Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Terimakasih atas kesediaan pak Sunarman menjawab pertanyaan-pertanyaan
sekitan pandangan Theosofi, saya lanjutin nanya ya.....

Pertama semoga pak Sunarman dikaruniai kesabaran untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang paling naif sekalipun. Saya membaca kembali
tulisan-tulisan lama pak Sunarman. Tulisan Peta Perjalanan ini dari dulu
juga sudah cukup menyentak pemikiran, banyak sekali pertanyaan waktu itu
tetapi bahkan sangat sulit untuk memformulasikan satu pertanyaan-pun. :-(

Setelah pak Sunarman menuliskan tentang 3 tubuh dari Theosofi, sekarang saya
ingin meminta kesediaan pak Sunarman untuk menjelaskan kembali tulisan ini
dengan bahasa pak Sunarman sendiri. Beberapa pertanyaan yang saat ini bisa
terformulasikan (dengan menggunakan ilmu Gothak-Gathuk) misalnya:
1. Karena setiap manusia (sadar ataupun tidak) pasti memiliki Tubuh Fisik,
Tubuh Astral dan Tubuh Pikiran maka otomatis sebenarnya kita ini sekaligus
berada pada 3 alam yaitu Tubuh Fisik pada 7(Nakut), Tubuh xxx pada 8(Malakut
= Alam Mental) dan Tubuh Astral pada 9(Jabarut = Astral). Benarkah?

Lalu apakah yang disebut alam 6 (Insan) itu? Padahal kita ini katanya pada
posisi 6 ini ya :-).... Sekalian nanya kira-kira Tubuh xxx itu Tubuh yang
mana ya? 

2. Bila benar demikian di atas (kita ini ada di 3 alam sekaligus) maka yang
diperlukan sebenarnya menyadari keberadaan ketiga Tubuh ini  terlebih
dahulu. Memurnikannya dan setelah itu barulah kita melakukan perjalanan
lanjutan ke alam 10(Lahut) dan 11(Hahut). Benarkah? Rasanya ternyata cukup
dekat ya ('cuman' 2 alam :-).

3. Apakah gunanya kita mundur ke alam 5-4-3-2-1 dst? Atau apakah mungkin
kita mencoba mundur?

4. Apakah dalam perjalanan tersebut (setelah 9) kita hanya menggunakan tubuh
astral ?

5. Kemampuan melanjutkan perjalanan ke alam 10 dan 11 itu apakah ada
kaitannya dengan tingkatan jiwa? Misalnya seseorang yang masih bergelimang
dosa (belum diterima taubatnya = belum beroleh rahmat 1 = belum pada langit
1.7= belum memiliki tubuh astral yang cukup sempurna) tidak mungkin mampu
menembus ke alam 10 (Lahut). Atau misalnya seseorang yang belum mencapai
maksimal Qadar tingkatan jiwanya (belum beroleh rahmat 2 = belum bertemu
diri = belum memmiliki tubuh astral dan tubuh pikiran yang murni) tidak
mungkin naik kepada alam 11 (Hahut). dst.... Benarkah ?

6. Karena Tubuh Pikiran dan Tubuh Astral itu keduanya adalah "Jiwa" dalam
pandangan AL-Ghazali (dan memang penjelasan tsb menurut saya lebih pas
daripada mengatakan bahwa tubuh pikiran itu = ruh ). Nah sekarang dalam
penjelasan Al-Ghazali Jiwa itu ada banyak (lebih dari sekedar 2). Bisa nggak
pak Sunarman menjelasakan Jiwa-Jiwa yang banyak itu ada dimana daam
pandangan Theosofi. Atau barangkali inilah yang diakibatkan ketidakmurnian
pada tubuh astral dan tubuh pikiran sehingga muncul jiwa-jiwa yang banyak
tersebut? Jangan-jangan Tubuh Pikiran inilah yang disebut "Lub" ? Benarkah?

Kalau jawaban pak Sunarman untuk semua kata "Benarkah?" di atas adalah
"Salah !", maka pak Sunarman harus bertanggung-jawab untuk membangun kembali
bangunan gothak-gathuk di atas....hehehe....

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

NB: Di bawah ini saya lampirkan tulisan pak Sunarman mengenai peta
perjalanan tersebut.

> ----------
> From:         R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Friday, 4 June 1999 19:55
> To:   Tasawuf
> Subject:      [Tasawuf] Peta Perjalanan (teks)
> 
> PETA PERJALANAN
> 
> Ketika kita ingin melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat
> lain, kita mengambil manfaat dari sebagai peta. Peta itu terdiri dari
> garis, titik, lingkaran dan nama, tetapi kita tak dapat membeberkan
> sifat-sifat dari sebuah kota hanya dengan titik dan garis. Untuk
> mengetahui bagaimana sebuah kota ini sesungguhnya, kita harus menempuh
> perjalanan dan datang melihatnya dengan mata kita sendiri. Untuk
> mengetahui Paris, kita harus datang sendiri ke Paris. Membaca buku
> mengenai Paris tidak dapat membawa sifat sejati Paris dan penduduknya.
> Meskipun anda pernah ke sana, anda tak mungkin menjelaskannya, karena
> ini ibarat menjelaskan bau bunga mawar kepada orang yang belum pernah
> melihat atau menyentuhnya. 
> 
> Dengan menyadari hal itu, kita akan membuat sebuah peta untuk menuntun
> perjalanan ruhani menuju Allah. Peta ini bisa bermanfaat bagi anda,
> tetapi tak dapat menerangkan sejelas bila anda menempuh perjalanan itu
> dengan nyata, yang tentu saja anda bisa melakukannya. Buddha berkata
> bahwa anda dapat menemukan tempat-tempat itu di dalam diri anda
> sendiri. Perjalanan kita adalah dengan diri kita yang tersembunyi,
> namun kita mungkin menemukan rambu-rambu luar di sepanjang jalan,
> semacam 'jejak di salju'. Kendaraan kita adalah napas dan/atau dzikir. 
> Kita menyetel kendaraan kita seperti waktu kita melakukan latihan
> pernapasan, tak berbeda dengan kita menyiapkan mobil sebelum melakukan
> perjalanan panjang. 
> 
> Untuk membuat peta, mula-mula kita menggambar sebuah lingkaran besar.
> Buatlah titik di puncak lingkaran itu, dan di seberangnya (bagian
> bawah). Kini gambarlah sebuah garis dari titik puncak itu ke titik
> melalui titik pusat ke titik yang di bawah. Tandai titik puncak dengan
> "DZAT". Ini melambangkan Allah yang belum berwujud, Allah yang
> transenden, Inteligensi Asal, Dzat yang tak diketahui. 
> 
> Tandai titik bawah (pk 6) dengan "INSAN." Titik ini melam-bangkan
> sepenuh manifestasi fisik yang kita sebut "realita," terdiri dari alam
> semesta fisik, termasuk bumi, bintang-bintang (termasuk yang tak
> terlihat mata), planet, bulan, mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan dan
> manusia. Memang banyak unsurnya, tetapi dalam peta kita hanya
> menggambarkannya dengan sebuah titik. Paris pun kita gambar hanya
> dengan sebuah titik, jadi apa salahnya kita menggambar sepenuh alam
> semesta dengan sebuah titik? 
> 
> Pada belahan lingkaran yang kanan, tuliskan kata "NAZUL,"
> menggambarkan bahwa separo lingkaran dalam peta kita merupakan
> hembusan napas Allah; proses penciptaan. Pada belahan kiri, tuliskan
> "URUJ," yang melambangkan tarikan napas Allah; proses kembali kepada
> Allah. Maka, lingkaran kita menjadi peta satu siklus Napas Ilahi. 
> 
> Lanjutkan membuat titik-titik pada lingkaran itu hingga kita mempunyai
> 12 titik seperti pada sebuah jam. Lima titik di sebelah kanan adalah
> dataran-dataran yang dilalui dalam hembusan napas Alah, dan lima titik
> di sebelah kiri dataran-dataran yang dilalui dalam tarikan napas
> Allah. Perkataan memang tidak cukup untuk menjelaskan, namun mungkin
> anda mulai mengerti.
> 
> Selama hembusan napas, terjadi kebangkitan pertama dari Naluri Asal
> yang disebut "AHADIAT," dan kemudian "WAHDAT" yang merupakan dataran
> Naluri Aktif, di mana mula-mula Suara terwujud akibat kegiatan Naluri.
> Kegiatan berikutnya menyebabkan terwujudnya Cahaya, suatu dataran yang
> disebut "WAHDANIAT." Dataran ini disebut juga dengan Gagasan Abstrak,
> dataran Malaikat Kepala.
> 
> Titik berikutnya (pk 4), kita tandai dengan tulisan "ARWAH," dataran
> ruh, dataran Malaikat di mana Musik dan Keindahan tercipta. Kata
> 'tercipta' berarti terwujud, dan ini termasuk kita. 
> 
> Dapatkah anda mengingat pengalaman ini ketika anda sudah menjadi
> manusia? Ya, bisa, sekurang-kurangnya dengan bantuan Mursyid.
> Mula-mula dataran Malaikat. Di sinilah kita mula-mula diberi petunjuk
> dasar dalam hidup. Ketika kita berkembang ke dataran malaikat yang
> lebih tinggi - dataran Malaikat Kepala atau Wahdaniat (pk 3), kita
> diberi sekurang-kurangnya satu sifat malaikat, misalnya, dalam
> pengaruh Rafail kita dapat berkemampuan mengobati; dalam pengaruh
> Mikail, perbuatan sosial; dalam pengaruh Jibril, kenabian dan
> komunikasi; dalam pengaruh Nuriel, pengetahuan, dll. Di sini
> ditetapkan pola dasar yang membentuk kehidupan kita. 
> 
> Ketika kita mencapai manifestasi melalui dataran malaikat (Arwah),
> kita diwarnai dengan rasa keindahan dan keserasian. Setelah agak lama
> di sini, (ingat waktu ketika kita kemudian menyadari sebagai belum
> ada) hidup kita selanjutnya diberi rasa apresiasi terhadap segala
> keindahan: musik, seni, puisi and hampir semua sifat alami. Kita
> mengenal orang yang mempunyai sifat malaikat, lembut, penuh kasih,
> pemaaf, mudah terharu. Semua sifat ini berasal dari pertemuan dengan
> para malaikat sebelum kelahiran fisik. Boleh dikata, malaikat itu
> orang tua kita.
> 
> Cahaya pada dataran ini mirip dengan makanan kecil; orang boleh
> mengambil segenggam cahaya dan membuat sesuatu darinya. Inilah Nur
> Anwah (Cayaya yang belum berwujud), bahan pembuatan sepenuh alam
> semesta. Jika anda mendengarkan dengan saksama, anda mungkin bisa
> mendengar Suara Cahaya, musik yang dimainkan para malaikat, semua
> bernyanyi memuji Allah. 
> 
> Bagaimana cara anda dapat mengingat warisan di dalam diri anda ini?
> Ada satu cara yang sering digunakan jika diperlukan untuk mengingatnya
> di tengah-tengah kehidupan yang brutal ini. Besok, ketika anda melihat
> matahari terbit atau terbenam, pernuh dengan untaian warna merah dan
> kuning, lihatlah langsung ke awan, bukan ke matahari, bernapaslah
> dalam-dalam, dan ingatlah hal di atas! Mungkin inilah mengapa kita
> menikmati keindahan matahari terbit atau terbenam. 
> 
> Satu hal lagi: jika anda menolak atau tidak mengerti perkataan ini,
> that is OK. Dalam tasawuf, adalah normal bila kita tidak menerima
> sesuatu gagasan sebelum kita sendiri melihat atau merasakannya.
> Jalaluddin Rumi pernah berkata, "Kebenaran itu ada di dalam dirimu;
> bandingkan ajaran pembimbingmu dengan itu; bila sesuai, ikuti nasihat
> itu." 
> 
> Titik selanjutnya dalam perjalanan itu (pk 5) adalah dataran Djinn,
> yang disebut juga dengan AJSAM, dataran astral, dataran di mana
> pikiran dasar terbentuk. Pada dataran ini terdapat perpustakaan
> pengetahuan yang sangat besar yang diperoleh sepanjang masa. Di
> sinilah kita menyusun pikiran kita dalam perjalanan menuju
> manifestasi. Di sini kita diberi 'sense of logic', dan
> pemikiran-pemikiran besar. Dengan demikian boleh jadi kita dilahirkan
> dengan pikiran Einstein, Mozart, atau Plato yang terpasang di dalam
> otak kita, untuk digunakan kemudian ketika kita mengalami kehidupan.
> Ini menimbulkan konsep reinkarnasi. Sebenarnya Einstein, Mozart atau
> Plato tak pernah dilahirkan kembali, tetapi esensi pemikiran mereka
> dapat diberikan kepada generasi berikutnya, bukan hanya tulisan dan
> musiknya, tetapi seluruh pemikiran mereka sebagaimana yang tersimpan
> di dalam perpustakaan astral ini. 
> 
> Kemudian kita akan mencapai dataran manifestasi (INSAN, pk 6), setelah
> mengumpulkan unsur-unsur Malaikat dan Djinn. Kita melakukan perjalanan
> melalui semua "kerajaan" dalam dataran fisik. Tubuh kita dibuat dari
> debu kosmos, kita mempunyai asam-asam amino di dalam tubuh yang
> berasal dari ledakan bintang-bintang; tubuh kita terbentuk dari materi
> bintang. Merupakan fakta pula bahwa di dalam kandungan, kita mempunyai
> insang seperti ikan, dan ekor pada tahap awal. Darah kita secara
> kimiawi mirip dengan klorofil hijau di dalam tanaman di sekeliling
> kita. Tentu saja kita tumbuh dalam bentuk fisik menurut pola yang
> ditetapkan oleh DNA yang kita warisi, sehingga meniru (mirip dengan)
> orang yang menurunkan kita. 
> 
> Setelah lahir, kita sadar akan orang tua kita, kakek-nenek kita, dan
> leluhur kita. Tetapi apakah kita mengingat leluhur keilahian kita?
> Mungkin, tetapi tidak semua orang begitu. Mereka yang menemukan makna
> dan tujuan hidup hanyalah mereka yang berusaha keras untuk mengingat. 
> Kita kini berada dalam bentuk mungkin selalu jangka waktu tertentu di
> suatu dataran yang disebut INSAN. Di sini kita menunggu hingga kita
> menyelesaikan perjalanan ini secara tak sadar, atau kita dapat mencari
> jalan untuk secara sadar kembali ke Asal kita. Beberapa hadits
> menyebut "Segalanya berasal dari Allah, dan kepada-Nya pula semua akan
> kembali." Para Sufi membicarakan "mati sebelum mati," yaitu mengalami
> 'kembali' secara sadar sebelum perjalanan kembali yang ditakdirkan. 
> 
> Mari kita selesaikan peta perjalanan kita agar kita dapat tahu cara
> kita menyelesaikan perjalanan. Pada posisi pk 7, tuliskan kata NAZUT,
> yang melukiskan dataran materi. Kita semua sangat mengenal dataran ini
> karena kita berada dalam bentuk material. Tetapi apakah kita
> benar-benar menyadari makna keberadaan ini? Rumi berkata: "Sejuta
> galaksi hanyalah merupakan buih kecil dari lautan tak bertepi. Kita
> datang (ada) dari ketiadaan; bintang-bintang yang berpencar bagai
> debu. Bintang-bintang itu membentuk lingkaran, dan di tengah-tengahnya
> kita menari-nari. Berputar-putar melepaskan segala keterikatan. Setiap
> atom lepas berhamburan, dan itu hanyalah Allah yang mengelilingi
> diri-Nya sendiri." 
> 
> Selanjutnya, pada posisi pk 8, tuliskan MALAKUT, yang berarti dataran
> mental. Di sini pun kita biasanya menyadarinya, terutama terlepas dari
> pikiran. Namun perlu diingat bahwa kita memiliki sumberdaya
> tersembunyi yang diberikan kepada kita sebagai warisan ilahi sebelum
> kita lahir. Kini kita berkesempatan untuk menemukan kembali harta
> karun itu, asalkan kita tidak menguburnya terlalu dalam dengan
> ketertarikan, penolakan dan kenikmatan eksistensi. Kadang-kadang hidup
> ini menendang pantat kita, yang memaksa kita untuk mengingat harta
> yang terkubur itu. Kemudian kita mungkin menyadari bahwa harta karun
> itu penuh dengan potensi, kemungkinan bagi energi baru, bahan bakar
> baru untuk menggerakkan kita dalam melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba
> terbuka jalan baru, menuntun kita untuk menuju terminal berikutnya
> dalam peta perjalanan. 
> 
> Pada posisi pk 9, tuliskan JABARUT, dataran astral atau dataran jiwa.
> (Lain dengan dataran Ajsam yang kita temui lebih dulu.) Disebut juga
> dataran Kebesaran. Yang perlu diperhatikan sejak dataran ini hingga
> dataran-dataran berikutnya, adalah perkataan sufi besar Sanai, "Kebun
> kebenaran yang tertutup; akal akan menuntunmu ke sana, tetapi hanya
> sampai ke depan pintu. Selanjutnya hanya rahmat Allah yang mampu
> membawamu kepada-Nya!" Namun demikian perlu pula diingat sabda Allah
> dalam hadits Qudsi: "Jika hamba-Ku datang berjalan, Aku akan datang
> kepadanya berlari!" 
> 
> Kita umumnya mengalami dataran Jabarut ini ketika dalam keadaan 'tidur
> yang dalam', ketika naluri dibebaskan dari kepahitan, kesedihan dan
> kegembiraan hidup sehari-hari. Kesan yang kita peroleh adalah suatu
> feeling, rasa pencerahan, rasa hidup, rasa gembira. Kesan itu membawa
> pesan dari Allah yang langsung masuk ke dalam setiap jiwa. Allah
> berkata kepada setiap jiwa, "Aku adalah engkau, Aku adalah dirimu
> sendiri, dan aku berada di atas semua keterbatasan, Aku-lah hidup, dan
> engkau akan lebih tenteram, lebih 'hidup', lebih bahagia dan lebih
> damai bila mengetahui hal ini dari pada apapun yang ada di dunia." 
> MERASAKAN keesaan yang esensial ini merupakan prestasi terbe-sar dalam
> kebangkitan yang mungkin kita alami dalam hidup. 
> 
> Pada posisi pk 10, tuliskan LAHUT. Ini adalah dataran Ruh Murni.
> Mungkin kita tahu sesuatu tentang Ruh; ia tak dapat dilihat, didengar
> atau diraba. Kita tahu bahwa Ruh itu ada karena kita melihat
> efek-efeknya. Ia mirip dengan petir bisu yang menyambar kita dengan
> tiba-tiba. Atau, ia mirip dengan keberadaan seekor burung yang bunyi
> sayapnya hanya dapat kita dengar setelah burung itu terbang di dekat
> kita. Kutipan kalimat berikut mungkin dapat menjelaskan efek dari Ruh
> pada dataran Lahut: 
> 
> "Ini merupakan pengalaman lain mengenai kesadaran. Ia menaikkan
> seseorang dari dataran material ke dataran immaterial. Pada dataran
> ini keadaan tertidur tidak diperlukan. Terjadi pening-katan kedamaian,
> kegembiraan dan kedekatan dengan sumber yang disebut ilahi. Dalam
> istilah Kristen, ini dataran ini disebut 'komuni' dan dalam Vedanta
> disebut 'Turiyavastha.' Tahapan yang lebih jauh disebut 'samadhi,'
> yang dapat disebut pula dengan 'menyatu dengan Allah'. Dalam tahapan
> ini kita menyelam ke dalam diri kita yang terdalam. Ada kemampuan
> untuk menyelam begitu dalam hingga menyentuh esensi yang terdalam,
> yang merupakan tempat kedudukan bagi semua inteligensi, kehidupan,
> kedamaian, dan kegembiraan; di sini kekhawatiran, ketakutan, penyakit
> atau kematian tak dapat masuk." 
> 
> Lahut adalah "Ilmu Allah yang kita capai dengan membang-kitkan Allah
> di dalamnya..."
> 
> Titik terakhir dalam peta melingkar itu kita sebut HAHUT (pk 11). Ini
> adalah dataran Kesadaran Murni, yang merupakan misteri besar karena
> ini tidak sama dengan AHADIAT yang terletak pada posisi di
> seberangnya, kecuali bahwa Kesadaran ini telah menambahkan totalitas
> dari semua pengalaman hidup ke dalam dirinya sendiri. Namun ini tidak
> mungkin karena menurut definisi, Kesadaran Allah itu sempurna, dan
> tiada sesuatu pun yang dapat ditambahkan kepada Kesempurnaan, yang
> artinya Keesaan. Karena itu, tiada sesuatu pun [yang semula tidak ada]
> yang dapat ditambahkan kepada Allah - ataukah bisa? Di sini pikiran
> buntu dan logika tidak jalan! 
> 
> Jawaban yang tepat atas kebingungan itu terletak pada fakta bahwa
> orang harus mengalami sendiri dataran-dataran yang berbeda-beda itu.
> Tak seorang pun mampu mengalami untuk orang lain. Perkataan tidak
> dapat menggantikan pengalaman. Namun, kita mengalami dataran-dataran
> yang tinggi ini dalam tidur. 
> 
> "Hahut merupakan pengalaman yang merupakan obyek dari setiap mistik
> yang mengikuti jalur dalam. Dalam Vedanta, dataran ini disebut
> 'manan.' Kristen menyebutnya 'atonement'." 
> 
> "Dari pertimbangan ini, tampak bahwa pekerjaan Aliran-aliran  Tasawuf
> adalah mengarahkan kepada pemuliaan jiwa. Ketika kita dibai'at ke
> dalam suatu aliran, kita mengambil jalur pemuliaan jiwa; ini tak ada
> kaitannya dengan pekerjaan paranormal, berhubungan dengan ruh,
> melakukan mu'jizat miracles, membangkitkan kemampuan magnetik atau
> psikik, 'clairvoyance' atau semacamnya. Satu-satunya tujuan adalah
> untuk menjadi manusia mulia, untuk menjalani hidup yang sehat,
> memperbaiki kondisi moral seseorang, memuliakan sifat seseorang, dan
> memenuhi bukan hanya kebutuhan anda sendiri, tetapi juga kebutuhan
> tetangga dan teman-teman anda. 
> 
> Tasawuf merupakan upaya untuk mengembangkan potensi yang ada pada
> setiap jiwa, yang kepuasannya hanya terletak pada mencintai Allah, dan
> pada mendekat menuju Allah, dengan harapan suatu hari dapat memimum
> setetes kebenaran yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata."
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke