III. TUBUH PIKIRAN

Kita telah membahas tubuh fisik dan astral manusia. Kita telah mempelajari tubuh 
fisik, baik yang tampak maupun yang tak tampak yang bekerja pada dataran fisik. Kita 
telah menelusuri berbagai kegiatannya, menganalisa sifat dan pertumbuhannya, dan 
menyinggung pemurniannya yang dilakukan secara bertahap. Kemudian kita telah meninjau 
tubuh astral dengan cara yang sama. Dengan demikian kita telah memperoleh gambaran 
mengenai aktivitas manusia pada 2 dari 7 dataran besar dari alam semesta. 

Kini kita memasuki dataran ke-3, yaitu alam atau dataran pikiran (mind). Ketika telah 
mempelajari sesuatu dari dataran ini, kita akan mengetahui adanya alam fisik, astral, 
dan mental [bumi kita dan dua bola yang melingkupinya] sebagai suatu 'triple region' 
yang di dalamnya manusia aktif berkarya selama inkarnasinya di bumi dan tinggal selama 
masa yang membentang antara kematian yang menutup kehidupan dunia dan kelahiran yang 
membuka kehidupan lain. Tiga bola konsentrik ini merupakan tempat sekolah dan kerajaan 
manusia: di dalamnya orang melaksanakan perkembangannya, di dalamnya ia melakukan 
ziarah evolusi; di luar itu ia mungkin tidak dapat melewatinya hingga gerbang bai'at 
terbuka baginya, karena di luar tiga dunia itu tidak ada jalan lain.

Di dalam dataran ke-3 yang disebut alam pikiran, termasuk Devachan atau Devaloka, 
dataran para Dewa, alam kebahagiaan atau kegembiraan. Diberi nama Devachan karena 
sifat dan kondisinya, tiada sesuatu yang mengusik alam ini yang dapat menimbulkan 
kepedihan atau kesedihan; ini merupakan wilayah yang dikawal khusus, keburukan tidak 
dibiarkan masuk, suatu tempat istirahat manusia untuk mengasimilasikan buah dari 
kehidupan fisiknya.

Penjelasan sementara tentang alam pikiran secara menyeluruh diperlukan agar tidak 
menimbulkan kebingungan. Seperti dataran-dataran lain, dataran ini dibagi menjadi 7 
tingkatan yang dikelompokkan menjadi 2, masing-masing berisi 3 dan 4 tingkatan. Tiga 
tingkatan yang di atas disebut ar�pa atau tanpa tubuh, karena amat sangat halus, 
sementara 4 tingkatan yang di bawah disebut r�pa atau bertubuh. 

Manusia mempunyai dua kendaraan kesadaran untuk berkarya di dataran ini, dan kedua 
istilah di atas berlaku untuk tubuh pikiran. Kendaraan yang bawah disebut tubuh 
pikiran sampai ditemukan istilah yang lebih tepat; sedangkan kendaraan atas disebut 
tubuh kausal. Kita akan mengenal perbedaan antara Manas Atas dan Manas Bawah. Tubuh 
kausal adalah Manas Atas, tubuh permanen dari Ego, atau manusia, abadi dari kehidupan 
ke kehidupan. Tubuh Pikiran adalah Manas Bawah, berumur setelah kematian hingga 
mencapai Devachan, tetapi lenyap terurai ketika kehidupan pada taraf r�pa pada 
Devachan berakhir.

A. TUBUH PIKIRAN

Kendaraan kesadaran ini menjadi milik, dan terbentuk dari bahan-bahan yang berasal 
dari keempat tingkatan bawah Devachan. Sebagai kendaraan kesadaran di wilayah itu 
dalam dataran mental, ia bekerja atas dan melalui tubuh-tubuh astral dan fisik dalam 
segala manifestasi yang kita sebut pikiran dalam kesadaran terbangun yang normal. 

Pada orang yang belum berkembang, ia tidak dapat berfungsi terpisah pada datarannya 
sendiri sebagai kendaraan kesadaran yang independen selama kehidupan di dunia. Pada 
orang yang telah melatih sarana mentalnya, ia harus menyelimuti diri dengan 
bahan-bahan astral dan fisik sebelum dapat menjadi sadar akan kegiatannya.[9] Tubuh 
pikiran merupakan kendaraan dari Ego, si Pemikir, untuk semua pekerjaan penalaran, 
tetapi selama kehidupan di dunia ia tidak tertata dengan rapi, agak kerdil dan tak 
berdaya, sebagaimana tubuh astral dari orang yang belum berkembang.

Bahan yang dipakai untuk menyusun tubuh pikiran itu sangat langka dan halus. Kita 
telah tahu bahwa benda astral jauh lebih halus dari ether pada dataran fisik, dan kini 
kita masih perlu memperbesar konsepsi kita hingga dapat menjangkau gagasan benda yang 
tak terlihat oleh pandangan astral dan pandangan fisik, terlalu halus untuk ditangkap 
dengan indera internal manusia. Bahan ini menjadi milik dataran ke-5 ke bawah, atau 
dataran ke-3 ke atas, dari alam semesta, dan dalam bahan ini Diri mewujud sebagai 
pikiran, terletak di atas astral yang mewujud sebagai indera (sensasi).

Ada satu hal yang khas mengenai tubuh pikiran: ketika bagian luarnya mewujudkan diri 
sebagai manusia, ia mengembang, meningkat ukuran dan kegiatannya inkarnasi demi 
inkarnasi  sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri. Tubuh 
fisik terbentuk inkarnasi demi inkarnasi, bervariasi menurut bangsa dan kelamin, 
tetapi ukurannya hampir sama. Dalam tubuh astral kita jumpai perkembangan dalam 
penataan sesuai dengan perkembangan manusia. Tetapi tubuh pikiran bertambah ukurannya 
sejalan dengan evolusi perkembangan manusia.

Pada orang yang sama sekali belum berkembang, tubuh pikiran sulit untuk dikenali 
karena belum berwujud; perlu upaya keras untuk mengenalinya. Pada orang yang lebih 
berkembang, yang bukan spiritual tetapi telah mengembangkan sarana pikiran, yang telah 
melatih dan mengembangkan inteleknya - tubuh pikirannya memperoleh perkembangan yang 
jelas, dan ada tatanan sehingga dapat dikenali sebagai kendaraan aktivitas. Ia 
merupakan benda yang terang dan jelas batasannya, bahannya halus dan warnanya indah, 
terus-menerus bergetar dengan kegiatan yang aktif, penuh dengan kehidupan, penuh 
dengan kekuatan, suatu ekspresi pikiran dalam dunia pikiran.

Mengenai sifatnya, ia terbuat dari bahan yang halus; mengenai fungsinya, ia adalah 
kendaraan bagi Diri untuk mewujud sebagai intelek; mengenai pertumbuhannya, ia tumbuh 
pada tiap kehidupan proporsional dengan perkembangan intelektual manusia itu, menjadi 
semakin tertata dengan mantap karena atribut dan mutu pikiran menjadi semakin tajam. 
Seperti tubuh astral, ia tidak merupakan representasi tunggal manusia dalam bentuk dan 
sifat ketika ia bekerja berkaitan dengan tubuh astral dan fisik. Ia berbentuk is oval 
seperti telur, berimpit dengan tubuh fisik dan astral, dan melingkupi keduanya dengan 
cahaya yang menjadi makin besar sejalan dengan perkembangan intelektual. 

Bentuk telur ini menjadi benda yang semakin indah dan mengagumkan bila orang 
mengembangkan daya pikir yang makin tinggi. Ini tak terlihat dengan pandangan astral, 
tetapi jelas terlihat dengan pandangan yang lebih tinggi dari dataran pikiran. 
Sebagaimana orang awam tak dapat melihat sesuatu pada dunia astral meskipun ia 
dikelilingi olehnya, orang yang hanya memiliki pandangan fisik dan astral tak dapat 
melihat sesuatu di dalam dunia pikiran atau bentuk-bentuk yang tersusun dari bahan itu.

Indera yang lebih tajam milik dunia pikiran ini berbeda jauh dari indera yang sudah 
kita kenal. Istilah 'indera' ini pun tidak tepat di sini karena ia lebih tepat disebut 
indera mental. Pikiran bersentuhan dengan benda-benda dalam dunianya sendiri secara 
langsung. Tiada organ tertentu bagi penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa dan bau. 
Semua getaran yang semestinya diterima melalui alat indera terpisah, akan menunjukkan 
sifatnya ketika bersentuhan dengan otak. Tubuh pikiran menerima semua itu dalam waktu 
yang sama, secara sadar dan mampu memberi kesan atas semuanya.

Tidaklah mudah untuk menyampaikannya dalam perkataan setiap gagasan bagaimana indera 
ini menerima sekumpulan kesan tanpa bingung, tetapi mungkin sebaiknya dikatakan bahwa 
seseorang yang terlatih masuk ke wilayah itu, dan di sana ia berkomunikasi dengan 
orang lain, pikiran berbicara dengan warna, bunyi dan bentuk, sehingga gagasan 
selengkapnya disampaikan sebagai gambar yang berwarna dan bermusik, bukan merupakan 
fragmen, sebagaimana dilakukan dengan simbol yang disebut kata. 

Beberapa dari kita mungkin telah mendengar buku kuno yang ditulis dalam bahasa 
berwarna, bahasa Tuhan; bahasa yang dipahami oleh berbagai chel� (sufi), dan diterima 
berupa bentuk dan warna, dari alam pikiran "bicara" di mana getaran dari setiap 
gagasan diubah menjadi bentuk, warna dan suara. Bukan karena pikiran memikirkan warna. 
Bunyi atau bentuk; ia memikirkan sebuah gagasan, suatu getaran kompleks dalam bahan 
halus, dan gagasan itu mengekspresikan diri dalam bentuk getaran. Bahan dari dunia 
pikiran selalu dilontarkan dalam bentuk getaran untuk melahirkan warna, bunyi dan 
bentuk. Jika seseorang berfungsi dalam tubuh pikiran terpisah dari tubuh astral dan 
fisik, ia menemukan dirinya terbebas sepenuhnya dari keterbatasan organ inderanya.

Jika seseorang berpikir dalam kesadaran terbangun dan bekerja melalui tubuh astral dan 
fisiknya, pikiran itu dihasilkan di dalam tubuh pikiran dan keluar, mula-mula ke tubuh 
astral dan kemudian ke tubuh fisik. Jika kita berpikir, kita berpikir dengan tubuh 
pikiran kita, yaitu alat pemikir, kesadaranlah yang mengekspresikan diri sebagai 
'aku'. 'Aku' itu bersifat ilusi, tetapi merupakan satu-satunya 'aku' yang diketahui 
oleh kebanyakan dari kita. 

Ketika kita berurusan dengan kesadaran tubuh fisik, kita temukan bahwa orang itu 
sendiri tidak menyadari semua yang terjadi di dalam tubuh fisik, bahwa sebagian 
kegiatannya tidak tergantung dari dia, bahwa ia tidak mampu untuk berpikir sebagai 
sel-sel kecil yang sedang berpikir sendiri, bahwa is tidak benar-benar turut dalam 
kesadaran tubuh secara keseluruhan. 

Namun bila kita sampai pada tubuh pikiran, kita sampai pada sampai pada wilayah yang 
dikenali manusia sebagai dirinya sendiri. "Aku pikir...," "Aku tahu..." - dapatkah 
kita melihat sesuatu di balik itu? Pikiran adalah Diri dalam tubuh pikiran, dan itulah 
yang bagi kebanyakan dari kita merupakan sasaran dari pencarian Diri. Tetapi ini hanya 
benar jika kita terbatas pada kesadaran terbangun. Sesiapa yang telah mengetahui bahwa 
kesadaran terbangun, sebagaimana indera tubuh astral, hanyalah suatu tahap dalam 
perjalanan mencari Diri, dan yang telah memahami lebih dari itu -akan sadar bahwa ini 
hanyalah instrumen dari manusia sejati. Namun kebanyakan kita tidak dan tidak dapat 
memisahkan dalam pikirannya: pikiran dari tubuh pikiran, yang tampak kepada mereka 
sebagai ekspresi tertinggi, kendaraan tertinggi, diri tertinggi yang dapat mereka 
sentuh atau mereka sadari. 

Lebih alami dan tak terelakkan bahwa manusia, pada tahap evolusi ini, mulai 
menghidupkan tubuhnya dan membawanya ke aktivitas yang penting. Ia telah menghidupkan 
tubuh fisik sebagai kendaraan kesadaran di masa lampau, dan menggunakannya di masa 
kini. Ia menghidupkan tubuh astralnya yang terbelakang, tetapi kebanyakan 
sekurang-kurangnya pekerjaan ini berhasil sebagian. Ia bekerja pada tubuh pikiran, dan 
kerja khusus pada kemanusiaan yang harus dilakukan kini adalah membangun, evolusi dari 
tubuh ini.

Karena itu kita lebih perlu memahami bagaimana tubuh pikiran itu dibangun dan 
bagaimana ia tumbuh. Ia tumbuh dengan gagasan. Gagasan-gagasan kita merupakan bahan 
yang kita bangun ke dalam tubuh pikiran. Dengan melatih sarana mental kita, dengan 
mengembangkan daya artistik, emosi tinggi kita, kita membangun tubuh pikiran hari demi 
hari, tiap bulan dan tahun dalam hidup kita. Jika kita tidak melatih kemampuan mental 
kita; jika [sepanjang berkaitan dengan gagasan kita] kita hanya menjadi penerima, 
bukan pencipta; jika kita senantiasa menerima dari luar dan bukan membentuk dari 
dalam; jika dalam perjalanan hidup ini pikiran kita dijejali oleh gagasan orang lain; 
jika hanya itu yang kita ketahui mengenai gagasan dan berpikir - maka tubuh pikiran 
kita tidak tumbuh, kita datang di kehidupan ini persis sama dengan ketika kita pergi; 
kehidupan demi kehidupan kita tetap sebagai orang yang tidak berkembang. Melatih 
pikiran itu sendiri, menggunakan sarana itu secara kreatif, melatihnya, bekerja 
dengannya, senantiasa membuatnya bekerja - hanya dengan cara-cara ini tubuh pikiran 
dapat berkembang dan evolusi manusia dapat berlangsung.

Ketika menyadari ini, kita mungkin mencoba untuk mengubah perilaku umum dari kesadaran 
kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita mulai memperhatikan bagaimana ia bekerja. 
Setelah melakukan ini, kita akan melihat bahwa sebagian besar pemikiran kita bukanlah 
pemikiran kita sendiri, tetapi semata-mata merupakan penerimaan gagasan dari orang 
lain; gagasan yang datang kepada kita tanpa kita ketahui bagaimana; gagasan yang tidak 
kita ketahui kapan datangnya; gagasan yang lenyap dengan sendirinya tanpa kita ketahui 
ke mana perginya. Kita akan mulai merasa, mungkin dengan sedikit kekecewaan bahwa 
alih-alih pikiran itu berevolusi, ia lebih merupakan tempat di mana gagasan-gagasan 
berlalu. 

