12 Perempuan Aceh Terima Penghargaan                            

DUA belas tokoh perempuan yang 
dinilai telah bekerja keras dalam meningkatkan peran perempuan di 
Nanggroe Aceh Darussalam mendapat penghargaan dari Menteri Pemberdayaan 
Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar pada Senin 
(29/3).



Penghargaan ini diberikan kepada tokoh perempuan yang hingga kini 
terus giat melakukan kegiatan untuk kemajuan daerah serta menjaga budaya
 Tanah Rencong. “Saya sangat menghargai upaya kaum perempuan yang 
telah berpartisipasi dalam seluruh proses pembangunan di kawasan ini. 
Pengabdian mereka tentu perlu mendapatkan apresiasi tersendiri,” ucap 
Linda dalam acara pemberian penghargaan yang bertempat di Gedung Olah 
Seni Takengon.



Kedua belas wanita itu yakni Supriliwati SPd sebagai pengembang 
pendidikan di Kabupaten Aceh Tengah, Nurdiana sebagai pelestari budaya 
pembuatan gerabah Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Nurhayati sebagai 
pelopor kepemimpinan perempuan di Kabupaten Aceh Tenggara, dan Erdarina 
Pelis SP MSi sebagai pelopor pengembang pemberdayaan perempuan di 
Kabupaten Aceh Tenggara. Kemudian Pianti Mala Pinem sebagai pelopor 
kepemimpinan perempuan di Kota Subulussalam, Frida Siska Sihombing STP 
sebagai pelopor pemberdayaan perempuan di Kabupaten Singkil.



Zukirah, sebagai pengembang pendidikan di Kabupaten Bener Meriah, 
Ummi Aida sebagai perempuan pendidik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat
 Kota Subulussalam, Inen Mayak Tri sebagai perempuan pejuang kemerdekaan
 RI Kabupaten Gayo Lues, Hj Siti Khadijah B sebagai pengembang 
pendidikan Kota Subulussalam, Dra Mardiah sebagai pelopor pemberdayaan 
perempuan di bidang agama Kabupaten Aceh Tenggara, dan Radiyah S Ag 
sebagai penggerak pemberdayaan perempuan di Kabupaten Aceh Tenggara.



Salah satu tokoh wanita Nurdiana mengungkapkan kegembiraannya atas 
penghargaan yang ia terima dari Menteri KPP dan PA. Nurdiana adalah 
satu-satunya penghasil gerabah Gayo di wilayahnya. Ia mulanya 
berinisiatif untuk mendapatkan penghasilan guna membantu suaminya yang 
telah pensiun. Dengan tekadnya tersebut, ia pun berhasil memasarkan 
garabah khas Gayo dengan bantuan suami dan kedua anaknya. Kini, 
pendapatan dari penjualan gerabah itu dapat mencukupi kebutuhan 
sehari-hari keluarganya. Usaha Nurdiana itu juga dinilai telah 
melestarikan budaya Aceh, khususnya Suku Gayo. Namun, ia mengaku 
berharap akan adanya bantuan dari pemerintah untuk peningkatan usahanya 
tersebut. “Saya berharap pemerintah mau membantu kami setidaknya 
dengan pemberian modal,” ujarnya.



Saat dimintai pendapatnya mengenai hal tersebut, Linda Amalia Sari 
mengaku dirinya memang belum menerima detail mengenai bentuk pemberian 
bantuan, tapi ia berjanji akan memfasilitasinya dengan beberapa program 
pemerintah dalam rangka pemberdayaan ekonomi keluarga agar perempuan 
mendapatkan kesempatan tersebut. “Cuma saja mereka belum memberikan 
data. Mungkin, kedatangan saya sekarang untuk melihat terlebih dahulu 
keadaan di sini. Insya Allah nanti akan ada tindak lanjutnya,” 
tuturnya.



Sementara itu, penerima penghargaan lain, Ummi Aida yang bergerak 
dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kota 
Sabulussalam menuturkan pascakonflik, wanita Aceh yang dulu dikatakan 
sebagai tulang rusuk kini terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. 
Untuk itu, ujarnya, mereka haruslah lebih diperhatikan. “Kita harus 
kembalikan semangat tangguh wanita Aceh. Kalau tidak, mereka akan terus 
kecewa, putus asa, dan meninggal dalam keadaan sedih,” kata Aida. Ia 
melanjutkan, identitas perempuan Aceh adalah kultur yang kuat dan 
agamanya yang bagus. “Kalau hari ini wanita Aceh mundur, itu karena 
mereka meninggalkan kultur dan agama mereka di Aceh.”



Terkait dengan program pemerintah dalam upaya peningkatan 
kesejahteraan perempuan Aceh, Aida menyatakan dirinya lebih 
menitikberatkan pada program pencerdasan perempuan, bukan program yang 
sifatnya hanya mengedepankan performa fisik semata. “Saya lebih 
mengedepankan pembinaan mental dan semangat perempuan Aceh. Apa pun 
goncangan yang dihadapi keluarga, kalau si ibu masih dapat stabil, insya
 Allah keluarga akan tetap selamat,” ujarnya. Aida pun menuturkan 
harapannya kepada Kementerian PP dan PA untuk dapat mengadakan program 
yang memberi perhatian lebih kepada perempuan dan Anak di Aceh. 
(Pri/OL-08)



Sumber: 
http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/2010/03/31/2943/13/12-Perempuan-Aceh-Terima-Penghargaan

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke