Itu gobloknya jadi orang Indonesia, kebanyakan malu bertindak. Jadi pada saat 
bertindak jadi malu-maluin.
Yang pintar itu anak-anak Riau, ngga bisa menyerang pakai senjata, mereka 
menyerang pakai asap.

 



________________________________
From: Reporter Milist <[email protected]>
Sent: Tuesday, June 16, 2009 7:54:13
Subject: TaManBinTaNG >>> Perang Citra Bersandi ''Ambalat''

Perang Citra Bersandi ''Ambalat''

Malaysia sengaja mengulur-ulur waktu perundingan. Pembicaraan substansi
sengketa Blok Ambalat terus dihindari. Strategi provokasi militer
sengaja dimainkan. Indonesia ditargetkan terpancing oleh provokasi dan
menyerang lebih dahulu. Bila menembak duluan, Indonesia akan dikecam
dunia internasional. Akibatnya, bisa kalah dalam perundingan.

Begitulah peringatan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dalam menyikapi
kasus Ambalat di depan Komisi I DPR, Senin lalu. Bukan hanya militer
Malaysia yang tengah memprovokasi militer Indonesia. Hubungan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)
juga tengah diwarnai provokasi pernyataan.

Jika militer Indonesia terprovokasi oleh Malaysia dan menyerang lebih
dulu, dampaknya bisa fatal. Tapi, bila SBY terprovokasi oleh pernyataan
JK, efeknya tak selalu buruk. Secara beruntun, sepanjang awal Juni ini,
SBY terlihat berupaya menepis citra yang beredar di tengah publik seolah
presiden lamban, peragu, bahkan penakut menghadapi Malaysia.

Entah sengaja dialamatkan kepada SBY atau tidak, pernyataan JK soal
Ambalat memicu reaksi SBY. ''Apabila negara kita terganggu, dengan siapa
saja kita siap perang,'' demikian pernyataan JK, usai peringatan hari
lahir Pancasila di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, 1 Juni lalu.

Pernyataan JK yang --seperti biasa-- lugas dan spontan itu menggoda
sejumlah media untuk mengangkatnya sebagai /headline/ bahwa Indonesia
siap perang. Saat itu, SBY tengah berada di Korea Selatan (Korsel).
Esoknya, 2 Juni, SBY melempar pernyataan tanggapan dari luar negeri.

''Jangan beretorika agar dianggap sebagai pemimpin yang berani dan
gagah, kemudian mengobarkan perang di mana-mana,'' kata SBY dalam jumpa
pers di Hotel Shilla, Pulau Jeju, Korsel. ''Perang adalah jalan terakhir
bila tidak ada cara lain. Gunakan cara lain yang lebih bermartabat dan
tidak mendatangkan masalah bagi kedua bangsa yang sedang membangun, yang
APBN-nya lebih banyak diarahkan pada kesejahteraan rakyat, bukan untuk
perang.''

Seakan tak mau dikesankan penakut, SBY menandaskan, "Saya pernah naik
kapal perang sampai di ujung perbatasan itu. Hanya satu meter dari situ,
itu sudah Malaysia. Saya katakan waktu itu, sejengkal wilayah laut pun,
kalau itu wilayah Indonesia, harus kita pertahankan. Tidak ada toleransi
karena itu harga mati. Tapi cara menyelesaikannya tidak harus dengan
cara mengobarkan peperangan.''

Adu sindiran pernyataan antara SBY dan JK, yang tengah berkompetisi
sebagai calon presiden, itu belakangan memang makin terbuka. Momentum
Ambalat menyediakan bahan untuk saling sindir. Ambalat hanya salah satu
tema. SBY pernah mengoreksi penjelasan JK tentang minimnya anggaran
pertahanan menyusul jatuhnya pesawat Hercules di Magetan, 20 Mei lalu.

JK berkali-kali melansir tema pentingnya pemimpin yang tegas, tanpa
ragu, berani ambil risiko, dan cepat bertindak. Sasaran JK mudah
ditebak: tertuju kepada SBY. Sebaliknya, dalam sejumlah kesempatan, SBY
menyinggung perlunya kepemimpinan yang tidak terjebak oleh benturan
kepentingan bisnis dan politik. Arah pernyataan SBY ini mudah
ditafsirkan: tertuju kepada JK, yang selain Ketua Umum Partai Golkar,
juga seorang pengusaha besar.

Meski berpolemik secara terbuka, saat Presiden SBY tiba dari Korsel di
Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Selasa sore, Wakil Presiden JK
turut menyambut. Sehari setelah tiba dari Korsel, pada 3 Juni, SBY
langsung menggelar rapat terbatas dengan Menko Polkam, para kepala staf
angkatan, Kapolri, dan Kepala BIN untuk membahas masalah Ambalat. Wakil
presiden tidak hadir.

Dua hari setelah rapat terbatas, 5 Juni lalu, JK kembali melempar
sikapnya tentang Ambalat. Momentumnya mendukung. JK tengah berbicara
dalam Rapat Kerja Nasional Komite Nasional Pemuda Indonesia di Palu,
Sulawesi Tengah, yang mengangkat tema heroik: "Bersatu untuk Bangkit
Demi Kejayaan Indonesia yang Lebih Bermartabat".

JK sepakat dengan SBY bahwa perang merupakan opsi terakhir setelah
perundingan. Bedanya, SBY menekankan perundingan, sedangkan JK
menekankan opsi jika perundingan gagal. ''Jika konflik tidak bisa
diselesaikan dan perundingan sampai ke titik buntu, dan wilayah yang
kita yakini itu benar, tentu kita harus selalu siap untuk menyelesaikan
segala sesuatu, termasuk perang,'' kata JK.

''Akan tetapi, itu jika negosiasi buntu,'' JK menegaskan. Tekanan JK
pada opsi perang itu kian kentara dalam pernyataan spontan lanjutannya,
''TNI bukan hanya untuk berparade.'' Soal terbatasnya anggaran yang
disinggung SBY, JK tidak melihatnya sebagai kendala. ''Kalau anggaran
dana terbatas, tentu bisa ditingkatkan.''

JK sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan lebih personal dengan
Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Abdul Razak, yang keturunan
Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Pertengahan Mei lalu, Najib ''pulang
kampung'' dan mengabadikan telapak kakinya di atas tanah liat di Gowa.
Tapi JK seolah hendak menunjukkan bahwa hal itu tidak menghalanginya
bersikap lebih tegas.

Bukan hanya JK, kontestan pemilu presiden yang lain juga menyampaikan
pesan agar lebih tegas menyikapi persoalan Ambalat. Cawapres Prabowo
Subianto siap menjadi relawan bertempur di barisan terdepan.
''Pangkatnya tidak perlu tinggi-tinggi, cukup komandan kompi,'' katanya
di Pasar Caringin, Bandung, 4 Juni lalu, sehari sebelum JK bicara di Palu.

Soal komitmen itu, Prabowo berusaha meyakinkan pengunjung Pasar Caringin
dengan menuturkan kariernya. Selama 28 tahun jadi tentara, ia hanya tiga
bulan bertugas di kantor. Selebihnya, bertempur di lapangan.

Pesan bertindak lebih tegas itu disambut SBY, sehari setelah JK bicara
di Palu, 6 Juni lalu. SBY menerima rombongan Komisi I DPR, dipimpin Theo
Sambuaga, yang hendak menemui parlemen Malaysia di Kuala Lumpur. Dalam
pertemuan itu, Theo mengaku lebih lega karena menangkap sikap lebih
tegas SBY dalam menangani Ambalat.

SBY kembali menggariskan bahwa kedaulatan adalah harga mati. Namun
Indonesia tetap mengedepankan perundingan. Kalau provokasi berlanjut,
Indonesia akan memperingatkan. Kalau terus mengganggu kedaulatan,
Indonesia tidak bisa lagi memberikan toleransi. ''Kita akan mengambil
langkah lebih tegas untuk mempertahankan kedaulatan,'' kata Theo usai
pertemuan itu.

Juli mendatang, dijadwalkan berlangsung perundingan tahap ke-24. SBY
meminta juru runding melakukan percepatan. Awal pekan ini, SBY masih
menunjukkan langkah penyelesaiannya kepada publik. Saat berada di Hotel
Gumaya, Semarang, Selasa siang lalu, SBY menjelaskan bahwa ia baru saja
menelepon PM Malaysia pada pukul 12.00 waktu setempat.

Dikatakan, telepon itu merupakan kelanjutan komunikasi sebelumnya.
Intinya, SBY berharap, perundingan itu berjalan lebih cepat. ''Saya juga
menyampaikan agar bisa dihindari tindakan yang sifatnya provokatif, yang
bisa memancing apa pun,'' kata SBY. Serangkaian langkah SBY ini tak
lepas dari efek "provokasi" JK.

Ahli peneliti utama LIPI, Dewi Fortuna Anwar, menyesalkan bila sengketa
Ambalat ini jadi sekadar komoditas pencitraan politik. ''Ini bukanlah
sikap kenegarawanan yang baik," ujarnya. "Ada hal lain yang lebih
penting dalam menangani dan menyelesaikan kasus ini.''

Doktor bidang hubungan internasional dari Monash University itu menolak
pernyataan JK yang mengedepankan perang. Kata perang sudah tidak relevan
diucapkan di ASEAN. ''ASEAN didirikan pada 1967 untuk menghindari
perang,'' katanya. Apalagi, kini ada Piagam ASEAN yang memandu
penyelesaian damai dalam menangani sengketa.

Dewi tidak ingin konfrontasi militer antara Thailand dan Kamboja pada
Agustus lalu, saat memperebutkan wilayah sekitar Kuil Prear Vihea, juga
berimbas pada penanganan sengketa Ambalat. Dewi berpesan kepada para
pemimpin dan politisi untuk sabar dan mendukung jalur diplomasi yang
sedang dijalankan.

Dalam menyikapi masalah Ambalat, kata Dewi, sebaiknya kita memperkuat
argumen bahwa Ambalat milik Indonesia. Ditempuhnya jalur diplomasi bukan
berarti alat militer Indonesia tidak siap. ''Alat militer kita sangat
siap. Namun alat militer dikerahkan sebatas patroli wilayah. Pengerahan
militer untuk cara-cara kekerasan sudah tidak diperkenankan,'' kata Dewi
kepada Sandika Prihatnala dari /Gatra/.

''Walaupun perundingan berjalan alot, tetap harus dilanjutkan,''
katanya. Kalau ada pemimpin yang bilang siap berperang, menurut Dewi,
itu menyalahi prinsip penyelesaian damai dalam Treaty of Amity and
Cooperation in Southeast Asia, yang telah dikukuhkan dalam Piagam ASEAN
dan diratifikasi DPR masing-masing negara.

*Asrori S. Karni*
[*Laporan Utama*, /Gatra/ Nomor 31 Beredar Kamis, 11 Juni 2009]

http://gatra.com/artikel.php?id=127254
=+++++++++++++++++=
TNI yang Merana
Tuesday, 16 June 2009
TUJUH kasus kecelakaan pesawat angkut, pesawat latih, dan helikopter
milik TNI yang terjadi selama 2009 dan menewaskan tidak kurang dari 133
orang (Seputar Indonesia, 15/6) telah membuka mata kita,termasuk para
anggota eksekutif dan legislatif, betapa parahnya alat utama sistem
senjata (alutsista) TNI.

Berapa kali sudah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan
akan membuat tim untuk mengkaji berbagai kecelakaan tersebut, tetapi
hingga kini kita tak tahu rimbanya, apakah tim tersebutsudah,
sedangataubahkanbelum bekerja. Hari demi hari telah berlalu dan dalam
dua bulan terakhir terjadi empat kali kecelakaan yang memakan banyak
korban jiwa.

Dalam berbagai kajian mengenai lingkungan strategis Indonesia, bahkan di
dalam Buku Putih Pertahanan 2003, selalu dinyatakan bahwa dalam 20 tahun
mendatang tidak akan terjadi invasi militer dari luar terhadap
Indonesia. Budaya strategis militer kita pun masih terfokus pada ancaman
daridalamnegeri,khususnya gerakan separatisme,walau belakangan sudah
juga memperhitungkan ancaman nontradisional/ nonkonvensional yang
berbentuk kejahatan lintas negara seperti terorisme, narkotik,
penyelundupan senjata, pencurian ikan, penjualan kayu ilegal, dan
penyelundupan manusia.

Ketiadaan ancaman militer dari luar ditambah dengan keterbatasan
anggaran negara mengakibatkan anggaran pertahanan kita kini menduduki
peringkat ketujuh dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
2009.Pertama kali pula dalam sejarah pemerintahan di era Reformasi,
anggaran pertahanan negara mengalami pengurangan dua kali dari Rp36,5
triliun pada 2008 menjadi Rp35 triliun, kemudian dipotong lagi menjadi
Rp33,6 triliun sebagai akibat dari krisis ekonomi dunia.

Akibat dari persoalan demonstrasi tentara di Abepura, Papua, beberapa
waktu lalu anggaran operasi militer ditambah dari Rp300 miliar menjadi
Rp500 miliar yang pada 2008 berjumlah Rp800 miliar. Kini juga timbul
pemikiran untuk menaikkan anggaran pertahanan sebesar Rp10 triliun pada
2010, terutama untuk membeli alutsista baru dan memelihara alutsista
yang ada.

Jika kita bandingkan dengan lima negara tetangga ASEAN,anggaran
pertahanan Indonesia termasuk yang terkecil kedua setelah Filipina.
Indonesia yang memiliki populasi sekitar 230 juta jiwa hanya memiliki
395.000 tentara dan anggaran sebesar USD3,90 miliar atau USD16,96 per
kapita pada 2008.

Bandingkan dengan Thailand yang berpenduduk 64.300.000 jiwa memiliki
tentara 242.000 dengan anggaran USD4,49 miliar atau USD69,83 per kapita.
Singapura yang hanya berpenduduk 4.588.000 jiwa memiliki tentara 60.000
personel dengan anggaran terbesar di ASEAN,yakni USD6,93 miliar atau
USD1.510 per kapita.

Malaysia dengan penduduk 25.300.000 memiliki tentara 107.500 personel
dengan anggaran USD3,28 miliar atau USD1.426 per kapita.Adapun Vietnam
yang berpenduduk 83.600 jiwa memiliki 455.000 tentara dengan anggaran
sebesar USD3,60 miliar atau USD43,06 per kapita.

Semua anggaran tersebut adalah anggaran pertahanan pada 2008. Anggaran
pertahanan Indonesia yang Rp33,6 triliun pada 2009 tersebut 70% di
antaranya habis hanya untuk gaji dan upah personel tentara dan personel
yang ada di Departemen Pertahanan RI serta hanya 30% yang digunakan
untuk perawatan dan pembelian terbatas alutsista TNI.Sebenarnya sejak
awal era Reformasi bukan hanya pesawat tempur TNIAU yang akan
diremajakan,melainkan juga angkutan udara dan kekuatan armada laut milik
TNI AL.

Namun, fokus pada peremajaan alat angkut udara TNI hingga kini belum
diimplementasi kan walau kini embargo senjata dari AS kepada Indonesia
sudah berakhir. Hingga kini juga masih terjadi silang pendapat mengenai
alutsista TNI, apakah akan diremajakan atau hanya merawat yang sudah usang?

Tak sedikit kalangan pengamat militer di Indonesia yang berpandangan
agar dilakukan moratorium alutsista tua dan lebih baik alutsista TNI
diremajakan secara bertahap karena biaya pemeliharaannya jauh lebih
murah, masa pakai cukup lama serta masih dapat diandalkan.

Satu sisi yang menarik,sumbersumber di Departemen Pertahanan ada juga
yang berpendapat bahwa akibat dari kekurangan anggaran, tidak jarang
suku cadang yang digunakan bagi alutsista TNI adalah yang abal-abal
(asli tapi palsu atau baru tapi bekas). Minyak pelumas bagi kendaraan
TNI dan bukan mustahil bagi alutsista TNI juga oli bekas atau oli yang
dijual drum-druman, yang tidak memenuhi standar.

Hingga kini rencana peningkatan anggaran TNI masih sekadar wacana. Dari
tiga pasangan capres dan cawapres, tidak ada yang secara tegas
menyatakan akan meningkatkan kapabilitas pertahanan kita yang berarti
pula meningkatkan anggaran pertahanan.

Pasangan SBY-Boediono atau dalam hal ini Presiden SBY sendiri selalu
mengatakan anggaran pertahanan akan dinaikkan jika ekonomi Indonesia
semakin baik. Prabowo Subianto, cawapres yang diusung oleh PDIP dan
Gerindra, menyatakan hal yang sama.

Padahal saat ia masih perwira muda, Prabowo memiliki obsesi agar TNI
kita memiliki peralatan canggih dan kapabilitas sumber daya manusia sama
dengan tentara Israel. Pasangan Jusuf Kalla- Wiranto juga hanya berjanji
akan menaikkan anggaran pertahanan tanpa mematok bagaimana caranya dan
tahapannya.

Meningkatkan postur TNI bukan suatu yang asal jadi atau tanpa rencana
berjangka. Sampai kini TNI kita belum sampai pada tahap minimal
essential force yang harus dimiliki oleh negara kepulauan seluas
Indonesia.Jika anggaran terus terbatas, ini juga akan mengganggu proses
reformasi TNI, dari yang dulu tentara politik dan tentara niaga menjadi
tentara profesional murni yang benar-benar menanggalkan aktivitas
politik dan bisnisnya.

Pada seminar yang membahas reformasi sektor keamanan yang diorganisasi
Indonesia Solidarity di Sydney, 12–13 Juni 2009 lalu, masih ada peneliti
Australia yang percaya bahwa anggaran negara buat TNI adalah 30%,
sedangkan off-budget militer masih 70%, yang didapat dari bisnis TNI.
Mereka tidak tahu bahwa dari 100% yang diminta TNI, hanya 30% yang dapat
dipenuhi negara.

Bisnis militer harus berakhir atau diambil alih oleh negara pada 20
Oktober 2009 mendatang walau kita ragu apakah Presiden SBY berani dan
serius melakukan amanat UU No 34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
itu. Departemen Pertahanan RI juga sudah melakukan kajian strategis
mengenai kapabilitas apa yang seharusnya dimiliki TNI dalam jangka
pendek, menengah atau panjang mendatang.

Namun kita juga masih bertanya soal implementasinya. Di Indonesia memang
berlaku bukan kegiatan yang menentukan anggaran, melainkan kegiatan
ditentukan oleh terbatasnya anggaran.(*)

IKRAR NUSA BHAKTI
Profesor Riset Bidang
Intermestic Affairs LIPI


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/247434/38/

-- 
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang  murah dengan prospect yang
besar, Berminat Hubungi [email protected]
=============================
(Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
=============================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
=============================
revolusi produk skuter matik Suzuki "Skydrive"
hubungi Dieler Suzuki terdekat
http://suzuki.co.id/
============================
Space Iklan
=============================


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Usaha Berubah, Selalu Kalah ?

Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda 
ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru 
semakin frustrasi ? 

Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, 
Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak 
terkendali ? 

No Problem ! Di SERVO Aja !

S.E.R.V.O membebaskan Anda dari jerat atau penjara emosional, menemukan potensi 
dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda seperti 
milik para BINTANG. 

Dengan Terapi S.E.R.V.O :

- Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis 
seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia 

- Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, 
panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual 

- Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk 
seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi 

- Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, 
bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan 

- Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati 
diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik 
dibidangnya 

- Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda 
untuk membuat CETAK BIRU kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial 
Anda.  

Kesaksian !

Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi 
setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang 
tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... 

Hubungi : http://klinikservo.com/

(021) 5574 5555, 554 6009

---

TERAPI GRATIS !

FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, 
Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! 
Groups Links




      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke