anda atau Anggota Keluarga Anda mengalami FOBIA terhadap subjek yang 
“nyata” seperti fobia Karet Gelang, Bulu Ayam, Pisang, Pepaya, Bawang Putih, 
Putih Telur, Susu, Kucing dsb.

Dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 63, Klinik SERVO mengadakan TERAPI 
GRATIS, hanya bagi pendaftar pertama untuk masing masing subjek Fobia yang 
“nyata” tsb.

Terapi Gratis berlaku sampai dengan tanggal 15 Agustus 2008.

Silahkan hubungi Klinik SERVO di (021) 5574 5555 atau (021) 554 6009 dengan 
Isywara Mahendratto.

http://klinikservo.wordpress.com/alamat-praktek/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke