Ironis sekali Bang Idris ...
Menbaca email anda saya juga jadi teringat mentalitas bangsa sendiri yang 
inferior dan malah sebagian punya pandangan under estimate terhadap asset 
bangsanya sendiri ...
Contohnya bangsa kita lebih menghormati bule or orang asing yang mengaku 
expat padahal banyak londo expat yang nggak expert tapi karena mungkin 
kelamaan dijajah dan terbiasa sama " ndoro tuan" maka tiap kali liat bule 
seterusnya diposisikan sebagi "ndoro tuan". Sebenarnya banyak aset bangsa 
kita (profesional) yang banyak berkiprah di pasar global yang of course 
kompetisinya lebih berat tapi karyanya malah lebih di apresiasi oleh orang 
asing daripada bangsanya sendiri.
Kalo Bang Idris ingat pelajaran waktu SMP, SMA, atau malah SD yang 
mengatakan bahwa negara kita itu punya sumber daya melimpah, dan tenaga 
kerja yang MURAH etc...etc ... , saya pikir argument terakhir masalah tenaga 
kerja murah harus segera didelete dari kurikulum ...kalo tidak ya itulah 
sebabnya tenaga kita dibayar murah karena mereka sendiri sejak bayi ijo 
sudah di indoktrinasikan bahwa tenaga kerja kita itu murah ... yang pada 
gilirannya baik bangso dhewek dan orang asing juga nggak bisa menghargai 
bangsa kita ...
Sedangkan kalo kita mau realistis SDM kita itu nggak kalah mutunya dengan 
SDM negara lain ... cuman yaitu banyak yang mentalnya memang murahan ... dan 
itupun sebagian karena "diuber setoran"


Benny


>From: "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [UNDIP] ##### Keluhan Pengangkut Sampah di Depan Kampus
>Date: Wed, 4 Oct 2000 07:25:39 +0700
>
>      Saya pernah mengamati peristiwa berikut ini yang terjadi beberapa 
>tahun
>yang lalu :
>      Seorang pengangkut sampah yang badannya basah berkeringat duduk 
>sejenak
>di sebuah bangku tembok, dekat gerbang pintu masuk kampus yang di dalamnya
>terdapat sejumlah jurusan bidang teknik. Ia baru saja menarik roda yang
>penuh berisi sampah yang dikumpulkan di sekitarnya untuk kemudian dibawa ke
>pusat penampungan yang jaraknya entah berapa.
>      Sebentar kemudian temannya yang pengemudi becak menghampiri.
>Kepadanyalah, ia mengeluhkan pemborosan minyak tanah di rumahnya yang sulit
>dihindari. Untuk itu, ia berusaha mengumpulkan sampah berupa potongan kayu
>yang kira-kira bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar.
>      Sedangkan sang teman membalasnya dengan keluhan yang sama. Karena
>pemborosan minyak tanah tidak bisa dihindarinya, terpaksalah setiap sebelum
>menarik becak, ia pergi mencari kayu bekas.
>      Saya nggak tahu, apakah mereka tahu bahwa di kampus itu banyak sekali
>solusi penghematan minyak tanah? Yang jelas pengangkut sampah sudah banyak
>mengumpulkan sampah yang berasal dari kampus. Sedangkan pengemudi becak
>sudah sering menarik penumpang dari kampus.
>
>
>Salam,
>
>Nasrullah Idris
>----------------------
>P.O. Box 1380 - Bandung 40013
>Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
>http://bdg.centrin.net.id/~acu
>
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________________
> >From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
>Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.

Share information about yourself, create your own public profile at 
http://profiles.msn.com.

______________________________________________________________
>From "Benny Murdianto" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke