*Refleksi: Rumah sakit sekarang memang bikin sakit, kenapa sudah ongkos yang
mahal dan tidak mempunyai rasa kemanusian, hanya memikirkan keuntungan saja,
PEMERINTAH DIMANA PERAN MU?*

---------- Forwarded message ----------
From: Rosalina Kurniawan <[email protected]>
Date: 2009/6/8
Subject: [warga] (News) Pasien Tak Mampu Bayar Tagihan, Motor Disita Rumah
Sakit
To: [email protected]
 Pasien Tak Mampu Bayar Tagihan, Motor Disita Rumah Sakit

Kamis, 04 Juni 2009 | 14:33 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta*: Sungguh malam nasib Diki Sofyan dan dua
anaknya. Sudah istrinya meninggal setelah dioperasi caesar di Rumah Sakit
Eka Hospial Bumi Serpong Damai, lelaki berusia 49 tahun, yang sehari-harinya
bekerja sebagai pedagang kopi kaki lima, ini harus membayar tagihan sebesar
Rp 50 Juta.

Diki tak menyangka biaya operasi dan kematian istrinya Rosinta Simamora,34
tahun yang sempat dirawat dua hari di rumah sakit itu membengkak sedemikian
besar. Padahal, ia telah membayar sebesar Rp 28 juta untuk biaya operasi
caesar, cuci darah dan operasi pengangkatan rahim." Tapi setelah istri saya
meninggal tagihan datang lagi,"ujarnya saat ditemui dirumahnya di Desa
Lengkong Gudang Barat, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, Kamis 4/6.

Bahkan, kata Diki, motor honda GL 100 milik adik iparnya kini dijaminkan
kerumah sakit itu. Motor itu jadi jaminan untuk mengeluarkan jenazah adiknya
yang meninggal karena pendarahan hebat saat akan melahirkan tanggal 10 Mei
lalu.

Menurut Maraden Simamora ayah Sinta,anaknya diketahui diantar ke rumah sakit
jam 8 pagi tanggal 10 Mei 2009 dalam keadaan tidak sadar dan mengalami
pendarahan hebat. Pihak keluarga semula membawa Sinta ke bidan terdekat
namun sang bidan tidak sanggup dan menyarankan ke bidan lain yang juga tidak
jauh dari rumahnya di kawasan Lengkong Barat Serpong. Bidan kedua juga tidak
sanggup dan menyarankan agar Sinta segera dibawa ke rumah sakit.

Sinta kemudian dilarikan ke rumah sakit Eka yang hanya berjarak sekitar 3 km
dari rumahnya. "Pilihan rumah sakit ini karena paling dekat dengan rumah
kami. Apalagi di daerah Serpong tidak ada rumah sakit pemerintah," ujar
Maraden.

Oleh dokter yang menangani Sinta lantas diambil tindakan operasi caesar
sekitar pukul 12.00 siang. Pihak rumah sakit meminta jaminan biaya rumah
sebesar Rp 20 juta karena selain operasi caesar juga harus dilakukan operasi
pengangkatan ari ari kandungan Sinta sudah terlepas.

Pihak keluarga kemudian membuat surat menyatakan sanggup membayar namun
minta ditunda hingga Senin karena hari Minggu tidak bisa mengambil uang di
bank. Uang yang diperoleh untuk biaya rumah sakit itu bukan berasal dari
kantong suami Sinta Diki tetapi dari keluarga besarnya termasuk yang berada
di Kalimantan." Saya pontang panting pinjam kesana kemari,"kata Maraden.

Setelah ada pernyataan kesanggupan, pihak rumah sakit melakukan operasi.
Ternyata anak perempuan dalam kandungan Sinta sudah tidak bisa diselematkan.
Pihak rumah sakit juga mengatakan Sinta harus dioperasi lagi untuk
mengangkat rahim. Operasi dilangsungkan pukul 3 dinihari Senin, sehingga
belum 24 jam Sinta mengalami operasi besar selama dua kali.

Kondisi Sinta tak juga berubah malah makin kritis. Pada Selasa siang
nyawanya tidak tertolong lagi. Untuk membawa jenazah Sinta keluar rumah
sakit ternyata bukan perkara mudah. Pihak rumah sakit Eka minta keluarga
membayar biaya administrasi sebesar Rp 50 juta. Jumlah yang cukup besar itu
untuk tindakan di rumah sakit dalam waktu dua hari dirasakan sangat berat
apalagi bagi Diki, suami Sinta yang hanya bekerja sebagai pedagang kopi di
kantin sebuah mal.

Pihak keluarga hanya bisa mengumpulkan biaya sebesar Rp 28 juta yang
dipinjam dari beberapa kerabat. Sisa yang masih harus dibayar sebesar Rp 22
juta. Keluarga kemudian minta kemudahan dan keringanan namun pihak rumah
sakit tetap tidak bergeming dengan beralasan rumah sakit tersebut rumah
sakit swasta dan tidak ada subsidi." Bahkan pihak rumah sakit meminta
jaminan sertifikat rumah," kata Diki.

Karena Diki dan Sinta orang yang tidak mampu dan hanya tinggal di rumah
sewaan, maka Malber berinisiatif membantu adiknya dengan menjaminkan sepeda
motor beserta STNK nya. Jaminan itu kemudian diterima pihak rumah sakit dan
akhirnya jenazah Sinta boleh dibawa pulang untuk dimakamkan setelah empat
jam kemudian.

Diki yang kini juga harus mengurus dua anaknya lagi yang berumur 14 tahun
dan 2,5 tahun mengaku tetap tak mampu membayar sisa tagihan rumah sakit. Dia
berharap pihakrumah sakit memberikan kemudahan baginya sebagai keluarga
tidak mampu, apalagi motor yang jadi jaminan bukan miliknya.


*JONIANSYAH
*

*
*
Sumber: http://www.tempoint eraktif.com/ hg/jakarta/ 2009/06/04/
brk,20090604- 179965,id.
html<http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/06/04/brk,20090604-179965,id.html>


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY
----------------------------------
Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita
yang telah dilabuhkan sampai kebelakang tabir.

- Terus mengharapkan yang terbaik, maka kita akan menghasilkan yang terbaik.
- Jangan bersungut-sungut tetapi mengucap syukurlah  senantiasa.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke