A





From: RUMADI HARTAWAN <rumadi @ lintasarta.co.id> on 04/26/99 04:47 AM GMT

Please respond to [EMAIL PROTECTED]

To:   "_YISC (milis)" <yisc_al-azhar @ egroups.com>
cc:   _Tasawuf-Indoglobal <tasawuf @ indoglobal.com> (bcc: Farhan BKC0042
      Sani/BKCP/BKC)
      |--------------------|
      | [ ] Return Receipt |
      |--------------------|

Subject:  [Tasawuf] Makna Keadilan




>>> Adil <<<

oleh: KH Jalaluddin Rakhmat
dikutip dari buku:
"Reformasi Sufistik", hal 187-190


Satu rombongan tawanan perang dan kabilah Thayyi' dikumpulkan di depan pintu
masjid. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang cantik dan fasih
bertutur. Ketika Nabi saw. lewat di hadapannya, ia berdiri, "Hai Muhammad,
mengapa tidak kau lepaskan aku. Jangan kecewakan orang-orang Arab. Aku ini
putri dan pemimpin kabilah yang berakhlak baik. Mendiang ayahku suka
memerdekakan budak belian, menolong orang yang kekurangan, melindungi orang
yang ketakutan, memberikan jamuan kepada tamu, mengenyangkan yang kelaparan,
memberikan pekerjaan, dan membebaskan orang dari kesulitan. Aku putri Hatim
Thayyi." Nabi saw. bersabda, "Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak
yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia." Abu Burdah berdiri, "Ya
Rasulullah, apakah Tuhan memang mencintai akhlak yang mulia (siapa saja yang
melakukannya)?" Nabi berkata, "Hai Abu Burdah, tak akan masuk surga seorang
pun kecuali dengan akhlak yang baik."

Yang heran dengan pernyataan Nabi saw. bukan hanya Abu Burdah. Banyak ulama
yang bingung memahami hadis ini. Yang mereka bingungkan, sebenarnya, adalah
di mana harus ditempatkan orang seperti Hatim. Soalnya, tak mungkin
menempatkannya di surga, karena Hatim orang kafir. Ia tak mau beriman kepada
Rasulullah saw. Tetapi, tak enak juga rasanya menempatkannya di neraka,
karena ia berakhlak baik. Apalagi, Nabi mencintainya juga. Beliau
menghormatinya begitu luhur, sehingga beliau membebaskan anaknya hanya
karena mempertimbangkan akhlaknya.

Kebingungan mereka - juga kita - bermula dari jalan pikiran yang sangat
naif. Kita membagi dunia dalam dua ba-gian: kita orang Islam dan mereka
orang kafir. Segala kebaikan ada pada kita dan segala kejahatan ada pada
mereka. Surga adalah tempat kembali orang baik, dan neraka tentu saja buat
orang jahat. Karena itu, kita pasti masuk surga, dan mereka pasti masuk
neraka. Bila kita berakhlak jelek, kita masuk ke neraka. Itu pun sebentar
saja. Kita hanya transit di sana; setelah itu, kita semua masuk surga.
Adapun orang kafir, ia terbang langsung ke neraka.

Pandangan sederhana seperti ini dilukiskan oleh Alquran sebagai pandangan
Yahudi. Hal itu adalah karena mereka mengaku, "Kami tzdak akan disentuh oleh
api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung. "Mereka diperdayakan
dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan (QS 3:24). Ketika
kita melihat dunia nyata, realitas tak sesederhana itu. Kita melihat, ada
sebagian orang kafir yang berakhlak baik, sebagaimana kita melihat juga, ada
sebagian orang Islam berakhlak jelek. Untuk mengatasi kebingungan ini, kita
menemukan beberapa solusi.

Pertama, kita memakai satu ukuran saja: akidah (atau apa yang kita sebut
sebagai akidah). Dalam politik, kita memilih penguasa yang Muslim walaupun
zalim ketimbang penguasa kafir yang adil. Dalam bisnis, kita mengambil mitra
usaha Muslim, walaupun ia tak jujur, ketimbang orang kafir yang jujur. Dalam
pekerjaan, kita mengangkat pegawai yang seagama dengan kita, walaupun ia
bekerja 'asal-asalan' saja; kita tolak pegawai yang bekerja profesional,
karena ia beragama lain. Terkadang polarisasi ini kita persempit lagi: di
antara sesama Muslim. Kita mendahulukan orang Islam yang sepaham dengan
kita, betapa pun jelek akhlaknya. Kita menjauhi orang Islam yang berbeda
mazhab dengan kita, betapa pun baik akhlaknya.

Kedua, kita mencari pembenaran untuk kejelekan akhlak kita; sekaligus
mencari motif tersembunyi (ulterior motive) untuk kebaikan akhlak orang
lain. Dengan kata lain, kita berprasangka baik bila melihat orang Islam yang
jahat. Kita mengembangkan prasangka buruk bila menyaksikan orang kafir yang
beramal baik. Diberitakan, bahwa Si Fulan banyak melakukan korupsi. Kita
segera membelanya dengan mengatakan, bahwa dia juga banyak berderma. Fulanah
banyak merampas hak orang lain, tetapi bukankah ia juga banyak berzikir dan
berulang-ulang naik haji. Insya Allah, ibadahnya akan menghapuskan segala
kejelekannya.

Disampaikan kepada kita, kisah seorang tokoh agama lain yang hidup di tengah
orang-orang yang menderita. Ia menajamkan empatinya dengan belajar hidup
seperti mereka. Ia mengumpulkan anak-anak terlantar di pinggir jalan. Ia
memberikan makanan kepada orang yang lapar; perlindungan kepada orang yang
ketakutan, rumah kepada gelandangan, dan perhatian kepada orang pinggiran.
Kita segera memberikan reaksi berupa kecurigaan. Mungkin ia mempunyai motif
tersembunyi. Di balik kebaikannya, ia menyimpan niat jahat. Kebaikannya
hanyalah jebakan licik untuk menjerat orang yang lengah. Jangan jangan ja
adalah "aktor intelektual" di belakang semua tindakan kejahatan di dunia
ini. "Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu berjuang karena Allah dengan
menjadi saksi-saksi keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada satu kaum
menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
dekat dengan takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah itu
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS 5:8).

Berlaku adil artinya tidak menggunakan standar ganda. Katakanlah yang jahat
itu jahat, walaupun dilakukan oleh kawan-kawan kita. Sebutlah yang baik itu
baik, sekalipun dipraktikkan oleh musuh-musuh kita. Disampaikan kepada Nabi
saw., seorang Islam yang menghabiskan malam dalam ibadat dan siang dalam
puasa. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya. Beliau berkata, "Ia di
neraka." Ketika beliau mendengar kebaikan Hatim yang kafir dan anaknya,
beliau berkata, "Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia.
Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia."

Ya Rasulullah, berikan kami setetes keadilanmu, agar kami tak bingung
menilai orang-orang di sekitar kami.

-----
Mohon reply sebagai feedback,
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini : ______
A. bagus sekali
B. bagus
C. cukup
D. kurang bagus
E. tidak menarik

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)









---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke