RUMADI HARTAWAN wrote:

> >>> Adil <<<
>
> oleh: KH Jalaluddin Rakhmat
> dikutip dari buku:
> "Reformasi Sufistik", hal 187-190
>
> Satu rombongan tawanan perang dan kabilah Thayyi' dikumpulkan di depan pintu
> masjid. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang cantik dan fasih
> bertutur. Ketika Nabi saw. lewat di hadapannya, ia berdiri, "Hai Muhammad,
> mengapa tidak kau lepaskan aku. Jangan kecewakan orang-orang Arab. Aku ini
> putri dan pemimpin kabilah yang berakhlak baik. Mendiang ayahku suka
> memerdekakan budak belian, menolong orang yang kekurangan, melindungi orang
> yang ketakutan, memberikan jamuan kepada tamu, mengenyangkan yang kelaparan,
> memberikan pekerjaan, dan membebaskan orang dari kesulitan. Aku putri Hatim
> Thayyi." Nabi saw. bersabda, "Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak
> yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia." Abu Burdah berdiri, "Ya
> Rasulullah, apakah Tuhan memang mencintai akhlak yang mulia (siapa saja yang
> melakukannya)?" Nabi berkata, "Hai Abu Burdah, tak akan masuk surga seorang
> pun kecuali dengan akhlak yang baik."
>
> Yang heran dengan pernyataan Nabi saw. bukan hanya Abu Burdah. Banyak ulama
> yang bingung memahami hadis ini. Yang mereka bingungkan, sebenarnya, adalah
> di mana harus ditempatkan orang seperti Hatim. Soalnya, tak mungkin
> menempatkannya di surga, karena Hatim orang kafir. Ia tak mau beriman kepada
> Rasulullah saw. Tetapi, tak enak juga rasanya menempatkannya di neraka,
> karena ia berakhlak baik. Apalagi, Nabi mencintainya juga. Beliau
> menghormatinya begitu luhur, sehingga beliau membebaskan anaknya hanya
> karena mempertimbangkan akhlaknya.
>
> Kebingungan mereka - juga kita - bermula dari jalan pikiran yang sangat
> naif. Kita membagi dunia dalam dua ba-gian: kita orang Islam dan mereka
> orang kafir. Segala kebaikan ada pada kita dan segala kejahatan ada pada
> mereka. Surga adalah tempat kembali orang baik, dan neraka tentu saja buat
> orang jahat. Karena itu, kita pasti masuk surga, dan mereka pasti masuk
> neraka. Bila kita berakhlak jelek, kita masuk ke neraka. Itu pun sebentar
> saja. Kita hanya transit di sana; setelah itu, kita semua masuk surga.
> Adapun orang kafir, ia terbang langsung ke neraka.
>
> Pandangan sederhana seperti ini dilukiskan oleh Alquran sebagai pandangan
> Yahudi. Hal itu adalah karena mereka mengaku, "Kami tzdak akan disentuh oleh
> api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung. "Mereka diperdayakan
> dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan (QS 3:24). Ketika
> kita melihat dunia nyata, realitas tak sesederhana itu. Kita melihat, ada
> sebagian orang kafir yang berakhlak baik, sebagaimana kita melihat juga, ada
> sebagian orang Islam berakhlak jelek. Untuk mengatasi kebingungan ini, kita
> menemukan beberapa solusi.
>
> Pertama, kita memakai satu ukuran saja: akidah (atau apa yang kita sebut
> sebagai akidah). Dalam politik, kita memilih penguasa yang Muslim walaupun
> zalim ketimbang penguasa kafir yang adil. Dalam bisnis, kita mengambil mitra
> usaha Muslim, walaupun ia tak jujur, ketimbang orang kafir yang jujur. Dalam
> pekerjaan, kita mengangkat pegawai yang seagama dengan kita, walaupun ia
> bekerja 'asal-asalan' saja; kita tolak pegawai yang bekerja profesional,
> karena ia beragama lain. Terkadang polarisasi ini kita persempit lagi: di
> antara sesama Muslim. Kita mendahulukan orang Islam yang sepaham dengan
> kita, betapa pun jelek akhlaknya. Kita menjauhi orang Islam yang berbeda
> mazhab dengan kita, betapa pun baik akhlaknya.
>
> Kedua, kita mencari pembenaran untuk kejelekan akhlak kita; sekaligus
> mencari motif tersembunyi (ulterior motive) untuk kebaikan akhlak orang
> lain. Dengan kata lain, kita berprasangka baik bila melihat orang Islam yang
> jahat. Kita mengembangkan prasangka buruk bila menyaksikan orang kafir yang
> beramal baik. Diberitakan, bahwa Si Fulan banyak melakukan korupsi. Kita
> segera membelanya dengan mengatakan, bahwa dia juga banyak berderma. Fulanah
> banyak merampas hak orang lain, tetapi bukankah ia juga banyak berzikir dan
> berulang-ulang naik haji. Insya Allah, ibadahnya akan menghapuskan segala
> kejelekannya.
>
> Disampaikan kepada kita, kisah seorang tokoh agama lain yang hidup di tengah
> orang-orang yang menderita. Ia menajamkan empatinya dengan belajar hidup
> seperti mereka. Ia mengumpulkan anak-anak terlantar di pinggir jalan. Ia
> memberikan makanan kepada orang yang lapar; perlindungan kepada orang yang
> ketakutan, rumah kepada gelandangan, dan perhatian kepada orang pinggiran.
> Kita segera memberikan reaksi berupa kecurigaan. Mungkin ia mempunyai motif
> tersembunyi. Di balik kebaikannya, ia menyimpan niat jahat. Kebaikannya
> hanyalah jebakan licik untuk menjerat orang yang lengah. Jangan jangan ja
> adalah "aktor intelektual" di belakang semua tindakan kejahatan di dunia
> ini. "Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu berjuang karena Allah dengan
> menjadi saksi-saksi keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada satu kaum
> menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
> dekat dengan takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah itu
> Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS 5:8).
>
> Berlaku adil artinya tidak menggunakan standar ganda. Katakanlah yang jahat
> itu jahat, walaupun dilakukan oleh kawan-kawan kita. Sebutlah yang baik itu
> baik, sekalipun dipraktikkan oleh musuh-musuh kita. Disampaikan kepada Nabi
> saw., seorang Islam yang menghabiskan malam dalam ibadat dan siang dalam
> puasa. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya. Beliau berkata, "Ia di
> neraka." Ketika beliau mendengar kebaikan Hatim yang kafir dan anaknya,
> beliau berkata, "Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia.
> Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia."
>
> Ya Rasulullah, berikan kami setetes keadilanmu, agar kami tak bingung
> menilai orang-orang di sekitar kami.
>
> -----
> Mohon reply sebagai feedback,
> Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini : ______
> A. bagus sekali
> B. bagus
> C. cukup
> D. kurang bagus
> E. tidak menarik

Assalaamu'alikum wr.wb.
Apalagi yang lebih jelas daripada sikap adil sebagai pertanda akhlak mulia?
Pendapat saya tentang artikel ini : Bagus sekali (A).

Wassalaamu'alaikum wr.wb.
Syarief

> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke