......Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk pada
popularitas, meninabobokan rakyat dan menyatakan kondisi perekonomian saat
ini baik-baik saja......
Tks Bung Ichsan, masyarakat lambat laun pasti tersadarkan.



2009/4/16 Reporter Milist <[email protected]>

> Refleksi: Mana partai... mana pemilu.. kok masih hutang terus koruptor
> oh koruptor.......
>
> Tanpa Perubahan, Utang RI Menumpuk
>
> Jakarta - Utang Indonesia, baik dari pinjaman luar negeri maupun penerbitan
> surat berharga negara (SBN/obligasi pemerintah), diperkirakan kian menumpuk
> jika tidak ada perubahan mendasar. Jebakan utang yang didesain oleh para
> ekonom pemerintah (ekonom Mafia Berkeley) selama 40 tahun terakhir ini akan
> membuat Indonesia kian terpuruk dalam lilitan utang.
>
>
> "Siapa pun yang akan menjadi presiden di masa depan harus ada perubahan
> dalam menyelesaikan persoalan utang. Jika kebijakan ekonom masih setia pada
> Mafia Berkeley maka Indonesia terus dijajah melalui instrumen utang," kata
> Ekonom Tim Indonesia Bangkit Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, Selasa (14/4).
> Data menujukkan, selama lima tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono, jumlah nominal utang telah membengkak dari Rp 1.275 triliun pada
> 2004 menjadi Rp 1.667 triliun pada 11 Februari 2009. Tanpa perubahan
> kebijakan, utang luar negeri akan mencekik rakyat Indonesia dan para ekonom
> Mafia Bekeley akan bersukacita dengan situasi ini.
>
>
> Ia menyatakan, pernyataan yang menegaskan tidak terhormat jika Indonesia
> tidak membayar utang merupakan statement tidak bertanggung jawab dan
> mengekalkan penjajahan asing melalui instrumen utang. "Seorang pemimpin
> harus melakukan terobosan besar terhadap persoalan utang. Tanpa ada
> perubahan kebijakan maka tidak ada yang bisa diharapkan dari pemimpin
> seperti itu," tandasnya.
>
>
> Noorsy mengatakan, ekonom Mafia Berkeley telah menjalankan strategi jitu
> guna menjerat bangsa ini melalui utang-utang baru. Jadi sebenarnya ekonom
> Mafia Berkeley mengirim sinyal kepada siapa pun yang terpilih agar tunduk
> pada garis kebijakannya. Ekonom-ekonom seperti ini melihat IMF, Bank Dunia,
> ADB dan lembaga pemberi utang sebagai malaikat penolong, meringankan beban
> defisit APBN dan berperan positif bagi pencapaian kesejahteraan rakyat.
>
> Ia menjelaskan. jerat utang terhadap pemerintah Indonesia terlihat dari
> pembayaran cicilian dan bunga atas utang lama yang lebih besar dari
> pencairan utang baru. Selisih keduanya hampir mencapai Rp 10 triliun.
> Ekonom
> Mafia Barkeley menggunakan privatisasi BUMN dan penerbitan SBN untuk
> menutup
> selisih Rp 10 triliun tersebut.
>
>
> Menurutnya, Indonesia membutuhkan perubahan, yakni pemimpin yang berani
> melakukan terobosan. Pilihan kebijakan yang dilakukan yakni tidak membayar
> utang sama sekali karena utang tersebut menjadi sarang korupsi dan
> persekongkolan, restrukturisasi utang dan menolak utang baru sembari
> melakukan pengoptimalan penerimaan dalam negeri. "Prinsipnya, pemimpin baru
> harus setia pada konstitusi '45 dan mencintai rakyat melalui terobosan
> kebijakan," katanya. Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk pada
> popularitas, meninabobokan rakyat dan menyatakan kondisi perekonomian saat
> ini baik-baik saja.
>
>
> Pembayaran utang berupa cicilan dan bunga menjadikan APBN tersandera dan
> tidak memiliki keleluasaan dalam membiayai program-program pendidikan,
> kesehatan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. "Masyarakat adil-makmur
> hanya ilusi jika kebijakan ekonomi pemerintah memprioritaskan pada
> penumpukan utang," paparnya.
> Sementara itu, ekonom dari INDEF, Imam Sugema, yang dihubungi SH secara
> terpisah menilai kalau saat ini visi ekonomi yang dijalankan oleh
> pemerintahan Yudhoyono-Kalla masih sangat liberal, sehingga berdampak pada
> semakin bertambahnya angka kemiskinan.
>
>
> Karenanya, siapa pun yang terpilih pada Pilpres mendatang, lanjut Imam,
> harus membentuk tim ekonomi yang jelas dengan visi ekonomi yang kuat dan
> tidak lagi berlandaskan pada sistem ekonomi liberal. "Kalau pemerintah yang
> akan datang tetap menerapkan sistem ekonomi yang liberal seperti saat ini,
> bisa dipastikan masa depan perekomian Indonesia akan semakin suram dan
> angka
> kemiskinan akan terus bertambah, sekalipun program BLT dan PNPM tetap
> dilanjutkan. Hal ini terjadi karena perekonomian kita sangat bergantung
> pada
> kepentingan asing," tukasnya.
>
>
> Dia juga menambahkan, akibat sistem ekonomi leberal tersebut, bangsa
> Indonesia juga semakin terlilit utang luar negeri. "Karena hampir seluruh
> proyek-proyek yang sedang dijalankan pemerintah, pendanaannya memang
> bersumber dari sana. Kalau bisa pola-pola semacam itu harus dibatasi oleh
> pemerintahan mendatang. Demikian juga dengan pengelolaan fiskal yang saat
> ini masih sangat boros, sehingga total utang pemerintah saat ini telah
> mencapai Rp 1.695 triliun," tandasnya
> http://www.sinarharapan.co.id:80/berita/0904/14/sh03.html
>
>
> Waduh! Utang RI Meningkat Rp 80 Triliun per Tahun
>
> JAKARTA, KOMPAS.com - Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono, sepanjang tahun 2005-2008, peningkatan utang negara naik
> rata-rata Rp 80 triliun per tahun.
>
> Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang pada era
> Orde Baru, yakni Rp 1.500 triliun dalam jangka 32 tahun atau sekitar
> Rp 46,875 triliun per tahun.
>
> Hal tersebut disampaikan Ketua Koalisi Anti-Utang Dani Setiawan
> melalui siaran resminya kepada pers di Jakarta, Rabu (8/4). "Transaksi
> utang luar negeri memaksa Indonesia untuk terus membayar pinjaman luar
> negerinya meskipun sumber keuangan negara terbatas. Saat ini Indonesia
> tengah berada dalam posisi keterjebakan utang (debt trap) yang sangat
> parah," kata Dani.
>
> Ia mengatakan, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran
> bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan trend yang
> meningkat. Pada awal tahun 2005 sampai dengan September 2008 total
> pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 277
> triliun. Sementara total penarikan pinjaman luar negeri baru dari
> tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp 101 ,9 triliun.
>
> Outstanding utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 hingga 2009
> juga terus meningkat dari Rp 1.275 triliun menjadi Rp 1.667 triliun.
> Selain itu, total utang dalam negeri juga meningkat signifikan dari Rp
> 662 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp 920 triliun pada tahun 2009.
> "Artinya, pemerintah berhasil membawa Indonesia kembali menjadi negara
> pengutang dengan kenaikan Rp 392 triliun dalam kurun waktu kurang lima
> tahun," ujarnya.
>
> Sebelumnya, fakta-fakta serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan dan
> Komisi Pemberantas Korupsi menyatakan bahwa sejak 1967 hingga 2005
> pemerintah baru memanfaatkan utang negara sebanyak 44 persen. Sisanya
> tidak pernah dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pembangunan.
> "Transaksi utang luar negeri selama ini justru membebani. Indonesia
> selama ini dipaksa terus membayar utang," tuturnya.
>
> Ia menilai, pemerintah harus menggenjot upaya untuk mengurangi beban
> utang dengan cara menegosiasikan penghapusan utang kepada pihak
> kreditor. Langkah tersebut harus diikuti dengan komitmen untuk
> menghentikan ketergantungan terhadap utang luar negeri baru.
>
> Ia mencontohkan sejumlah negara, seperti Nigeria, Argentina, Ekuador,
> dan Pakistan, telah mengambil langkah-langkah penghapusan utang.
>
> http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/08/09435115/waduh.utang.ri.meningkat.rp.80.triliun.per.tahun
>
>
> Eskalasi Utang Indonesia, Berbahayakah?
> Jumat, 27 Maret 2009 | 04:54 WIB
> KOMPAS.com - Ketidakmampuan pemerintah untuk keluar dari
> ketergantungan pada utang yang semakin besar, menurut sejumlah
> kalangan, menunjukkan pemerintah sudah pada tahap ketagihan pada
> utang. Ketergantungan Indonesia pada utang hanya bisa dikurangi dengan
> mengurangi stok utang secara signifikan, menggenjot penerimaan
> (terutama pajak), dan adanya keberanian politik untuk merombak belanja
> negara.
>
> Kendati rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) terus
> menunjukkan penurunan, posisi utang pemerintah secara keseluruhan
> terus meningkat dari Rp 1.294,8 triliun (2004) menjadi Rp 1.623
> triliun (2008) dan tahun ini diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp
> 1.667 triliun. Peningkatan terjadi baik pada utang luar negeri maupun
> surat berharga negara.
>
> Lonjakan juga terjadi pada jumlah bunga yang harus dibayar, dari Rp
> 62,5 triliun (2004) menjadi Rp 65,2 triliun (2005), Rp 79,1 triliun
> (2006), Rp 79,8 triliun (2007), Rp 88,62 triliun (2008), dan tahun ini
> diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp 101,7 triliun atau naik rata-
> rata 10,3 persen per tahun selama kurun 2004-2009.
>
> Semakin membengkaknya kewajiban utang ini menjadi beban bagi APBN
> karena menyedot anggaran pembangunan. Praktis sepertiga penerimaan
> pajak tersedot untuk membayar bunga utang. Sementara untuk memenuhi
> kewajiban cicilan pokok, termasuk utang luar negeri, pemerintah terus
> dipaksa menerbitkan utang baru. Besarnya utang baru yang diterbitkan
> ini cenderung terus meningkat, bahkan melebihi kebutuhan untuk menutup
> defisit APBN.
>
> Sebelumnya, Bank Indonesia dalam kajian stabilitas keuangan 2008 juga
> sudah mengingatkan kecenderungan meningkatnya tekanan utang luar
> negeri. Stok utang luar negeri, menurut data Direktorat Jenderal
> Pengelolaan Utang, meningkat dari 62,021 miliar dollar AS (2006)
> menjadi 62,253 miliar dollar AS (2007) dan pada 2008 serta 2009
> diperkirakan 65,446 miliar dollar AS dan 65,730 miliar dollar AS.
>
> Yang mencemaskan, menurut kajian BI tersebut, peningkatan utang ini
> juga terjadi pada utang jangka pendek yang meningkat dari 16,5 miliar
> dollar AS (2006) menjadi 23,1 miliar dollar AS atau meningkat 40,2
> persen pada 2007. Akibatnya, rasio utang luar negeri jangka pendek
> terhadap total utang luar negeri juga naik dari 13 persen menjadi 17
> persen.
>
> Demikian pula rasio utang luar negeri jangka pendek terhadap cadangan
> devisa yang meningkat dari 38,7 persen (akhir 2006) menjadi 40,6
> persen (akhir 2007), sementara laju peningkatan cadangan devisa lebih
> rendah dibandingkan dengan peningkatan utang luar negeri jangka
> pendek.
>
> Kondisi ini, menurut BI, bisa menjadi sumber potensi kerawanan yang
> dapat mengancam ketahanan sektor keuangan karena utang luar negeri
> atau modal asing yang masuk banyak ditempatkan dalam Sertifikat Bank
> Indonesia dan Surat Utang Negara yang jumlahnya cenderung terus
> meningkat. Tekanan terhadap sektor keuangan bisa muncul jika modal
> asing yang ditempatkan di surat berharga domestik itu tiba-tiba secara
> serentak dan mendadak mengalir keluar (sudden reversal). Tekanan juga
> muncul karena besarnya pembayaran utang luar negeri.
>
> Pemerintah sendiri, seperti dikatakan Direktur Jenderal Pengelolaan
> Utang Rahmat Waluyanto, melihat tak ada yang perlu dicemaskan dengan
> terus meningkatnya utang. Menurut dia, utang yang besar dan
> peningkatan utang tidak akan jadi masalah selama dipakai untuk
> mendorong kegiatan ekonomi produktif dan dikelola dengan baik.
>
> Hal senada diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu.
> Semakin menurunnya rasio utang terhadap PDB, meningkatnya rasio pajak,
> dan semakin besarnya sumber pembiayaan defisit yang berasal dari dalam
> negeri menunjukkan pemerintah semakin tak bergantung pada utang dan
> lebih banyak mengandalkan pada kemampuan dalam negeri.
>
> ”Pemerintah punya strategi pengelolaan utang domestik yang baik, baik
> penerbitan, pelunasan, pengaturan jatuh tempo, refinancing, buy back,
> maupun peminimuman biaya dan risiko utang sehingga potensi bom waktu
> utang tak terjadi,” ujarnya.
>
> Tak konsisten
>
> Anggota Komisi XI DPR, Dradjad H Wibowo, menilai, eskalasi utang
> menunjukkan tidak konsistennya kebijakan pemerintah dengan komitmen
> untuk mengurangi ketergantungan pada utang.
>
> Menurut Dradjad, terus meningkatnya utang adalah akibat tak adanya
> keberanian pemerintah untuk merombak struktur belanja negara.
>
> ”Jika kita terus membiarkan pola belanja negara seperti ini dan segala
> sesuatu ditutupi dengan utang, pada satu titik nanti kita akan
> mengalami kondisi seperti yang pernah dialami Argentina dengan siklus
> utangnya. Dampaknya tidak hanya ke APBN. Kebijakan ekonomi kita juga
> akhirnya didikte pihak luar,” ujarnya.
>
> Keberatan juga diungkapkan Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang
> Priambodo terhadap niat pemerintah menambah stimulus fiskal hingga 2
> persen dari PDB.
>
> ”Menurut saya, se-urgent apa pun, kalau itu menaikkan defisit, harus
> benar-benar digunakan untuk kegiatan yang meningkatkan kemampuan
> membayar utang dan risikonya rendah. Kalau arahnya tak jelas, seperti
> pemotongan pajak pada stimulus yang sekarang, lebih baik jangan,”
> ujarnya. (tat/aik)
>
>
> http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/03/27/04544912/eskalasi.utang.indonesia.berbahayakah
>
> Utang Dongkrak Cadangan Devisa
> Jumat, 3 April 2009 | 13:35 WIB
>
> JAKARTA, KOMPAS.com — Cadangan devisa Indonesia bertambah menjadi 54,8
> miliar dollar AS pada 31 Maret 2009 atau meningkat dibandingkan posisi
> devisa per Februari 2009 yang hanya mencapai 50,564 miliar dollar AS.
>
> Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, seusai
> shalat Jumat, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (3/4). "Cadangan devisa
> naik karena aliran dana yang masuk ke BI lebih besar dari yang kita
> keluarkan," kata Boediono.
>
> Menurutnya, cadangan devisa tersebut disumbang dari pinjaman global
> dan masukan dari ekspor. "Cadangan devisa itu sebagian dari utang atau
> pinjaman global, sebagian masukan ekspor dari dana migas yang langsung
> masuk ke BI," tuturnya.
>
> Selain itu, Boediono juga menyebut adanya aliran dana asing yang masuk
> dalam beberapa minggu terakhir ini, juga menambah suplai devisa dalam
> negeri, kendati jumlahnya tidak begitu besar. "Itu bagus," ujarnya.
>
>
> http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/03/13352475/utang.dongkrak.cadangan.devisa
> Utang Kapal Bekas Jerman
> Pemerintah Diminta Ajukan Penghapusan
> Konvensi PBB bisa menjadi landasan.
>
> Jakarta -- Pemerintah diminta mengajukan penghapusan utang atas kapal
> bekas Jerman Timur sebesar US$ 480 juta. Direktur Eksekutif
> International NGO Forum on Indonesian Development Donatus K. Marut
> mengatakan kapal tersebut tidak memberi manfaat, mengandung korupsi,
> dan melanggar hak asasi manusia.
>
> "Karena terjadi beberapa pelanggaran (dalam perjanjian jual-beli
> kapal), pembelian kapal itu otomatis batal," kata Donatus dalam
> Seminar INFID tentang Upaya Penghapusan Utang Indonesia Ditinjau dalam
> Perspektif Keadilan dan HAM di Jakarta kemarin. Menurut dia, Jerman
> maupun Indonesia sama-sama melakukan kesalahan dalam pembelian kapal
> tersebut.
>
> Sebanyak 39 kapal bekas Angkatan Laut Jerman Timur, yang terdiri atas
> 16 Parvim corvettes, 14 Frosch troop landing ship tanks, dan 9 penyapu
> ranjau Condor, dibeli Indonesia dari Jerman Timur. Harganya sebesar
> US$ 442,8 juta, tidak termasuk biaya perbaikan dan pemeliharaan kapal.
>
> Indonesia, kata Donatus, melanggar perjanjian tujuan pembelian kapal
> yang antara lain awalnya akan digunakan sebagai kapal dagang, untuk
> mencegah penyelundupan, dan menyelamatkan bidang perikanan. Nyatanya,
> kata dia, kapal digunakan mengangkut prajurit ke daerah konflik, yakni
> Aceh dan Timor Timur. "Itu merupakan pelanggaran hak asasi," kata
> Donatus.
>
> Pemerintah Jerman, kata dia, tak seharusnya menjual kapalnya kepada
> Indonesia karena tahu barang tersebut rongsokan. Dalam sebuah kajian,
> di negara tersebut juga ada undang-undang yang mengatur larangan untuk
> menjual kapal perang kepada negara yang sedang mengalami konflik.
>
> Meski dalam perjanjian tidak disebutkan, kata Donatus, kapal itu tidak
> boleh digunakan untuk perang. Pada saat pembelian kapal, beberapa
> daerah di Indonesia sedang dilanda konflik sehingga penggunaan kapal
> tersebut berpotensi diselewengkan.
>
> Menurut Donatus, Konvensi Wina pada 1968 maupun Konvensi Perserikatan
> Bangsa-Bangsa 2006 tentang korupsi bisa menjadi landasan hukum
> penghapusan utang pembelian kapal tersebut. Selain itu, bisa
> menggunakan yurisprudensi penghapusan utang antara Norwegia dan
> Ekuador pada 2006.
>
> Norwegia pernah memberi utang kepada Ekuador berupa kapal yang
> tujuannya untuk memberi manfaat ekonomi. Ternyata utang tersebut
> justru merugikan. Akibatnya, Norwegia menghapus utang tersebut dan
> memberikan hibah sebagai kompensasi. “Beban utang bisa dialihkan ke
> pendanaan program- program pembangunan yang bermanfaat, seperti
> program penanggulangan HIV/AIDS. AQIDA SWAMURTI
>
>
> http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/16/Nasional/krn.20090416.162643.id.html
>
> --
> **********************************
> Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
> http://reportermilist.multiply.com/
> ************************************
>
>
> ------------------------------------
>
> Usaha Berubah, Selalu Kalah ?
>
> Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda
> ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru
> semakin frustrasi ?
>
> Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda
> berusaha, Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin
> tidak terkendali ?
>
> No Problem ! Di SERVO Aja !
>
> S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional,
> menemukan potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses
> otomatis Anda seperti milik para BINTANG.
>
> Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
>
> - Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan
> psikosomatis seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut,
> insomnia
>
> - Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup,
> panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual
>
> - Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan
> buruk seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi
>
> - Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa
> malu, bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda
> pekerjaan
>
> - Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan
> jati diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik
> dibidangnya
>
> - Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif
> Anda untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan
> sosial Anda.
>
> Kesaksian !
>
> Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi
> setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa
> yang tegar menghadapi tantangan hidup ini. ...
>
> Hubungi : http://klinikservo.com/
>
> (021) 5574 5555, 554 6009
>
> ---
>
> TERAPI GRATIS !
>
> FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu,
> Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia
> !Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Usaha Berubah, Selalu Kalah ?

Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda 
ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru 
semakin frustrasi ? 

Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, 
Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak 
terkendali ? 

No Problem ! Di SERVO Aja !

S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional, menemukan 
potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda 
seperti milik para BINTANG. 

Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
 
- Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis 
seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia 

- Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, 
panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual 

- Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk 
seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi 

- Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, 
bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan 

- Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati 
diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik 
dibidangnya 

- Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda 
untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial 
Anda.  

Kesaksian !

Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi 
setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang 
tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... 

Hubungi : http://klinikservo.com/
 
(021) 5574 5555, 554 6009

---

TERAPI GRATIS !

FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, 
Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke