Assalamu'alaikum wr.wb.
Sebelumnya saya mengucapkan salam kenal kepada semua saudara saya (kita
sesama muslim adalah bersaudara) di mailing list Tasawuf ini. Saya belum
lama mengenal milis ini tetapi dari memebaca posting-posting yang
dikirimkan, cukup banyak manfaat yang bisa didapatkan.
Pada kesempatan ini saya yang fakir dan bodoh ini juga ingin
menyemarakkannya dengan mengirim tulisan yang saya beri judul TUHAN
TIDAK MENCIPTA KECUALI HANYA KEBAIKAN, mudah-mudahan bermanfaat. Kepada
administrator milis ini sebelumnya saya ucapkan banyak terma kasih,
semoga ikhtiar saudara yang tulus mendapat imbalan yang setimpal dari
Allah swt. Alhamdulillah.
Bismillahirrahmanirrahim.
Kita pada umumnya, sengaja atau tidak, dalam mengukur kebaikan dan
keburukan selalu mengembalikannya kepada tiga golongan wujud, yaitu
Pertama golongan manusia. Apa saja yang dibutuhkan dan disenangi manusia
kita katakan baik, seperti hidup, ilmu, mata, telinga, makanan dan
sebagainya. Sebaliknya apa saja yang merugikan dan tidak disenangi
dikatakan buruk/jelek, seperti mati, buta, tuli, penyakit dan
sebagainya. Kedua, golongan yang mempunyai rasa selain manusia, yaitu
binatang. Apa saja yang sesuai dengan binatang kita katakan baik,
seperti rumput untuk sapi, jagung untuk ayam dan lain lain.Sedang yang
tidak sesuai kita katakan buruk, seperti penyakit, patah kaki dan lain
lain. Ketiga, golongan yang tidak mempunyai rasa, yaitu tumbuhan, tanah
dll. Daun-daun pohon kita katakan baik untuk si pohon dan baik pula
untuk tanah karena dapat menyuburkannya.Adapun apa saja yang dapat
merusak golongan ini kita katakan buruk/jelek.
Dari uraian singkat di atas kalau kita renungkan sedikit lebih dalam,
sebenarnya timbangan baik buruk sesuatu itu adalah hidup atau keberadaan
serta kesempurnaan keduanya (hidup atau keberadaan) dan apa saja yang
dapat menunjang semuanya itu. Hal ini karena pada dasarnya setiap
sesuatu itu mencintai dirinya sendiri. Baik cinta itu berbentuk ikhtiari
seperti yang dimiliki manusia, ataupun fitri (tidak bisa tidak) yang
dimiliki binatang, maupun berbentuk natural-alami seperti yang dipunyai
tumbuhan dan lain lain. Sehingga hidup atau keberadaan mereka,
kesempurnaan mereka dan apa saja yang dapat menunjang semua itu akan
dikatakan baik. Seperti hidup, melihat dan buah-buahan bagi manusia;
hidup,sehat, rerumputan bagi binatang; keberadaan pepohonan, kokohnya
(yang berfungsi mencegah longsor) bagi gunung. Sedang lawan dari semua
itu akan dikatakan buruk/jelek. Seperti mati, buta, racun bagi manusia;
mati, sakit dan buta bagi binatang; hancurnya, rusaknya pepohonan bagi
gunung dan sebagainya.
Sekarang, kalau kita perhatikan dengan seksama maka kita akan
mendapatkan bahwa pensifatan baik terhadap sesuatu berbeda dengan
pensifatan buruk/jelek terhadap sesuatu itu. Maksudnya, sesuatu itu akan
dikatakan baik karena adanya kesempurnaannya dan apa-apa yang menunjang
keberadaan dan kesempurnaannya itu. Seperti hidup, ilmu dan makanan.
Jadi, kebaikan berkenaan dengan keberadaan semua itu. Lain halnya dengan
keburukan atau kejelekan. Semuanya itu dikatakan buruk bukan karena
keberadaan mereka. Mati, buta, bodoh, racun dan sebagainya itu tidak
dikatakan buruk karena diri mereka masing masing. Akan tetapi karena
masing masing mereka menerangkan atau menyebabkan ketiadaan. Dikatakan
buruk/jelek karena mati menerangkan ketiadaan hidup; buta menerangkan
ketiadaan penglihatan; bodoh menerangkan ketiadaan ilmu; racun
menyebabkan kematian (ketiadaan hidup) dan seterusnya. Dan kalau bukan
karena hal-hal yang ada dibalik mereka (keburukan), maka mereka tidak
dikatakan buruk/jelek. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sesuatu itu
disifati dengan buruk/jelek secara tidak langsung, dan yang secara
langsung adalah ketiadaan yang terkandung pada diri sesuatu itu.
Maka, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebaikan bersumber dari
keberadaan, sedang keburukan bersumber dari ketiadaan. Dari kesimpulan
ini kita dapat menyimpulkan sesuatu yang lain, yaitu karena keburukan
bersumber dari ketiadaan maka dia tidak mempunyai eksistensi sebagaimana
ketiadaan itu sendiri. Sebab kalau dia itu ada atau mempunyai
eksisitensi, maka tidak lagi dikatakan ketiadaan dan akan menyimpang
dari sumbernya sendiri. Akhirnya, keburukan sama dengan ketiadaan. Dapat
dipahami tetapi tidak mempunyai eksistensi. Kalau demikian halnya maka
keburukan tidak memerlukan pencipta, karena memang tidak ada. Sehingga
kita dapat menyatakan bahwa semua keberadaan yang diciptakan Tuhan ini
adalah baik. Dan, Tuhan tidak pernah menciptakan keburukan. Sebab
keburukan sama dengan ketiadaan, sebagaimana maklum. Allahuakbar.
Sungguh Allah lebih Agung dari pada yang dapat kita pahami.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Syariefudin Algadrie.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)