Ini kisah tentang para pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang
kios mereka baru saja musnah terbakar pada 11 Maret 2010 dinihari lalu.
Bagi mereka, tidak ada gunanya bersedih berlama-lama. Yang harus segera
dilakukan adalah sesegera mungkin kembali berdagang, walaupun belum ada
pengganti ruko. Mereka pun terpaksa berjualan di pinggiran lokasi Pasar
Inpres Senen yang terbakar. Beragam hal unik nan jenaka mereka alami.

“Tiap
hari kami tertawa-tawa saja sambil jualan. Tidak ada gunanya bersedih.
Bahkan, penjualan kami tetap ada, walau tempat jualannya darurat,” kata
Bu Kiap Sebayang saat ditanya bagaimana kondisinya setelah kebakaran
lalu.

Ibu (yang bahasa Karo-nya adalah nande)
ini adalah salah satu korban kebakaran. Tokonya yang penuh dengan
pakaian, habis terbakar. Hal yang sama juga dialami oleh delapan
anggota keluarganya yang lain. Maklum saja, anak-anaknya serta beberapa
beberapa saudara kandung Ibu ini, juga menjadi korban su jago merah
itu. Sebagian besar adalah pedagang grosir tas. Beberapa diantara
mereka ini pun membagi cerita unik dan jenaka tentang pengalaman mereka
berjualan setelah musibah itu.

“Saya heran juga dengan para
pembeli yang datang ke Senen. Ada penjual tas yang menjual tas-tas dan
dompet yang tidak ikut terbakar. Tas itu semua telah basah dan warnanya
hitam yang mungkin terkena arang. Tas yang masih lumayan bagus, dijual
20 ribu. Laku sekali. Tas yang agak lusuh dijual 10 ribu, dan itupun
habis. Bahkan, dompet yang warnanya sudah hitam pekat terkena arang,
masih laku dijual lima ribu rupiah. Benar-benar tidak disangka. Padahal
tangan si pembeli itu juga jadi kotor warna hitam saat memilih tas,”
kata Nande Dedy, yang masih bersaudara dengan Nande Kiap.

Sambil
menunggu kios yang sedang direnovasi kembali, Nande Kiap dan para
pedagang lain memilih berdagang di pinggir pasar yang terbakar. Ada
yang di dekat trotoar, dan ada juga yang di halaman pasar dimana masih
menumpuk sampah-sampah sisa kebakaran. Mereka mengggelar barang
dagangan di bawah atap terpal seadanya. Beberapa kali hujan turun dan
mereka pun menikmatinya dengan penuh tawa saja.

“Kalau sedang
tidak ada pembeli, kami hanya ngobrol-ngobrol dan tertawa. Sesekali
kami berteriak menanyakan gimana kabar kawan kami yang di sebelah sana,
yang jawabannya pasti mengundang tawa. Pokoknya ramai sekali,” Kata
Nande Kiap yang bercerita penuh semangat.

Karena berjualan di
atas sisa-sisa puing kebakaran, kaki mereka pun acapkali berwarna hitam
saat pulang ke rumah. Belum lagi sesak napas yang mereka alami akibat
menghirup debu sisa kebakaran. Bahkan, hingga kini Nande Kiap masih
mengaku mengalami gangguan pernapasan.

Yang menggembirakan
mereka, rupanya rejeki tetap ada di tengah musibah. Mereka mengaku
masih mampu menjual barang dagangan dengan angka lumayan untuk menjaga
dapur tetap berasap. Bahkan, beberapa kali hasil penjualan di luar
perkiraan mereka. Suatu hari ada orang yang membeli ratusan pasang
sendal yang mereka jual. Padahal hal demikian dulunya sangat jarang
terjadi. Karena itu, para pedagang ini tetap optimistis berjualan
sambil menunggu kios yang selesai direnovasi.

Dan, yang pasti
senyum dan tawa mereka terlihat jelas. “Buat apa bersedih. Harus tetap
berusaha dengan hati penuh suka cita. Tuhan Dibata pasti membantu,” kata Nande 
Kiap di ujung pembicaraan.

---EdiGinting---
http://ediginting.blogspot.com/



      

Kirim email ke