On Sat, 25 Dec 2004 11:29:49 +0100, Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> > Entah kenapa saya coba LyX berkali-kali tapi gak
> > sreg (lupa gagalnya dimana). Saya coba bukan hanya
> > sekali dua kali lho.
> 
> Nggak sreg nya dimana ? soalnya LyX berbeda cara kerjanya dg Word
> processor atau desktop publisher (seperti framemaker).  Pakai LyX ini
> mengubah metoda penulisan dokumen dibanding pakai Wordprocessor,
> karena memang konsep yang dianut LyX berbeda.

Bukan, bukan soal itu.
Saya sendiri lebih suka menulis pakai vi.
Jadi tidak masalah soal bukan wordprocessor.

Yang sering saya temui justru tools yang ada itu menghambat
"produktivitas" saya. Misalnya, saya menulis HTML di Windows
pakai Mathiza Sublime (setelah dulunya paka AOLPress).
Yang saya suka adalah saya bisa coding di level HTML, dan
kemudian switch ke preview dengan cepat (tanpa perlu loading
browser, dll.) Terus kalau saya edit di level "wordprocessor-like"
dia tidak mengacaukan HTML yang sudah saya buat. Jadi saya
bisa go-back-and-forth antara low-level dan high-level.
Yang lainnya, biasanya kalau kembali ke low-level lagi ... 
banyak yang sama toolsnya diproses. Ini saya yang tidak suka.
I know what I am doing, I don't want some tools to tell me
what to do :)
Ini juga yang membuat saya suka dengan editornya blogger.com
atau slashdot karena saya bisa coding langsung di HTML.
(Meskipun di blogger.com gak bisa <blockquote>)

LyX bagi saya terasa menghambat, karena saya lebih suka
pakai vi. Even di Windows saya pakai vi.


Nah, kalau kembali lagi ke LaTeX, persoalan saya adalah saya
sudah nggak punya minat dan waktu untuk ngoprek style lagi.
Dulu saya punya koleksi style yang sudah saya oprek habis2an.
Tapi nggak punya backupnya. Jadi ketika sudah sampai di
Indonesia... hilang tuh semua.

Waktu jaman akhir tahun 80-an saya buat buku UNIX dalam
bahasa Indonesia. Nah waktu itu saya mencoba mengabung-
gabungkan font PostScript, layout buku yang agak lebar
dan tinggi, bahasa Indonesia, skrip buat memproses index
yang lebih bagus, dll. dll.
Ini setelah menghabiskan banyak duit beli buku TeX/LaTeX.
(Yang paling saya suka adalah buku "LaTeX Companion"
karangan Goossens, Mittelbach, Samarin. Banyak trick advance!)

Nah ... sekarang saya nggak punya waktu lagi :(
Sementara style book yang standar, nggak suka.

Jadi gimana ya?

-- budi

Kirim email ke