Janji dan Takaran Kehormatan Manusia

Oleh: Arda Dinata
http://miqraindonesia.tk

ADA tiga orang pemuda berhasil menjambret uang ratusan juta dari seorang
nasabah bank. Mereka lari dan bersembunyi ke hutan. Setelah beberapa hari
bersembunyi, mereka kelaparan. Maka, mereka berunding untuk membagi uang
hasil rampokannya. Mereka sepakat sebelum membagi uang tersebut, salah satu
dari mereka pergi ke kota untuk mencari makanan dan minuman.

Setelah salah satu pergi ke kota, dua pemuda yang berada di persembunyian
berpikir. "Seandainya uang ini dibagi dua saja, maka bagian kita akan lebih
banyak." Mereka sepakat, kalau temannya kembali dari kota dihabisi saja
nyawanya.

Pemuda yang pergi ke kota, setelah makan dan kenyang, dalam hatinya
terlintas pikiran, "Seandainya semua uang hasil rampokan tadi dimiliki
sendiri, tidak usah dibagi tiga, aku akan kaya raya." Maka ia berniat
menghabisi nyawa kedua rekannya itu dengan mencampurkan racun warangan yang
hampir tidak berbau ke dalam makanan.

Dengan tenangnya, ia kembali ke hutan. Ketika melongokkan kepala ke gubug
tempat persembunyian, dari dalam disambut dengan pentungan oleh kedua
rekannya. Sebentar kemudian ia jatuh dan tak bergerak lagi. Lalu, kedua
pemuda itu menikmati makanan dan minuman yang dibawa oleh teman yang telah
mereka bunuh, tak berapa lama keduanya pingsan dan tak sadarkan diri untuk
selamanya.

Itulah kisah tragis sahabat karib yang saling ingkar janji (berkhianat) demi
harta (hawa nafsu) dan ego pribadinya yang hanya sesat. Padahal,
bagaimanapun perilaku ingkar janji itu akan berbuah "kesengsaraan,
kecelakaan dan penderitaan" pada individu yang bersangkutan.

* *

DARI kisah di atas, ada satu hal yang patut dikontemplasi oleh kita.
Kontemplasi berarti merenung atau berpikir secara mendalam dan mendasar.
Yakni berkait dengan "janji manusia" dalam kehidupan sehari-hari. Bila janji
telah terucap, maka realisasinya harus terjawab, dipenuhi dan diwujudkan
dengan baik. Karena kalau janji itu terlenakan dan diabaikan (dusta belaka),
maka seperti kisah di atas akan berujung pada kesengsaraan dan penderitaan
yang tragis.

Keberadaan janji ini, memang akan selalu bersentuhan dengan kehidupan
manusia. Apalagi, misalnya menjelang pemilihan umum (Pemilu), akan
bertebaran janji-janji dari juru kampanye partai politik. Biasanya, untuk
menarik simpati masyarakat pemilih, mereka "mengobral" janji-janji dengan
embel-embel yang menggiurkan. Dan sering kali, tidak sedikit dari
janji-janjinya itu hanya dusta belaka. Padahal, kalau kita mau jujur inilah
sebenarnya salah satu penyebab keterpurukan bangsa ini.

Untuk itu, kita harus sadar. Seperti diakui dalam pandangan filsafat, di
dunia ini ada hukum sebab akibat. Artinya setiap tindakan selalu mendapat
ganjarannya. Setiap individu terikat pada hasil perbuatannya dalam hidup
sekarang dan hidup yang akan datang. Demikian pula terhadap janji-janji yang
kita ucapkan, bila diingkari akan terpulang pada diri kita.

Itulah sebabnya, mengapa Sayyid Mujtaba Musavi Lari mengungkapkan, jika
lidah manusia telah teracuni oleh dusta, kotorannya akan tampak padanya.
Dampak-dampaknya adalah seperti angin musim gugur yang menghembus daun-daun
pepohonan. Dusta memadamkan cahaya eksistensi manusia dan menyalakan api
khianat dalam dada. Dusta juga memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam
menghancurkan ikatan persatuan dan keharmonisan di antara manusia serta
mengembangkan kemunafikan.

Sebenarnya, penyebab besar menyangkut kesesatan manusia ialah bersumber dari
pernyataan-pernyataan batil dan kata-kata yang kosong. Di sini, tentu sangat
berbahaya terutama bagi manusia yang memiliki niat jahat, karena dusta
merupakan pintu terbuka untuk mencapai tujuan-tujuan pribadinya dengan
menyembunyikan fakta-fakta dibalik kata-kata magisnya, dan kemudian menerkam
orang-orang yang tidak berdosa dengan dusta-dusta yang beracun.

Dari sini, setiap kita hendaknya waspada terhadap janji-janji yang kita
ucapkan. Sebab, kata Dr. Raymond Peach, dusta adalah senjata pertahanan
terbaik dari orang yang lemah dan jalan tercepat untuk menghindari bahaya.
Dalam banyak hal, dusta merupakan suatu reaksi terhadap kelemahan dan
kegagalan. Jadi, bila seseorang ingkar janji (berdusta) berarti sesungguhnya
ia adalah orang-orang yang lemah.

* *

JANJI jujur adalah salah satu sifat yang paling indah. Sebaliknya, janji
dusta merupakan salah satu sifat yang paling buruk. Di sini, lidah berperan
menerjemahkan perasaan-perasaan batin manusia keluar. Oleh karena itu, jika
dusta itu berangkat dari dengki/benci, maka ia merupakan salah satu tanda
yang berbahaya dari amarah. Dan jika dusta itu berangkat dari kebakhilan
atau kebiasaan, maka sesungguhnya sifat ini berasal dari pengaruh-pengaruh
nafsu manusia yang membara.

Al-Ghazali berkata, "Lidah adalah anugerah yang bermanfaat. Ia adalah
makhluk yang lembut, dengan tidak menghiraukan ukurannya yang kecil ia
melaksanakan tugas yang sangat penting ketika ia ingin taat dalam keadaan
tidak taat. Baik kafir maupun beriman, terejawantahkan melalui lidah, dan ia
adalah ibadah atau keingkaran yang penghabisan."

Jadi, ketiadaan rasa tanggung jawab dan pelanggaran berbagai peraturan hanya
akan mewujudkan kejahilan akan asas-asas kehidupan dan mengantar kepada
kesengsaraan dan kerusakan. Tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada
pelecehan terhadap para anggota masyarakatnya. Oleh karena itu, kita harus
mencegah pelanggaran kewajiban individual yang dilakukan semata-mata untuk
memenuhi nafsu-nafsu kita.

Menurut Buzarjumehr, pelanggaran sumpah (janji-Pen) menjauhkan martabat
manusia. Artinya orang-orang yang menyelewengkan dirinya dari jalan yang
benar dengan melanggar janji-janjinya, akan menanam benih-benih penolakan
dan kebencian di dalam hati orang lain. Pada akhirnya, tindakan pelanggaran
itu akan mempermalukannya, kemudian ia akan mencoba untuk menutupi berbagai
tindakannya dengan macam-macam alasan dan kontradiksi, sehingga orang-orang
yang mengetahui orang ini akan melihat bahwa ia adalah seorang munafik yang
tersesat.

Akhirnya dapat dikatakan, kalau ingkar janji itu termasuk diantara unsur
yang paling aktif dalam menciptakan perselisihan sosial dan melemahkan
ikatan diantara manusia. Sehingga pemenuhan janji itu penting bagi seseorang
yang ingin hidup bermasyarakat. Ia adalah landasan bagi kebahagian,
perkembangan dan keberhasilan sosial. Jadi, dengan kata lain takaran
kehormatan manusia dapat terukur dari seberapa besar ia mampu menepati
janji-janjinya. Wallahu'alam.***

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara,
trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam
(MIQRA) Indonesia.
E-mail: [EMAIL PROTECTED] <arda.dinata%40gmail.com>
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke