MJJ: Yang disampaikan oleh Ronal, menurut saya sangat tepat. Terobosan berjuang single fighter semakin sulit. Era-nya memang sudah demikian, era aliansi strategis. Ketika berbaur dengan masyarakat-masyarakat lain terasa kentalnya persatuan dan kekompakan sesama mereka. Hampir tidak ada ruang gerak untuk bersaing, kecuali dengan menyatakan diri menjadi bagian dari masyarakat mereka, dus, meinipisnya kini-Karo-n, atau tidak nyatanya Karo dalam peta prestasi mereka. Itu bukan yang dimaksudkan pada (tema) tulisan awal.
Sentabi, Bp Nona Sampguita "When you do the right turn you feel reach, even if you are broke." ________________________________ From: Ronal Tarigan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, March 30, 2009 4:01:44 PM Subject: RE: [komunitaskaro] Re: Karo dalam peta politik nasional Yang perlu kita lihat adalah out put nya, apakah “keunikan’ itu membawa hasil yang lebih baik bagi kita saat ini atau sebaliknya, bila tidak, kita perlu evaluasi dan introspeksi diri dimana permasalahannya, kita harus rendah hati dan mau mengakui kekurangan kita dan tidak perlu cepat merasa puas diri, seperti katak dalam tempurung, sehingga kedepan kita bisa menjadi lebih maju. Bujur ________________________________ From:komunitaskaro@ yahoogroups. com [mailto: komunitaskaro@ yahoogroups. com ] On Behalf Of Daryus Iting Sent: Monday, March 30, 2009 12:15 PM To: komunitaskaro@ yahoogroups. com Subject: [komunitaskaro] Re: Karo dalam peta politik nasional Mejuah-juah, Karo akan selalu unik dan tetap dalam nuansa keunikannya karena jiwanya yang lebih bersih dari tetangga sebelahnya. Makanya jangan pernah membandingkan Karo dengan tetangga dekatnya dan atau tetangga jauhnya. Karo adalah pemain jujur, setia, dan enggan dengan gaya politikus pecundang yang terang-terangan 'ku ja molena ku je ia' atau istilah lain kita sebut dengan penjilat atau anjing-anjing (dahinna ndilat) politik. Makanya ketika tokoh Karo yang saat ini terpampang (seperti ketua PBB dan ketua PKS) bukan muncul dari komunitas Karo itu sendiri melainkan lahir dari gigihnya perjuangan mereka untuk bermain di luar Karo. Makanya mereka juga tidak bodoh karena walaupun mereka sebagai pengambil keputusan di internal partainya tidak melibatkan atau mengkader saudara Karonya. Orang Karo hanya akan bisa sukses ketika dia berjuang sendiri-sendiri dengan komunitas yang lain karena sifat dasarnya sangat unik dengan kaum lainnya. Itu yang bisa membuat dia tampil beda di kerumunan lain. Sifat heroiknya muncul, pengamatannya tajam, dan analisanya terukur. Walaupun sifat buruknya yang peka (pernembeh & ego) tetapi karena berada di komunitas lain maka sifat buruk tersebut hilang dan pudar. Ketika seseorang Karo mau berangkat ke panggung politik dari komunitas Karo itu sendiri dan atau minta rekomendasi dari Karo maka hal itu jarang kesampaian karena bukan rekomendasi yang datang tetapi 'bad comment' dari komunitas Karo tersebut. Adi bahasa kuta-kutana nina : Anak ah kin ku das enggom kita dung, mungkin lebih sakit lagi nina : Kai kin lah angkaina pe, kutandai kal ise ia. Contoh kecil kita melihat calon DPD yang 3 orang dari Taneh Karo, kita akan selalu saling sikut dan saling sepak antara kita. Reh ka cakap Karona nina : Asangken ia je, madin la sada pe. Perilaku inilah yang biasa terjadi. Itulah semakin transparannya sistem demokrasi di indonesia sehingga setiap rakyat tanpa memandang kulitnya merasa punya hak untuk dipilih. Saat ini puluhan ribu caleg tersebar di seluruh penjuru nusantara dengan 1 dasar konstitusional yakni setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih. Mulai dari tukang becak, pengkawil bado dan lain sebagainya ikut memeriahkan daftar caleg di pilcaleg 2009. Pengamat politik saja bingung dan tak bisa komentar dan hanya keluar 1 pertanyaan : Mereka ini tahu apa enggak kalau pekerjaan Dewan itu tidak gampang? Pengamat aja bingung apalagi kita penonton dan bahkan para pemain (calegnya) pun bakal bingung apalagi nantinya sampai di gedung dewan sana . Mungkin saja di jaman feodal (raja-raja urung) kita bisa terlihat karena hanya keturunan raja-raja urung yang bisa masuk dalam daftar caleg, padahal jaman sudah berubah yakni demokrasi yang artinya hak sama bagi seluruh warga untuk dipilih dan memilih. Dan kita tak akan pernah kembali ke jaman feodal tersebut. Semua sudah menjadi pintar akibat dari pintu reformasi yang terbuka lebar. Makna dari semua ini bahwa kita saat ini tidak harus mengandalkan Karo saja akan tetapi saya himbau kepada generasi muda Karo agar bermainlah di luar kandang dan bergabung bersama mereka (non karo). Saatnya keluar kandang!!! Cuma itu satu-satunya cara agar dapat tampil di elite dan tetap pertahankan identitas kita sebagai warga Karo agar semua mata rakyat Indonesia ini tahu kalau Karo itu ada dan berbisa. Sibarem lebe senembas enda, ibas kurang beluhna aku encibalken pinggan rananku enda ersentabi aku man bandu kerinana. Bujur, Iyus Anak Sintengah ( Pa Kampoh ) "Karo Ateta Mari Pesikap Ota Hagaken"
