Nrimo (Menerima seadanya) Mbah Trimo dan Kamisah http://pondokyatim.multiply.com/journal/item/86/Nrimo_Menerima_seadanya_Mbah_Trimo_dan_Kamisah
<http://pondokyatim.multiply.com/photos/hi-res/86/3> Pengurus Pondok Yatim, berkesempatan silaturrahim ke keluarga mbahnya santri-Isah. Dengan naik motor kami cari rumah mbah Trimo. Selang beberapa waktu muter-muter akhirnya dengan bantuan warga kami temukan juga. Mbah Trimo & suaminya saat itu sedang duduk-duduk dan mbah putri sedang siap-siap masak dengan dapur yang sudah sangat tua. Dapur yang dingin dan jarang mengepul lagi. Melihat kedatangan kami, beliau buru-buru membenahi baju dan mempersilakan kami duduk di kursi tua yang tinggal satu-satunya itu. Dengan melafadzkan basmalah, kami mulai bincang-bincang berempat. <http://pondokyatim.multiply.com/photos/hi-res/86/3><http://pondokyatim.multiply.com/photos/hi-res/86/1> Ada yang membuat kami berulang-ulang melafadzkan Maasyaa Allah (Sungguh Kekuasaan Allah), Subhanallah (Maha suci Allah) ketika kami melihat kalimat bercat merah di pintu rumah gubuk itu. Hidup Segan Bunuh diri dosa. Maasya Allah. Sampai sebegitukah gambaran kehidupan masyarakat kita? Mungkin tidak hanya di sini saja (korban gempa) tapi juga bisa terjadi (sikap hidup yang pesimis ini) pada diri umat muslim di belahan bumi yang lain, Na`udzubillahi min dzalik. Ya Allah, ampunilah kami yang kurang menyayangi diri kami sendiri dan kurang menyayangi hamba-hamba-Mu yang lain. Padahal sungguh, Engkau sangat sayang pada kami-makhluk-makhluk-Mu. Astaghfirullahal `adziim. Kamisah, santri pondok yatim yang polos. Muslimah yang saat ini berumur tahun ini berhasil mendapat ranking 1 di kelasnya dan menjadi juara 2 untuk tingkat paralel dari 4 kelas di SMPN 1 Jetis tempat dia menuntut ilmu pendidikan. Adik kami yang sangat sederhana dan jarang mengeluh. Banyak kisah tentang dirinya yang membuat kita semua terenyuh dan Insya Allah tergugah untuk membantunya meraih harapan menggapai cita-cita hidupnya menjadi guru & memahami ilmu agama. Beberapa moment, dia memilih jalan kaki menuju pondok (sepulang sekolah karena sering kehabisan uang saku) sementara dia juga tidak ingin merepotkan pengurus. Ketika hendak ke sekolah saat musim hujan kemarin, dia paling repot mencari pinjaman sepatu dari mbak-mbaknya di pondok (karena sepatu satu-satunya basah ngak bisa pakai sekolah), dan kisah-kisah lainnya. Alhamdulillah, Isah yang awal masuk pondok belum bisa membaca Al Quran, saat ini sudah bisa membaca dengan baik dan serius dengan hukum-hukum tajwid. Mohon doanya ya, semoga adik-adik kita di pondok ini semakin dekat dengan Allah. Berilmu yang diamalkan dan beramal yang dilandasi `ilmu. Amin kisah tentang pribadi yang terus membutuhkan dukungan kita semua untuk maju menjadi generasi umat yang tangguh. Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur & membuktikan kesyukuran itu dengan berbagi. Berikut , Surat dari Saya Kamisah di Bantul Saya Kamisah salah satu korban gempa di Bantul. Sekarang tinggal di Pondok Yatim Daaru Aytam, yang merupakan Pondok pemberdayaan Anak Yatim Korban Gempa. Beberapa waktu yang lalu saya sakit. Diantara santri yang lain saya memang terbilang santri yang paling sering sakit. Selain kondisi badan yang memang lemah, mungkin karena perjalanan ke sekolah yang jaraknya kira-kira 10 km yang setiap harinya saya tempuh dengan bersepeda, ditambah dengan aktivitas di sekolah dan dipondok yang cukup padat. Beberapa waktu yang lalu, saat sakit saya kambuh lagi dan persediaan obat-obatan di pondok tidak ada dan kondisi waktu itu sudah cukup larut malam, saya dan pengasuh pondok harus putar-putar Bantul mencari klinik yang masih buka untuk berobat. Dan Alhamdulillah ada salah satu klinik yang masih buka, hanya saja mungkin karena waktu sudah larut malam, harga yang harus dibayar sangat mahal. Dan saat itu pula saya sangat merasa sedih dan tersadar, bahwa kesehatan itu sangat berharga dan mahal harganya. Karena biaya berobat saya relatif besar, saya jadi merasa bersalah juga dengan teman-teman karena telah memakai uang saku mereka untuk berobat. Maafkan saya ya temen-temen ku... Bagi para pembaca yang diRahmati Allah... Sudah kewajiban kita masing-masing lah untuk menjaga kesehatan kita. Karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan sehat pula. Dan bagi para pembaca sekalian yang mempunyai sedikit obat-obatan ataupun perlengkapan yang lebih dapat disalurkan kepada kami ke Pondok Yatim Daaru Aytam , dengan alamat di dusun Miri Rt. 27, Pendowoharjo, Sewon, Bantul. Telp. (0274) 7159146. Bagi para pembaca sekalian, bantuan dalam bentuk zakat ataupun infaq untuk biaya kesehatan dan pendidikan kami juga sangat kami harapkan. Semoga menjadi amal jariyah yang akan di bawa ketika kita kembali kepada Allah. Amiin. Harus kepada siapa mengadu dalam kedukaan luar biasa karena Gempa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hanya dengan uluran tangan bisa mendapatkan kembali sebagian hidupnya. Barangkali banyak kalangan yang bersimpati dengan para korban bencana, tapi seberapa banyak yang masih peduli dan mengulurkan bantuan dalam waktu panjang, padahal hidup a masih membutuhkan uluran tangan sampai mereka bisa mandiri. Bantuan kita menjadi sebagian penuntun hidup sekalipun tidak bisa mengambalikan semua. Tuhan akan memuliakan orang-orang yang selalu memperhatikan anak yatim. Maha Besar Allah dengan segala Kuasanya. Salam dari saya Kamisah di Bantul dan temen-temen semua Allahul Goniy AllahuRazik ditulis oleh Ustadz Juni Al Jundi Pengasuh Jaringan Pemberdayaan Pondok Yatim Daaru Aytam Website : http://www.pondokyatim.net Kontak GSM : 08156887997 Flexy : 0274¬7159146 Salurkan Tasharufkan, Zakat, Infaq sedekah dari Rumah/Masjid/Kantor/Pribadi/Lembaga ke Pondok Yatim - BCA ( Bank Central Asia ) KCU Jogjakarta No. Rek. 037.22.400.22 ( atas Nama Ustadz : Juni A. Dwi ( Ketua Pondok ) - BMI ( Bank Muamalat Indonesia ) No Rek : 9171.9500.99 atas nama Juni CQ Daaruhidayah [Non-text portions of this message have been removed]
