From:"mahesa indrawan" <[email protected]>
Add sender to Contacts
To:"Angkatan Nol Hiji" <[email protected]>, "poltek ui"
<[email protected]>
Cc:"tarbawi" <[email protected]>


Assalaamu'alaikum wr. wb.

Konflik di Jalur Gaza belakangan ini memunculkan wacana yang sangat
menarik. Barangkali baru sekaranglah orang-orang bisa mengungkapkan
pendapatnya secara lugas, bahkan dengan resiko dikucilkan dari
pergaulan sesama Muslim. Di Indonesia, sebagian umat Muslim pun tidak
canggung untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usaha-usaha
mendukung Palestina. Artikel ini insya Allah akan membantahnya dengan
cara sebaik mungkin.
Hak Historis Bangsa Yahudi
Ini adalah argumen `standar' untuk membenarkan pendirian negara
Israel. Bangsa Yahudi senantiasa mengklaim bahwa mereka berhak atas
tanah Palestina. Konon, mereka sudah tinggal di negeri itu sejak
jamannya Nabi Ya'qub as.
 
Argumen ini sebenarnya sangat lemah, karena pada jaman Nabi Ya'qub
as., agama Yahudi belum lagi ada. Bani Israil adalah nama yang
diberikan kepada keturunan beliau, namun nama itu baru dikenal setelah
masa kehidupannya. Tambahan lagi, Nabi Ya'qub as. dan keluarganya
bermigrasi ke Mesir secara sukarela saat Nabi Yusuf as. menjadi
bendahara negara pada masa itu. Karena mereka pindah secara sukarela,
maka tanah asalnya tentu tak bisa diklaim lagi. Lagipula, kalau yang
diklaim adalah peninggalan Nabi Ya'qub as., maka umat Islam akan
merasa lebih berhak, karena di dalam ajaran Islam, pertalian aqidah
lebih kental daripada hubungan darah.
 
Klaim `kepemilikan' bangsa Yahudi juga tidak jelas. Andaikan bangsa
Yahudi memang pernah tinggal di sana, maka mereka bukanlah
satu-satunya penghuni negeri itu. Bangsa Romawi dan bangsa asli
Palestina pun sudah tinggal di sana sejak lama. Jika tidak ada hitam
di atas putih, maka bangsa Yahudi tak boleh mengklaim tanah (apalagi
seluas satu negara) sebagai miliknya sendiri. Tambahan lagi, jika
bangsa Yahudi mengklaim tanah Palestina atas dasar sejarah, maka benua
Australia dan Amerika pun mesti dikembalikan ke pemilik sahnya, yaitu
bangsa Aborigin dan Indian.
Tanah yang Dijanjikan
Kaum Zionis mengklaim bahwa tanah Palestina adalah tanah yang
dijanjikan kepada mereka, dan klaim ini juga sering didukung oleh umat
Nasrani. Namun memaksakan klaim ini adalah sebuah tindakan pemaksaan
agama, karena yang setuju hanyalah umat Yahudi dan Nasrani. Kalau
boleh menguasai suatu wilayah hanya dengan modal `janji Tuhan', maka
umat Islam bisa mengklaim seluruh Bumi, karena Allah SWT telah
mengangkat mereka sebagai khalifah fi al-`ardh. Tentu saja, kalau umat
Islam mengklaim sebuah kota saja dengan alasan demikian, maka pasti
akan muncul label fundamentalis, radikalis, teroris, atau literalis.
Bangsa Tanpa Negeri
Ada juga yang bersikap lebih `humanitarian' dengan mengatakan bahwa
orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II terpaksa lari ke tanah
Palestina karena didesak oleh NAZI di Eropa. Namun kini beredar teori
konspirasi antara NAZI dan kaum Yahudi Zionis. Konon, kaum Yahudi yang
pro-Zionisme (yang ketika itu masih minoritas) bekerjasama dengan NAZI
untuk membantai saudaranya sendiri, agar mereka mau diyakinkan untuk
pindah ke `tanah yang dijanjikan'. Namun dengan mengabaikan teori
konspirasi ini, argumennya masih saja lemah.
 
Orang yang lari karena negerinya dilanda konflik adalah pengungsi.
Atas nama kemanusiaan, umat Islam pasti akan menerima warga pengungsi
dengan tangan terbuka. Sebuah Masjid di Perancis dikenal telah
memberikan perlindungan kepada warga Yahudi pada Perang Dunia II, dan
masih banyak contoh lainnya. Jika statusnya adalah pengungsi, insya
Allah Palestina akan menerima dengan tangan terbuka (walau perlu
dipertanyakan : apa iya tidak ada negara lain yang lebih dekat untuk
tempat berlabuhnya para pengungsi?). Tapi layaknya pengungsi yang
baik, setelah negerinya damai kembali, hendaknyalah kembali ke rumah
masing-masing. Dalam kasus Palestina, `para pengungsi' malah semakin
kurang ajar, menembaki warga tuan rumah, dan berusaha mendirikan
negara di dalam negara. Karena itu, kita tidak perlu lagi memandang
kaum Zionis dengan pandangan penuh iba sebagai pengungsi yang tak
punya tanah air. Eropa dan AS membuka pintu lebar-lebar kepada mereka,
mengapa harus di Palestina?
Perang Antar Negara, Bukan Agama
Kalau dikatakan perang antar agama (yaitu antara Islam dan Yahudi),
nampaknya memang tidak. Rasulullah saw. sendiri tak pernah mengobarkan
perang dengan umat Yahudi secara keseluruhan. Umat Yahudi pun terbelah
dua dalam menyikapi Zionisme Internasional ; ada yang pro dan ada yang
kontra.
 
Namun sebutan `perang antar negara' pun sangat ceroboh, karena
statement ini mesti didahului dengan pengakuan terhadap Israel sebagai
sebuah negara yang sah. Padahal, kasus yang terjadi adalah penjajahan
Palestina oleh Inggris, kemudian Inggris secara sepihak memberikan
sebidang tanah kepada kaum Zionis. Kaum Zionis kemudian menerima
bantuan dari berbagai negara, termasuk senjata, kemudian mulai
mengobarkan peperangan dengan Palestina. Inilah fakta yang dengan
susah payah berusaha dikaburkan oleh sebagian pihak.
 
Bagaimanapun, jika dikatakan bahwa ini adalah perangnya warga
Palestina, dan bukan perangnya umat Islam, maka orang yang berkata
demikian telah cacat aqidah-nya. Islam tidak mengenal garis perbatasan
negara. Selama masih Muslim, maka ia adalah saudara kita ; senasib dan
sepenanggungan. Membela umat Muslim yang ditindas adalah kewajiban
kita semua, karena Rasulullah saw. menjelaskan bahwa kita adalah
bagaikan satu tubuh. Tidak ada pengecualian. Mereka yang tidak `gerah'
menyaksikan penderitaan umat Islam di Palestina sebaiknya mulai
mengkhawatirkan kondisi keimanannya sendiri, kalau-kalau dalam waktu
dekat akan dipanggil Allah SWT. 
HAMAS yang Memulai
Sebagian orang berkata bahwa HAMAS-lah yang merusak gencatan senjata
dengan menyerang duluan. Cukup mengherankan melihat betapa banyak
orang menggarisbawahi `pelanggaran gencatan senjata' kali ini
(andaikan memang itu yang terjadi), sementara mereka dulu diam sejuta
bahasa ketika kaum Zionis berulang kali melanggar perjanjian. Namun
dalam menanggapi masalah apa pun, hendaknya diingat bahwa dalam kasus
Palestina yang terjadi adalah pencaplokan wilayah. Tentunya kaum
pejuang bebas menyerang penjajah kapan pun mereka bisa. Bangsa
Indonesia harusnya tahu betul tentang itu.
Yang Dekat Duluan
Ada juga yang dengan tidak tahu malunya berkata, "Ngapain urus
Palestina, mending urus saudara di Indonesia dulu?" Secara prinsip
memang benar, yang dekat lebih prioritas untuk diurus. Namun
menentukan prioritas bukan hanya dengan mempertimbangkan faktor jarak.
Dalam buku Fikih Prioritas, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi telah memaparkan
panjang lebar mengenai hal-hal yang mesti dipertimbangkan sebelum
menentukan skala prioritas. Misalnya, jika ada tetangga yang miskin,
tentu ia lebih berhak untuk kita sedekahi. Akan tetapi jika ada warga
di kota lain yang terancam nyawanya, sementara tetangga kita bisa
menunggu sebentar, maka tentu yang lebih gawat urusannyalah yang harus
didahulukan.
 
Kontradiksinya akan kelihatan jelas di lapangan. Mereka yang
menggunakan pernyataan di atas biasanya hanya menghindar dari
kewajiban. Mereka bilang lebih baik mengurus yang dekat, padahal yang
dekat pun tak pernah mereka urusi. Dalam acara debat di sebuah stasiun
televisi, sangat menggelikan melihat sebuah parpol menyuruh parpol
lain agar jangan fokus ke Palestina, dan lebih baik mengurusi warga
Indonesia dahulu. Padahal parpol yang dikritiknya itu adalah parpol
yang paling rajin menggelar aksi sosial, baik untuk urusan umat di
dalam negeri maupun umat di luar negeri. Parpol yang mengkritik justru
jarang kelihatan aksinya ; di dalam dan di luar negeri. Demikian pula
jika ada orang yang menggunakan argumen serupa, sebaiknya dikembalikan
pada mereka : "Apa yang sudah antum perbuat untuk saudara-saudara
antum di dalam negeri?". Faktanya, dalam hal aksi sosial, yang terjadi
adalah 4L (lu lagi, lu lagi). Yang mengurusi musibah di Aceh,
Sidoarjo, dan Palestina, biasanya yang itu-itu juga orangnya. Dan yang
bermalas-malasan dan mengajukan seribu pembenaran untuk tidak berbuat
apa-apa biasanya juga yang itu-itu saja.
Eksploitasi Isu Untuk Kampanye
Sebenarnya ketimbang mempertanyakan mengapa demo mendukung Palestina
yang diadakan oleh PKS 2 Januari yang lalu itu banyak menggunakan
atribut PKS, lebih baik mempertanyakan kemana perginya parpol-parpol
lain yang kocek-nya jauh lebih tebal? Parpol-parpol yang sanggup
pasang iklan di televisi dengan durasi dan pengulangan yang sangat
banyak di prime-time seharusnya merasa malu dengan kecilnya sumbangan
mereka dalam masalah Palestina.
Melarang atribut parpol untuk digunakan dalam kampanye mendukung
Palestina pun cenderung tidak masuk akal. Atribut adalah identitas,
dan fungsinya untuk membedakan. Memang perlu menunjukkan siapa yang
berdemonstrasi, karena berjamaah selalu memiliki kekuatan politis yang
lebih kuat daripada bergerak sendiri-sendiri. Dengan menggunakan
atributnya, para kader PKS seolah mengatakan, "Hei, di Indonesia ada
sebuah partai besar yang tidak rela dengan kelakuan Zionis! Jangan
main-main!". Statement itu bertambah kuat dengan munculnya kesan solid
yang ditampilkan oleh para pendemo. Jika seluruh parpol, lembaga
dakwah, harakah, dan ormas lainnya mau berdemo dengan atributnya
masing-masing, maka alangkah dahsyat kesan yang ditimbulkannya di
media massa. Lain dengan demonstrasi yang dihadiri oleh para
demonstran bayaran, yang entah datang dari mana, entah dari organisasi
apa, entah pakai atribut apa, dan entah bagaimana akhlaq-nya.
wassalaamu'alaikum wr. wb.
 
 

Kirim email ke