Saya setuju dengan mas Wahyu.
Tidak ada manfaatnya menulis atau membeberkan kekurangan keluarga sendiri.
Saya usul aja nih, gimana kalau tulisannya diralat dengan bagaimana kita
melakukan sesuatu untuk negeri ini walau itu hal kecil. Semoga dengan
tulisan2 seperti itu bangsa ini bisa dibawa ke pola fikir yang lebih
positif.
Maaf kalau ada kata yang kurang berkenan.

Jarot
Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia

2009/4/20 wahyu triwiyono <[email protected]>

>
>
> Assalamu'alaikum
>
> Tolong yg menulis disini kalo memang bener2 ada bukti ya bolehlah, kalo
> sekedar berita sambil lalu saja yah ...eman2  komputernya mas nanggung dosa.
>
> Saya percaya indonesia punya hutang , berapapun besarnya hutang kita
> sebagai bangsa ya harus membela dan jangan merendahkan negara hanya karena
> hutang....
> Saya disini komentar netral saja ....gak ada tendensi dari apapun maupun
> siapapun!!
>
> Kasihan Indonesia , udah terpuruk malah dibikn terpuruk oleh pemberitaaan
> warganya sendiri....kasihan...banget negriku ini...
>
>
> Semoga berjaya dan sukses aja orang yg nulis ini.
> Banyak diampuni dosa-2 nya dan senantiasa berbakti pada bapak ibunya ...
> Amiiin
>
>
> Wassalam.
>
>
> Warga Asli Indonesia bung!
>
> --- Pada Ming, 19/4/09, Dedy Irawan 
> <[email protected]<dedyirawan07%40gmail.com>>
> menulis:
>
> Dari: Dedy Irawan <[email protected] <dedyirawan07%40gmail.com>>
> Topik: Re: TaManBinTaNG >>> Negeri penghutang 80 triliun / tahun
> Kepada: [email protected] <TaManBinTaNG%40yahoogroups.com>
> Tanggal: Minggu, 19 April, 2009, 12:45 AM
>
>
> ......Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk pada
> popularitas, meninabobokan rakyat dan menyatakan kondisi perekonomian saat
> ini baik-baik saja......
> Tks Bung Ichsan, masyarakat lambat laun pasti tersadarkan.
>
> 2009/4/16 Reporter Milist 
> <[email protected]<reportermilist%40gmail.com>
> >
>
> > Refleksi: Mana partai... mana pemilu.. kok masih hutang terus koruptor
> > oh koruptor.......
> >
> > Tanpa Perubahan, Utang RI Menumpuk
> >
> > Jakarta - Utang Indonesia, baik dari pinjaman luar negeri maupun
> penerbitan
> > surat berharga negara (SBN/obligasi pemerintah), diperkirakan kian
> menumpuk
> > jika tidak ada perubahan mendasar. Jebakan utang yang didesain oleh para
> > ekonom pemerintah (ekonom Mafia Berkeley) selama 40 tahun terakhir ini
> akan
> > membuat Indonesia kian terpuruk dalam lilitan utang.
> >
> >
> > "Siapa pun yang akan menjadi presiden di masa depan harus ada perubahan
> > dalam menyelesaikan persoalan utang. Jika kebijakan ekonom masih setia
> pada
> > Mafia Berkeley maka Indonesia terus dijajah melalui instrumen utang,"
> kata
> > Ekonom Tim Indonesia Bangkit Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, Selasa
> (14/4).
> > Data menujukkan, selama lima tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang
> > Yudhoyono, jumlah nominal utang telah membengkak dari Rp 1.275 triliun
> pada
> > 2004 menjadi Rp 1.667 triliun pada 11 Februari 2009. Tanpa perubahan
> > kebijakan, utang luar negeri akan mencekik rakyat Indonesia dan para
> ekonom
> > Mafia Bekeley akan bersukacita dengan situasi ini.
> >
> >
> > Ia menyatakan, pernyataan yang menegaskan tidak terhormat jika Indonesia
> > tidak membayar utang merupakan statement tidak bertanggung jawab dan
> > mengekalkan penjajahan asing melalui instrumen utang. "Seorang pemimpin
> > harus melakukan terobosan besar terhadap persoalan utang. Tanpa ada
> > perubahan kebijakan maka tidak ada yang bisa diharapkan dari pemimpin
> > seperti itu," tandasnya.
> >
> >
> > Noorsy mengatakan, ekonom Mafia Berkeley telah menjalankan strategi jitu
> > guna menjerat bangsa ini melalui utang-utang baru. Jadi sebenarnya ekonom
> > Mafia Berkeley mengirim sinyal kepada siapa pun yang terpilih agar tunduk
> > pada garis kebijakannya. Ekonom-ekonom seperti ini melihat IMF, Bank
> Dunia,
> > ADB dan lembaga pemberi utang sebagai malaikat penolong, meringankan
> beban
> > defisit APBN dan berperan positif bagi pencapaian kesejahteraan rakyat.
> >
> > Ia menjelaskan. jerat utang terhadap pemerintah Indonesia terlihat dari
> > pembayaran cicilian dan bunga atas utang lama yang lebih besar dari
> > pencairan utang baru. Selisih keduanya hampir mencapai Rp 10 triliun.
> > Ekonom
> > Mafia Barkeley menggunakan privatisasi BUMN dan penerbitan SBN untuk
> > menutup
> > selisih Rp 10 triliun tersebut.
> >
> >
> > Menurutnya, Indonesia membutuhkan perubahan, yakni pemimpin yang berani
> > melakukan terobosan. Pilihan kebijakan yang dilakukan yakni tidak
> membayar
> > utang sama sekali karena utang tersebut menjadi sarang korupsi dan
> > persekongkolan, restrukturisasi utang dan menolak utang baru sembari
> > melakukan pengoptimalan penerimaan dalam negeri. "Prinsipnya, pemimpin
> baru
> > harus setia pada konstitusi '45 dan mencintai rakyat melalui terobosan
> > kebijakan," katanya. Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk
> pada
> > popularitas, meninabobokan rakyat dan menyatakan kondisi perekonomian
> saat
> > ini baik-baik saja.
> >
> >
> > Pembayaran utang berupa cicilan dan bunga menjadikan APBN tersandera dan
> > tidak memiliki keleluasaan dalam membiayai program-program pendidikan,
> > kesehatan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. "Masyarakat adil-makmur
> > hanya ilusi jika kebijakan ekonomi pemerintah memprioritaskan pada
> > penumpukan utang," paparnya.
> > Sementara itu, ekonom dari INDEF, Imam Sugema, yang dihubungi SH secara
> > terpisah menilai kalau saat ini visi ekonomi yang dijalankan oleh
> > pemerintahan Yudhoyono-Kalla masih sangat liberal, sehingga berdampak
> pada
> > semakin bertambahnya angka kemiskinan.
> >
> >
> > Karenanya, siapa pun yang terpilih pada Pilpres mendatang, lanjut Imam,
> > harus membentuk tim ekonomi yang jelas dengan visi ekonomi yang kuat dan
> > tidak lagi berlandaskan pada sistem ekonomi liberal. "Kalau pemerintah
> yang
> > akan datang tetap menerapkan sistem ekonomi yang liberal seperti saat
> ini,
> > bisa dipastikan masa depan perekomian Indonesia akan semakin suram dan
> > angka
> > kemiskinan akan terus bertambah, sekalipun program BLT dan PNPM tetap
> > dilanjutkan. Hal ini terjadi karena perekonomian kita sangat bergantung
> > pada
> > kepentingan asing," tukasnya.
> >
> >
> > Dia juga menambahkan, akibat sistem ekonomi leberal tersebut, bangsa
> > Indonesia juga semakin terlilit utang luar negeri. "Karena hampir seluruh
> > proyek-proyek yang sedang dijalankan pemerintah, pendanaannya memang
> > bersumber dari sana. Kalau bisa pola-pola semacam itu harus dibatasi oleh
> > pemerintahan mendatang. Demikian juga dengan pengelolaan fiskal yang saat
> > ini masih sangat boros, sehingga total utang pemerintah saat ini telah
> > mencapai Rp 1.695 triliun," tandasnya
> > http://www.sinarharapan.co.id:80/berita/0904/14/sh03.html<http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/14/sh03.html>
> >
> >
> > Waduh! Utang RI Meningkat Rp 80 Triliun per Tahun
> >
> > JAKARTA, KOMPAS.com - Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang
> > Yudhoyono, sepanjang tahun 2005-2008, peningkatan utang negara naik
> > rata-rata Rp 80 triliun per tahun.
> >
> > Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang pada era
> > Orde Baru, yakni Rp 1.500 triliun dalam jangka 32 tahun atau sekitar
> > Rp 46,875 triliun per tahun.
> >
> > Hal tersebut disampaikan Ketua Koalisi Anti-Utang Dani Setiawan
> > melalui siaran resminya kepada pers di Jakarta, Rabu (8/4). "Transaksi
> > utang luar negeri memaksa Indonesia untuk terus membayar pinjaman luar
> > negerinya meskipun sumber keuangan negara terbatas. Saat ini Indonesia
> > tengah berada dalam posisi keterjebakan utang (debt trap) yang sangat
> > parah," kata Dani.
> >
> > Ia mengatakan, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran
> > bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan trend yang
> > meningkat. Pada awal tahun 2005 sampai dengan September 2008 total
> > pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 277
> > triliun. Sementara total penarikan pinjaman luar negeri baru dari
> > tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp 101 ,9 triliun.
> >
> > Outstanding utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 hingga 2009
> > juga terus meningkat dari Rp 1.275 triliun menjadi Rp 1.667 triliun.
> > Selain itu, total utang dalam negeri juga meningkat signifikan dari Rp
> > 662 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp 920 triliun pada tahun 2009.
> > "Artinya, pemerintah berhasil membawa Indonesia kembali menjadi negara
> > pengutang dengan kenaikan Rp 392 triliun dalam kurun waktu kurang lima
> > tahun," ujarnya.
> >
> > Sebelumnya, fakta-fakta serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan dan
> > Komisi Pemberantas Korupsi menyatakan bahwa sejak 1967 hingga 2005
> > pemerintah baru memanfaatkan utang negara sebanyak 44 persen. Sisanya
> > tidak pernah dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pembangunan.
> > "Transaksi utang luar negeri selama ini justru membebani. Indonesia
> > selama ini dipaksa terus membayar utang," tuturnya.
> >
> > Ia menilai, pemerintah harus menggenjot upaya untuk mengurangi beban
> > utang dengan cara menegosiasikan penghapusan utang kepada pihak
> > kreditor. Langkah tersebut harus diikuti dengan komitmen untuk
> > menghentikan ketergantungan terhadap utang luar negeri baru.
> >
> > Ia mencontohkan sejumlah negara, seperti Nigeria, Argentina, Ekuador,
> > dan Pakistan, telah mengambil langkah-langkah penghapusan utang.
> >
> >
> http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/08/09435115/waduh.utang.ri.meningkat.rp.80.triliun.per.tahun
> >
> >
> > Eskalasi Utang Indonesia, Berbahayakah?
> > Jumat, 27 Maret 2009 | 04:54 WIB
> > KOMPAS.com - Ketidakmampuan pemerintah untuk keluar dari
> > ketergantungan pada utang yang semakin besar, menurut sejumlah
> > kalangan, menunjukkan pemerintah sudah pada tahap ketagihan pada
> > utang. Ketergantungan Indonesia pada utang hanya bisa dikurangi dengan
> > mengurangi stok utang secara signifikan, menggenjot penerimaan
> > (terutama pajak), dan adanya keberanian politik untuk merombak belanja
> > negara.
> >
> > Kendati rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) terus
> > menunjukkan penurunan, posisi utang pemerintah secara keseluruhan
> > terus meningkat dari Rp 1.294,8 triliun (2004) menjadi Rp 1.623
> > triliun (2008) dan tahun ini diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp
> > 1.667 triliun. Peningkatan terjadi baik pada utang luar negeri maupun
> > surat berharga negara.
> >
> > Lonjakan juga terjadi pada jumlah bunga yang harus dibayar, dari Rp
> > 62,5 triliun (2004) menjadi Rp 65,2 triliun (2005), Rp 79,1 triliun
> > (2006), Rp 79,8 triliun (2007), Rp 88,62 triliun (2008), dan tahun ini
> > diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp 101,7 triliun atau naik rata-
> > rata 10,3 persen per tahun selama kurun 2004-2009.
> >
> > Semakin membengkaknya kewajiban utang ini menjadi beban bagi APBN
> > karena menyedot anggaran pembangunan. Praktis sepertiga penerimaan
> > pajak tersedot untuk membayar bunga utang. Sementara untuk memenuhi
> > kewajiban cicilan pokok, termasuk utang luar negeri, pemerintah terus
> > dipaksa menerbitkan utang baru. Besarnya utang baru yang diterbitkan
> > ini cenderung terus meningkat, bahkan melebihi kebutuhan untuk menutup
> > defisit APBN.
> >
> > Sebelumnya, Bank Indonesia dalam kajian stabilitas keuangan 2008 juga
> > sudah mengingatkan kecenderungan meningkatnya tekanan utang luar
> > negeri. Stok utang luar negeri, menurut data Direktorat Jenderal
> > Pengelolaan Utang, meningkat dari 62,021 miliar dollar AS (2006)
> > menjadi 62,253 miliar dollar AS (2007) dan pada 2008 serta 2009
> > diperkirakan 65,446 miliar dollar AS dan 65,730 miliar dollar AS.
> >
> > Yang mencemaskan, menurut kajian BI tersebut, peningkatan utang ini
> > juga terjadi pada utang jangka pendek yang meningkat dari 16,5 miliar
> > dollar AS (2006) menjadi 23,1 miliar dollar AS atau meningkat 40,2
> > persen pada 2007. Akibatnya, rasio utang luar negeri jangka pendek
> > terhadap total utang luar negeri juga naik dari 13 persen menjadi 17
> > persen.
> >
> > Demikian pula rasio utang luar negeri jangka pendek terhadap cadangan
> > devisa yang meningkat dari 38,7 persen (akhir 2006) menjadi 40,6
> > persen (akhir 2007), sementara laju peningkatan cadangan devisa lebih
> > rendah dibandingkan dengan peningkatan utang luar negeri jangka
> > pendek.
> >
> > Kondisi ini, menurut BI, bisa menjadi sumber potensi kerawanan yang
> > dapat mengancam ketahanan sektor keuangan karena utang luar negeri
> > atau modal asing yang masuk banyak ditempatkan dalam Sertifikat Bank
> > Indonesia dan Surat Utang Negara yang jumlahnya cenderung terus
> > meningkat. Tekanan terhadap sektor keuangan bisa muncul jika modal
> > asing yang ditempatkan di surat berharga domestik itu tiba-tiba secara
> > serentak dan mendadak mengalir keluar (sudden reversal). Tekanan juga
> > muncul karena besarnya pembayaran utang luar negeri.
> >
> > Pemerintah sendiri, seperti dikatakan Direktur Jenderal Pengelolaan
> > Utang Rahmat Waluyanto, melihat tak ada yang perlu dicemaskan dengan
> > terus meningkatnya utang. Menurut dia, utang yang besar dan
> > peningkatan utang tidak akan jadi masalah selama dipakai untuk
> > mendorong kegiatan ekonomi produktif dan dikelola dengan baik.
> >
> > Hal senada diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu.
> > Semakin menurunnya rasio utang terhadap PDB, meningkatnya rasio pajak,
> > dan semakin besarnya sumber pembiayaan defisit yang berasal dari dalam
> > negeri menunjukkan pemerintah semakin tak bergantung pada utang dan
> > lebih banyak mengandalkan pada kemampuan dalam negeri.
> >
> > ”Pemerintah punya strategi pengelolaan utang domestik yang baik, baik
> > penerbitan, pelunasan, pengaturan jatuh tempo, refinancing, buy back,
> > maupun peminimuman biaya dan risiko utang sehingga potensi bom waktu
> > utang tak terjadi,” ujarnya.
> >
> > Tak konsisten
> >
> > Anggota Komisi XI DPR, Dradjad H Wibowo, menilai, eskalasi utang
> > menunjukkan tidak konsistennya kebijakan pemerintah dengan komitmen
> > untuk mengurangi ketergantungan pada utang.
> >
> > Menurut Dradjad, terus meningkatnya utang adalah akibat tak adanya
> > keberanian pemerintah untuk merombak struktur belanja negara.
> >
> > ”Jika kita terus membiarkan pola belanja negara seperti ini dan segala
> > sesuatu ditutupi dengan utang, pada satu titik nanti kita akan
> > mengalami kondisi seperti yang pernah dialami Argentina dengan siklus
> > utangnya. Dampaknya tidak hanya ke APBN. Kebijakan ekonomi kita juga
> > akhirnya didikte pihak luar,” ujarnya.
> >
> > Keberatan juga diungkapkan Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang
> > Priambodo terhadap niat pemerintah menambah stimulus fiskal hingga 2
> > persen dari PDB.
> >
> > ”Menurut saya, se-urgent apa pun, kalau itu menaikkan defisit, harus
> > benar-benar digunakan untuk kegiatan yang meningkatkan kemampuan
> > membayar utang dan risikonya rendah. Kalau arahnya tak jelas, seperti
> > pemotongan pajak pada stimulus yang sekarang, lebih baik jangan,”
> > ujarnya. (tat/aik)
> >
> >
> >
> http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/03/27/04544912/eskalasi.utang.indonesia.berbahayakah
> >
> > Utang Dongkrak Cadangan Devisa
> > Jumat, 3 April 2009 | 13:35 WIB
> >
> > JAKARTA, KOMPAS.com — Cadangan devisa Indonesia bertambah menjadi 54,8
> > miliar dollar AS pada 31 Maret 2009 atau meningkat dibandingkan posisi
> > devisa per Februari 2009 yang hanya mencapai 50,564 miliar dollar AS.
> >
> > Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, seusai
> > shalat Jumat, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (3/4). "Cadangan devisa
> > naik karena aliran dana yang masuk ke BI lebih besar dari yang kita
> > keluarkan," kata Boediono.
> >
> > Menurutnya, cadangan devisa tersebut disumbang dari pinjaman global
> > dan masukan dari ekspor. "Cadangan devisa itu sebagian dari utang atau
> > pinjaman global, sebagian masukan ekspor dari dana migas yang langsung
> > masuk ke BI," tuturnya.
> >
> > Selain itu, Boediono juga menyebut adanya aliran dana asing yang masuk
> > dalam beberapa minggu terakhir ini, juga menambah suplai devisa dalam
> > negeri, kendati jumlahnya tidak begitu besar. "Itu bagus," ujarnya.
> >
> >
> >
> http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/03/13352475/utang.dongkrak.cadangan.devisa
> > Utang Kapal Bekas Jerman
> > Pemerintah Diminta Ajukan Penghapusan
> > Konvensi PBB bisa menjadi landasan.
> >
> > Jakarta -- Pemerintah diminta mengajukan penghapusan utang atas kapal
> > bekas Jerman Timur sebesar US$ 480 juta. Direktur Eksekutif
> > International NGO Forum on Indonesian Development Donatus K. Marut
> > mengatakan kapal tersebut tidak memberi manfaat, mengandung korupsi,
