Sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang telah saya sampaikan masih "menggantung" dan nggak konkret. Apa yang hendak saya sampaikan adalah, bahwa selama ini dakwah lebih banyak menyentuh cabang-2nya penegakan syariat Islam sebagai hukum positif, kejujuran dan akhlaq mulia, ukhuwah dsb. dsb. Tapi esensinya nggak disentuh atau kalaupun ada hanya sebatas basa-basi dan pengantar saja. Penyadaran mengapa itu semua harus dilaksanakan nyaris diabaikan ? sehingga kebanyakan umat hanya sebatas beramal sebagai muqallid. Ada perbedaan antara seseorang yang beramal karena sekedar "care" atau sekedar berbuat baik dengan orang yang beramal karena mengharap ridlo Rabb-nya. Akan berbeda nilainya orang yang berprinsip "pokoknya saya berbuat baik dan tidak merugikan orang lain", dengan orang yang beramal dengan amalan yang sama tapi dilandasi oleh keyakinan yang lurus bahwa itu adalah jalan menuju Ridlo-Nya. Di sinilah yang seharusnya lebih banyak disentuhkan kepada hati-2 kita. Saya yakin orang yang lurus aqidahnya tidak akan berbicara tentang suatu kebaikan dan meninggalkan kebaikan lain dalam batas-batas kemampuannya.
Kemudian tentang "indah"-nya fenomena di negeri yang lain tersebut saya tujukan kepada ghirah kaum muslimin di sana yang beramal dengan sepenuh hati dan itu yang sepantasnya kita ambil ibrahnya, dan bukan kepada kehidupan negeri itu secara umum. Wallahu A'lam [EMAIL PROTECTED] wrote: > Seringkali kita merasa pesimis jika melihat > realita masyarakat Muslim di sekitar kita tidak seindah apa > yang ada di negeri-2 yang notabene bukan negara muslim. Yang > seharusnya kita cermati adalah mengapa dan bagaimana sikap > positif ini bisa terbentuk?metode apa yang digunakan untuk > membentuk masyarakat yang demikian? *********************************************** Eko Raharjo: Yang namanya REALITA itu selalu terdiri dari baik dan buruk, indah dan ugly, tidak perduli di masyarakat barat atau timur Muslim atau non Muslim. Adalah keliru kalau melihat bahwa kehidupan di barat (non Muslim) baik melulu. Cuma bedanya, masyarakat barat terus maju dengan masalah dan tantangan BARU, masyarakat Indonesia berkutet dengan masalah itu-itu saja dan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Perkara pencurian sandal di Mesjid, orang harus melihat realita baik-baik. Apakah bukan karena masih ada kelompok masyarakat yang tidak mampu membeli sandal? Kalau memang demikian, masyarakat harus responsive terhadap kebutuhan kaum kecil dilingkungan yakni dengan gerakan donasi sandal di mesjid-mesjid. Hal yang sama dilakukan disini, setiap mau memasuki musim Winter selalu ada aksi Jacket Racket, dimana masyarakat mengumpulkan donasi jackets, coats dst untuk the needy. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkara dosa. Kalau ada yang berdosa itu adalah justru pihak masyarakat mampu namun ignorant terhadap kebutuhan kelompok yang tidak mampu. Saya mengamati banyak orang Muslim yang belum berusaha mikir sudah merasa minder: "Di mesjid sandal jepit di tilap sedangkan di gereja piano dan organ selalu ada". Let me explain, kalau gereja tidak dikunci saya tanggung itu barang pasti kabur. Kalau pengin tidak kehilangan sandal japit, ya gembok saja (dan dikalungkan keleher). Tentu saja ruginya sembahyang jadi tidak khidmat. Gereja di gembok ada juga ruginya yakni bisa disalah gunakan untuk perbuatan mesum dari Pastor pemilik gereja. Saya tidak ngarang!. Banyak bukti dan alegasi mengenai hal ini. Poin saya, mesjid tidak perlu dibandingkan dengan gereja. Juga kita tidak perlu obsessive membandingkan dinamika masyarakat diluar negeri dengan di tanah air. Mengapa disini banyak jualan TANPA ditunggui termasuk juga di gas station (pompa bensin), sebab kebanyakan orang pada sibuk dan tenaga kerja mahal! Di Indonesia dimana banyak orang nganggur kenapa sok tiru-tiru masyarakat disini, kan lebih baik kasih kerjaan itu orang, atau berilah kesempatan untuk bervolunteer. Marilah pakai common sense, apa gunanya PAMER atau punya impian bahwa masyarakt Muslim hendaknya jujur, menuntut kalau ada makanan di meja yang bukan miliknya meskipun perut lapar dan kantong kosong (atau ada tapi untuk bayar uang pangkal sekolah) sebaiknya dipandangi saja itu makanan. Ini namanya menyiksa orang! dan justru tidak islami. Dalam masyarakat barat (non Islam) pun tidak kurang copet, maling, gentho dst. Namun bedanya masyarakat disini pakai common sense dan hukum benar-benar ditegakkan. Akhir kata, syah-syah saja bermimpi mengenai surga namun selesaikan dulu perkara dunia. Kurang masuk akal kalau berkotbah mengenai kejujuran sementara itu kita tidak perduli terhadap kemiskinan orang. Juga kurang etis untuk bicara soal dosa dengan orang yang kelaparan. Wassalam, Eko Raharjo --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #112 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #117 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
