......Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk pada popularitas, meninabobokan rakyat dan menyatakan kondisi perekonomian saat ini baik-baik saja...... Tks Bung Ichsan, masyarakat lambat laun pasti tersadarkan.
2009/4/16 Reporter Milist <[email protected]> > Refleksi: Mana partai... mana pemilu.. kok masih hutang terus koruptor > oh koruptor....... > > Tanpa Perubahan, Utang RI Menumpuk > > Jakarta - Utang Indonesia, baik dari pinjaman luar negeri maupun penerbitan > surat berharga negara (SBN/obligasi pemerintah), diperkirakan kian menumpuk > jika tidak ada perubahan mendasar. Jebakan utang yang didesain oleh para > ekonom pemerintah (ekonom Mafia Berkeley) selama 40 tahun terakhir ini akan > membuat Indonesia kian terpuruk dalam lilitan utang. > > > "Siapa pun yang akan menjadi presiden di masa depan harus ada perubahan > dalam menyelesaikan persoalan utang. Jika kebijakan ekonom masih setia pada > Mafia Berkeley maka Indonesia terus dijajah melalui instrumen utang," kata > Ekonom Tim Indonesia Bangkit Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, Selasa (14/4). > Data menujukkan, selama lima tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang > Yudhoyono, jumlah nominal utang telah membengkak dari Rp 1.275 triliun pada > 2004 menjadi Rp 1.667 triliun pada 11 Februari 2009. Tanpa perubahan > kebijakan, utang luar negeri akan mencekik rakyat Indonesia dan para ekonom > Mafia Bekeley akan bersukacita dengan situasi ini. > > > Ia menyatakan, pernyataan yang menegaskan tidak terhormat jika Indonesia > tidak membayar utang merupakan statement tidak bertanggung jawab dan > mengekalkan penjajahan asing melalui instrumen utang. "Seorang pemimpin > harus melakukan terobosan besar terhadap persoalan utang. Tanpa ada > perubahan kebijakan maka tidak ada yang bisa diharapkan dari pemimpin > seperti itu," tandasnya. > > > Noorsy mengatakan, ekonom Mafia Berkeley telah menjalankan strategi jitu > guna menjerat bangsa ini melalui utang-utang baru. Jadi sebenarnya ekonom > Mafia Berkeley mengirim sinyal kepada siapa pun yang terpilih agar tunduk > pada garis kebijakannya. Ekonom-ekonom seperti ini melihat IMF, Bank Dunia, > ADB dan lembaga pemberi utang sebagai malaikat penolong, meringankan beban > defisit APBN dan berperan positif bagi pencapaian kesejahteraan rakyat. > > Ia menjelaskan. jerat utang terhadap pemerintah Indonesia terlihat dari > pembayaran cicilian dan bunga atas utang lama yang lebih besar dari > pencairan utang baru. Selisih keduanya hampir mencapai Rp 10 triliun. > Ekonom > Mafia Barkeley menggunakan privatisasi BUMN dan penerbitan SBN untuk > menutup > selisih Rp 10 triliun tersebut. > > > Menurutnya, Indonesia membutuhkan perubahan, yakni pemimpin yang berani > melakukan terobosan. Pilihan kebijakan yang dilakukan yakni tidak membayar > utang sama sekali karena utang tersebut menjadi sarang korupsi dan > persekongkolan, restrukturisasi utang dan menolak utang baru sembari > melakukan pengoptimalan penerimaan dalam negeri. "Prinsipnya, pemimpin baru > harus setia pada konstitusi '45 dan mencintai rakyat melalui terobosan > kebijakan," katanya. Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk pada > popularitas, meninabobokan rakyat dan menyatakan kondisi perekonomian saat > ini baik-baik saja. > > > Pembayaran utang berupa cicilan dan bunga menjadikan APBN tersandera dan > tidak memiliki keleluasaan dalam membiayai program-program pendidikan, > kesehatan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. "Masyarakat adil-makmur > hanya ilusi jika kebijakan ekonomi pemerintah memprioritaskan pada > penumpukan utang," paparnya. > Sementara itu, ekonom dari INDEF, Imam Sugema, yang dihubungi SH secara > terpisah menilai kalau saat ini visi ekonomi yang dijalankan oleh > pemerintahan Yudhoyono-Kalla masih sangat liberal, sehingga berdampak pada > semakin bertambahnya angka kemiskinan. > > > Karenanya, siapa pun yang terpilih pada Pilpres mendatang, lanjut Imam, > harus membentuk tim ekonomi yang jelas dengan visi ekonomi yang kuat dan > tidak lagi berlandaskan pada sistem ekonomi liberal. "Kalau pemerintah yang > akan datang tetap menerapkan sistem ekonomi yang liberal seperti saat ini, > bisa dipastikan masa depan perekomian Indonesia akan semakin suram dan > angka > kemiskinan akan terus bertambah, sekalipun program BLT dan PNPM tetap > dilanjutkan. Hal ini terjadi karena perekonomian kita sangat bergantung > pada > kepentingan asing," tukasnya. > > > Dia juga menambahkan, akibat sistem ekonomi leberal tersebut, bangsa > Indonesia juga semakin terlilit utang luar negeri. "Karena hampir seluruh > proyek-proyek yang sedang dijalankan pemerintah, pendanaannya memang > bersumber dari sana. Kalau bisa pola-pola semacam itu harus dibatasi oleh > pemerintahan mendatang. Demikian juga dengan pengelolaan fiskal yang saat > ini masih sangat boros, sehingga total utang pemerintah saat ini telah > mencapai Rp 1.695 triliun," tandasnya > http://www.sinarharapan.co.id:80/berita/0904/14/sh03.html > > > Waduh! Utang RI Meningkat Rp 80 Triliun per Tahun > > JAKARTA, KOMPAS.com - Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang > Yudhoyono, sepanjang tahun 2005-2008, peningkatan utang negara naik > rata-rata Rp 80 triliun per tahun. > > Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang pada era > Orde Baru, yakni Rp 1.500 triliun dalam jangka 32 tahun atau sekitar > Rp 46,875 triliun per tahun. > > Hal tersebut disampaikan Ketua Koalisi Anti-Utang Dani Setiawan > melalui siaran resminya kepada pers di Jakarta, Rabu (8/4). "Transaksi > utang luar negeri memaksa Indonesia untuk terus membayar pinjaman luar > negerinya meskipun sumber keuangan negara terbatas. Saat ini Indonesia > tengah berada dalam posisi keterjebakan utang (debt trap) yang sangat > parah," kata Dani. > > Ia mengatakan, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran > bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan trend yang > meningkat. Pada awal tahun 2005 sampai dengan September 2008 total > pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 277 > triliun. Sementara total penarikan pinjaman luar negeri baru dari > tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp 101 ,9 triliun. > > Outstanding utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 hingga 2009 > juga terus meningkat dari Rp 1.275 triliun menjadi Rp 1.667 triliun. > Selain itu, total utang dalam negeri juga meningkat signifikan dari Rp > 662 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp 920 triliun pada tahun 2009. > "Artinya, pemerintah berhasil membawa Indonesia kembali menjadi negara > pengutang dengan kenaikan Rp 392 triliun dalam kurun waktu kurang lima > tahun," ujarnya. > > Sebelumnya, fakta-fakta serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan dan > Komisi Pemberantas Korupsi menyatakan bahwa sejak 1967 hingga 2005 > pemerintah baru memanfaatkan utang negara sebanyak 44 persen. Sisanya > tidak pernah dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pembangunan. > "Transaksi utang luar negeri selama ini justru membebani. Indonesia > selama ini dipaksa terus membayar utang," tuturnya. > > Ia menilai, pemerintah harus menggenjot upaya untuk mengurangi beban > utang dengan cara menegosiasikan penghapusan utang kepada pihak > kreditor. Langkah tersebut harus diikuti dengan komitmen untuk > menghentikan ketergantungan terhadap utang luar negeri baru. > > Ia mencontohkan sejumlah negara, seperti Nigeria, Argentina, Ekuador, > dan Pakistan, telah mengambil langkah-langkah penghapusan utang. > > http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/08/09435115/waduh.utang.ri.meningkat.rp.80.triliun.per.tahun > > > Eskalasi Utang Indonesia, Berbahayakah? > Jumat, 27 Maret 2009 | 04:54 WIB > KOMPAS.com - Ketidakmampuan pemerintah untuk keluar dari > ketergantungan pada utang yang semakin besar, menurut sejumlah > kalangan, menunjukkan pemerintah sudah pada tahap ketagihan pada > utang. Ketergantungan Indonesia pada utang hanya bisa dikurangi dengan > mengurangi stok utang secara signifikan, menggenjot penerimaan > (terutama pajak), dan adanya keberanian politik untuk merombak belanja > negara. > > Kendati rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) terus > menunjukkan penurunan, posisi utang pemerintah secara keseluruhan > terus meningkat dari Rp 1.294,8 triliun (2004) menjadi Rp 1.623 > triliun (2008) dan tahun ini diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp > 1.667 triliun. Peningkatan terjadi baik pada utang luar negeri maupun > surat berharga negara. > > Lonjakan juga terjadi pada jumlah bunga yang harus dibayar, dari Rp > 62,5 triliun (2004) menjadi Rp 65,2 triliun (2005), Rp 79,1 triliun > (2006), Rp 79,8 triliun (2007), Rp 88,62 triliun (2008), dan tahun ini > diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp 101,7 triliun atau naik rata- > rata 10,3 persen per tahun selama kurun 2004-2009. > > Semakin membengkaknya kewajiban utang ini menjadi beban bagi APBN > karena menyedot anggaran pembangunan. Praktis sepertiga penerimaan > pajak tersedot untuk membayar bunga utang. Sementara untuk memenuhi > kewajiban cicilan pokok, termasuk utang luar negeri, pemerintah terus > dipaksa menerbitkan utang baru. Besarnya utang baru yang diterbitkan > ini cenderung terus meningkat, bahkan melebihi kebutuhan untuk menutup > defisit APBN. > > Sebelumnya, Bank Indonesia dalam kajian stabilitas keuangan 2008 juga > sudah mengingatkan kecenderungan meningkatnya tekanan utang luar > negeri. Stok utang luar negeri, menurut data Direktorat Jenderal > Pengelolaan Utang, meningkat dari 62,021 miliar dollar AS (2006) > menjadi 62,253 miliar dollar AS (2007) dan pada 2008 serta 2009 > diperkirakan 65,446 miliar dollar AS dan 65,730 miliar dollar AS. > > Yang mencemaskan, menurut kajian BI tersebut, peningkatan utang ini > juga terjadi pada utang jangka pendek yang meningkat dari 16,5 miliar > dollar AS (2006) menjadi 23,1 miliar dollar AS atau meningkat 40,2 > persen pada 2007. Akibatnya, rasio utang luar negeri jangka pendek > terhadap total utang luar negeri juga naik dari 13 persen menjadi 17 > persen. > > Demikian pula rasio utang luar negeri jangka pendek terhadap cadangan > devisa yang meningkat dari 38,7 persen (akhir 2006) menjadi 40,6 > persen (akhir 2007), sementara laju peningkatan cadangan devisa lebih > rendah dibandingkan dengan peningkatan utang luar negeri jangka > pendek. > > Kondisi ini, menurut BI, bisa menjadi sumber potensi kerawanan yang > dapat mengancam ketahanan sektor keuangan karena utang luar negeri > atau modal asing yang masuk banyak ditempatkan dalam Sertifikat Bank > Indonesia dan Surat Utang Negara yang jumlahnya cenderung terus > meningkat. Tekanan terhadap sektor keuangan bisa muncul jika modal > asing yang ditempatkan di surat berharga domestik itu tiba-tiba secara > serentak dan mendadak mengalir keluar (sudden reversal). Tekanan juga > muncul karena besarnya pembayaran utang luar negeri. > > Pemerintah sendiri, seperti dikatakan Direktur Jenderal Pengelolaan > Utang Rahmat Waluyanto, melihat tak ada yang perlu dicemaskan dengan > terus meningkatnya utang. Menurut dia, utang yang besar dan > peningkatan utang tidak akan jadi masalah selama dipakai untuk > mendorong kegiatan ekonomi produktif dan dikelola dengan baik. > > Hal senada diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu. > Semakin menurunnya rasio utang terhadap PDB, meningkatnya rasio pajak, > dan semakin besarnya sumber pembiayaan defisit yang berasal dari dalam > negeri menunjukkan pemerintah semakin tak bergantung pada utang dan > lebih banyak mengandalkan pada kemampuan dalam negeri. > > Pemerintah punya strategi pengelolaan utang domestik yang baik, baik > penerbitan, pelunasan, pengaturan jatuh tempo, refinancing, buy back, > maupun peminimuman biaya dan risiko utang sehingga potensi bom waktu > utang tak terjadi, ujarnya. > > Tak konsisten > > Anggota Komisi XI DPR, Dradjad H Wibowo, menilai, eskalasi utang > menunjukkan tidak konsistennya kebijakan pemerintah dengan komitmen > untuk mengurangi ketergantungan pada utang. > > Menurut Dradjad, terus meningkatnya utang adalah akibat tak adanya > keberanian pemerintah untuk merombak struktur belanja negara. > > Jika kita terus membiarkan pola belanja negara seperti ini dan segala > sesuatu ditutupi dengan utang, pada satu titik nanti kita akan > mengalami kondisi seperti yang pernah dialami Argentina dengan siklus > utangnya. Dampaknya tidak hanya ke APBN. Kebijakan ekonomi kita juga > akhirnya didikte pihak luar, ujarnya. > > Keberatan juga diungkapkan Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang > Priambodo terhadap niat pemerintah menambah stimulus fiskal hingga 2 > persen dari PDB. > > Menurut saya, se-urgent apa pun, kalau itu menaikkan defisit, harus > benar-benar digunakan untuk kegiatan yang meningkatkan kemampuan > membayar utang dan risikonya rendah. Kalau arahnya tak jelas, seperti > pemotongan pajak pada stimulus yang sekarang, lebih baik jangan, > ujarnya. (tat/aik) > > > http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/03/27/04544912/eskalasi.utang.indonesia.berbahayakah > > Utang Dongkrak Cadangan Devisa > Jumat, 3 April 2009 | 13:35 WIB > > JAKARTA, KOMPAS.com Cadangan devisa Indonesia bertambah menjadi 54,8 > miliar dollar AS pada 31 Maret 2009 atau meningkat dibandingkan posisi > devisa per Februari 2009 yang hanya mencapai 50,564 miliar dollar AS. > > Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, seusai > shalat Jumat, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (3/4). "Cadangan devisa > naik karena aliran dana yang masuk ke BI lebih besar dari yang kita > keluarkan," kata Boediono. > > Menurutnya, cadangan devisa tersebut disumbang dari pinjaman global > dan masukan dari ekspor. "Cadangan devisa itu sebagian dari utang atau > pinjaman global, sebagian masukan ekspor dari dana migas yang langsung > masuk ke BI," tuturnya. > > Selain itu, Boediono juga menyebut adanya aliran dana asing yang masuk > dalam beberapa minggu terakhir ini, juga menambah suplai devisa dalam > negeri, kendati jumlahnya tidak begitu besar. "Itu bagus," ujarnya. > > > http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/03/13352475/utang.dongkrak.cadangan.devisa > Utang Kapal Bekas Jerman > Pemerintah Diminta Ajukan Penghapusan > Konvensi PBB bisa menjadi landasan. > > Jakarta -- Pemerintah diminta mengajukan penghapusan utang atas kapal > bekas Jerman Timur sebesar US$ 480 juta. Direktur Eksekutif > International NGO Forum on Indonesian Development Donatus K. Marut > mengatakan kapal tersebut tidak memberi manfaat, mengandung korupsi, > dan melanggar hak asasi manusia. > > "Karena terjadi beberapa pelanggaran (dalam perjanjian jual-beli > kapal), pembelian kapal itu otomatis batal," kata Donatus dalam > Seminar INFID tentang Upaya Penghapusan Utang Indonesia Ditinjau dalam > Perspektif Keadilan dan HAM di Jakarta kemarin. Menurut dia, Jerman > maupun Indonesia sama-sama melakukan kesalahan dalam pembelian kapal > tersebut. > > Sebanyak 39 kapal bekas Angkatan Laut Jerman Timur, yang terdiri atas > 16 Parvim corvettes, 14 Frosch troop landing ship tanks, dan 9 penyapu > ranjau Condor, dibeli Indonesia dari Jerman Timur. Harganya sebesar > US$ 442,8 juta, tidak termasuk biaya perbaikan dan pemeliharaan kapal. > > Indonesia, kata Donatus, melanggar perjanjian tujuan pembelian kapal > yang antara lain awalnya akan digunakan sebagai kapal dagang, untuk > mencegah penyelundupan, dan menyelamatkan bidang perikanan. Nyatanya, > kata dia, kapal digunakan mengangkut prajurit ke daerah konflik, yakni > Aceh dan Timor Timur. "Itu merupakan pelanggaran hak asasi," kata > Donatus. > > Pemerintah Jerman, kata dia, tak seharusnya menjual kapalnya kepada > Indonesia karena tahu barang tersebut rongsokan. Dalam sebuah kajian, > di negara tersebut juga ada undang-undang yang mengatur larangan untuk > menjual kapal perang kepada negara yang sedang mengalami konflik. > > Meski dalam perjanjian tidak disebutkan, kata Donatus, kapal itu tidak > boleh digunakan untuk perang. Pada saat pembelian kapal, beberapa > daerah di Indonesia sedang dilanda konflik sehingga penggunaan kapal > tersebut berpotensi diselewengkan. > > Menurut Donatus, Konvensi Wina pada 1968 maupun Konvensi Perserikatan > Bangsa-Bangsa 2006 tentang korupsi bisa menjadi landasan hukum > penghapusan utang pembelian kapal tersebut. Selain itu, bisa > menggunakan yurisprudensi penghapusan utang antara Norwegia dan > Ekuador pada 2006. > > Norwegia pernah memberi utang kepada Ekuador berupa kapal yang > tujuannya untuk memberi manfaat ekonomi. Ternyata utang tersebut > justru merugikan. Akibatnya, Norwegia menghapus utang tersebut dan > memberikan hibah sebagai kompensasi. Beban utang bisa dialihkan ke > pendanaan program- program pembangunan yang bermanfaat, seperti > program penanggulangan HIV/AIDS. AQIDA SWAMURTI > > > http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/16/Nasional/krn.20090416.162643.id.html > > -- > ********************************** > Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya > http://reportermilist.multiply.com/ > ************************************ > > > ------------------------------------ > > Usaha Berubah, Selalu Kalah ? > > Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda > ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru > semakin frustrasi ? > > Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda > berusaha, Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin > tidak terkendali ? > > No Problem ! Di SERVO Aja ! > > S.E.R.V.O membebaskan Anda dari "jerat atau penjara" emosional, > menemukan potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses > otomatis Anda seperti milik para BINTANG. > > Dengan Terapi S.E.R.V.O : > > - Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan > psikosomatis seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, > insomnia > > - Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, > panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual > > - Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan > buruk seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi > > - Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa > malu, bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda > pekerjaan > > - Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan > jati diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik > dibidangnya > > - Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif > Anda untuk membuat cetak biru kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan > sosial Anda. > > Kesaksian ! > > Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi > setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa > yang tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... > > Hubungi : http://klinikservo.com/ > > (021) 5574 5555, 554 6009 > > --- > > TERAPI GRATIS ! > > FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, > Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia > !Yahoo! Groups Links > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Usaha Berubah, Selalu Kalah ? Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru semakin frustrasi ? Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak terkendali ? No Problem ! Di SERVO Aja ! S.E.R.V.O membebaskan Anda dari "jerat atau penjara" emosional, menemukan potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda seperti milik para BINTANG. Dengan Terapi S.E.R.V.O : - Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia - Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual - Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi - Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan - Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik dibidangnya - Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda untuk membuat cetak biru kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial Anda. Kesaksian ! Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... Hubungi : http://klinikservo.com/ (021) 5574 5555, 554 6009 --- TERAPI GRATIS ! FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
