produktif,,,hikk55..
  ----- Original Message ----- 
  From: bambang kusharyono 
  To: aghesti retina ; andri ; anis si ; arief ; ary ; ASEP S ; Ria Anzarika ; 
uniq ; [email protected] ; bowie ; buka dis ; fina b ; sasa Sirait 
; taman bintang ; Chusnul Hotimah ; dea ; dody ; doty ; kodok ; Guyonan Lucu ; 
UB ; Kiki Helmayanti ; ida ; ihsan sabrina ; Law WAHYUNINGSIH ; Surya Lilik 
Sundari ; mjw ; mutz ; Na MK ; nani ; nene ; niza ; prajabatan ; renggo 
triwijoyo ; susi ; Wiwin_aDCI ; wulan ; [email protected] 
  Sent: Tuesday, January 06, 2009 1:40 PM
  Subject: Re: [Guyon-Yook] Masih Santai Sejenak.......Jilid X


        Selamat Siang Pak Robby;

        Terima kasih telah membuat kita semua menjadi terhibur dengan guyonan 
yang segar. pak Robby ini termasuk satu dari sekian yang juga produktif 
mengirimkan guyonannya untuk kita nikmati bersama.

        Sekali lagi, terima kasih.

        KushaBS

        --- On Tue, 12/30/08, Robby Nuzly <[email protected]> wrote:

          From: Robby Nuzly <[email protected]>
          Subject: [Guyon-Yook] Masih Santai Sejenak.......Jilid X
          To: "aghesti retina" <[email protected]>, "andri" 
<[email protected]>, "anis si" <[email protected]>, "arief" 
<[email protected]>, "ary" <[email protected]>, "ASEP S" 
<[email protected]>, "Ria Anzarika" <[email protected]>, "uniq" 
<[email protected]>, [email protected], "bowie" 
<[email protected]>, "buka dis" <[email protected]>, "fina b" 
<[email protected]>, "sasa Sirait" <[email protected]>, "taman 
bintang" <[email protected]>, "Chusnul Hotimah" <[email protected]>, 
"dea" <[email protected]>, "dody" <[email protected]>, "doty" 
<[email protected]>, "kodok" <[email protected]>, "Guyonan Lucu" 
<[email protected]>, "UB" <[email protected]>, "Kiki Helmayanti" 
<[email protected]>, "ida" <[email protected]>, "ihsan 
sabrina" <[email protected]>, "Law WAHYUNINGSIH" <[email protected]>, 
"Surya Lilik Sundari" <[email protected]>, "mjw" <[email protected]>, "mutz" 
<[email protected]>, "Na MK" <[email protected]>, "nani" 
<[email protected]>, "nene" <[email protected]>, "niza" <[email protected]>, 
"prajabatan" <[email protected]>, "renggo triwijoyo" 
<[email protected]>, "susi" <[email protected]>, "Wiwin_aDCI" 
<[email protected]>, "wulan" <[email protected]>
          Date: Tuesday, December 30, 2008, 10:44 PM


                masih diambil dari suatu sumber...



                Tidak Untuk Dijual

                Pak Haji Anung sudah dua minggu tak bisa bangun. Dari cerita 
bisik-bisik tetangga, doi terjangkit flu burung. Barangkali merasa ajal sudah 
dekat (panik), kemarin anak-anaknya diminta berkumpul untuk mendengar 
'wasiatnya'.

                "Anak-anak.. . Bapak kayaknya akan segera pergi jauh (semua 
orang di ruangan tertunduk sedih, bahkan anak yang tertua tak bisa menahan 
emosi. Dia terisak-isak) . 

                Begini anak-anak, sebelum bapak pergi jauh, bapak ingin 
sampaikan... sesuatu yang penting...buat hidup kalian...masing- masing," Pak 
haji Anung bicara sedikit terbata-bata, barangkali karena gangguan pernapasan.

                "Anak-anak.. .jangan kalian jual tanah yang di Empang Tiga 
Pasar Minggu...
                Anak-anak... Jangan kalian jual tanah yang di Depok...
                Anak-anak... jangan kalian obral tanah yang di Cinere...
                Anak-anak... jangan kalian jual tanah yang di Rimba Buntu, 
Kiray Blok M..."

                "Sudahkah kalian paham, semua yang bapak utarakan tadi?" (Semua 
yang ada di ruangan terdiam dengan air muka bengong setengah bego)

                "Semoga kalian tidak berantem gara-gara harta tanah ya... Jaga 
tali persaudaraan jangan putus, cuma gara-gara harta duniawi...

                Karena tanah yang bapak sebut tadi jelas-jelas bukan punya 
bapak. Tanah itu jelas-jelas punya orang... Makanya jelas-jelas tidak bisa 
kalian jual...

                Paham?...Paham? ..Pa..ha. .mmmm," Pak haji pun menghembuskan 
nafas terakhir dengan senyum. Semua sanak saudara di ruangan itu pun menangis 
sambil tertawa.



                Kisah Budi yang Tidak Ada Matinya
                Satu hari saat jam pulang sekolah, Aco begitu semangat pingin 
cepat-cepat menemui kakek Untung tercinta, yang saban hari menghabiskan 
waktunya dengan bergoyang-goyang dikursi goyang.

                Begitu sampai di depan pintu rumah, sepatu adidas klasik 
mungilnya langsung dicopot dan dilempar Aco begitu saja. Kemudian dia buka 
pintu dan langsung berlari kepangkuan kakek Untung.

                Setelah bermanja sejenak di pangkuan kakek, Aco pun bercerita, 
"Kek, kek, Aco mau cerita nih. Tadi aco diajarin membaca sama ibu guru Oneng."

                "Wah, cucuku hebat! Kalo udah lancar membaca, nanti kakek kasih 
hadiah baju batman ya," kata kakek sambil mengelus-elus kepala plontosnya Aco.

                "Kek..Kek..Tadi Aco diajarin begini sama ibu guru Oneng: Ini 
Budi, Ini Bapak Budi, Ini Ibu Budi, Ini Kakek Budi. Kek, kakak Budi rumahnya 
dimana sih?" Uhh Aco ngocor terus, tak berhenti ngomong.

                "Gila! Si Budi, ibu Budi dan bapak Budi, masih hidup sampe 
sekarang? Co! Kakek dulu di sekolah rakyat diajari juga membaca: Ini Budi, Ini 
Ibu Budi, Ini Bapak Budi... He, He, Budi nggak ada matinya," ujar kakek sambil 
terus bergoyang bareng cucunya Aco yang nggak capek-capeknya ngomong.


                Salah Sangka Bagian 1

                "Ratna Wahyuningsih, ini cincin dari aku, sebagai tanda bahwa 
aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh"

                "Oh...Pram. Maaf ya, tapi aku sudah punya pacar", jawab Ratna, 
"Kami serius dan tahun depan akan menikah".

                "Siapa pria itu?", tanya Pram dengan suara ketus. "Dimana dia 
tinggal? Tolong beritahu aku alamatnya. Yang lengkap. Aku mau ketemu sama dia!"

                "Sudahlah Pram. Tidak ada gunanya main kekerasan begitu. 
Terimalah kenyataan ini".

                "Ohh..kamu salah sangka Ratna. Aku bukan mau ngapa-ngapain. 
Cuma di cincin ini inisial namamu sudah aku ukir. Jadi lebih baik aku jual saja 
cincin ini kepada dia".



                Salah Sangka Bagian 2
                Seorang pria mendatangi kantor Polsek, minta berjumpa dengan 
maling yang malam sebelumnya berhasil masuk ke dalam rumah dan kamar tidurnya 
dan pergi dengan membawa sejumlah barang berharga. (Si maling segera 
tertangkap).

                Si petugas piket berkata, "Sudah Pak! Nanti aja di Pengadilan 
Bapak puas-puasin memaki-maki si maling"

                "Oh....Anda salah sangka. Saya cuma mau bertanya, bagaimana 
caranya dia bisa masuk ke kamar tanpa membangunkan istri saya. Soalnya sudah 
bertahun-tahun saya coba, istri saya selalu terbangun"



                Menyaksikan Gerhana Bulan
                Seorang pendengar radio bertanya pada seorang penyiar di salah 
satu stasiun radio tentang gerhana bulan yang akan muncul hari itu.

                "Oh, gerhana bulannya dapat dilihat pada pukul 01.30 dini hari 
nanti," kata si penyiar.

                "Apa? Selarut itu? Apakah tidak bisa dijadwalkan lebih awal 
lagi agar anak-anak juga bisa ikut menikmati gerhana bulannya?"










                Robby Nuzly, S.Si., Apt.

                Direktorat Pengawasan Produksi

                Produk Terapetik dan PKRT

                Badan Pengawas Obat dan Makanan RI

                Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta

                E-mail:obhie_ ban...@yahoo. com









               


            



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke