Sada penghargaan, sada kebanggaan Penghargaan man sekalak, kebanggaan man kerina Selamat dan sukses man Pianti Mala Pinem sebagai pelopor kepemimpinan perempuan di Kota Subulussalam. Kepemimpinan dan pemberdayaan wanita, satu tema besar dan penting dalam perkembangan bangsa Indonesia, dan begitu juga berlaku bagi tiap daerah di Indonesia.
Bujur posting berita enda Alexander Salam mejuah-juah MUG --- In [email protected], Alexander Firdaust <daustco...@...> wrote: 12 Perempuan Aceh Terima Penghargaan DUA belas tokoh perempuan yang dinilai telah bekerja keras dalam meningkatkan peran perempuan di Nanggroe Aceh Darussalam mendapat penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar pada Senin (29/3). Penghargaan ini diberikan kepada tokoh perempuan yang hingga kini terus giat melakukan kegiatan untuk kemajuan daerah serta menjaga budaya Tanah Rencong. ââ¬Å"Saya sangat menghargai upaya kaum perempuan yang telah berpartisipasi dalam seluruh proses pembangunan di kawasan ini. Pengabdian mereka tentu perlu mendapatkan apresiasi tersendiri,ââ¬Â ucap Linda dalam acara pemberian penghargaan yang bertempat di Gedung Olah Seni Takengon. Kedua belas wanita itu yakni Supriliwati SPd sebagai pengembang pendidikan di Kabupaten Aceh Tengah, Nurdiana sebagai pelestari budaya pembuatan gerabah Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Nurhayati sebagai pelopor kepemimpinan perempuan di Kabupaten Aceh Tenggara, dan Erdarina Pelis SP MSi sebagai pelopor pengembang pemberdayaan perempuan di Kabupaten Aceh Tenggara. Kemudian Pianti Mala Pinem sebagai pelopor kepemimpinan perempuan di Kota Subulussalam, Frida Siska Sihombing STP sebagai pelopor pemberdayaan perempuan di Kabupaten Singkil. Zukirah, sebagai pengembang pendidikan di Kabupaten Bener Meriah, Ummi Aida sebagai perempuan pendidik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Kota Subulussalam, Inen Mayak Tri sebagai perempuan pejuang kemerdekaan RI Kabupaten Gayo Lues, Hj Siti Khadijah B sebagai pengembang pendidikan Kota Subulussalam, Dra Mardiah sebagai pelopor pemberdayaan perempuan di bidang agama Kabupaten Aceh Tenggara, dan Radiyah S Ag sebagai penggerak pemberdayaan perempuan di Kabupaten Aceh Tenggara. Salah satu tokoh wanita Nurdiana mengungkapkan kegembiraannya atas penghargaan yang ia terima dari Menteri KPP dan PA. Nurdiana adalah satu-satunya penghasil gerabah Gayo di wilayahnya. Ia mulanya berinisiatif untuk mendapatkan penghasilan guna membantu suaminya yang telah pensiun. Dengan tekadnya tersebut, ia pun berhasil memasarkan garabah khas Gayo dengan bantuan suami dan kedua anaknya. Kini, pendapatan dari penjualan gerabah itu dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Usaha Nurdiana itu juga dinilai telah melestarikan budaya Aceh, khususnya Suku Gayo. Namun, ia mengaku berharap akan adanya bantuan dari pemerintah untuk peningkatan usahanya tersebut. ââ¬Å"Saya berharap pemerintah mau membantu kami setidaknya dengan pemberian modal,ââ¬Â ujarnya. Saat dimintai pendapatnya mengenai hal tersebut, Linda Amalia Sari mengaku dirinya memang belum menerima detail mengenai bentuk pemberian bantuan, tapi ia berjanji akan memfasilitasinya dengan beberapa program pemerintah dalam rangka pemberdayaan ekonomi keluarga agar perempuan mendapatkan kesempatan tersebut. ââ¬Å"Cuma saja mereka belum memberikan data. Mungkin, kedatangan saya sekarang untuk melihat terlebih dahulu keadaan di sini. Insya Allah nanti akan ada tindak lanjutnya,ââ¬Â tuturnya. Sementara itu, penerima penghargaan lain, Ummi Aida yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kota Sabulussalam menuturkan pascakonflik, wanita Aceh yang dulu dikatakan sebagai tulang rusuk kini terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Untuk itu, ujarnya, mereka haruslah lebih diperhatikan. ââ¬Å"Kita harus kembalikan semangat tangguh wanita Aceh. Kalau tidak, mereka akan terus kecewa, putus asa, dan meninggal dalam keadaan sedih,ââ¬Â kata Aida. Ia melanjutkan, identitas perempuan Aceh adalah kultur yang kuat dan agamanya yang bagus. ââ¬Å"Kalau hari ini wanita Aceh mundur, itu karena mereka meninggalkan kultur dan agama mereka di Aceh.ââ¬Â Terkait dengan program pemerintah dalam upaya peningkatan kesejahteraan perempuan Aceh, Aida menyatakan dirinya lebih menitikberatkan pada program pencerdasan perempuan, bukan program yang sifatnya hanya mengedepankan performa fisik semata. ââ¬Å"Saya lebih mengedepankan pembinaan mental dan semangat perempuan Aceh. Apa pun goncangan yang dihadapi keluarga, kalau si ibu masih dapat stabil, insya Allah keluarga akan tetap selamat,ââ¬Â ujarnya. Aida pun menuturkan harapannya kepada Kementerian PP dan PA untuk dapat mengadakan program yang memberi perhatian lebih kepada perempuan dan Anak di Aceh. (Pri/OL-08) Sumber: http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/2010/03/31/2943/13/12-Perempuan-Aceh-Terima-Penghargaan Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
