yang dijelaskan oleh mas dudi memang demikian pula yang saya maksudkan.

jadi seolah2 kok saya minta2 tulisan dari rekan2, terus mau dimuat
"gratisan" oleh detikinet :(

ini kok jadi dibolak-balik. saya kok jadi agak patah arang.... niat
baik saya dipelintar pelintir, hanya gara2 ada yang ndak baca detil
threadnya.

ini komen saya terakhir deh soal thread ini :|

intinya... karena pernah ada keluhan bahwa media massa tidak memberikan
ruang dan kesempatan bagi penulis IT lain (baik pemula ataupun tidak)
untuk beropini, maka saya mencoba menjembatani hal tersebut. salah
satunya adalah dengan mengupayakan adanya "space" dalam bentuk Kolom
Telematika di detikinet.com. tulisannya bisa dikasih data diri penulis,
foto, dan lain2 untuk berpromosi kompetensi diri. lalu target
pembacanya adalah lebih dari 40 ribu unique visitors (IP) (untuk total
jumlah pengunjung, silakan dikali 5 - 10 user untuk versi pesimis
detikcom, atau dikali 15 - 20 user untuk versi optimis APJII).

jadi kalau ada yang mau nyumbang tulisan, silakan. tujuannya mau
menyampaikan informasi ke publik, boleh. mau memperluas koneksi dan
mitra, silahkan. mau memperkenalkan kompetensi diri/institusi, monggo.

tapi bagi yang memang menulis untuk dapat uang, ya mohon maaf.
detikinet belum ada kebijakan saat ini. bagi yang ingin
menjual/berbisnis tulisan dan ingin mendapatkan reward dalam bentuk
finansial atas tulisannya, ya tawaran kami mohon diabaikan.

yang jelas, detikcom itu banyak bagian, bukan soal redaksi saja. saya
pernah minta geser iklan agar foto tidak tertutup di dalam berita, itu
saja urusannya dengan perjanjian antara marketing dengan pihak ketiga,
yang sudah terikat hitam di atas putih secara hukum.

jadi mohon sekali lagi, jangan dipelintar pelintir tawaran saya ini.
detikcom memang harus berbisnis, untuk bisa eksis. dan salah satu
kompensasi dari detikinet yang bisa diberikan kepada pembaca setianya
adalah dengan memberikan space Kolom Telematika untuk dimanfaatkan
semaksimal mungkin.

nb:
saya kok jadi bingung ya...
ibaratnya, saya pengusaha besar, lalu akan ada pameran besar2an. setiap
pemasang iklan di stan2 saya, saya kutip bayaran. lalu saya mengundang
artis2 untuk menghibur, saya bayar mereka dengan uang dari iklan2
tersebut. lalu sisa uangnya, untuk membayar ongkos sewa ruangan, alat2,
tukang2, penjaga2 stand, dsb. lalu dari situ saya sudah punya
keuntungan untuk operasional. dan di lahan pameran saya, masih ada
beberapa stand yang bisa dimanfaatkan, tetapi belum terisi. lalu saya
undang teman2 saya, sahabat2 saya, untuk mengisi stand tersebut.
terserah mau jualan apapun, pokoknya tinggal pakai. free! dijamin,
bakal dikunjungi banyak orang, karena saya juga mempromosikan besar2an
acara pameran saya tersebut.

lah kok, tau2 teman2 saya, sahabat2 saya, yang akan mengisi stand dari
saya tersebut malah minta uang ke saya yah? katanya, "anda khan pameran
untuk berbisnis, nah saya khan mengisi pameran bisnis anda, anda dapat
uang dari pameran ini, jadi saya harus dapat bagian!"

sedih bener saya ini.....

pameran dan bisnis saya adalah satu hal, tetapi tawaran saya ke rekan2
dan sahabat2 saya adalah lain hal. saya sangat menghargai kompetensi
dan tulisan rekan2. tetapi sekali lagi mohon maaf, penghargaan tersebut
belum bisa dalam bentuk finansial. mohon kiranya dapat dimaklumi. ini
ndak ada kaitannya sama sekali dengan bisnis2an, iklan2an, dsb :(


-dbu-





Dudi Gurnadi wrote:
> On Mon, 14 Mar 2005 08:08:22 +0700, adi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> >
> > misalnya, tentu saja saya enggan menaruh kue-kue saya di satu
> > stand yang saya tahu kue-kue di sana u/ dijual dan saya tidak
> > dapat bagian. kecuali u/ keperluan amal. setidaknya saya
> > akan kehilangan alasan u/ melakukannya. entah u/ keperluan
> > bisnis atau yang lain, segala sesuatu harus ada dasar motivasi
> > dan alasan untuk melakukannya.
>
> Ini agak OOT pak Adi.....
> Kalo gak salah dalam perdagangan atau bisnis itu ada yang namanya
konsinyasi.
> Artinya pemilik barang hanya menitipkan barang-barangnya disuatu
> toko/tempat. Namun, jika ternyata nanti barang tersebut laku maka
sang
> pemilik barang akan mendapat keuntungan dari penjualan tersebut.
>
> Nah, kalo saya logikakan (misalnya) seseorang membuat sebuah tulisan
> di detikinet dan itu berlangsung terus menerus, tidak menutup
> kemungkinan 'harga' nama orang tersebut akan terangkat dan mudah
> dikenal oleh orang awam. Bahkan tidak menutup kemungkinan, akhirnya
> nanti orang tersebut akan dihubungi media massa offline.
>
> Mungkin ini yang terjadi sama RS, sehingga dia mudah melejit di
> kalangan wartawan, karena memang dia mudah mengeluarkan statement dan
> menulis di media massa (terlepas dari benar/salahnya apa yang dia
> tulis).
> 
> Sekedar pikiran lewat di pagi hari :)
> 
> Dudi

Kirim email ke