hehehe... saya suka dengan posting mas baskara ini. karena di bagian
ini sebenarnya saya lebih suka berdiskusi.

dalam menulis suatu berita, tentu ada banyak faktor yang mempengaruhi.
bahwa ada opini penulis yang "tidak sengaja" masuk, tentu ini tidak
bisa dipungkiri.

dalam pemberitaan manapun, obyektifitas adalah menjadi relatif, ketika
kita berbicara cara penulis berita melihat suatu keadaan,
latar-belakang informasi yang dimilikinya, hingga harapan atas perilaku
sosial yang akan terjadi atas pemberitaannya.

bahkan kalau kapan2 kita sempat berdiskusi tentang kaidah jurnalistik,
bagaimana suatu media massa menempatkan diri, salah satunya bisa
dilihat dari pemilihan judul, nara sumber, kalimat pembuka, hingga
kalimat penutup.

saya akan "bongkar" sedikit dapur detikinet.com. jadi kalau mas bas,
dan rekan2 lainnya, perhatikan baik2. ada beberapa kali penyesuaian
"judul kecil" berkaitan dengan kasus deface antara malaysia vs
indonesia. urutan2nya, kalau tidak salah, adalah sebagai berikut :

1. "Numpang Isu Sengketa Ambalat"
2. "Aksi Ganyang Situs Malaysia
3. "Aksi e-Ganyang Situs RI - Malaysia"

jadi ada 3 "judul kecil" (yang diikuti dengan judul besar/inti) hanya
untuk sebuah kasus yang sekilas tampak sama. mengapa demikian?

mohon maaf, saya akan jelaskan akan sedikit panjang-lebar.

judul 1,
dilatar-belakangi dengan munculnya pertama kali kasus deface situs
malaysia oleh pihak indonesia. waktu itu detikinet belum terlalu yakin
seberapa besar skala serangan tersebut nantinya, apakah aksi deface
tersebut hanya akan terus bersifat sporadis, ataukah akan ada eskalasi.
jadi digunakanlah judul kecil "Numpang Isu Sengketa Ambalat", karena
kita belum tahu lebih detil latar-belakang aksi tersebut.

judul 2,
setelah adanya aksi deface perdana di atas, maka dengan menggunakan
insting jurnalistik, detikinet langsung "terjun" ke beberapa chatroom
underground indonesia. dari sana terpantau sudah mulai ada ajakan2 agar
sesama "cracker" indonesia bersatu, dan menyerang situs2 malaysia.
latar belakangnya adalah memang soal sengketa ambalat. tetapi, jika
detikinet menggunakan "judul kecil" yang pertama tadi, maka "kekuatan"
atau "ruh" dari berita akan terdegradasi. sebab, ada penggunaan kata
"Numpang", yang seolah-olah hanya sekedar tempelan saja. karena gejolak
yang terjadi di chatroom tersebut, bisa dipahami setara dengan gejolak
di beberapa daerah yang terkait dengan pembukaan posko relawan.

jadi, detikinet ingin menyampaikan informasi bahwa apa yang dirasakan
oleh masyarakat di dunia "nyata", terjadi juga dengan mereka yang di
dunia "maya. jadi, "kekuatan" atau "ruh" beritanya kita sejajarkan
dengan perkembangan berita pada desk politik dan peristiwa. untuk itu,
detikinet gunakan judul kecil "Aksi Ganyang Situs Malaysia". pilihan
kata "Ganyang" tersebut pun juga lantaran terdapat pula penyebutan
istilah tersebut (berulang2) di dalam chatroom.


judul 3
setelah detikinet memantau terus chatroom indonesia, kemudian dilakukan
pemantauan langsung juga ke chatroom malaysia. ternyata di chatroom
kedua belah pihak, sudah ada aksi provokasi, aksi adu hasil deface,
dsb. mereka secara frontal bahkan sudah saling tantang. jadi kurang
tepat apabila eskalasi aksi deface yang terjadi sebab utamanya adalah
pemberitaan di media massa. bahwa pemberitaan di media massa ada
pengaruhnya, memang bisa jadi.

tetapi kalau kita mencoba memahami psikologi kelompok, maka perilaku
brutal atau bringas akan lebih terdorong dari motivator2 (provokator2)
di dalam kelompok itu sendiri. jati diri seseorang akan nyaris
tertutupi oleh jati diri kelompok yang lebih dominan (ini menjelaskan,
mengapa orang yang baik2, tiba2 bisa sedemikian sadis menghajar dan
bahkan menghabisi nyawa seorang maling beramai-ramai, atau murid yang
kalau diajak berantem satu-lawan-satu pasti ciut, tetapi begitu
tawuran, nyalinya luar biasa)

nah karena detikinet sudah melihat bahwa kedua belah pihak sudah saling
ancam dan saling serang, maka kita tidak bisa lagi menggunakan "judul
kecil" 2 di atas, karena aksinya bukan lagi satu pihak (ganyang situs
malaysia), tetapi sudah kedua belah pihak. untuk itu kita ubah judulnya
menjadi "Aksi e-Ganyang Situs RI - Malaysia".

kemudian pilihan kata "e-Ganyang" tersebut adalah semacam "pemanis".
ketika semua orang berbicara tentang "e", dan kita semua menerima
idioma e-commerce, e-learning, e-government, dan "e" lainnya, mengapa
juga tidak kita gunakan "e-Ganyang". dengan penggunaan kata yang tidak
lazim, maka di satu sisi akan menyebabkan orang menjadi penasaran, dan
judul tersebut menjadi lebih "unik" untuk mencari perhatian.


nah, setelah berita2 berlanjut... tentu kita pantau terus kondisi
chatroom dan laporan2 kondisi server di indonesia. kemudian kita
melihat, sudah mulai ada 1-2 posting di chatroom yang intinya bersifat
profokatif tidak lagi sekedar terkait dengan isu ambalat saja, tetapi
sudah mulai adu jago dan adu pamer hasil deface mereka di media.

apakah dengan demikian detikinet langsung menstop pemberitaan? itu
tentu bukan pilihan yang bijak. pada posisi demikianlah maka detikinet
menentukan posisinya. detikinet sebagai media massa, tetap melakukan
pemberitaan secara faktual dan konsisten. tetapi sebagai sebuah fungsi
kontrol sosial, detikinet harus bersikap.

bagaimana dan seperti apa sikap yang diambil oleh detikinet? silakan
rekan2 baca baik2 setiap kalimat atau paragraf penutup di beberapa
berita terakhir yang terkait dengan aksi saling deface.


jadi, saya tidak akan membantah jika ada pendapat bahwa detikinet
seolah2 hanya mengejar "berita yang itu2 saja". ya memang, karena
sebagai sebuah media online, detikinet selain "breaking news" (saat itu
juga), juga "running news" (berkelanjutan).

tetapi saya akan siap beradu argumen, jika ada yang berpendapat bahwa
"berita yang itu2 saja" dilakukan tanpa pertimbangan yang masak, tanpa
alasan yang jelas, atau cuma sekedar mengejar setoran (tidak ada stok
berita) :)


saya bersedia share lebih banyak ke rekan. tetapi tidak setiap waktu
saya bisa membongkar isi dapur dan kebijakan pemberitaan di detikinet,
seperti yang saya sampaikan saat ini. bukan karena pelit informasi,
tetapi waktu untuk saya melakukan hal ini juga tidak terlalu banyak


nb:
saya ada usulan, kalau memang rekan2 setuju, mengapa tidak
sekali-sekali kita bikin diskusi face-to-face? bisa dengan berkunjung
ke detikcom, melihat proses kerja pemberitaan, lalu ditutup dengan
diskusi banyak hal. saya siap jadi guide-nya :)


mudah2an bermanfaat.


-dbu-

Kirim email ke