Mas djoko terima kasih informasinya, namun menurut saya anda jgn curiga dengan kelompok yg tidak sejalan dengan agama anda. biarlah mereka ( islam ) mewarnai kehidupannya, toh mas juga bisa berbuat yang terbaik sehingga di indonesia ini menjadi orang baik baik
--- Pada Kam, 12/3/09, djoko pranyoto <[email protected]> menulis: Dari: djoko pranyoto <[email protected]> Topik: TaManBinTaNG >>> Sejarah Berdirinya PKS Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 12 Maret, 2009, 3:29 PM SEJARAH BERDIRINYA PKS: dari milis tetangga.... Soeripto, sekarang menjabat Ketua Dewan Pakar DPP PKS, anggota DPR RI dari PKS, pada tahun 1967 bergabung dengan Kodam Siliwangi sebagai kader militer Sukarela dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud. Soeripto kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono dan Wahono), dan secara struktur di bawah komando Yoga Sugama di Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono. Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi Strategis/Wanhankam nas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981. Soeripto dalam berbagai media menceritakan riwayat hidupnya dalam dunia intelejen dengan gamblang, sekalipun sudah mengaku menjadi mantan sejak tahun 1970 akan tetapi beberapa sumber menerangkan bahwa Soeripto tetap mangkal di kantor BAKIN yang lama karena mengikut dan tetap bersama Roedjito. Menurut beberapa teman dekatnya Soeripto juga tak segan- segan nekad mengklaim mewakili KADIN ketika berkunjung ke China agar dapat sambutan dan fasilitas istimewa dari pemerintah China. Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984 muncul kubu Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), pernah menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada tahun 1984. Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupun ajaran NII komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipelihara oleh mantan tokoh Bakin (Soeripto). Soeripto menjadi sponsor sekaligus promotor dan bertindak sebagai pemberi tugas kepada Helmi Aminuddin antara lain untuk mengadopsi ajaran dan manhaj (metode) serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa di Timur Tengah sekitar tahun 1985. Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin berada di bawah binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang Suriah sekitar tahun 1985. Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untuk mengadopsi gerakan Ikhwan tersebut, sekalipun Helmi mengatakan alasan kepergiannya ke sana untuk menyelesaikan studinya yang belum rampung. Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi Aminuddin mulai mengibarkan bendera gerakan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia seraya melakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universal dan menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal di Indonesia. Dimana sepulangnya dari sana dan dibawah dukungan Bakin di bawah komando Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun 1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul , Al Islam dan Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi bacaan wajib para kader inti gerakan. Helmy Aminuddin sendiri kemudian menjadi Mursyid 'Aam Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991. Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi. Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan buku-buku terbitan GIP padamasa itu dijual dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama penerbitan buku-buku sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur buku-buku islam yang lain. Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyid atau elite komando organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi gerakan ini cepat berkembang secara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib dari blantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Yayasan Al-Hikmah di kawasan Jl. Bangka-Jakarta Selatan, juga di Yayasan Iqra' di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basis sentral pemukiman elite mereka. Kini Helmi Aminuddin mengonsentrasikan diri secara khusus mengelola pesantren dan Islamic Village di kawasan Cinangka Banten atas kucuran dana di antaranya sebagaian dari Bimantara (perusahaan milik Bambang Trihatmojo-Soeharto ), dari Timur Tengah, serta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana. Helmi Aminuddin mengendalikan gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia dari balik layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangan dingin Soeripto mantan Bakin gerakan Tarbiyyah Ikhwanul Muslimin Indonesia berhasil ikut partisipasi merayakan pesta demokrasi dengan menjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk menjadi Partai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS (Partai Keadlian Sejahtera). Para anggota level bawah kelompok radikal Islam ini dibuat untuk tidak banyak tahu bahkan tidak tahu apa-apa tentang apa dan bagaimana keadaan di atas mereka. Sampai saat ini hanya sangat sedikit anggota jama'ah tarbiyah bahkan yang sudah belasan tahun bergabung sekalipun yang tahu bahwa Helmy Aminuddin adalah mursyid 'aam gerakan mereka dari tahun 1991-1998, apalagi untuk tahu latar belakangnya. Ketika seseorang telah didoktrin oleh jama'ah tarbiyah maka dengan serta merta ia pun kehilangan daya nalar dan pola pikir kritisnya.Yang ia tahu hanya bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginan kelompoknya dan berusaha mengapai tujuan kelompok dengan semua cara. Dan yang lebih menarik lagi adalah operasi cuci otak ini bisa dilakukan secara massal dan cepat dengan hasil yang maksimal. [Non-text portions of this message have been removed] Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ [Non-text portions of this message have been removed]
