Dear All,
Ini adalah kejadian sebenarnya yang menimpa rekan kami (karyawan Komatsu), yang
tinggal di Bekasi.
Kejadian berikut ini benar-benar terjadi pada seorang teman pada 24 Juli 2009
lalu. Semoga cerita ini bermanfaat.
Berawal dari sebuah panggilan melalui telepon rumah (fixed line/PSTN),
yang menanyakan identitas dan alamat yang sama persis dengan data yang
ada
di buku telepon.
Orang yang mengaku dari "Metro TV" tersebut mengabarkan
bahwa sang pemilik nomor telepon berhak atas Grand Prize berupa mobil
"Kijang Innova". Karena sudah terlalu sering mendengar penipuan semacam
ini, maka dijawablah dengan ketus, "... kalau memang benar hadiah mobilnya buat
saya, kirim aja Pak mobilnya ke sini!".
Singkat cerita, 2 jam kemudian sampailah di depan rumah teman kita ini
sebuah Kijang Innova yang benar-benar baru, lengkap dengan pelat nomor
polisi yang masih putih!
Masih dengan perasaan yang ragu, sekaligus surprised, maka
dipersilakanlah tiga orang yang mengantarkan mobil tersebut masuk ke
dalam rumah.
Dengan menunjukkan seberkas dokumen, yang konon berupa Surat Jalan,
dokumen Pajak, dokumen Asuransi, dan dokumen-dokumen yang lain maka
diyakinkanlah
bahwa ia memang berhak atas mobil yang dibawanya tersebut. Sayangnya,
belum sempat ia memeriksa dokumen-dokumen tersebut, beberapa orang yang
mengaku dari Pajak, Asuransi, dan juga Notaris bergantian menghubungi
via telepon dan mengucapkan selamat atas hadiah yang didapat.
Setelah melihat ia sudah cukup yakin dengan hadiah tersebut, maka
pembicaraan beralih ke kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang
'Pemenang Grand Prize', yaitu membayar pajak hadiah. Menurut si
pengantar mobil, jumlah yang harus dibayar oleh 'sang pemenang' adalah
25% dari harga mobil atau senilai 42 juta rupiah. Menyadari simpanan
dana yang ada tidak mencukupi untuk jumlah tersebut, maka sempat
terfikir untuk mundur.
Namun, tanpa mengenal kata menyerah, si pengantar mobil kembali
meyakinkan bahwa soal pembayaran pajak adalah hal sepele, bisa ditunda
kapan saja, dan bisa dibayar dengan dicicil... 10% dulu misalnya. Maka
muncullah
kembali harapan teman kita ini sambil bergumam, "... kalau 10 juta sih saya
punya...". Gotcha!!
"OK Pak, 10 juta saya kira bisa diterima oleh Pak Notaris", tukas si
pengantar mobil.
Setelah lebih kurang 2 jam berada di rumah itu, maka tiga orang
pengantar hadiah mobil pamit untuk menuju ke 'pemenang kedua' sambil
lalu mereka pun mengajak untuk sekalian bertemu notaris sambil
mengendarai 'Grand Prize'
yang baru dimenangkannya. Dengan sangat meyakinkan sang pemenang
dipersilakan untuk mengendarai mobil yang memang sudah diidamkannya selama ini.
Sebelum berangkat si pengantar hadiah menanyakan apakah uang sudah
dipersiapkan. . Sempat muncul keraguan, namun rasa gembira mengalahkan
keraguan yang sempat muncul, hingga dibawalah olehnya uang tunai
sejumlah 10 juta rupiah. Di tengah perjalanan, si pengantar kembali
menanyakan, apakah perlu mampir ke ATM. Namun dijawab bahwa saldo di
tabungan sudah
tinggal sedikit. Maka perjalananpun dilanjutkan, dan melalui jalan bebas
hambatan (tol).
Beberapa saat di jalan tol, si pengantar dengan sopan meminta agar
kemudi diambil alih oleh temannya. Dengan beralasan bahwa kendaraan
belum diserahterimakan, sehingga bisa merepotkan jika terjadi
kecelakaan, maka
beralihlah kemudi ke orang lain dan ia pun berpindah duduk di samping
pak sopir. Di saat sedang menikmati kenyamanan kendaraan baru tersebut,
tiba-tiba dari belakang sepasang tangan membekap mulut dan hidungnya
dengan lap atau sapu tangan yang beraroma sangat tajam, hingga ia pun
tak sadarkan diri......
Setengah tersadar, sekujur badan terasa sangat dingin. Setelah tersadar
penuh, ia mendapati dirinya berada di tengah padang rumput di pinggir
jalan tol. Beruntung, dompet dan seluruh isinya hanya diacak-acak
hingga ia pun bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat. 'Beruntung', hanya
10 juta saja yang dibawa oleh komplotan penipu yang memanfaatkan kekhilafannya
siang itu....
Teman, jika kita cermati kasus ini, maka tampak bahwa modus penipuan
makin beragam, makin berotak, dan juga makin bermodal.Kebetulan,
komplotan pada kasus ini masuk dalam kategori komplotan yang 'sopan',
'baik hati', dan main bersih (hampir tidak ada jejak yang ditinggalkan)
.
Bukan tidak mungkin di lain kesempatan, bisa saja komplotan seperti ini bermain
kasar.
Untuk itu selayaknya kita mengingatkan keluarga yang kita tinggalkan di
rumah saat kita bekerja, dan juga kita sendiri tentunya, untuk lebih
berhati-hati.
Regards,
Mujahidin
Purchasing Section
PT Komatsu Indonesia .
---
Ada yg punya kiat2 dalam mengatasi PENIPUAN seperti begini?
Thanks
Best Regards
Wendy's
[Non-text portions of this message have been removed]