Artikel: Kapan Kita Sungguh-Sungguh Mensyukuri Nikmat Ini?  

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Hanya-orang-orang yang tidak puas dengan nasibnya yang berkeinginan untuk 
bertukar nasib. Anehnya, kita tidak harus menjadi orang sengsara terlebih 
dahulu untuk memiliki keinginan itu. Bahkan, dalam keadaan 'serba enak' pun 
kita masih ingin bertukar nasib dengan orang lain yang kita anggap bernasib 
lebih baik. Persis seperti pepatah lama kita; "rumput tetangga terlihat lebih 
hijau....." Tetapi, seandainya memang kita berkesempatan untuk menukar nasib 
dengan orang lain; apakah benar kita akan menemukan kepuasan itu?

Disebuah stasiun TV swasta ada reality show yang bertajuk 'Tukar Nasib'. Orang 
kaya bertukar nasib dengan orang miskin. Keluarga kaya pindah ke rumah orang 
miskin, dan sebaliknya. Ternyata, tidak hanya anggota keluarga kaya saja yang 
'tersiksa' dengan dunia barunya. Orang miskin yang 'berubah' kaya pun tidak 
senyaman yang mereka kira sebelumnya. Diluar acara TV, kita sering mendengar 
orang miskin yang mendambakan kekayaan. Itulah sebabnya, begitu mudahnya 
menarik minat orang untuk diajak menjadi kaya. Beragam kegiatan pun ditawarkan. 
Dari mulai arisan fiktif, jual beli barang 'tak berujud', atau email 
pemberitahuan menang lotere, hingga seminar untuk menjadi orang kaya. Nyaris 
semuanya laku keras, melebihi kacang goreng. 

Siapa yang ingin kaya? Saya. Karena hingga saat ini, saya memang belum kaya. 
Bahkan tak jarang masih pusing memikirkan cara membayar tagihan dan berbagai 
kebutuhan rumah tangga. Siapa yang ingin kaya? Orang-orang yang kita anggap 
sudah kaya. Karena, mereka melihat banyak sekali orang yang lebih kaya dari 
dirinya. Siapa yang ingin kaya? Orang-orang yang sudah terbukti sangat kaya 
raya. Sebab, konon kekayaan tidak bisa membuat seseorang merasa cukup.  
Sehingga perburuan itu tidak memiliki garis finis.

Pergulatan semacam itu tidak hanya soal uang dan kekayaan, namun juga banyak 
hal lain semisal jabatan. Kita sering mengira bahwa jabatan tertentu lebih baik 
dari jabatan kita saat ini; terutama ketika kita lebih banyak melihat 
keuntungannya daripada tanggungjawab dan konsekuensi yang ditimbulkannya. 
Kerinduan kita akan gaji tinggi, fasilitas menggiurkan, terus bonus segunung 
membuat diri kita yakin bahwa; kita harus menukar nasib ini. Perkara kita bisa 
menangani tugas dan tanggungjawab serta konsekuensinya, itu soal belakangan. 
Pokoknya, kita dapat dulu itu jabatan. Sewaktu jadi staf, kita mendambakan 
untuk menjadi manager. Setelah menjadi Manager, kita panas hati karena seorang 
kawan sudah menjadi Senior Manager. Setelah menjadi Senior Manager, kita tahu 
bahwa gengsi ini belum cukup kalau tidak menjadi Direktur. Setelah jadi 
Direktur, kita bersedia melakukan apapun untuk menjadi Presiden Direktur. Dan 
nanti, setelah menjadi Presiden Direktur, kita pasti memiliki kejaran-kejaran 
baru lainnya.


Tapi, bukankah kita memang harus memiliki visi dan ambisi semacam itu? Betul. 
Sebab tanpa keinginan seperti itu, kita tidak akan memiliki cukup tenaga untuk 
menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita mampu meraihnya, mengapa tidak? 
Sebab, setiap orang berhak untuk mendapatkannya. Sehingga pengejaran impian 
semacam itu sah-sah saja. Namun, menjadi kurang pada tempatnya ketika kita 
terlampau berfokus kepada 'apa yang kita iginkan', bukan kepada 'apa yang sudah 
kita dapatkan'. Implikasinya, alih-alih menikmati semua pencapaian kita dengan 
sepenuh rasa syukur, kita malah terus-menerus merasa kurang ini dan kurang itu. 
Perasaan kurang akan berdampak positif, dalam konteks memotivasi diri untuk 
meraih pencapaian yang lebih tinggi. Namun, akan berdampak negatif jika kita 
kurang mensyukurinya.

Simaklah apa yang terjadi ketika kita lupa bahwa apa yang kita miliki saat ini 
adalah anugerah yang sangat besar. Betapapun lebih baiknya keadaan kita 
dibandingkan dengan orang lain, tetap saja kita merasa kurang beruntung. 
Jangan-jangan, sebenarnya kita ini tidak kekurangan apapun kecuali rasa syukur. 
Bahkan kadang kita lupa ketika bangun pagi, mendapati diri kita sehat walafiat. 
Padahal, bisa saja Tuhan menjadikan kepala kita pening sekali hingga tak mampu 
bangkit dari tempat tidur. Kadang kita lupa ketika mendapati kedua tangan dan 
kaki, mata dan telinga kita utuh sempurna. Padahal, bisa saja Tuhan 
mengambilnya kapan saja. Bahkan, kadang kita lupa bahwa hidup ini layak untuk 
disyukuri. Karena jika Tuhan menghendaki, bisa saja mengakhirinya kapan saja. 
Jadi, kapan ya kita akan sungguh-sungguh mensyukuri nikmat ini?

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/  
Managing Partner & Learning Facilitator IFSHA Strategic

Catatan Kaki: 
Semoga, Tuhan memberi kecukupan kepada kita. Baik kecukupan secara material 
untuk menjalani kehidupan, maupun kecukupan spiritual untuk mensyukuri semua 
anugerah ini.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
"Belajar Sukses Kepada Alam" versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
gratis. Jika Anda ingin mendapatkan buku tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


Kirim email ke