"menggantikan yang lama artinya aturanya baru memperbaiki yang lama"
Ini semestinya, tetapi nyatanya malah jadi 'sumber segala kekacauan'. 
Jenderal 'bintang tujuh' Soeharto bikin 'orde baru' menggantikan era Soekarno 
disebutnya 'orde lama'. Dia ingin menegasi era Soekarno, terutama pujaan abadi 
rakyat Indonesia terhadap Bung Karno atas jasa-jasanya terhadap bangsa 
Indonesia. Tetapi tak bisa dibandingkan, dan ini menjadi dilemma jenderal 
'bintang tujuh' kita. 
Pangkat 'jenderal' di Indonesia hanya dari peraturan administratif, misalnya 
kepala 4 angkatan, sebab lainnya kalau banyak mbunuh rakyat. Di dunia lain, 
jenderal karena keberhasilan dalam taktik dan strategi perang (perang 
sungguhan) dengan alat-alat yang sebanding dikedua belah pihak. Kemenangan 
perang karena otak sang jenderal, selain sebab penting lainnya (ekonomi, 
politik). Jenderal-jenderal Indoneia banya diangkat karena 'berperang' dengan 
rakyat tak bersenjata alias pembantaian seperti berburu babi hutan. Sekitar 3 
juta rakyat tak bersenjata diburu dan dibantai, lalu berjubel yang ikut naik 
pangkat, banyak jadi jenderal dari situ. Tertinggi 'bintang tujuh' adalah boss 
dari semua jenderal pembantai 3 juta manusia. 
Budaya 'tak mau turun tak ada rasa malu' juga masih terus pada pejabat segala 
macam jabatan. Budaya ini tak punya misi perubahan dan perkembangan dalam 
otaknya. 
Change! Kembangkan terus . . . kaipe. Jadiken enda budaya Karo. Logika enda 
mungkin sebab Karo mbarenda enggo jadi sasaran bebuyutan Orba. Daerah ulayat 
Karo dibagi-bagikan, Deliserdang, Langkat, Karo Acih, Dairi Karo 
Tanehpinem/Tigalingga. Djamin Ginting disingkirkan. Gubsu Ulung Sitepu 
dipenjarakan tanpa pengadilan. Tahura mau diganti nama orang lain, begitu juga 
Kuala Namo, tanah yang diperjuangkan mati-matian oleh Datuk Sunggal Badiuzzaman 
Surbakti dari perampokan kolonial Belanda,9 desa Bangun Purba diambil dan 
diserahkan ke Sergai atas persekongkolan bupati pendatang Amri Tambunan, Rizal 
Nurdin dan sepupunya Eri Nuradi, hak ulayat Karo atas Juma Tombak dicabut oleh 
Bagir Manan atas persekongkolan dan desakan 6 orang pendatang dari Tapanuli, 
dsb dsb. Perkembangan dialektis.Perkembangan dari tenaga bertentangan. Bangkit 
karena ditindas. 
Change and Challenge! Kembangkan terus . . . kaipe.
MUG
 
--- In [email protected], Moses S <moshe_...@...> wrote:
Bls: [tanahkaro] sisa budaya orba diotak pejabat 

Betul. Dengan bahasa yang populer orbalah sumber segala kekacauan. Sehabis Orde 
Lama maka ada Orde Baru.
Menurut pengertian bahasa Baru menggantikan yang lama artinya aturanya baru 
memperbaiki yang lama.

Hebat benarlah jenderal bintang tujuh alias puyer Suharto dulu. Dari awal dia 
telah susun semua dia namakan orde Sukarno orde lama dan orde dia, orde baru, 
liciknya si kambing jantan..dan dia angkat pula dirinya jadi jenderal bintang 
lima, alah mak, gampangnya..Kapan seseorang pantas menyandang bintang 5? itu 
diperuntukkan untuk panglima perang seperti Mc Arthur, Napoleon Bonaparte, 
Rommel, Moshe Dayan, artinya mereka menguasai wilayah? pernahkah suharto 
mengusai wilayah? pernah tentu saja wilayah Tien istrinya..

Kini,seperti segala kemungkinan bisa saja terjadi
Demokrat yang kelihatan kuat tergantung pada figur SBY dan PDIP dah mulai 
ditinggal, terus siapa yang kuat sekarang ini..Kuning oyee..
Hati-hati biaya laten, bangkit kembali..

Sekarang saja 32 tahun masa mereka menghasilkan kekeringan yang teramat 
panjang, ketika buah angggur tak menghasilkan banyak sama halnya pohon ara dan 
juga minyak zaitun..

Jika mengundurkan diri adalah anak tangga yg ke 8 dan kita sekarang berada di 
anak tangga yang 3, lalu apa? terbang?, ku tak memiliki sayap oh nde 
nangina..dalam hal ini juga masih perlu dibedakkan antara pasu-pasu yang 
diharapkan dan palu-palu yang ada..

:)
--------------------------------------------------------------------------------
Dari: MU Ginting <gintin...@...>
Kepada: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Terkirim: Rab, 2 Juni, 2010 18:25:27
Judul: [tanahkaro] sisa budaya orba diotak pejabat

Rabu, 02/06/2010 17:41 WIB
Ray Rangkuti: Tak Ada Pejabat RI Mundur Seperti PM Jepang karena Sisa Orba
Ken Yunita â€" detikNews 

Jakarta - PM Jepang Yukio Hatoyama mengundurkan diri setelah gagal memenuhi 
janji kampanyenya. Hal seperti yang dilakukan Hatoyama sebenarnya pernah 
dilakukan mantan Presiden BJ Habibie.

"Walaupun dulu itu Habibie nggak mundur dari jabatan ya, dia mundur dari 
pencalonan presiden. Tapi itu bisa jadi contoh karena Habibie mundur setelah 
laporan pertanggungjawabann ya ditolak MPR," kata pengamat politik Ray Rangkuti.

Berikut wawancara detikcom dengan Ray, Rabu (2/6/2010).

Apakah pejabat Indonesia mundur dari jabatan?

Di Indonsia? Nggak ada itu.

Mengapa?

Karena politik di Indonesia itu masih sisa-sisa Orde Baru. Jadi ya kalau nggak 
bisa penuhi janji ya tidak apa-apa.

Siapa yang seharusnya mengundurkan diri?

Saya sih berharap Sri Mulyani setelah dia ditolak oleh DPR. Tapi ternyata 
tidak, padahal kalau dia mundur itu cantik dia. Bisa jadi contoh. Tapi ternyata 
malah berlindung di balik SBY.

Jadi di Indonesia tidak ada contoh?

Dulu sebenarnya ada Habibie. Dia mundur dari pencalonan tapi dia tetap siapkan 
pemilu yang jadi tonggak reformasi kita sekarang. Jadi tidak ada dendam. Itu 
bisa jadi contoh.

Ada juga contoh lain. Kapolda Jawa Timur Herman Surjadi Sumawiredja. Dia mundur 
setelah mengumumkan adanya pelanggaran serius dalam Pilkada Jatim. Setelah itu 
dia dapat tekanan untuk mundur. Dan dia mundur bukan saja dari jabatannya tapi 
juga dari Polri. Itu bagus.

Kenapa pemimpin Indonesia jarang yang melakukan itu?

Ya karena itu tadi, masih ada sisa-sisa budaya Orde Baru yang secara nggak 
langsung mengatakan kalau nggak memenuhi janji ya tidak apa-apa.

Masyarakatnya?

Itu juga ikut melestarikan. Masyarakat kita masih menganggap itu tidak apa-apa. 
Walaupun semangat untuk menggugat itu sebenarnya ada. Tinggal dicari saja 
mekanismenya, bagaimana pintunya. Pasti banyak gugatan dari masyarakat.

(ken/nrl)
 






Kirim email ke