Audzubillahiminasyaitonnirrojim
Bissmillahirrohmaanirrohiim
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku
lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. QS. Al-Imran
[3] ayat 159.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam memuji sahabatnya Asyaj Abdul
Qais dengan sabdanya : ” Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang
dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak
tergesa-gesa).” (H.R Muslim).
Perintah dan tuntunan Allah swt dan hadits nabi
Muhammad saw tersebut diatas, salah satu ajaran dan tuntunan mulia agar kita
bersikap sabar, lemah lembut dan mengedepankan sopan santun dalam kita bergaul,
bersahabat dan bermasyarakat.
Serta menjauhkan dari perangai yang mengedepankan
kekerasan, setiap ada masalah tidak perlu harus kita selesaikan dengan
kekerasan, pembunuhan dan atau perkelahian, bahkan jauhkan dari perkelahian
massal.
Semua permasalahan yang kita hadapi pasti dapat
kita selesaikan dengan senyum, dengan tersenyum tersebut Insya Allah akan
terhindar penyelesaian permasalahan yang sedang kita hadapi dan sekaligus
menghindarkan, menjauhkan serta meniadakan penyelesaian dengan kemarahan yang
tidak
menutup kemungkinan dengan adu tinju.
Miris rasanya bila mendengar diberbagai tempat
terjadi tawuran, perkelahian masal bahkan sampai terjadi pembunuhan hanya gara
- gara senggolan ketika nonton pertunjukan, akibat tawuran, atau perkelahian
masal maka mengakibatkan jatuhnya korban, bahkan nyawa sudah tidak ada lagi
harganya hanya gara gara sebuah pertunjukan.
Kalau dulu yang tawuran biasanya antar preman, maka
sekarang tawuran dengan mudah terjadi antara orang-orang biasa didesa – desa
terpencil hingga antar warga kampung ditengah - tengah kota Metropolitan
umpamanya.
Tawuran dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya dengan
mudah terjadi pada masyarakat dan lingkungan kampus yang seharusnya, kampus
menjadi contoh model kerja intelektual bukan kerja otot.
Kekerasan dengan mudah juga dapat dilakukan oleh
mereka yang katanya mahir politik dan pembela rakyat kecil, para aparat dan
pejabat pemerintah, bahkan mereka yang mengatasnamakan suku dan agama.
Hampir hampir para pakar dan kita semua,
menyimpulkan bahwa kekerasan bukan lagi merupakan sesuatu perbuatan yang
memalukan bahkan hampir hampir sudah berubah menjadi sebuah budaya baru yakni
“Budaya
kekerasan“.
Banyak sudah para pakar dan pemikir, serta pejabat
negri ini, dari tingat menengah sampai tingkat yang paling tinggi, dari tingkat
guru taman kanak kanak sampai tingkat guru besar, bahkan dari tingkat guru
ngaji sampai ulama besar, dengan dibantu berbagai kalangan kaum intektual,
mengadakan studi tentang kekerasan dan upaya -upaya mencari solusi atas berbagai
problem kekerasan yang selama ini melanda masyarakat kita.
Menelusuri berbagai literartur dan tulisan tentang
kekerasan maka kita akan menemukan berbagai pengertian dan gambaran tentang
kekerasan yang sangat beragam dan kompleks.
Kekerasan tidak hanya sebatas terlukanya fisik
seseorang tapi bisa juga terlukanya psikologis orang lain, kekerasan tidak
hanya terjadi ketika seorang suami menganiaya tubuh isterinya, tetapi kekerasan
telah terjadi ketika seorang isteri didiamkan saja tanpa diajak komunikasi oleh
suaminya juga tanpa ada penjelasan apapun penyebabnya, kekerasan juga dapat
melanda sesama dengan teman sekerja, bahkan seorganisasi, satu sama lain saling
berdiam diri tanpa memberikan penjelasan duduk permasalahan apa yang sedang
terjadi, bahkan kekerasan ternyata sudah menyentuh seluruh dimensi kehidupan
kita.
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Sebuah Dunia
Yang Menakutkan Mesin -mesin Kekerasan Dalam Jagat Raya Chaos” ( Mizan 2001 )
menjelaskan apabila istilah
“Kekerasan“ diartikan sebagai suatu “Perlakuan dengan cara paksa“, maka apapun
bentuk perlakuan yang didalamnya melekat unsur - unsur paksaan”, maka apapun
bentuk perlakuan yang didalamnya melekat unsur - unsur pemaksaan, maka ia dapat
dikatakan sebagai perlakuan kekerasan.
Oleh sebeb itu tidak hanya kekerasan senjata, akan
tetapi juga kekerasan jiwa (psychal violence),
tidak hanya ada kekerasan fisik (physical violence), akan tetapi juga
kekersan simbolik (symbolic violence), tidak hanya ada kekerasan benda akan
tetapi juga kekerasan bahasa (language violence), tidak hanya kekerasan makna,
akan tetapi juga kekerasan citra (image violence), tidak hanya ada kekerasan
mekanikal, akan tetapi juga kekerasan digital (digital violence)
Dalam pandangan Marsanu Windu (dalam bukunya “Dimensi
kekerasan, tinjauan teoritis dan fenomina kekerasan, dalam buku “Melawan
kekerasan tanpa kekerasan” ) berpendapat bahwa kekerasan dapat dicirikan
dalam banyak hal.
Pertama jumlahnya yang semakin banyak,
(frekwensinya yang semakin tinggi)
kedua, kualitas tindak kekerasannya yang semakin
semena - mena
ketiga kompleksifikasi, yaitu tercampuranya
berbagai unsur dalam tindakan kekerasan.
Menurut Busro Mugoddos dan kawan - kawan dalam
bukunya “Kekerasan dalam politik
yang over akting“, (LKBH UII Jogja, 1998)
menyatakan bahwa inti kekerasan adalah memaksakan kehendak oleh satu orang
terhadap orang lain, suatu
kelompok lain, atau satu institusi terhadap institusi lain.
Dalam pengertian sosiologi, oleh aktor yang satu
terhadap aktor lainnya.
Kekerasan yang juga perlu mendapat perhatian adalah
kekerasan yang berkaitan dengan kekuasaan, karena kekerasan yang bersumber dari
kekuasaan dapat melahirkan kekerasan yang sangat nyata namun sekaligus dapat
mengakibatkan terjadinya bentuk kekerasan yang sangat halus dan tak tampak
(karena sempurnanya rekayasa) yang mampu menimbulkan derita yang sulit
disembuhkan.
Arbi Sanit dalam “tulisannya memahami kekerasan
politik“ (dalam buku “Kekerasan dalam politik yang Over Akting“, LKBH UII
Jogja, 1988) berpendapat bahwa
kekerasan (politik) yang bersumber dari kekuasaan akan membawa implikasi yang
sangat buruk terhadap kemanusian dan
demokrasi, serta menumbuhkan kekecewaan mendasar dikalangan masyarakat luas.
Bentuk lain dari kekerasan yang sangat jahat yang
bersumber dari kekuasaan adalah kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang
memegang kekuasaan.
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Sebuah Dunia Yang
Menakutkan, mesin - mesin kekerasan dalam jagat raya chaus, (Mizan, 2001)
menyatakan bahwa apabila
seorang penjahat melakukan tindakan pelanggaran hukum seperti pencurian,
perampokan, penipuan, penyelundupan,
pemerkosaan, pemerasan dll,
maka ia telah melakukan tindakan
kejahatan biasa.
Akan tetapi
apabila tindak kejahatan itu dilakukan oleh penegak hukum sendiri, oleh aparat
sendiri, oleh penguasa sendiri maka mereka telah melakukan kejahatan yang
melampaui (beyond) kejahatan itu sendiri, mereka telah melakukan
metakriminalitas (metacryminality).
Ternyata kekarasan itu tidak hanya berkaitan dengan
masalah menciderai fisik dan atau
psikologis, kekerasan personal atau struktural, nyata (manifes) atau
tersembunyi (laten), akan tetapi kekerasan juga berkaitan dengan segala
bentuk kerugian dan penderitaan yang
dialami oleh siapapun, segala pelanggaran hak azasi manusia juga berkaitan
dengan segala bentuk kejahatan.
Kekerasan juga dapat dilakukan oleh siapapun dan
menelan korban siapa saja, Oleh karena
itu kekerasan harus dilawan dan diperangi bukan hanya oleh masing – masing
individu akan tetapi harus dilawan dengan kekuatan gerakan bersama dan tanpa
kekerasan, sebagaimana yang telah Rasullulloh saw, ajarkan pada kita semua,
dengan pendekatan Agama, dengan bujuk rayu dan dengan nasehat serta dengan
kelemah lembutan lainnya, sebagaimana yang telah Allah dan Rasululloh sebuatkan
dalam awal pembukaan tulisan ini.
Semoga kita sadar dan menyadari serta terhindar dan
menghindari dari kekerasan kekerasan baik yang kita timbulkan, maupun yang
ditimbulkan oleh siapapun yang berada disekeliling kita, dan semoga kita semua
dapat menjadi contoh tauladan bagi siapapun yang berada disekeliling kita, dan
semoga kita semua selamat dunia sampai akhirat.
Wassalamualaikum Wr Wb
Mujiarto Karuk
[Non-text portions of this message have been removed]