Riasto Widiatmono wrote: > setelah ajaran > tentang Qurban ini Rasullullah memberi amanat dalam Hadits sewaktu seorang > sahabat bertanya kepada siapa diantara kedua orang tuaku harus kuhormati > lebih dahulu, yang kemudian oleh Rasullulah dijawab, pertama kepada Ibumu, > kedua kepada Ibumu, ketiga kepada Ibumu, keempat kepada Ibumu dan kemudian > kelima baru kepada ayahmu. Saya yang sudah melakuakn banyak studi banding > tentang sikap seorang anak terhadap orang-tuanya harus saya akui bahwa sabda > Rasullulah lebih banyak kebenarannya tetapi ajaran Qurban juga menentukan > kehidupan sebuah keluarga dan ajaran jawa sering dikatakan : anak dan istri > cuma nunut dan katut untuk ke surga atau ke neraka dari seorang pemimpin > keluarga (ayah) jadi yang menrintis jalan ke surga atau ke neraka adalah > seorang ayah, seperti juga inti ajaran qurban tentang kepatuhan seorang ayah > terhadap Tuhan. Boleh percaya boleh tidak dan sudah sering terbukti, jika > seorang ayah memberi makan dari hasil korupsi biasanya anak-anaknya sulit > sekali menurut malah bisa membuat masalah di masyarakat. Inilah kira-kira > inti-inti ajaran agama yang tidak lagi menonjolkan masalah syariat. ********************************* Eko W Raharjo: Pak Riasto, mohon maaf kalau saya menganjurkan anda untuk belajar lagi mengenai apa itu syariat Islam. Sebab tanpa anda pahami anda sesungguhnya telah mengemukakan mengenai syariat. Syariat Islam itu meliputi pula perkara family values (nilai-2 kekeluargaan). Banyak buku yang menjelaskan mengenai hal ini. Diantaranya yang simple dan handy adalah karangan bapak Drs. Miftah Faridl, dosen agama Islam ITB Bandung (Pokok-2 Ajaran Islam). Disana dijelaskan kedudukan anak dan orang tua dalam keluarga Muslim. Sebagai tambahan dari saya, untuk memahami syariat atau hadits atau ajaran Islam manapun orang harus memakai konteks tauhid. Sebab tanpa kesadaran bahwa fondasi iman seorang Muslim adalah penyembahan kepada Allah SWT, maka orang bisa terpeleset ke penyembahan kepada nabi, negara, kyai atau orang tua. Menghormat kepada orang tua, baik kepada ayah ataupun ibu, itu tidak saja merupakan ajaran dari agama Islam melainkan ajaran dari setiap agama. Hormat kepada orang tua bahkan sudah merupakan naluri manusia tidak perduli beragama atau tidak (mammalian memiliki pula naluri ini). Dalam agama Islam, juga agama Jahudi (termasuk agama Kristen yang merupakan suatu sekte dari agama Yahudi), penghormatan atau ketaatan kepada orang tua dimasukkan dalam konteks penyembahan kepada Allah. Demikian pula rasa sayang dan pembelaan kepada anak adalah juga dalam konteks penyembahan kepada Allah. Ketaatan kepada Allah seperti yang anda katakan, adalah makna dari pengorbanan Ibrahim atas anak kandungnya. Demikian pula kepatuhan Ismail (atau Ishak menurut versi agama Yahudi) kepada Ibrahim, ayahnya, adalah dalam konteks ketaatannya kepada Allah. Karena Ismail meyakini bahwa itu adalah perintah Allah, maka ia sendiri justru mendorong ayahnya untuk tidak ragu-2 mengorbankan dirinya. Tanpa mengkaitkan pada penyembahan Allah, ajaran mengenai ketaatan kepada orang tua tidak lebih dari suatu legend saja, seperti Maling Kundang atau Situ Bagendit dst. Dalam (Syariat) Islam tidak saja menekankan bahwa anak harus hormat dan taat kepada orang tua, melainkan juga menekankan pula tanggung jawab dari orang tua kepada anak-anaknya. Tidak seperti kepercayaan Kristen bahwa anak yang baru lahir sudah menanggung dosa warisan, Islam mengajarkan bahwa anak yang baru lahir adalah ibarat kertas yang putih bersih. Sehingga bila kertas itu kemudian menjadi coreng- moreng itu adalah karena pengaruh lingkungan. Tentu saja pertama-tama yang bertanggung jawab adalah orang tua yang merupakan lingkungannya yang paling dekat. Maka itu syariat Islam mewajibkan setiap orang tua untuk mempersiapkan putra-putrinya menjadi orang yang baik (Luqman 13-19). Celakanya hasil riset pak Riasto mengenai bahwa ayah yang memberi nafkah kepada anak-anaknya dengan korupsi berakibat anak-anaknya menjadi tidak menurut adalah salah besar. Sebab sudah merupakan fakta umum bahwa putra-putri dari para koruptor merupakan anak-2 yang amat penurut. Orang tua kuroptor maka dengan taatnya mereka mengikuti jalan hidup orang tua mereka yakni sama-sama menjadi kuroptor bahkan kalau perlu lebih besar lagi. Rakyat Indonesia malah tidak pernah dengar bahwa anak dari seorang presiden, jendral, gubernur, bupati yang koruptor, mbalelo menuntut orang tuanya untuk diperiksa dan diadili. Ibu Tien Suharto (yang oleh publik diluar negeri dikenal sebagai "Madame Ten percent") adalah seorang ibu, menurut hadist seorang ibu mendapat penghormatan pualing tinggi maka dari itu anak-2nya, Sigit, Tutut, Bambang, Titik, Tommy, Mamiek taat pula untuk mengutip komisi at least 10% dari setiap modal Asing yang masuk ke Indonesia. Persis inilah contoh penghormatan dan ketaatan kepada orang tua yang salah. Sekali lagi hormat dan taat kepada orang tua adalah harus dalam konteks taat kepada (kebenaran) Allah. Pak Riasto, saya akui bahwa anda adalah orang yang mempunyai akademik training dalam bidang sosial yang mumpuni. Namun perlu anda bertanya kepada diri sendiri apakah anda sudah punya pengalaman sosial yang cukup luas? Tahukah anda bahwa segala macam faktor sosial, ekonomi, politik dan agama bisa membuat orang tua menjadi tidak capable untuk mengarahkan anak-anaknya secara benar. Contoh ekstremnya: saya pernah tinggal disuatu perkampungan di Yogyakarta dimana kebanyakan orang tua adalah para gali dan pelacur. Tentu saja kita tidak bisa berkotbah "taatilah ibumu karena surga ada ditelapak kaki ibu". Oleh karena itu saya dan YB Mangunwijaya almarhum pada waktu itu justru membuat proyek untuk memisahkan anak-anak dari pengaruh buruk orang tuanya. Dalam kehidupan riil banyak contoh yang tidak seekstrem seperti contoh keluarga koruptor Suharto atau keluarga pelacur dan gali tsb, melainkan banyak keluarga-2 biasa yang oleh karena tekanan sosial, ekonomi, politik ataupun lingkungan agama tidak lagi mampu mengarahkan anaknya kejalan yang benar. Dalam hal ini seorang anak yang berani mempertahankan pendiriannya berbeda dengan orang tuanya, tetapi diyakininya selaras dengan perintah Allah, justru adalah anak yang takwa yang patut dijadikan teladan. Sekali lagi saya tidak bosan-bosan untuk menasehatkan terutama kepada mereka yang lebih muda dari saya, taat kepada orang tua atau kepada siapa saja haruslah dalam konteks taat kepada KEBENARAN ALLAH! Wassalam. Eko W Raharjo ______________________________________________________________ >From Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