> > dan melanggar hak asasi manusia.
> >
> > "Karena terjadi beberapa pelanggaran (dalam perjanjian jual-beli
> > kapal), pembelian kapal itu otomatis batal," kata Donatus dalam
> > Seminar INFID tentang Upaya Penghapusan Utang Indonesia Ditinjau dalam
> > Perspektif Keadilan dan HAM di Jakarta kemarin. Menurut dia, Jerman
> > maupun Indonesia sama-sama melakukan kesalahan dalam pembelian kapal
> > tersebut.
> >
> > Sebanyak 39 kapal bekas Angkatan Laut Jerman Timur, yang terdiri atas
> > 16 Parvim corvettes, 14 Frosch troop landing ship tanks, dan 9 penyapu
> > ranjau Condor, dibeli Indonesia dari Jerman Timur. Harganya sebesar
> > US$ 442,8 juta, tidak termasuk biaya perbaikan dan pemeliharaan kapal.
> >
> > Indonesia, kata Donatus, melanggar perjanjian tujuan pembelian kapal
> > yang antara lain awalnya akan digunakan sebagai kapal dagang, untuk
> > mencegah penyelundupan, dan menyelamatkan bidang perikanan. Nyatanya,
> > kata dia, kapal digunakan mengangkut prajurit ke daerah konflik, yakni
> > Aceh dan Timor Timur. "Itu merupakan pelanggaran hak asasi," kata
> > Donatus.
> >
> > Pemerintah Jerman, kata dia, tak seharusnya menjual kapalnya kepada
> > Indonesia karena tahu barang tersebut rongsokan. Dalam sebuah kajian,
> > di negara tersebut juga ada undang-undang yang mengatur larangan untuk
> > menjual kapal perang kepada negara yang sedang mengalami konflik.
> >
> > Meski dalam perjanjian tidak disebutkan, kata Donatus, kapal itu tidak
> > boleh digunakan untuk perang. Pada saat pembelian kapal, beberapa
> > daerah di Indonesia sedang dilanda konflik sehingga penggunaan kapal
> > tersebut berpotensi diselewengkan.
> >
> > Menurut Donatus, Konvensi Wina pada 1968 maupun Konvensi Perserikatan
> > Bangsa-Bangsa 2006 tentang korupsi bisa menjadi landasan hukum
> > penghapusan utang pembelian kapal tersebut. Selain itu, bisa
> > menggunakan yurisprudensi penghapusan utang antara Norwegia dan
> > Ekuador pada 2006.
> >
> > Norwegia pernah memberi utang kepada Ekuador berupa kapal yang
> > tujuannya untuk memberi manfaat ekonomi. Ternyata utang tersebut
> > justru merugikan. Akibatnya, Norwegia menghapus utang tersebut dan
> > memberikan hibah sebagai kompensasi. “Beban utang bisa dialihkan ke
> > pendanaan program- program pembangunan yang bermanfaat, seperti
> > program penanggulangan HIV/AIDS. AQIDA SWAMURTI
> >
> >
> >
> http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/16/Nasional/krn.20090416.162643.id.html
> >
> > --
> > **********************************
> > Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber
> terpercaya
> > http://reportermilist.multiply.com/
> > ************************************
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> > Usaha Berubah, Selalu Kalah ?
> >
> > Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin
> Anda
> > ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru
> > semakin frustrasi ?
> >
> > Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda
> > berusaha, Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru
> semakin
> > tidak terkendali ?
> >
> > No Problem ! Di SERVO Aja !
> >
> > S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional,
> > menemukan potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses
> > otomatis Anda seperti milik para BINTANG.
> >
> > Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
> >
> > - Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan
> > psikosomatis seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut,
> > insomnia
> >
> > - Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup,
> > panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual
> >
> > - Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan
> > buruk seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi
> >
> > - Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa
> > malu, bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan
> menunda
> > pekerjaan
> >
> > - Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan
> > jati diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang
> terbaik
> > dibidangnya
> >
> > - Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif
> > Anda untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan
> kehidupan
> > sosial Anda.
> >
> > Kesaksian !
> >
> > Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini,
> tetapi
> > setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa
> > yang tegar menghadapi tantangan hidup ini. ...
> >
> > Hubungi : http://klinikservo.com/
> >
> > (021) 5574 5555, 554 6009
> >
> > ---
> >
> > TERAPI GRATIS !
> >
> > FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet,
> Susu,
> > Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia
> > !Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> ------------------------------------
>
> Usaha Berubah, Selalu Kalah ?
>
> Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda
> ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru
> semakin frustrasi ?
>
> Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda
> berusaha, Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin
> tidak terkendali ?
>
> No Problem ! Di SERVO Aja !
>
> S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional,
> menemukan potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses
> otomatis Anda seperti milik para BINTANG.
>
> Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
>
> - Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan
> psikosomatis seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut,
> insomnia
>
> - Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup,
> panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual
>
> - Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan
> buruk seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi
>
> - Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa
> malu, bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda
> pekerjaan
>
> - Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan
> jati diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik
> dibidangnya
>
> - Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif
> Anda untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan
> sosial Anda.
>
> Kesaksian !
>
> Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi
> setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa
> yang tegar menghadapi tantangan hidup ini. ...
>
> Hubungi : http://klinikservo.com/
>
> (021) 5574 5555, 554 6009
>
> ---
>
> TERAPI GRATIS !
>
> FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu,
> Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia
> !Yahoo! Groups Links
>
> Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan
> Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>



-- 
Jarot Herawanto


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Usaha Berubah, Selalu Kalah ?

Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda 
ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru 
semakin frustrasi ? 

Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, 
Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak 
terkendali ? 

No Problem ! Di SERVO Aja !

S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional, menemukan 
potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda 
seperti milik para BINTANG. 

Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
 
- Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis 
seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia 

- Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, 
panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual 

- Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk 
seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi 

- Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, 
bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan 

- Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati 
diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik 
dibidangnya 

- Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda 
untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial 
Anda.  

Kesaksian !

Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi 
setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang 
tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... 

Hubungi : http://klinikservo.com/
 
(021) 5574 5555, 554 6009

---

TERAPI GRATIS !

FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, 
Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke