masih diambil dari suatu sumber...
Tidak Untuk Dijual
Pak Haji Anung sudah dua minggu
tak bisa bangun. Dari cerita bisik-bisik tetangga, doi terjangkit flu burung.
Barangkali merasa ajal sudah dekat (panik), kemarin anak-anaknya diminta
berkumpul untuk mendengar 'wasiatnya'.
"Anak-anak... Bapak kayaknya akan segera pergi jauh (semua orang di
ruangan tertunduk sedih, bahkan anak yang tertua tak bisa menahan emosi. Dia
terisak-isak).
Begini anak-anak, sebelum bapak pergi jauh, bapak ingin sampaikan...sesuatu
yang penting...buat hidup kalian...masing-masing," Pak haji Anung bicara
sedikit terbata-bata, barangkali karena gangguan pernapasan.
"Anak-anak...jangan kalian jual tanah yang di Empang Tiga Pasar Minggu...
Anak-anak...Jangan kalian jual tanah yang di Depok...
Anak-anak...jangan kalian obral tanah yang di Cinere...
Anak-anak...jangan kalian jual tanah yang di Rimba Buntu, Kiray Blok M..."
"Sudahkah kalian paham, semua yang bapak utarakan tadi?" (Semua yang
ada di ruangan terdiam dengan air muka bengong setengah bego)
"Semoga kalian tidak berantem gara-gara harta tanah ya... Jaga tali
persaudaraan jangan putus, cuma gara-gara harta
duniawi...
Karena tanah yang bapak sebut tadi jelas-jelas bukan punya bapak. Tanah itu
jelas-jelas punya orang... Makanya jelas-jelas tidak bisa kalian jual...
Paham?...Paham?..Pa..ha..mmmm," Pak haji pun menghembuskan nafas terakhir
dengan senyum. Semua sanak saudara di ruangan itu pun menangis sambil tertawa.
Kisah
Budi yang Tidak Ada Matinya
Satu hari saat jam pulang
sekolah, Aco begitu semangat pingin cepat-cepat menemui kakek Untung tercinta,
yang saban hari menghabiskan waktunya dengan bergoyang-goyang dikursi goyang.
Begitu sampai di depan pintu rumah, sepatu adidas klasik mungilnya langsung
dicopot dan dilempar Aco begitu saja. Kemudian
dia buka pintu dan langsung berlari kepangkuan kakek Untung.
Setelah bermanja sejenak di pangkuan kakek, Aco pun bercerita, "Kek, kek,
Aco mau cerita nih. Tadi aco diajarin membaca sama ibu guru Oneng."
"Wah, cucuku hebat! Kalo udah lancar membaca, nanti kakek kasih hadiah
baju batman ya," kata kakek sambil mengelus-elus kepala plontosnya Aco.
"Kek..Kek..Tadi Aco diajarin begini sama ibu guru Oneng: Ini Budi, Ini
Bapak Budi, Ini Ibu Budi, Ini Kakek Budi. Kek, kakak Budi rumahnya dimana
sih?" Uhh Aco ngocor terus, tak berhenti ngomong.
"Gila! Si Budi, ibu Budi dan bapak
Budi, masih hidup sampe sekarang? Co! Kakek dulu di sekolah rakyat diajari juga
membaca: Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi... He, He, Budi nggak ada
matinya," ujar kakek sambil terus bergoyang bareng cucunya Aco yang nggak
capek-capeknya ngomong.
Salah Sangka Bagian 1
"Ratna Wahyuningsih, ini
cincin dari aku, sebagai tanda bahwa aku mencintaimu dengan
sungguh-sungguh"
"Oh...Pram. Maaf ya, tapi aku sudah punya pacar", jawab Ratna,
"Kami serius dan tahun depan akan menikah".
"Siapa pria itu?", tanya Pram dengan suara ketus. "Dimana dia
tinggal? Tolong beritahu aku alamatnya. Yang lengkap. Aku mau ketemu sama
dia!"
"Sudahlah Pram. Tidak ada gunanya main kekerasan begitu. Terimalah
kenyataan ini".
"Ohh..kamu salah sangka Ratna. Aku bukan mau ngapa-ngapain. Cuma di cincin
ini inisial namamu sudah aku ukir. Jadi lebih baik aku jual saja cincin ini
kepada dia".
Salah Sangka Bagian 2
Seorang pria mendatangi kantor
Polsek, minta berjumpa dengan maling yang malam sebelumnya berhasil masuk ke
dalam rumah dan kamar tidurnya dan pergi dengan membawa sejumlah barang
berharga. (Si maling segera tertangkap).
Si petugas piket berkata, "Sudah Pak! Nanti aja di Pengadilan Bapak
puas-puasin memaki-maki si maling"
"Oh....Anda salah sangka. Saya cuma mau bertanya, bagaimana caranya dia
bisa masuk ke kamar tanpa membangunkan istri saya. Soalnya sudah bertahun-tahun
saya coba, istri saya selalu terbangun"
Menyaksikan
Gerhana Bulan
Seorang pendengar radio bertanya
pada seorang penyiar di salah satu stasiun radio tentang gerhana bulan yang
akan muncul hari itu.
"Oh, gerhana bulannya dapat dilihat pada pukul 01.30 dini hari
nanti," kata si penyiar.
"Apa? Selarut itu? Apakah tidak bisa dijadwalkan lebih awal lagi agar
anak-anak juga bisa ikut menikmati gerhana bulannya?"
Robby Nuzly, S.Si., Apt.Direktorat Pengawasan ProduksiProduk Terapetik dan
PKRTBadan Pengawas Obat dan Makanan RIJl. Percetakan Negara No. 23
JakartaE-mail:[email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]