Semua Ilmu ada di dalam Al Qur'an,
tapi kenapa budaya Islam saat ini mengalami kemunduran.
Islam sekali pernah menjadi "pemimpin" ilmu,
tapi mundur setelah era Turki Otoman.
Kenapa ya ?.
kenapa di saat sekarang Islam tidak bisa lagi menancapkan momentum,
padahal semua ilmu ada di dalam Al Qur'an ?.
Saat ini Islam hanya bisa "merenungi" sejarah kebesara Islam,
dan saat ini hanya bergelut dengan pertikaian antara sesama Saudara Islam.
Bahkan kadang ilmuawan Nasrani dan Yahudi, mungkin "mencuri ilmu dari Al Qur'an.
 
Sementara negara-negara Eropa yang mayoritas Nasrani,
sudah melebur menjadi Eropa
dan dalam banyak hal melebur dalam satu institusi keilmuan seperti memproduksi 
roket Arianne.
 
salam,

--- On Sat, 7/18/09, Mujiarto Karuk <[email protected]> wrote:


From: Mujiarto Karuk <[email protected]>
Subject: [sd-islam] Geologi dalam Peradaban Islam
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
Cc: [email protected]
Date: Saturday, July 18, 2009, 2:08 PM


  








Geologi merupakan cabang ilmu alam yang mempelajari bumi, komposisinya, 
struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses asal mula terbentuknya bumi 
serta sejarah perkembangannya. Studi ini mendapat perhatian penting dari para 
ilmuwan Muslim di zaman kekhalifahan. 
Ilmu ini dipandang memiliki kegunaan dan manfaat yang begitu besar. Betapa 
tidak. Geologi mampu membantu peradaban Manusia dalam menemukan dan mengatur 
sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga 
metal seperti besi, tembaga, emas dan uranium.




Selain itu, studi yang dikembangkan para saintis Islam itu juga sangat membantu 
dalam menemukan zat mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti: 
asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, 
dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium. Sejak era 
kekhalifahan, umat Islam telah mampu menemukan ladang minyak serta besi, emas 
dan lainnya.

Adalah ilmuwan Barat bernama Fielding H Garisson yang menyatakan bahwa studi 
geologi modern dimulai pada era kekhalifahan. Dalam bukunya berjudul History of 
Medicine, Garisson mengatakan, “Umat Islam di abad pertengahan tak hanya 
mengawali berkembangnya aljabar, kimia dan geologi. Namun, juga telah 
meningkatkan dan memuliakan peradaban.”
Abdus Salam (1984) dalam Islam and Science menyatakan bahwa Abu al-Raihan 
al-Biruni (973-1048 M) merupakan geolog Muslim perintis yang berjasa mendirikan 
studi geologi modern. Secara mendalam, ilmuwan Muslim abad ke-11 M itu menulis 
tentang geologi India . Al-Biruni melontarkan sebuah hipotesis bahwa anak benua 
India awalnya adalah sebuah lautan.




"Jika Anda melihat tanah India dengan mata sendiri dan mengamati alamnya, 
sebenarnya daratan India awalnya adalah laut,” papar al-Biruni dalam Book of 
Coordinates. Ia juga menuturkan bahwa keberadaan kerang dan fosil di wilayah 
negeri Hindustan menunjukkan bahwa kawasan itu adalah lautan yang kemudian 
meningkat menjadi daratan kering.
Berdasarkan penemuannya itu, al-Biruni menyatakan bahwa bumi secara konstan 
mengembang. Temuannya itu memperkuat pandangan Islam yang menyatakan bahwa bumi 
tak kekal. Teori bumi tak kekal yang dilontarkan al-Biruni itu berlawanan 
dengan keyakinan ilmuwan Yunani Kuno yang berpendapat bahwa bumi itu kekal.

Al-Biruni pun lalu menyatakan bahwa bumi juga memiliki usia. Pendapat sang 
ilmuwan Muslim di era kekhalifahan itu terbukti. Para Geolog modern akhirnya 
membuktikan pendapat itu dengan menyatakan usia Bumi diperkirakan sekitar 4,5 
miliar (4,5x109) tahun.
Ilmuwan Muslim legendaris, Ibnu Sina (981-1037) juga turut memberi kontribusi 
yang amat penting bagi studi geologi. Avicenna – begitu masyarakat Barat biasa 
menyebutnya -- menamakan geologi sebagai Attabieyat. Dalam bab lima 
ensiklopedia berjudul Kitab al-Shifa, Ibnu Sina menjelaskan tentang mineralogi, 
meteorologi.

Selain itu, bab keenam Kitab Al-Shifa, juga mengupas berbagai hal tentang bumi 
dan proses pembentukannya. Secara rinci dan lugas, Ibnu Sina membahas tentang; 
pembentukan gunung; manfaat gunung dalam pembentukan awan: sumber-sumber air, 
asal muasal gempa bumi; pembentukan mineral-mineral; serta keanekaragamaan 
lahan tanah di bumi.
Pemikiran Ibnu Sina tentang geologi ternyata sangat berpengaruh terhadap 
peradaban Barat. Berkat jasa Avicenna-lah, masyarakat Barat kemudian mengenal 
hukum superposisi, konsep katastropisme (bencana besar) serta doktrin 
uniformitarianism. Buah pikir Ibnu Sina juga banyak mempengaruhi ilmuwan Barat 
bernama James Hutton dalam mencetuskan Teori Bumi pada abad ke-18 M.

Secara terang-terangan, dua akademisi Barat bernama Toulmin dan Goodfield 
(1965), menjelaskan sumbangsih yang diberika Ibnu Sina bagi studi geologi 
modern. “Sekitar abad ke-10 M, Avicenna telah melontarkan hipotesis tentang 
asal-muasal bentangan gunung. Padahal, 800 tahun kemudian, pemikiran seperti 
itu masih dianggap radikal di dunia Kristen,” papar Toulim dan Goodfield.




Tak cuma itu, metodelogi ilmiah serta observasi lapangan yang dikembangkan Ibnu 
Sina hingga kini masih tetap menjadi bagian yang penting dalam investigasi 
geologi modern. Studi geologi juga sebenarnya secara lusa tercantum dalam 
Alquran. Dalam Surat Al-Hijr ayat 19 Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah 
menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan 
padanya segala sesuatu menurut ukuran.




Dalam Surat An-Nahl ayat 15, Sang Khalik juga berfirman: “Dan Dia menancapkan 
gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia 
menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” 
Ayat-ayat inilah yang kemungkinan memberi inspirasi bagi para ilmuwan Muslim 
untuk mengkaji studi geologi.
Sumbangan lainnya yang didedikasikan ilmuwan Muslim untuk studi geologi adalah 
penemuan kristalisasi dalam proses pemurnian. Terobosan penting yang dilakukan 
Jabir Ibnu Hayyan – saintis pada abad ke-8 M – itu sangat penting dalam 
kristallogi. Bapak Sejarah Sains, George Sarton menegaskan bahwa Jabir Ibnu 
Hayyan juga turut berkontribusi dalam geologi.




“Kami menemukan dalam tulisannya (Jabir) pandangan tentang metode penelitian 
kimia, sebuah teori pembentukan logam pada lapisan tanah, ” papar Sarton. Dalam 
risalah yang ditulisnya, papar Sarton, Jabir Ibnu Hayyan menyatakan bahwa pada 
dasarnya terdapat enam logam yang berbeda, akibat adanya perbedaan perbandingan 
sulfur dan merkuri pada keenam jenis logam itu.




Bila kita simak secara teliti, studi geologi mendapat perhatian dalam Alquran. 
Selain banyak memaparkan tentang gunung, ayat suci Alquran juga membahas 
tentang tanah. Dalam surat Al-A'raaf ayat 58, Allah SWT berfirman, “Dan tanah 
yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang 
tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami 
mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”




Dalam ayat lainnya, Alquran juga menjelaskan adanya kandungan penting dalam 
tanah. “Kepunyaan-Nya- lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua 
yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS:Thaahaa: ayat 6). 
Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 41, “Atau airnya menjadi 
surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi". 



Sumbangsih  Saintis Muslim bagi Geologi
Sejarah mencatat begitu banyak ilmuwan Muslim yang mengkaji geologi di era 
keemasan Islam. Menurut Guru Besar Universitas Yordania, Prof Abdulkader M 
Abed, para saintis Islam itu mengkaji tema-tema khusus seperti mineral, 
batu-batuan serta permata. Sayangnya, kebanyakan risalah itu banyak yang hilang 
dan tak eksis lagi. 
Berikut ini beberapa ilmuwan Muslim yang mengkaji geologi:
* Yahya bin Masawaih (wafat 857 M): Dia menulis tentang permata dan kekayaannya.

* Al-Kindi (wafat 873 M): Menulis tiga risalah. Salah satu karyanya yang 
terbaik berjudul "Gems and the Likes".
*  Al-Hasan Bin Ahmad al-Hamdani(334 H): Menulis tiga buku mengenai metode 
eksplorasi emas, perak, permata dan bahan mineral lainnya.
* Ikhwaan As-Safa (pertengahan abad ke-4 H): Menulis ensiklopedia yang berisi 
bagian-bagian minelar serta klasifikasinya.
* Abu Ar-Rayhan Mohammad Bin Ahmad al-Biruni: (wafat 1048 M): Adalah ahli 
minerallogi terhebat sepanjang seharah peradaban Islam. Selain menulis Book of 
Coordinates, dia juga menyusun buku berjudul Al-Jamhir fi Ma'rifatil 
Al-Jawahir. Yang mengupas tentang cara mengenali permata. Buku itu dinilai 
sebagai kontribusi terbaik yang disumbangkan perdaban Islam bagi studi 
minerallogi.
* Ahmad Bin Yousef Al-Tifashi: Ia menulis kitab Azhar Al-Afkar fi Jawahir 
Al-Ahjar yang berisi tentang cara mengenali batu-batu mulia.
* Mohammad Bin Ibrahim Ibnu Al-Akfani (wafat 1348A): menulis buku berjudul 
Nukhab Al-Thakhair fi Ahwaal Al-Jawahir. Mengupas karakteristik batu-batu mulia.



Mineralogi di Era Kekhalifahan 


Para ilmuwan Muslim di abad ke-10 hingga 11 M banyak menaruh perhatian untuk 
meneliti dan menulis risalah tentang mineralogi. Studi mineralogi merupakan 
bagian yang tak dapat dipisahkan dari geologi. Sebab, mineralogi merupakan 
cabang geologi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika 
dari mineral.

Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral. Sekitar 10 
abad yang lalu, para saintis Muslim sudah mampu mengidentifikasi beragam jenis 
mineral. Mereka mendedikasikan dirinya untuk mempelajari mineral. Al-Biruni 
dikenal sebagai pakar mineralogi Muslim yang paling hebat dalam sejarah 
peradaban Islam.




Di zaman itu, para ilmuwan Islam sudah mampu menjelaskan komposisi kimia dan 
struktur kristal. Batu permata dan batu mulia dinilai para ilmuwan Muslim 
sebagai jenis mineral yang khusus. Intan, batu nilam, jamrud serta yang lainnya 
digolongkan ke dalam mineral. Sejak zaman dahulu batu-batu mulia itu menjadi 
lambang kemewahan raja-raja dan para wanita.
Sumbangan peradaban Islam dalam bidang mineralogi tak lepas dari keberhasilan 
umat Islam menguasai wilayah-wilayah penting seperti Mesir, Mesopotamia , India 
dan Romawi. Peradaban wilayah itu sebelumnya juga telah mengenal beragam jenis 
mineral, batu mulia, dan permata. Karya-karya terdahulu itu lalu dikembangkan 
dan diteliti lebih lanjut oleh para ilmuwan Muslim. Hri
 




http://www.republik a.co.id/berita/ 61926/Geologi_ dalam_Peradaban_ Islam
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke