Benarkah Boediono Kaki Tangan IMF?
Laporan: Persda Network/aco
Rabu, 13 Mei 2009 | 20:27 WITA
JAKARTA, TRIBUN - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bambang Soesatyo menilai
pencitraan Boediono dan Menteri Keuangan Sri mulyani sebagai orang IMF atau
kaki tangan bank dunia sudah lama berlangsung.
"Anda tentu masih ingat bagaimana ekonom sekaliber Kwik Kian Gie menilai
sejumlah ekonom kita yang selalu tunduk pada kehendak IMF maupun Bank Dunia.
Kwik bahkan berkali-kali mengritik Boediono," kata Bambang dalam pesan
singkatnya, Rabu (13/5).
Namun apa benar keduanya orang IMF? "Kita tidak bisa secara absolut menuduh
Boediono atau Sri Mulyani itu orangnya IMF atau bukan. Kita hanya bisa menilai
atau merasakannya dari kemana arah rumusan kebijakan ekonomi dan moneter kedua
figur itu," kata dia.
"Namun selama ini pasar uang merasa nyaman dengan kepemimpinan Boediono di Bank
Indonesia,' Bambang menambahkan.
IMF pernah melekat pada diri Boediono ketika melemparkan resep ekonomi IMF-Bank
Dunia saat krisis moneter Indonesia 1997-1998 lalu. Ekonom Kwik Kian Gie saat
itu menyoroti Boediono soal ini.
Terpisah, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR RI Harry Azhar Azis mengaku sering
mendengar Boediono dikaitkan dengan paham ekonomi neo-liberalisme.
"Sekarang tinggal strateginya bagaimana meyakinkan fiskal policy antara macro
stability dan moneter serta roda perekonomian di bawah bergerak. Itu yang harus
ditunjukkan figur Pak Boediono," kata Harry.
Menurut dia paham neo liberal merupakan sebuah trade mark namun apakah otomatis
kebijakan ekonomi yang diterapkan nantinya lebih ke neo liberal yang memihak
asing ketimbang pengusaha dalam negeri? "Saya sendiri menilai neo liberal scara
teoritis tidak selalu anti rakyat tapi memperkecil peran negara (dalam dunia
usaha)," kata Harry.
Jadi, lanjut dia, kalau peran negara diperkecil maka intervensi pemerintah
dalam mengatur perekonomian juga diperkecil." Nah apakah misalnya intervensi
pemerintah yang pro rakyat seperti kredit usaha rakyat (KUR), bantuan langsung
tunai (BLT), dan sebagainya ini nanti akan menciut?" kata dia.
Paham neo liberal cenderung lebih pro asing. Yang ditakukan sebagian kalangan
paham ini akan mengenyampingkan investor lokal atau mengabaikan penggunaan
produk lokal. "Pengalaman di negara lain seperti Jepang. Butuh waktu untuk
menselaraskan antara content local dengan paham neo liberal," kata Harry. (*)
--
___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting:
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783