Cobalah sendiri, dan lihat berapa banyak isi kesadaran anda itu yang merupakan milik 
anda sendiri, dan berapa banyak yang hanya merupakan kontribusi dari luar. Berhentilah 
dengan tiba-tiba beberapa kali dalam sehari, dan perhatikan apa yang anda pikirkan. 
Dengan pemeriksaan tiba-tiba, anda mungkin menjumpai bahwa anda tidak sedang 
memikirkan apa-apa, suatu pengalaman yang lumrah, atau bahwa anda berpikir tak menentu 
hingga hanya sekilas kesan yang dapat anda temukan dalam pikiran. 

Jika anda mencobanya beberapa kali, dan setiap kali anda menjadi lebih sadar dari 
sebelumnya, mulailah memperhatikan gagasan-gagasan di dalam pikiran anda, dan 
perhatikan perbedaan apa yang ada antara kondisinya ketika masuk ke dalam pikiran dan 
kondisinya ketika pergi; apa yang anda tambahkan ketika gagasan itu berada bersama 
anda. Dengan cara ini pikiran anda menjadi benar-benar aktif, dan akan melatih daya 
kreasinya. Jika anda bijaksana, anda akan mengikuti proses berikut: mula-mula anda 
memilih gagasan yang akan anda biarkan tinggal di dalam pikiran. Ketika anda menemukan 
dalam pikiran sebuah gagasan yang baik, anda akan meperhatikanya, mengembangkannya, 
menguatkannya, menambahnya; dan mengirimnya keluar sebagai suatu manfaat ke dalam 
dunia astral. Jika anda menemukan di dalam pikiran gagasan yang buruk, anda akan 
membuangnya keluar dengan segera. 

Kini anda tahu bahwa ketika anda menyambut baik ke dalam pikiran anda semua gagasan 
yang baik dan bermanfaat dan menolak gagasan yang jahat, hasil berikut akan muncul: 
makin banyak gagasan baik yang mengalir masuk ke dalam pikiran dari luar, dan makin 
sedikit gagasan buruk yang datang. Akibat dari mengisi penuh pikiran dengan gagasan 
yang baik dan bermanfaat adalah: ia akan bertingkah sebagai magnet bagi semua gagasan 
serupa dari sekeliling anda. Jika anda terbiasa menolak tinggalnya gagasan buruk, 
gagasan serupa akan terlempar keluar secara otomatis oleh perbuatan pikiran itu 
sendiri. Tubuh pikiran akan mempunyai sifat menarik semua gagasan yang baik dari 
sekeliling, dan menolak gagasan yang buruk. Ia akan mengolah gagasan yang baik dan 
membuatnya lebih aktif, dan senantiasa mengumpulkan massa bahan mental yang akan 
membentuk isinya, dan akan tumbuh lebih cepat setiap tahun. 

Ketika tiba saatnya orang itu meninggalkan tubuh astral dan fisiknya dan masuk ke 
dunia pikiran, ia akan membawa serta semua bahan yang telah dikumpulkannya; ia akan 
membawa serta isi kesadaran ke dalam wilayah yang lebih sesuai, dan ia akan 
menggunakan kehidupan devachan-nya untuk memanfaatkan sifat dan menghidupkan daya 
semua bahan yang disimpannya.

Pada akhir masa devachan, tubuh pikiran akan menyerahkan sifat-sifat yang dibinanya 
kepada tubuh kausal permanen, agar dapat dibawa ke dalam inkarnasi berikutnya. Sarana 
ini akan menyelimuti mereka dengan bahan-bahan dataran r�pa dari dunia pikiran, 
membentuk tubuh pikiran yang lebih tertata dan lebih maju pada kehidupan mendatang. 
Mereka akan menampakkan diri melalui tubuh astral dan fisik sebagai "bakat bawaan," 
yang datang bersama bayi ke dunia. 

Dalam kehidupan kini kita mengumpulkan bahan-bahan dengan cara yang telah diuraikan. 
Dalam kehidupan devachan kita mengolah bahan-bahan itu, mengubahnya dari upaya-upaya 
terpisah menjadi gagasan, menjadi daya dan aktivitas mental. Ini merupakan perubahan 
besar dalam masa kehidupan devachan, dan karena ia terbatas oleh pemanfaatannya dalam 
kehidupan dunia, sebaiknya kita tidak melakukan upaya apa-apa dalam hal ini sekarang. 
Tubuh pikiran pada inkarnasi mendatang tergantung pada upaya untuk kita lakukan dalam 
tubuh pikiran kini. Karena itu, manfaat evolusi manusia mengenai pemanfaatan tubuh 
pikirannya sekarang; ia membatasi aktivitasnya dalam; Devachan, dan dengan membatasi 
aktivitas itu ia membatasi kualitas mental yang akan dibawanya ke kehidupan mendatang. 
Kita tidak dapat memisahkan satu kehidupan dari yang lain, atau menciptakan sesuatu 
dari ketiadaan. Karma memberi hasil menurut apa yang kita tanam: sedikit atau banyak 
merupakan panen dari biji yang kita tanam.

Tindakan otomatis tubuh pikiran seperti yang disebut di atas, mungkin lebih mudah 
dipahami jika kita memperhatikan sifat bahan-bahan yang dipakai untuk membangunnya. 
Pikiran Universal merupakan gudang penyimpan bahan-bahan itu. Ia menimbulkan setiap 
jenis getaran yang bervariasi dalam mutu dan dayanya menurut kombinasi bahannya. Tubuh 
pikiran secara otomatis menarik kepada dirinya dari gudang umum tersebut bahan-bahan 
yang dapat mempertahankan kombinasi yang telah ada, karena senantiasa terjadi 
perubahan partikel dalam tubuh pikiran sebagaimana dalam tubuh fisik, dan tempat yang 
ditinggalkan sama dengan tempat partikel yang datang. 

Jika orang menyadari bahwa ia mempunyai kecenderungan buruk dan mulai bekerja untuk 
mengubahnya, ia membuat serangkaian getaran baru. Tubuh pikiran cenderung untuk 
menerima yang lama dan menolak yang baru, hingga terjadi konflik dan penderitaan. 
Namun secara bertahap, begitu partikel lama didorong keluar dan diganti dengan 
partikel baru yang menjawab getaran baru [karena tertarik dari luar oleh daya untuk 
menjawab], tubuh pikiran mengubah karakternya. Bahan dan getarannya berubah menjadi 
menolak keburukan dan tertarik dengan kebaikan. Karena itu kesulitan utama terletak 
pada upaya awal, ia dihadang dan diserang oleh bentuk lama dari pikiran. Selanjutnya 
pemikiran yang benar akan berjalan makin mudah dan akhirnya spontanitas dan kesenangan 
timbul dalam melakukannya.

Cara lain untuk membantu pertumbuhan tubuh pikiran adalah melatih konsentrasi, yaitu 
penetapan pikiran pada suatu titik dan menahannya di situ, tidak diperkenankan untuk 
terlepas dari titik itu. Kita perlu melatih diri kita dalam berpikir dengan tenang dan 
teratur, tidak membiarkan pikiran tiba-tiba lari dari sesuatu hal ke hal lain, tidak 
menyia-nyiakan energinya tersebar ke sejumlah besar gagasan yang tidak perlu. 
Sebaiknya kita mengikuti pola pemikiran yang teratur, satu gagasan datang secara alami 
dari gagasan yang pergi sebelumnya. Dengan demikian secara bertahap kita mengembangkan 
mutu intelektual yang membuat gagasan kita beruntut dan rasional. 

Jika pikiran berkerja dengan cara demikian, gagasan demi gagasan akan datang menurut 
pola urutan yang teratur, dan ini menjadikan pikiran sebagai instrumen Diri dalam 
beraktivitas di dunia pikiran. Pengembangan daya pikir dengan konsentrasi dan urutan 
akan menghasilkan tubuh pikiran yang jelas dan tegas batas-batasnya, dalam 
perkembangan yang cepat, dengan keseimbangan yang terkendali, dan upaya yang 
dikeluarkan akan terbayar dengan perkembangan yang dihasilkan.

B. TUBUH KAUSAL (ALASAN, PENYEBAB)

Mari kita memasuki tubuh pikiran kedua yang disebut tubuh kausal, tubuh alasan. Nama 
ini diberikan berdasarkan fakta bahwa semua penyebab yang tinggal di dalam tubuh ini 
mewujud berupa akibat pada dataran-dataran yang lebih rendah. Tubuh ini adalah "tubuh 
Manas," aspek bentuk dari manusia sejati. Ini merupakan pangkalan, gudang, yang di 
dalamnya tersimpan harta karun manusia itu untuk selamanya. Ia berkembang ketika 
sifat-sifat rendah terkikis dan diganti dengan bahan yang lebih baik. Ke dalam tubuh 
kausal segala sesuatu dirajut sehingga dapat bertahan, dan di dalamnya disimpan 
bibit-bibit dari berbagai jenis untuk dibawa ke inkarnasi berikutnya. Karena itu 
perwujudan-perwujudan rendah sepenuhnya bergantung kepada pertumbuhan dan perkembangan 
orang itu.

Seperti disebut di atas, tubuh kausal merupakan aspek bentuk dari individual. Dengan 
hanya memperhatikan siklus kehidupan kini, kita dapat berkata bahwa tiada manusia 
sebelum keberadaan itu datang. Mungkin saja ada tubuh fisik dan ether yang disiapkan 
sebagai habitat [tempat hidup]; nafsu, emosi dan selera dapat secara bertahap 
dikumpulkan dari sifat k�ma dalam tubuh astral; tetapi tetap tiada manusia sebelum 
pertumbuhan melalui dataran fisik dan astral dicapai, dan sebelum bahan-bahan dari 
dunia pikiran mulai menampakkan diri dalam tubuh-tubuh bawah yang telah berkembang. 
Jika dengan daya itu Diri menyiapkan habitatnya sendiri, bahan-bahan dari dataran 
pikiran mulai dengan perlahan ber-evolusi, maka terjadi pengucuran dari lautan luas 
�tm�-Buddhi yang senantiasa mengerami evolusi manusia - dan ini bertemu dengan 
pertumbuhan ke atas, terbukanya bahan pikiran, bersatu dengannya, menyuburkannya, dan 
pada titik temu itulah tubuh kausal terbentuk.

Orang yang mampu melihat wilayah tinggi itu berkata bahwa aspek bentuk dari manusia 
sejati itu seperti lapisan tipis dari bahan yang terhalus, tampak, menandai bahwa 
orang itu memulai kehidupan terpisah. Lapisan yang halus dan tak berwarna dari bahan 
halus itu merupakan tubuh yang bertahan di sepanjang evolusi manusia, merupakan benang 
pengikat semua kehidupan, S�tr�tm� yang bereinkarnasi, tali diri. Ia merupakan 
pangkalan semua hal yang sesuai dengan Hukum Alam, semua atribut yang mulia, serasi, 
dan abadi. Ialah yang menandai perkembangan manusia, tahapan evolusi yang telah 
dicapainya. Setiap gagasan yang besar dan mulia, setiap emosi yang murni dan tinggi, 
dibawa dan diolah oleh bahan ini.

Mari kita amati kehidupan orang awam, kita lihat berapa banyak kehidupan yang 
diperlukan untuk membangun tubuh kausal, dan mari kita bayangkan sebagai lembaran film 
halus. Ia harus diperkuat, diperindah dengan warna, diaktifkan dengan hidup, dibuat 
cemerlang dan agung, diperbesar ukurannya dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia. 

Pada tahapan awal evolusi, ia tidak menunjukkan kualitas mental, tetapi menunjukkan 
banyak nafsu dan selera. Ia merasakan kenikmatan dan mengupayakannya. Meskipun 
kehidupan internalnya mempunyai bahan-bahan halus yang dikelilingi oleh tubuh pikiran; 
dan tubuh pikiran mengarah ke dunia astral, bersentuhan dengan tubuh astral dan 
menjadi berkaitan dengannya, maka suatu jembatan terbentuk untuk melewatkan apa yang 
dapat menyeberang. Orang itu mengirimkan gagasannya ke bawah melalui jembatan itu ke 
alam kenikmatan [nafsu, kehidupan binatang]. Pikiran bercampur dengan nafsu dan emosi 
binatang ini, tubuh pikiran terkait dengan tubuh astral, keduanya saling melekat dan 
sulit dipisahkan ketika saat kematian tiba. 

Jika dalam hidupnya orang yang menghabiskan waktu berada di wilayah bawah itu memiliki 
gagasan yang tidak mementingkan diri sendiri, memiliki gagasan pelayanan kepada 
seseorang yang ia cintai dan melakukan pengorbanan agar dapat melayani, ia telah 
membuat sesuatu yang mampu bertahan, sesuatu yang mampu hidup, sesuatu yang memiliki 
sifat dari dunia yang tinggi; sehingga ia dapat menembus ke atas ke tubuh kausal dan 
diproses ke dalam bahan ini, menjadikannya lebih indah, mungkin dengan sentuhan 
pertama dari intensitas warna; mungkin sepanjang hidupnya hanya ada sedikit benda yang 
dapat bertahan, sebagai makanan bagi pertumbuhan manusia sejati. Jadi pertumbuhan itu 
sangat lambat karena semua sisa hidupnya tidak mendukung; semua tendensi buruknya yang 
terlahir oleh kebodohan dan dibesarkan oleh kebiasaan, bibitnya tertarik ke dalam dan 
diubah menjadi laten karena tubuh astral yang memberinya rumah dan bentuk terberai 
dalam dunia astral. Mereka tertarik ke dalam tubuh pikiran dan tinggal dalam bentuk 
laten di sana, karena tidak memiliki bahan untuk ekspresi dalam alam devachan. 

Ketika tubuh pikiran pada akhirnya lenyap, mereka tertarik ke dalam tubuh kausal, dan 
juga diam di situ secara laten, seperti gambar animasi yang diam. Mereka dilempar 
keluar sebagai Ego, kembali ke kehidupan dunia dan mencapai dunia astral, muncul 
kembali di sana sebagai tendensi buruk yang dibawa dari masa silam. Jadi tubuh kausal 
dapat disebut sebagai gudang kejahatan dan kebaikan, segala sesuatu yang tertinggal 
dari manusia setelah kendaraan bawahnya lenyap. Yang baik diproses ke dalam teksturnya 
untuk membantu pertumbuhannya, sementara yang buruk [kecuali yang disebut di bawah] 
tetap sebagai bibit.

Keburukan yang dilakukan manusia dalam hidupnya, jika keluar dari pikirannya, akan 
menyebabkan lebih banyak kerusakan pada tubuh kausal dari pada jika dibiarkan dalam 
bentuk laten sebagai bibit dari dosa dan kesedihan mendatang. Bukan hanya karena 
keburukan tidak membantu pertumbuhan manusia sejati, tetapi jika nekad, kuat dan jika 
dibiarkan berekspresi, ia dapat menjauhkan sesuatu dari orang itu sendiri. Jika 
keburukan itu senantiasa diikuti, tubuh pikiran menjadi begitu terjerat dengan tubuh 
astral hingga setelah kematian ia tak dapat membebaskan diri sendiri sepenuhnya. 
Sebagian dari substansinya hilang terkoyak, dan ketika tubuh astral lenyap ia kembali 
ke bahan pikiran dari dunia pikiran, dan lenyap dari orang itu. Dengan demikian, jika 
kita pikir lagi citra sebuah film atau gelembung, ia akan diperkecil oleh hidup yang 
buruk. Bukan hanya hambatan dalam perkembangan, tetapi membuatnya lebih sulit 
dibangun, terpengaruh kapasitas pertumbuhannya, menjadi steril atau kerdil.[10] Di 
luar itu, pada umumnya tidak terjadi gangguan yang berarti pada tubuh kausal.

Jika Ego menjadi kuat baik dalam intelek maupun kehendak tanpa secara bersamaan 
meningkat cinta kasihnya kepada orang lain, di mana ia berkontraksi di seputar pusat 
yang menyendiri, bukan berekspansi ketika tumbuh, membangun tembok pementingan diri 
sendiri di sekelilingnya dan menggunakan daya kembangnya bagi "aku" - maka timbul 
kemungkinan yang banyak ditulis dalam kitab-kitab suci, yaitu timbulnya kejahatan yang 
lebih berbahaya dari Ego yang secara sadar melawan Hukum, bertempur melawan evolusi. 
Tubuh kausal sendiri, akibat dari getaran pada dataran mental dari intelek dan 
kehendak tetapi keduanya berubah menjadi egois, membentuk warna gelap sebagai hasil 
kontraksi dan kehilangan cahaya yang merupakan karakter khasnya. 

Kerugian ini tak dapat terjadi pada Ego yang belum berkembang atau oleh nafsu biasa 
atau cacat mental. Untuk menimbulkan kerugian yang begitu parah, Ego harus sudah jauh 
berkembang, dan harus sudah memiliki energi potensial pada dataran M�nas. Karena itu, 
ambisi, kebanggaan dan daya dari intelek yang digunakan untuk tujuan pementingan diri 
sendiri adalah jauh lebih berbahaya, jauh lebih mematikan dari pada yang berasal dari 
sifat bawah. Pada jalur ini muncul "black magician," orang yang mengembangkan kehendak 
dan daya pikiran yang tinggi, bukan untuk membantu evolusi kemanusiaan, tetapi untuk 
menguasainya sendiri, bukan untuk berbagi dengan manusia lain. Ini membuat mereka 
mempertahankan pemisahan dan menjauhi persatuan, mereka menghalangi dan bukan 
mempercepat evolusi. Karena itu mereka bergetar tidak seirama dengan keseluruhan, dan 
berada dalam bahaya kehilangan semua buah evolusi.[11]

Kita semua yang mulai memahami sesuatu tentang tubuh kausal dapat membuat evolusinya 
menjadi tujuan yang pasti dalam hidup kita. Kita dapat mengupayakan berpikir dengan 
menjauhkan kepentingan sendiri dan dengan demikian memberi kontribusi pada perumbuhan 
dan aktivitas tubuh kausal. Kehidupan demi kehidupan, abad demi abad, milenium demi 
milenium, evolusi perorangan ini berlangsung, dan dalam menopang pertumbuhannya dengan 
upaya sadar, kita bekerja dalam harmoni dengan kehendak ilahi, dan menjalankan tugas 
atau tujuan hidup kita. Tiada kebaikan yang kita rajut ke dalam tubuh kausal akan 
hilang, tiada yang lenyap karena manusia hidup selamanya.

Dalam hukum evolusi, sesuatu yang buruk, betapapun kuat tampaknya, di dalamnya 
terdapat bibit pemusnah diri sendiri, sementara semua yang baik mengandung bibit 
keabadian. Rahasianya terletak pada fakta bahwa segala sesuatu yang buruk itu tidak 
harmonis, ia menjadi dirinya melawan hukum kosmos, dan karena itu, cepat atau lambat, 
ia akan digilas oleh hukum, diremuk menjadi abu. 

Sebaliknya, segala sesuatu yang baik, karena serasi dengan hukum, akan dipelihara, 
dibawa dan menjadi bagian dari arus evolusi, dari semboyan "bukan kita sendiri yang 
membuat kebaikan," dan karena itu tak akan lenyap, tak dapat dimusnahkan. Di sini 
bukan hanya tergantung harapan manusia, tetapi juga kepastian mengenai kemenangan 
final. Bagaimana pun lambatnya perkembangan, bagaimana pun panjangnya perjalanan, ia 
maupun akhir. Orang yang merupakan Diri kita ini berevolusi dan tak dapat sepenuhnya 
dilenyapkan. Meskipun karena kebodohan kita pertumbuhan itu lebih lambat dari 
semestinya, tetap saja semua kontribusi kita, betapapun kecilnya, tidak akan hilang 
sia-sia dan bermanfaat dalam semua masa yang akan kita alami. 

------------

Footnote

[1] Kini kata "ether" dapat disebut plasma fisik atau "tingkat ke-4" dari materi, 
partikel berenergi tinggi, misalnya atom dan ion (atom atau molekul bermuatan listrik) 
yang disebut chemical ether"; partikel sub-atom nuklir misalnya proton 
(hadron)-disebut "life ether"; partikel sub-atom dalam bentuk elektron 
(lepton)-disebut "light ether"; dan partikel paling halus berbentuk neutrinos-disebut 
"reflecting ether". Contoh plasma adalah nyala pada lampu TL (neon).

[2] Jika tubuh-tubuh bawah manusia dilihat dengan pandangan astral astral, kembaran 
ether (Linga Shar�ra) dan tubuh astral (tubuh k�mia) terlihat saling berimpit 
[menempati ruang yang sama], saling memasuki, dan karena itu timbul kerancuan di masa 
lampau: nama Linga Shar�ra dan tubuh astral saling dipertukarkan, sementara yang 
belakangan dipakai pula untuk tubuh k�ma atau tubuh kehendak. Istilah yang rancu ini 
menyulitkan, karena fungsi tubuh k�ma [tubuh astral] sering dipahami sebagai kembaran 
ether, yang juga disebut tubuh astral. Pelajar yang tak mampu melihatnya sendiri 
mengalamai kesulitan untuk memahami kontradiksi itu. Pengamatan yang lebih saksama 
terhadap pembentukan kedua tubuh itu kini memungkinkan kita yang mengatakan dengan 
tegas bahwa kembaran ether hanya tersusun atas ether-ether fisik. Jika dipaksa tidak 
dapat meninggalkan dataran fisik atau pergi jauh dari pasangan kasarnya. Ia dibentuk 
setelah cetakannya diterima dari Penjaga Karma [Lip�ka atau "Malaikat Perekam"], dan 
tidak dibawa bersamanya oleh, tetapi menunggunya sampai tubuh fisik terbentuk. Tubuh 
astral atau k�ma [tubuh kehendak] hanya terdiri dari bahan-bahan astral, mampu 
menjelajahi dataran astral jika dibebaskan dari tubuh fisik, dan merupakan kendaraan 
yang tepat bagi Ego di dataran itu. Ia dibawa oleh Ego ketika re-inkarnasi. Dengan 
demikian maka lebih baik jika yang pertama disebut kembaran ether, dan yang kedua 
tubuh astral, untuk menghindari kerancuan.

[3] Kata "astral", berbintang, bukan istilah yang tepat, tetapi telah digunakan selama 
berabad-abad untuk menyatakan benda supra-fisik sehingga agak sulit untuk kini 
mengubahnya. Mungkin ini dipilih oleh pengamat karena penampakan yang bercahaya jika 
dibandingkan dengan benda fisik. 

[4] Dalam hal ini, e-motions yang berasal dari tubuh astral atau kehendak, adalah 
gagasah yang diaktualisasikan, atau gagasan yang diubah menjadi motion. Dalam emotion 
gagasan berwujud yang menggerakkan kita untuk berbuat - salah satu fungsi dari tubuh 
astral atau kehendak. Dengan pertimbangan ini, ternyata betapa pentingnya kita 
mengendalikan kehidupan mental, jenis gagasan yang kita ambil sebagai bagian dari 
kehidupan internal kita. Selain itu, kita harus menciptakan elemen kehendak atau 
astral yang baik, bentuk gagasan kita sendiri yang diselubungi dengan bahan astral 
atau bahan keinginan, untuk menjadi bentuk emosi, yang diasimilasikan oleh orang lain 
melalui tubuh astral mereka sendiri. Bentuk emosi dan bentuk gagasan yang dihasilkan 
oleh orang yang menghuni suatu wilayah, membentuk medan kejiwaan di wilayah itu: baik 
atau buruk. Medan kejiwaan itu mempengaruhi perilaku keseluruhan orang yang menghuni 
wilayah itu.

[5] Pemisahan aura dari manusia ini sebagai sesuatu yang berbeda dari dirinya, adalah 
keliru, meskipun ini merupakan pandangan yang alami. Aura adalah awan di sekeliling 
tubuh. Manusia hidup dalam berbagai dataran dengan pakaian yang sesuai untuk 
masing-masing dataran, dan semua pakaian atau tubuh itu saling berimpit dalam ruang; 
pakaian terbawan dan terkecil disebut 'tubuh'. Bahan yang bercampur dari 
pakaian-pakaian itu disebut aura jika ia menonjol di luar tubuh itu. Aura k�ma 
hanyalam bagian dari tubuh k�ma yang menonjol ke luar tubuh fisik.

[6] Fenomena ini disebut M�y�vi R�pa atau tubuh ilusi.

[7] Devachan secara harafiah berarti 'tempat tinggal para dewa' dan merupakan Dunia 
Gagasan atau Dunia Man�s.

[8] Ini adalah Sk�nda atau gugusan tendensi-tendensi yang disimpan dalam atom bibit 
yang lebih permanen yang menandai akumulasi sifat Ego dari kehidupan ke kehidupan.

[9] Keterkaitan pikiran bawah dengan kehendak disebut K�ma Manas atau 'pikiran 
kehendak'.

[10] Dalam hal ini, tubuh kausal [kendaraan luar dari Ego] tidak berdosa karena 
berbuat salah melalui penghapusan (kelemahan) dan bukan kesengajaan atau kebencian.

[11] Mungkin ini merupakan bencana terbesar yang dapat terjadi pada evolusi perorangan.



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)



Kirim email ke