Syariefudin Algadrie wrote:
> 
> Assalamu'alaikum wr.wb.

Wa'alaikum sal�m warahmatull�hi wabarak�tuh.

Selamat bergabung dengan kami. Senang sekali membaca hasil renungan
anda. Saya pribadi lebih menyukai tulisan semacam ini daripada
sekedar kutipan tulisan orang lain. Perkenankan saya ikut
memberi pandangan dari sudut yang lain.

Bicara tentang baik-buruk, memang alam semesta ini merupakan
kombinasi antara baik dan buruk. Setiap entity di bumi dan langit
ini, baik benda maupun kejadian, menggabungkan baik dan buruk
dalam kadar yang berbeda-beda. 

Baik dan buruk merupakan pandangan relatif manusia. Meskipun di mata
Allah, semua yang tercipta adalah baik, manusia tidak mampu melihat
kebaikan atau keburukan mutlak yang ada pada sesuatu entity.
Kebaikan mutlak itu sulit diperoleh dengan pandangan kita yang
sempit; kebaikan mutlak hanya dapat kita lihat apabila kita
dipinjami 'pandangan Allah' yang memandang alam semesta ini sebagai
suatu kesatuan yang tunggal, tidak terbagi-bagi.

Kalau kita melihat sesuatu entity, misalnya cacing tanah, kita
mungkin saja jijik bercampur benci, kita menganggapnya sebagai
sesuatu yang buruk, lalu mungkin tergerak untuk membunuhnya. Namun
ternyata cacing itu mempunyai aspek kebaikan, yaitu menggemburkan
tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik. Jadi cacing
itu tidak dapat dikatakan baik baik atau buruk secara mutlak. 

Contoh lain, si A memberi sedekah kepada di B. Baik atau burukkah
ini? Dengan segera kita akan berkata, "Itu baik." Tapi, nanti dulu.
Kalau kita lihat dari sisi A memang baik, tetapi bagaimana dari sisi
B? Mungkin saja dengan sedekah itu si B menjadi malas bekerja dan
selalu mengharap pemberian.

Bulan lalu, saudara adik ipar saya yang baru lulus SMU melamar
pekerjaan, tetapi tidak diterima. Tentu semua orang menganggap bahwa
itu hal yang buruk, namun saya katakan, "Itu bagus. Kalau kamu
langsung diterima, semangat juangmu tidak akan kuat, dan kamu tidak
akan menyadari kelemahanmu." 

Si M kecopetan di terminal bus. Kabar buruk, bukan? Tapi lihatlah
sisi baiknya. Mungkin si M itu tahun lalu tidak membayar zakat, atau
tidak menyembelih korban, atau mendapat penghasilan yang tidak
bersih. Jadi peristiwa itu membersihkan rezkinya. Lalu, apakah si
pencopet itu sendiri baik atau buruk? Baik, karena ia membersihkan
rezki orang, buruk karena melakukan pekerjaan tercela.

Bukan hanya perbuatan, dogma agama pun mengandung baik dan buruk.
Ambillah dogma bahwa dunia ini tak akan bebas dari maksiat walau
sekeras apapun kita berusaha membasminya. Sisi buruk dogma ini: kita
menjadi lemah tak bersemangat dalam mengupayakan membasmi kebatilan.
Sisi baiknya: kita menjadi tenang walaupun setelah berupaya keras,
maksiat itu tetap saja berlangsung. 

Contoh-contoh ini tak dapat dibatasi jumlahnya, tetapi dengan
sedikit contoh itu mudah-mudahan kita dapat memahami bahwa
baik-buruk itu ada dalam pandangan relatif manusia, sedangkan dalam
pandangan mutlak Allah, segala sesuatu yang tercipta ini baik
adanya.

Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS


> Sebelumnya saya mengucapkan salam kenal kepada semua saudara saya (kita
> sesama muslim adalah bersaudara) di mailing list Tasawuf ini. Saya belum
> lama mengenal milis ini tetapi dari memebaca posting-posting yang
> dikirimkan, cukup banyak manfaat yang bisa didapatkan.
> 
> Pada kesempatan ini saya yang fakir dan bodoh ini juga ingin
> menyemarakkannya dengan mengirim tulisan yang saya beri judul TUHAN
> TIDAK MENCIPTA KECUALI HANYA KEBAIKAN, mudah-mudahan bermanfaat. Kepada
> administrator milis ini sebelumnya saya ucapkan banyak terma kasih,
> semoga ikhtiar saudara yang tulus mendapat imbalan yang setimpal dari
> Allah swt. Alhamdulillah.
> 
> Bismillahirrahmanirrahim.
> 
> Kita pada umumnya, sengaja atau tidak, dalam mengukur kebaikan dan
> keburukan selalu mengembalikannya kepada tiga golongan wujud, yaitu
> Pertama golongan manusia. Apa saja yang dibutuhkan dan disenangi manusia
> kita katakan baik, seperti hidup, ilmu, mata, telinga, makanan dan
> sebagainya. Sebaliknya apa saja yang merugikan dan tidak disenangi
> dikatakan buruk/jelek, seperti mati, buta, tuli, penyakit dan
> sebagainya. Kedua, golongan yang mempunyai rasa selain manusia, yaitu
> binatang. Apa saja yang sesuai dengan binatang kita katakan baik,
> seperti rumput untuk sapi, jagung untuk ayam dan lain lain.Sedang yang
> tidak  sesuai kita katakan buruk, seperti penyakit, patah kaki dan lain
> lain. Ketiga, golongan yang tidak mempunyai rasa, yaitu tumbuhan, tanah
> dll. Daun-daun pohon kita katakan baik untuk si pohon dan baik pula
> untuk tanah karena dapat menyuburkannya.Adapun apa saja yang dapat
> merusak golongan ini kita katakan buruk/jelek.
> 
> Dari uraian singkat di atas kalau kita renungkan sedikit lebih dalam,
> sebenarnya timbangan baik buruk sesuatu itu adalah hidup atau keberadaan
> serta kesempurnaan keduanya (hidup atau keberadaan) dan apa saja yang
> dapat menunjang semuanya itu. Hal ini karena pada dasarnya setiap
> sesuatu itu mencintai dirinya sendiri. Baik cinta itu berbentuk ikhtiari
> seperti yang dimiliki manusia, ataupun fitri (tidak bisa tidak) yang
> dimiliki binatang, maupun berbentuk natural-alami seperti yang dipunyai
> tumbuhan dan lain lain. Sehingga hidup atau keberadaan mereka,
> kesempurnaan mereka dan apa saja yang dapat menunjang semua itu akan
> dikatakan baik. Seperti hidup, melihat dan buah-buahan bagi manusia;
> hidup,sehat, rerumputan bagi binatang; keberadaan pepohonan, kokohnya
> (yang berfungsi mencegah longsor) bagi gunung. Sedang lawan dari semua
> itu akan dikatakan buruk/jelek. Seperti mati, buta, racun bagi manusia;
> mati, sakit dan buta bagi binatang; hancurnya, rusaknya pepohonan bagi
> gunung dan sebagainya.
> 
> Sekarang, kalau kita perhatikan dengan seksama maka kita akan
> mendapatkan bahwa pensifatan baik terhadap sesuatu berbeda dengan
> pensifatan buruk/jelek terhadap sesuatu itu. Maksudnya, sesuatu itu akan
> dikatakan baik karena adanya kesempurnaannya dan apa-apa yang menunjang
> keberadaan dan kesempurnaannya itu. Seperti hidup, ilmu dan makanan.
> Jadi, kebaikan berkenaan dengan keberadaan semua itu. Lain halnya dengan
> keburukan atau kejelekan. Semuanya itu dikatakan buruk bukan karena
> keberadaan mereka. Mati, buta, bodoh, racun dan sebagainya itu tidak
> dikatakan buruk karena diri mereka masing masing. Akan tetapi karena
> masing masing mereka menerangkan atau menyebabkan ketiadaan. Dikatakan
> buruk/jelek karena mati menerangkan ketiadaan hidup; buta menerangkan
> ketiadaan penglihatan; bodoh menerangkan ketiadaan ilmu; racun
> menyebabkan kematian (ketiadaan hidup) dan seterusnya. Dan kalau bukan
> karena  hal-hal yang ada dibalik mereka (keburukan), maka mereka tidak
> dikatakan buruk/jelek. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sesuatu itu
> disifati dengan buruk/jelek secara tidak langsung, dan yang secara
> langsung adalah ketiadaan yang terkandung pada diri sesuatu itu.
> 
> Maka, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebaikan bersumber dari
> keberadaan, sedang keburukan bersumber dari ketiadaan. Dari kesimpulan
> ini kita dapat menyimpulkan sesuatu yang lain, yaitu karena keburukan
> bersumber dari ketiadaan maka dia tidak mempunyai eksistensi sebagaimana
> ketiadaan itu sendiri. Sebab kalau dia itu ada atau mempunyai
> eksisitensi, maka tidak lagi dikatakan ketiadaan dan akan menyimpang
> dari sumbernya sendiri. Akhirnya, keburukan sama dengan ketiadaan. Dapat
> dipahami tetapi tidak mempunyai eksistensi. Kalau demikian halnya maka
> keburukan tidak memerlukan pencipta, karena memang tidak ada. Sehingga
> kita dapat menyatakan bahwa semua keberadaan yang diciptakan Tuhan ini
> adalah baik. Dan, Tuhan tidak pernah menciptakan keburukan. Sebab
> keburukan sama dengan ketiadaan, sebagaimana maklum. Allahuakbar.
> Sungguh Allah lebih Agung dari pada yang dapat kita pahami.
> 
> Wassalamu'alaikum wr.wb.
> Syariefudin Algadrie.
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke