> -----Original Message-----
> From: Emanuel Febry Djatmiko Adji [SMTP:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: 04 Agustus 2003 7:55
> To:   Tonny WP (Purch, Feed SDA); Suryadi (PGA.SDA.CPP); Sri Wahyudi (HRD,
> Feed SDA); Neny Febrianti(PGA. SDA. CPP); Meity Mirthiandi (HRD, Feed
> SDA); Ishana Pramawidhana (TrainComm-HO); Idharmawan; Hidayat A. (Q/C,
> Feed SDA); Hidayat (PPIC, Feed SDA); Fitri N. R. (HRD, Feed SDA); Emilia
> Ichsan (Sec of Market, Feed SDA); Dicky Sulkhan (HRD, Feed SDA); Agustina
> Dewi (Acct, Feed SDA); A. Khudlori (HRD, MBAI SDA); Ida Wahyuni
> Subject:      Soal Emisi Gas Buang Pemerintah Tak Pernah Konsisten 
> 
>  Soal Emisi Gas Buang Pemerintah Tak Pernah Konsisten 
> 
> Jakarta, Kompas - Kalangan pengusaha otomotif menilai, pemerintah tidak
> pernah serius menangani persoalan emisi gas buang kendaraan di Indonesia.
> Salah satunya tampak dari kebijakan yang selalu berubah-ubah dalam
> menentukan standar emisi gas buang di Indonesia. Jika itu terus
> berlangsung, industri otomotif akan terpuruk dan tidak mampu bersaing.
> 
> Demikian dikatakan beberapa pengusaha otomotif yang tergabung dalam
> Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Sabtu (2/8),
> dalam sebuah diskusi "Meretas Jalan Buntu Menuju Standar Emisi Yang Lebih
> Ketat". Menurut Kepala Bidang Laik Jalan Gaikindo Agoes Indra Tjahja,
> industri otomotif sangat dirugikan dengan kebijakan standar emisi yang
> tidak konsisten.
> 
> Seperti diberitakan Kompas, Jumat (1/8), Jakarta merupakan salah satu kota
> besar di Asia yang terburuk kondisi udaranya. Jakarta juga dianggap
> tertinggal dari kota-kota besar lainnya di Asia yang menerapkan standar
> emisi gas buang berdasarkan Euro 2. Bahkan, standar emisi gas buang
> berdasarkan Euro 1 pun belum diterapkan di Jakarta.
> 
> Salah satu ketentuan dalam Euro 1 adalah menggunakan bahan bakar bebas
> timbal untuk bahan bakar bensin. Sementara untuk bahan bakar solar,
> kandungan sulfurnya harus di bawah 1.500 part per million (ppm).
> 
> Malah, dalam Euro 2, persyaratannya lebih ketat lagi. Selain bebas timbal
> untuk bahan bakar bensin, kandungan sulfur dalam bahan bakar solar harus
> di bawah 500 ppm.
> 
> Sia-sia
> 
> Menurut Agoes, hingga tahun 2005, industri otomotif tengah berusaha
> mengubah teknologi kendaraannya untuk menuju standar Euro 1. "Kalau
> tiba-tiba diubah, mereka harus kembali mengganti teknologi kendaraan agar
> sesuai standar Euro 2," katanya.
> 
> Artinya, investasi untuk Euro 1 menjadi sia-sia, sementara mereka harus
> berinvestasi baru untuk menuju standar Euro 2.
> 
> Stefanus Sehonanda dari DaimlerChrysler Indonesia juga mengaku bingung
> dengan perubahan kebijakan itu. "Pada dasarnya, kami mendukung program
> pemerintah itu, tetapi pemerintah harus konsisten," katanya.
> 
> Keinginan pemerintah untuk menghapuskan bensin tanpa timbal sebenarnya
> sudah lama dipersiapkan. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
> 1585 Tahun 1999 mensyaratkan dihapuskannya timbal dalam bensin per tanggal
> 1 Januari 2003. Tetapi, pada bulan Agustus 2002, Menteri Energi dan Sumber
> Daya Mineral merevisi pelaksanaan bensin tanpa timbal itu sampai tahun
> 2005. Alasannya, kilang Pertamina di Balongan dan Cilacap belum siap.
> 
> Sudah siap
> 
> Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gaikindo F Soeseno menyatakan, sikap
> pemerintah yang tidak konsisten itu tercermin dari ketidaksiapan Pertamina
> dalam menyediakan bahan bakar bebas timbal dan rendah kadar sulfurnya.
> Sebab, dari sisi teknologi, sebenarnya mobil-mobil yang masuk Indonesia
> sudah banyak yang menggunakan standar Euro 2.
> 
> Kata Soeseno, mobil-mobil baru sekarang sudah banyak yang tidak memakai
> karburator yang biasa digunakan pada mobil berbahan bakar bensin
> bertimbal. Selain itu, banyak mobil yang juga sudah memasang catalic
> converter agar gas buang berupa CO, HC, NOx, SOx berkadar rendah.
> 
> "Tetapi, semuanya sia-sia karena bahan bakar yang diproduksi Pertamina
> masih berstandar Euro 0. Akibatnya, banyak catalic converter yang dicopot
> agar sesuai dengan bahan bakar di Indonesia," kata Soeseno. Selain itu,
> kesulitan banyak dialami mobil bermesin diesel karena bahan bakar solar
> produksi Pertamina masih tinggi kadar sulfurnya.
> 
> Salah satu wakil dari Pertamina, Nurfai, menampik tudingan itu. Pertamina,
> katanya, telah memproduksi solar dengan kadar sulfur di bawah 500 ppm.
> Dari lima kilang milik Pertamina, yaitu kilang Dumai, Musi, Balongan,
> Cilacap, dan Balikpapan, hanya kilang Cilacap dan Musi yang kadar
> sulfurnya di atas 500 ppm.
> 
>  
>  
> Emanuel Febry Djatmiko Adji
>  
> PT.Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
> Enterprise Service Center
> Quality of Service Section
> Menara Multimedia Lt.10
> Jl. Kebon Sirih No.12, Jakarta-10110
> 021-3860046
>  
_______________________________________________
tlusakti mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/tlusakti

Kirim email ke