NO MSG!

Mancanegara (IV)

Sudah merupakan hal yang biasa restoran atau fastfood Cina,
Jepang, Korea bertebaran dikota-kota di negara barat seperti
di Calgary. Tetapi yang menarik perhatian adalah kebanyakan
dari restoran tsb memasang tanda NO MSG. Artinya masakan
yang mereka jual tidak mengandung Monosodium Glutamate bahan
utama dari bumbu masak seperti Ajinomoto, Miwon atau Moto
cap Mobil yang pernah populer didaerah Jawa Tengah. Alasannya
tidak lain karena masyarakat disini anti MSG. Bukan karena
sehubungan dengan issue kandungan babi melainkan kesehatan.

Sudah cukup lama masyarakat mengenal keluhan yang disebut
Chinese Restaurant Syndrome, yaitu, keluhan yang muncul
sehabis ngembat makanan direstoran Cina. Tanda-2nya kurang
lebih adalah kepala pusing badan meriang dan semlengeren.
Penyebabnya tak lain karena masakan-2 di restoran Cina pada
waktu itu heavily loaded dengan bumbu masak yang mengandung
MSG. Kemudian muncul pula kontroversi mengenai kemungkinan
bahwa MSG merupakan pula faktor dalam timbulnya penyakit
seperti kanker. Walhasil, dalam suatu waktu restoran Cina
pernah diasosiasikan sebagai pembawa penyakit dan dijauhi
masyarakat. Sekarang dengan mendeklarasikan diri merdeka
dari MSG, restoran Cina kembali digandrungi publik. Yang
menarik adalah meskipun tanpa bumbu masak, rasa makanan
direstoran Cina ternyata tak kalah lezat dari sebelumnya.

Tidak syak bahwa bumbu masak (MSG) seperti halnya rokok
(nekotin) atau coca cola (caffeine) itu addictive. Oleh
karena itu tidak heran kalau orang Indonesia yang belajar
di luar negeri akan sangu atau dikirimi bumbu masak secara
tidak tanggung-tanggung. Namun saya sempat kaget juga
ketika menjumpai teman satu kos saya di Jerman menyimpan
persediaan bumbu masak dalam toples besar gula pasir.
Cepat-cepat saya suruh kasih label karena saya tidak mau
keliru minum teh dengan moto sebagai gulanya.

Perlu beberapa waktu untuk bisa membebaskan diri dari
ketergantungan MSG. Kondisi yang baik adalah kalau sama
sekali tidak ada bumbu masak di dapur sehingga terpaksa
masak tanpa MSG. Tanda bahwa lidah Indonesia telah sembuh
dari jajahan gurihnya MSG adalah tiba-2 mampu merasakan
lezatnya Butter Bretzel, yakni makanan Jerman yang bentuknya
mirip dengan "roti kalong" (alat yang biasa dipakai untuk
berkelahi pada tahun 70 an). Bebas dari MSG ternyata
hikmahnya besar tidak hanya terbebas dari kemungkinan resiko
terkena penyakit-2 tertentu melainkan juga jadi mudah
menyukai makanan-2 dari mancanegara lainnya seperti makanan
Turki, Greek, Italiano,India, Maroko dll. Pendeknya nafsu
makan jadi kembali normal dan alamiah tanpa perlu di cekoki
dengan jamu temu ireng atau senenjong godog.

Eko Raharjo
Calgary 

______________________________________________________________
>From Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke