Wahid, Part of The Problems
***************************


Mengingat situasi keamanan yang semakin memburuk
diakhir tahun 2000, sudah selayaknya penegakan keamanan
dan ketertiban menjadi prioritas utama dari pemerintahan
Abdurahman Wahid di tahun 2001. Tetapi kecenderungan
dari pemerintahan sekarang dalam mengatasi masalah
keamanan dan ketertiban dengan menggunakan cara-cara
kekerasan militer ala rezim Suharto patut menjadi
keprihatinan.

Cara kekerasan militer telah terbukti gagal dalam
menciptakan masyarakat Indonesia yang aman dan tertib.
Kestabilan nasional yang pernah dibangga-banggakan
tidak lebih dari kondisi semu belaka. Dengan tidak
disentuhnya issu-issu pokok seperti keadilan ekonomi
dan sosial pada era orde baru, situasi masyarakat
Indonesia yang sebenarnya adalah seperti smouldering
volcano yang bisa meletus setiap saat.
 
Ada kemungkinan perintah tembak ditempat yang merupakan
'trade mark' rezim Suharto akan kembali diterapkan oleh
Wahid. Tidak saja cara kekerasan ini telah terbukti
membawa korban ribuan rakyat secara sia-sia tetapi telah
pula menjadi precedent DISRESPECT terhadap hukum dan
lembaga pengadilan. Hal yang terakhir inilah yang
menyebabkan munculnya rantai kekerasan dan tindakan main
hakim sendiri di masyarakat seperti kasus perang sipil
di Ambon. Perlakuan pemerintah Wahid terhadap Aceh
reminiscent perlakuan rezim Suharto terhadap Timor-
Timur dimana kekerasan militer dipakai sebagai sarana
utama untuk memaksa Aceh tetap tinggal dalam NKRI.

Semestinya pemerintah memperhatikan tuntutan rakyat
yang tidak pernah digubris oleh rezim Suharto, seperti
penegakan keadilan ekonomi, sosial dan hukum. Kenyataan
bahwa pemerintah tidak secara serius mengadili dan
memberi hukuman berat terhadap penjahat-penjahat yang
bertanggung jawab atas kebangkrutan ekonomi dan ketidak-
stabilan negara, menunjukkan tidak adanya usaha penegakan
keadilan hukum. Oleh karena itu hal seperti perintah
tembak ditempat terhadap penduduk yang melakukan kerusuhan
baik bermotifkan kriminal murni ataupun politik, seperti
kasus pembakaran Gereja, adalah sekedar cerminan dari
kesewenang-wenangan dan usaha pengalihan permasalahan
dari pemerintah yang tidak bisa diterima. 

Salah satu ketimpangan yang ada, dimana kelompok minoritas
Cina mendominasi mutlak perekonomian negara merupakan
issue riil yang telah lama menjadi sumber resentment dan
kerusuhan. Menurut saya situasi ini tidaklah khusus
Indonesia, seandainya minoritas Cina mendominasi
perekonomian di Kanada atau minoritas Turki mendominasi
perekonomian di Jerman tentu resentment dan kerusuhan
akan meledak disana. Pada kenyataannya, situasi yang sama
pernah terjadi di Malaysia pada tahun 60an. Pemerintah
disana tanggap terhadap situasi dan menemukan cara
pemecahan yang bisa diterima semua pihak. Antara lain
adalah disusunnya program jangka 20 tahunan untuk
menjadikan bumiputera Melayu menjadi tuan di negeri
sendiri. Tiga puluh ribu anak Cina Malaysia sekolah
di negara barat, sebanyak tiga puluh ribu pula anak
bumiputera dikirim sekolah di negara maju. Hasilnya,
Cina dan bumiputera sama-sama pinter dan sama-sama
makmur.

Kekawatiran bahwa penegakan keadilan ekonomi dan sosial
berarti pemunahan minoritas Cina adalah nonsense.
Sebaliknya situasi yang sekarang ini justru telah 
mendorong munculnya diskriminasi dan rasisme terhadap
minoritas Cina secara sembunyi-2 dan membuta. Ironisnya
korban yang jatuh sering adalah individu-2 Cina yang
tidak kaya dan yang tidak mempraktekkan kolusi dengan
pejabat. Pada era Suharto muncul pula kelompok-kelompok
yang mengatas namakan pribumi menuntut kemudahan-2
dan fasilitas-2 negara untuk kepentingan kelompoknya
sendiri. Penegakan keadilan ekonomi yang dijalankan
di Malaysia adalah bukan suatu kebijaksanaan politik
yang sembunyi-sembunyi dan tertutup melainkan secara
terbuka, fair dan kompetitif.
  
Pemerintahan dibawah Abdurahman Wahid telah berjalan
selama setahun. Namun belum ada tanda-tanda serius ybs
mendengarkan dengan seksama tuntutan rakyat banyak.
Sebaliknya rakyat disuguhi dengan berbagai langkah dan
kebijaksanaan yang bizarre dan provokatif darinya.
Antara lain, mengangkat penasehat ekonomi dari Singapura,
negara dimana penduduk etnik Cina mendominasi segalanya,
bukannya dari Malaysia yang mempunyai situasi yang serupa
dengan Indonesia; menjalin hubungan erat dengan Israel
yang notabene merupakan negara yang tidak menaruh respect
terhadap hak-hak dan kedaulatan kaum Muslimin di Timur
Tengah. Kebijaksanaannya terhadap Aceh pun tidak kurang
provokatif dan membingungkan. Sementara itu kasus seperti
Brunei Gate menunjukkan bahwa pemerintahannya juga
merupakan pemerintahan yang korup. Semakin benar kiranya
pendapat banyak orang bahwa Abdurahman Wahid tidak hanya
tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang ada, melainkan
he himself is part of the problems.  
  
Eko Raharjo
Calgary, Canada
______________________________________________________________
>From Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke