Assalamu'alaikum wr wb,
Tulisan ini lebih cenderung menggambarkan pengalaman pribadi
penulisnya ketimbang menyadur teori atau tulisan orang lain.
Saya sependapat dengan pandangan ini yang mengulas betapa pentingnya
menguasai pikiran semaksimal mungkin.
Pikiran memang merupakan alat atau karunia yang luar biasa, tapi juga
bisa sebaliknya bisa merupakan petaka bagi pemiliknya.
Dengan pikiran kita bisa mengerti, menganalisa, menghitung, dsb...
Tapi dengan pikiran juga bisa membuat kita bingung, takut, setres,
ragu-ragu, putus asa, sombong... dsb
Yang lebih mengganggu atau mungkin bisa menipu kita sendiri yaitu
dugaan-dugaan. Kalau kita ingin mencari Allah dengan membiarkan
dugaan memenuhi ruang gerak kita. Kemungkinan besar kita akan
banyak menemukan penghalang/kebuntuan atau bisa ke arah 'syirik'.
Allah tidak bisa diduga(diasosiasikan) dengan apapun. Kalau itu
terjadi pasti akan menemukan jalan bercabang yang membingungkan.
Tulisan Syaih Ibrahim ini nampaknya sederhana dengan bahasa yang
bersahaja, tapi tidak mudah untuk dipahami.
Untuk itu mungkin pak Sunarman bisa mengulas lebih sederhana lagi
(mungkin dengan ilustrasi) agar orang semacam saya ini juga bisa
mengerti makna tulisan itu.
Kurang lebih mohon maaf, terimakasih sebelumnya,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
---------- deleted ------------
>1. Langkah pertama untuk mendengarkan Allah adalah menenangkan diri dan
menutup pengembaraan pikiran. Dalam tasawwuf kami menggunakan Dzikir untuk
memusatkan pikiran. Aliran lain menggunakan bentuk meditasi atau pemusatan
yang lain untuk mengendalikan pikiran. Pikiran merupakan alat yang hebat,
tetapi seperti setiap alat, ia hanya bermanfaat bila dikuasai dan
dipergunakan dengan benar. Siapa yang menguasai pikiran anda? Apakah anda
yang mengendalikan alat, ataukah alat itu yang mengendalikan anda? Sebagai
alat, pikiran harus di bawah kendali anda. Jika tidak, anda tidak akan
dapat
membedakan antara Allah dan imajinasi anda.
>2. Kedua: Dengarkan. Mendengarkan berbeda dari mendengar. Mendengarkan
memerlukan partisipasi aktif dari telinga, hati dan pikiran. Bagian-bagian
ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya harus disatukan dan
dipusatkan untuk mendengarkan. Mendengarkan mengharuskan anda hadir untuk
ambil bagian dalam penciptaan.
>3. Ketiga: Terbukalah dan jangan mempunyai dugaan apa yang akan terjadi
atau
bagaimana pesan itu akan disampaikan. Hati anda bagaikan sebagai radio yang
disetel pada saluran gelombang Allah. Dugaan-dugaan bekerja sebagai bukit
penghalang di depan antena penerima; ia mengganggu penerimaan pesan. Dugaan
menghalangi sinyal. Jika anda mengharap atau menduga akan menerima sesuatu
pesan, anda dapat keliru dalam menerima pesan. Umpamanya, anda tersandung
(ketika anda sedang menunggu Allah untuk berbicara kepada anda) dan
kemudian
ternyata bahwa pesan itu seharusnya berbunyi "Tingkatkan kesadaran
keberadaanmu. Ambil satu langkah setiap saat." Dapat saja ini datang dari
diskusi yang intensif di mana anda merasa benar, tetapi hati anda berkata,
"Letakkan persahabatan di atas kebanggaan diri."
>Allah ada di sini, di sekeliling kita dan di dalam diri kita. Dengan
mengesampingkan pembatasan logika pikiran kita, kita dapat mulai ambil
bagian lebih aktif dalam simfoni Penciptaan yang akan datang.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)