PKS 'Hidup' dalam Caci Maki

 

PK-Sejahtera Online: “Kalau sudah punya cabang di mana-mana, di 5
benua, di dasar samudera, di ruang angkasa, emangnya kenapa? Sombong luh PKS,
awas lho entar kuwalat-lat-lat-lat!,” ada yang sebegitu pedas mungkin
cercaannya.



“Punya ratusan kader bergelar doktor dan ribuan sarjana saja sudah sok hebat,
berlagak angkuh dan merendahkan pihak lain,“ ujar sejumlah kalangan menohok
partai si bulan dan si padi. 



“Tidak ada jaminan gelar pendidikan setinggi itu bisa menuntaskan permasalahan
bangsa; yang penting kerja bung, bukan gelar“, tambah mereka yang semakin kesal
dengan ulah PKS.



Sesungguhnya dunia cerca-mencerca, caci-memaki dan hina-menghina bukanlah
barang baru dalam sejarah manusia. Itu sudah ada sejak dulu, setua sejarah 
kemanusiaan
itu sendiri. Jadi arena caci-maki pun sesungguhnya warisan masa lalu, bedanya
sekarang hujatan itu dihiasi bunga-bunga berbau PKS.



Sejarah membuktikan, semakin dewasa dan arif seseorang, maka semakin jauhlah ia
dari perbuatan mencaci orang lain. Kedewasaan ini membuatnya mengedepankan
ungkapan santun penuh kesejukan. 



Sebaliknya begitu, semakin bijak dan dewasa seorang anak Adam, semakin sabar
dan berwibawalah ia dalam menghadapi caci maki yang dialamatkan kepadanya,
tanpa terpancing membalas cemoohan itu. Karena ia sadar, di balik hujan
caci-maki, pasti ada hikmah kebaikan dari Tuhan. Jadi PKS patut bersyukur
dengan semprotan lisan itu.



Di antara kebaikan dicerca adalah semakin terkokohkannya sifat atau akhlak
mulia dalam diri seseorang. Sebut saja sifat mau dikoreksi dan membenahi diri.
Sebab bisa jadi cercaan itu mengandung kebenaran, dan ini sangat bagus buat
perbaikan PKS.



Selain itu, melalui penghinaan, PKS barangkali sedang dilatih untuk memaafkan.
Karena bisa jadi yang mencaci-maki itu suatu saat insaf dan akan menjadi
sahabat paling setia dan paling tulus dengan cara dimaafkan.



Penelitian ilmiah menyebutkan, memaafkan dapat menjadikan seseorang tidak
mengulangi lagi perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya kepada seseorang.
Di samping itu, kata para ilmuwan, memaafkan itu mendatangkan kesehatan jiwa
dan raga.



Ilmuwan psikologi asal AS, Harry M Wallace dkk telah menerbitkan karyanya di
jurnal ilmiah Journal of Experimental Social Psychology, volume 44, Maret 2008.
Dalam bahasa Indonesia
hasil judul temuan ilmiah itu berbunyi “Dampak memaafkan terhadap hubungan
antar-pribadi: Apakah memaafkan akan menghalangi atau mendorong terulangnya
perbuatan tercela terhadap orang lain?”



Hasilnya sungguh menakjubkan. Pernyataan maaf dari orang yang teraniaya kepada
si pelaku perbuatan zalim itu ternyata membuat si pelaku pada umumnya tidak mau
melakukan perbuatan buruk itu lagi. Tidak heran jika di negara maju,
‘memaafkan’ kini menjadi salah satu solusi bagi penanganan konflik antar
pribadi, maupun antar kelompok masyarakat.



Memaafkan ternyata memiliki dampak positif terhadap kesehatan jiwa raga. Bahkan
penggunaan ‘obat memaafkan sudah diujicobakan dalam penanganan pasien, dan
berhasil baik. Ini diuraikan panjang lebar oleh Worthington Jr., pakar
psikologi di Virginia Commonwealth University, AS, dkk dalam karya ilmiahnya,
Forgiveness in Health Research and Medical Practice (Memaafkan dalam Penelitian
Kesehatan dan Praktik Kedokteran), di jurnal Explore, Mei 2005.



Abu Awlaadih, [email protected] 

http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2008/10/15/54904/pks-hidup-dalam-caci-maki/

 



Pengirim: Ningsih Update: 15/10/2008 Oleh: Ningsih

 

 

 

==================================

Mengapa PKS Terus Difitnah?

 

Kabid. Bina Mitra Poltabes Jambi (Ibu Aswini) secara tegas
membantah pernyataan sebagaimana yang dilansir oleh SCTV. Bantahan serupa juga
disampaikan oleh Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Keduanya
menyatakan: tidak ada tindakan mesum – apalagi hubungan intim – antara tertuduh
Zulhamli dengan petugas perempuan di Panti pijat tradisional “Sehat Bersih”.

 

PK-Sejahtera Online: Menjelang Pemilu 2009, dinamika politik semakin
memanas. Upaya penyebaran isu, wacana negatif, dan fitnah terus bergulir. PKS
yang selama ini dikenal sebagai partai da’wah yang konsisten dengan jargon
“Bersih, Peduli, Profesional” terus digoyang citranya, tidak hanya terjadi di
tingkat lokal tetapi sampai berdampak secara nasional.

Setelah kader PKS M. Rifa’i Lubis difitnah melakukan pencabulan kepada anak
di bawah umur, kini Zulhamli Al Hamidi (anggota DPRD Kota Jambi) kembali
menjadi objek fitnah.

Pemberitaan di beberapa media terkesan tidak
berimbang, tidak mengacu pada fakta-fakta di lapangan. Dalam berita Liputan 6
Siang SCTV pada hari Rabu, 4 Februari 2009 pukul 12.00– yang ditonton oleh
jutaan masyarakat Indonesia – penyiar televisi itu menyebut bahwa: menurut 
Polisi, saat ditangkap oleh Satpol PP
Zulhamli sedang berhubungan intim dengan pemijat di panti pijat tersebut.

Dampak dari berita ini tentu sangat luas. Reaksi negatif muncul dari
masyarakat luas terhadap PKS. Seluruh kader PKS se-Indonesia jelas amat
terkejut mendengar berita di SCTV tersebut. Bahkan banyak kader PKS yang sedang
merantau di luar negeri di berbagai benua, ikut mempertanyakan masalah ini.
Padahal apa yang diberitakan oleh SCTV sungguh suatu fitnah yang nyata!

Dalam pertemuan yang digelar di Poltabes
Jambi (Kamis/4 Februari 2009 pukul 14:00 WIB), Kabid. Bina Mitra Poltabes Jambi
(Ibu Aswini) secara tegas membantah pernyataan sebagaimana yang dilansir oleh
SCTV.  Bantahan serupa juga disampaikan oleh Kepala Kantor Satuan Polisi
Pamong Praja (Satpol PP).  Keduanya menyatakan: tidak ada tindakan mesum –
apalagi hubungan intim – antara tertuduh Zulhamli dengan petugas perempuan di
Panti pijat tradisional “Sehat Bersih”.

Apalagi jika persoalan ini dilihat dari
sudut pandang kaidah hukum positif sebagaimana yang berlaku di Indonesia,
sama sekali tidak ada aspek hukum yang dilanggar oleh Zulhamli. Selain tempat
pijat tersebut memiliki izin operasional resmi dari Pemerintah Kota Jambi,
petugas yang ditemui saat razia berlangsung adalah petugas perempuan resmi dan
berseragam lengkap.

PKS mempertanyakan mengapa substansi pemberitaan menjadi liar dan tidak
mengacu pada fakta-fakta di lapangan? Mengapa PKS terus difitnah? Kami melihat
ada upaya dan i’tikad tidak baik untuk menyudutkan, menyerang dan merusak citra
PKS secara bottom-up dan sistematis.

PKS sangat mengedepankan sistem dan mekanisme partai dalam menangani
persoalan yang menimpa para kadernya. Di dalam struktur PKS, ada lembaga Dewan
Syari’ah sebagai yang paling berhak menilai perilaku kader baik secara pribadi
maupun di ranah publik (mengingat ada lebih dari 1000 kader PKS yang bekerja
sebagai pejabat publik di Legislatif, Yudikatif, maupun Eksekutif).

Meskipun secara hukum tidak ada pelanggaran, namun secara etika kepartaian,
seluruh kader PKS jelas tidak diperkenankan mengunjungi panti pijat karena
konotasi tempat tersebut cenderung negatif di mata masyarakat.

Merasa dirugikan, PKS juga akan menuntut secara hukum pemberitaan di SCTV
yang tidak didasari oleh fakta yang kuat, akurat, dan berimbang. PKS merasa
diperlakukan tidak adil oleh media karena kesimpangsiuran ini menggerogoti
kerja-kerja positif PKS selama ini di tengah masyarakat.

 

DPD Partai Keadilan Sejahtera

Kota Jambi

 

Safrudin Dwi Apriyanto, S.Pd



Ketua
Umum



 

 

Bukan Sekadar Partai Politik

Terasa aneh terdengar jika kader PKS dikatakan militansinya
tinggi. Sejauh ini idealism PKS belum apa-apa dibandingkan dengan persoalan
bangsa yang kian krusial. 

 

PK-Sejahtera Online: Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum sepenuhnya
bersih, karena PKS merupakan kumpulan manusia biasa yang mencoba berperan untuk
merubah bangsa ini menjadi jauh lebih baik. Demikian benang merah yang
terungkap dalam diskusi membedah militansi kader PKS, Kamis (29-01), di
pelataran kantor PKS Lampung, yang terletak dibilangan jalan Untung Suropati,
Rajabasa, Bandar Lampung.



Pada diskusi itu menghadirkan dari unsur pers Bambang Eka Wijaya, unsur
akademisi Budi Kurniawan dan ketua umum PKS Lampung Ahmad Jajuli. Menurut Humas
PKS Lampung Ade Utami Ibnu, diskusi akan diadakan setiap pecan dengan tema dan
narasumber yang berbeda dan paling kompeten mengungkap dan mengupas tentang
PKS.



Menurut Ahmad Jajuli, terasa aneh terdengar jika kader PKS dikatakan
militansinya tinggi. Sejauh ini idealism PKS belum apa-apa dibandingkan dengan
persoalan bangsa yang kian krusial. “Rasanya tidak tepat kalau seluruh elemen
bangsa ini menggantungkan harapan tinggi pada PKS,” kata Jajuli. Persoalan
bangsa ini bisa terselesaikan apabila seluruh elemen bangsa bersatu bahu
membahu, kerjasama dan tidak saling menjatuhkan satu sama lainnya.



Jajuli juga memaparkan rahasia mengapa kader PKS bisa dikatan militan. “PKS
selalu menanamkan pada kadernya bahwa PKS adalah partai dawah dan orientasinya
adalah akhirat,” tambah Jajuli. Dokrin-dokrin ini hanya bisa diserapi oleh
orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dan hanya bisa ditransfer lewat
pengajian atau liqoan yang diikuti kader setiap sepekan sekali.



Ia menambahkan, akan terasa sulit jika ada pihak lain yang coba mengamati PKS
namun tidak terjun dan masuk langsung ke dalam kultur PKS. “Pemahaman ini hanya
bisa dirasakan, tidak bisa diterjemahkan dalam bentuk kata-kata,” ujar ketua
umum PKS Lampung. Menurutnya, PKS bukan sekadar partai politik saja, ada
gerakan social, ekonomi, budaya dan sebagainya. Semua ini terangkum dalam PKS.



Selain dokrin tujuan akhir hidup manusia adalah akhirat, Jajuli juga
mengatakan, kader PKS selalu ditanamkan bahwa dalam kehidupan semua manusia
harus punya nilai manfaat bagi orang, beriman pada Allah dan tetap Istiqomah.
Masih menurut Jajuli, ketika ada satu organisasi atau pengkaderan yang orientasi
akhirnya bukan akhirat, maka pengkaderan tersebut akan gagal dan sia-sia.



Pada akhir sesi diskusi tersebut Jajuli mengatakan sejauh ini PKS merasa sudah
sampai pada pematangan proses bukan paling matang proses dawahnya. PKS siap
bekerjasama dengan siapapun dan toleran terhadap perbedaan-perbedaan yang ada.

Sementara Bambang Eka Wijaya menambahkan, kunci dari militansi kader PKS
adalah percaya akan kebenaran misi yang diusung partai dan ikhlas. “Ikhlas
karena PKS adalah partai dawah dan tidak akan keluar dari koridor yang telah
ditentukan,” ujar Bambang.[amah milla]

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke