Begini dia beritanya kalau si wartawannya orang Karo apalagi bermarga Ginting. 
Salut dan terimakasih telah mewarnai Indonesia dengan kekaroan. Ingat 
berita-berita yang mengatakan ulos padahal fotonya jelas-jelas uis gara dari 
Karo, pasti mengerti mengapa saya mengomentari berita ini.

jg 

--- In [email protected], edi ginting <ediah...@...> wrote:
>
> Ini kisah tentang para pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang
> kios mereka baru saja musnah terbakar pada 11 Maret 2010 dinihari lalu.
> Bagi mereka, tidak ada gunanya bersedih berlama-lama. Yang harus segera
> dilakukan adalah sesegera mungkin kembali berdagang, walaupun belum ada
> pengganti ruko. Mereka pun terpaksa berjualan di pinggiran lokasi Pasar
> Inpres Senen yang terbakar. Beragam hal unik nan jenaka mereka alami.
> 
> “Tiap
> hari kami tertawa-tawa saja sambil jualan. Tidak ada gunanya bersedih.
> Bahkan, penjualan kami tetap ada, walau tempat jualannya darurat,” kata
> Bu Kiap Sebayang saat ditanya bagaimana kondisinya setelah kebakaran
> lalu.
> 
> Ibu (yang bahasa Karo-nya adalah nande)
> ini adalah salah satu korban kebakaran. Tokonya yang penuh dengan
> pakaian, habis terbakar. Hal yang sama juga dialami oleh delapan
> anggota keluarganya yang lain. Maklum saja, anak-anaknya serta beberapa
> beberapa saudara kandung Ibu ini, juga menjadi korban su jago merah
> itu. Sebagian besar adalah pedagang grosir tas. Beberapa diantara
> mereka ini pun membagi cerita unik dan jenaka tentang pengalaman mereka
> berjualan setelah musibah itu.
> 
> “Saya heran juga dengan para
> pembeli yang datang ke Senen. Ada penjual tas yang menjual tas-tas dan
> dompet yang tidak ikut terbakar. Tas itu semua telah basah dan warnanya
> hitam yang mungkin terkena arang. Tas yang masih lumayan bagus, dijual
> 20 ribu. Laku sekali. Tas yang agak lusuh dijual 10 ribu, dan itupun
> habis. Bahkan, dompet yang warnanya sudah hitam pekat terkena arang,
> masih laku dijual lima ribu rupiah. Benar-benar tidak disangka. Padahal
> tangan si pembeli itu juga jadi kotor warna hitam saat memilih tas,”
> kata Nande Dedy, yang masih bersaudara dengan Nande Kiap.
> 
> Sambil
> menunggu kios yang sedang direnovasi kembali, Nande Kiap dan para
> pedagang lain memilih berdagang di pinggir pasar yang terbakar. Ada
> yang di dekat trotoar, dan ada juga yang di halaman pasar dimana masih
> menumpuk sampah-sampah sisa kebakaran. Mereka mengggelar barang
> dagangan di bawah atap terpal seadanya. Beberapa kali hujan turun dan
> mereka pun menikmatinya dengan penuh tawa saja.
> 
> “Kalau sedang
> tidak ada pembeli, kami hanya ngobrol-ngobrol dan tertawa. Sesekali
> kami berteriak menanyakan gimana kabar kawan kami yang di sebelah sana,
> yang jawabannya pasti mengundang tawa. Pokoknya ramai sekali,” Kata
> Nande Kiap yang bercerita penuh semangat.
> 
> Karena berjualan di
> atas sisa-sisa puing kebakaran, kaki mereka pun acapkali berwarna hitam
> saat pulang ke rumah. Belum lagi sesak napas yang mereka alami akibat
> menghirup debu sisa kebakaran. Bahkan, hingga kini Nande Kiap masih
> mengaku mengalami gangguan pernapasan.
> 
> Yang menggembirakan
> mereka, rupanya rejeki tetap ada di tengah musibah. Mereka mengaku
> masih mampu menjual barang dagangan dengan angka lumayan untuk menjaga
> dapur tetap berasap. Bahkan, beberapa kali hasil penjualan di luar
> perkiraan mereka. Suatu hari ada orang yang membeli ratusan pasang
> sendal yang mereka jual. Padahal hal demikian dulunya sangat jarang
> terjadi. Karena itu, para pedagang ini tetap optimistis berjualan
> sambil menunggu kios yang selesai direnovasi.
> 
> Dan, yang pasti
> senyum dan tawa mereka terlihat jelas. “Buat apa bersedih. Harus tetap
> berusaha dengan hati penuh suka cita. Tuhan Dibata pasti membantu,” kata 
> Nande Kiap di ujung pembicaraan.
> 
> ---EdiGinting---
> http://ediginting.blogspot.com/
>


Kirim email ke