Poligami ala Islam ******************
Poligami selalu dipraktekkan secara luas dalam masyarakat mana saja, pada jaman dulu maupun sekarang. Dalam masyarakat barat misalnya, kebanyakan orang mempunyai pasangan lebih dari satu baik dalam kurun waktu yang sama atau berbeda. Dalam kalangan Gereja, priest (Pastor Katolik) yang menyatakan diri sebagai selibat pun banyak yang mempraktekkan poligami. Islam tidak sekedar memperbolehkan praktek poligami, melainkan yang lebih penting adalah juga memberikan persyaratan-2 dan tuntunan-2. Poligami dalam Islam punya pengertian yang sangat berbeda dengan praktek poligami yang dianut oleh non-Muslim. Dalam Islam poligami harus dipraktekkan sebagai bagian dari keimanan seseorang terhadap Islam. Jadi harus berdasar pada motif luhur yang segaris dengan Islam. Penuh compassion dan intensi untuk menaikkan harkat dan martabat wanita (status ekonomi,sosial,dst). Oleh karena itu poligami dalam Islam merupakan suatu perkara yang serius, bukan suatu kegiatan semacam rekreasi(seks) seperti yang menjadi pengertian masyarakat non-Muslim pada umumnya. Bukan pula suatu kegiatan sembunyi-sembunyi, melainkan suatu tindakan yang terkait langsung pada status dan tanggung jawab seseorang sebagai Muslim. Sebagai konsekuensinya poligami dalam Islam harus berada dalam ikatan pernikahan yang disyahkan oleh institusi agama dan disaksikan oleh komunitas Muslim sekitarnya. Anehnya justru hal ini lah yang mendapat tentangan keras dari pihak non-Muslim. Sebaliknya mereka tidak keberatan seandainya seorang Muslim berpoligami ala pengertian mereka, dimana seseorang mempunyai pasangan "ganda" secara tidak syah dan sembunyi-sembunyi. Tidak pula menjadi kepedulian mereka bahwa dalam 'casual' polygamy seperti itu wanita selalu berada dalam posisi lemah dimana dapat dipastikan berakhir dengan kehancuran martabat dan harga dirinya. Dalam Islam hubungan semacam itu ditentang dan dinistakan. Islam pulalah yang punya prinsip kemanusiaan yang amat luhur dan bijaksana, yakni mempermudah pernikahan dan mempersulit perceraian (dengan sistem talak dst). Adalah amat menyedihkan bahwa masyarakat barat semakin dipenuhi oleh single-mother family karena tingginya perceraian dan rendahnya pernikahan. Konsekuensinya, disini banyak anak-2 yang tumbuh tanpa didikan ayah, bahkan tanpa tahu pula siapa ayahnya. Tidak pelak, harkat kemanusiaan menjadi merosot. Kelebihan utama dari masyarakat manusia, yang tidak dipunyai oleh kelompok mahluk lainnya, adalah anak manusia diasuh (dibesarkan) oleh ayahnya. Maka tidak mengherankan bahwa menurut statistik di Kanada, anak- anak yang dibesarkan tanpa ayah punya kecenderungan untuk tumbuh menjadi manusia tidak normal(bermasalah, kriminal,dst). Senyatanya mereka yang anti terhadap poligami ala Islam adalah golongan orang-orang yang tidak mampu menatap realita. Oleh karena itu pula yang dijadikan dasar dari argumen mereka adalah sesuatu yang unreal, fantasy yang dicari-cari; seperti alasan perendahan derajat wanita. Sekali lagi poligami ala Islam merupakan pernikahan syah dan terbuka tanpa paksaan dan tekanan apapun. Sesungguhnyalah, dalam pernikahan polygami ala Islam penekanannya adalah pada pengutamaan kepentingan dari pihak wanita. Berbahagialah kaum Muslim karena telah memeluk agama yang memuliakan pernikahan. Celakalah kaum yang dilarang untuk menikah seperti pastor-pastor Katolik. Mereka adalah kaum kikir dan pengecut. Pernikahan diharamkan karena dianggap merongrong harta kekayaan mereka. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi hamba Allah kalau tidak rela memberi nafkah dan tidak mau bertanggung jawab kepada wanita yang ditidurinya dan anak-anak yang dilahirkannya? Maka hiduplah mereka dalam bayang-bayang kenistaan, mengumbar syahwat secara sembunyi-sembunyi bagai gerombolan coyote. Jika poligami berpotensi mendatangkan keluhuran mengapa tidak banyak umat Islam yang melakukannya? Tidak lain karena kaum Muslim diajar untuk bersikap rendah hati, tidak sombong. Setiap Muslim terpelajar akan menyadari bahwa diperlukan kualitas pribadi yang amat tinggi untuk meningkatkan harkat seorang wanita dengan cara poligami. Dalam banyak kasus seorang pria bisa membantu meningkatkan martabat seorang wanita tanpa harus menikahinya (poligami). Akhir kata, umat Islam hendaknya tidak menutup mata akan adanya abuse atas poligami ala Islam. Seorang Muslim yang menikahi beberapa wanita karena kekuasaan atau kekayaan yang dimilikinya tidaklah mempraktekkan poligami ala Islam, melainkan tidak lebih dari a bastard yang berusaha menutupi his low self-esteem. Hal ini tidak berbeda dengan raja-raja jaman dahulu yang merentengi wanita untuk koleksi haremnya. Pada jaman sekarang bukan kekuasaan atau monarchi yang menjadi dorongan perbudakan terhadap wanita melainkan economic force. Tidak sedikit mahasiswi yang terbujuk untuk menjual keperawanannya di hotel-2 di Gombel Semarang atau Kaliurang, Yogyakarta kepada para "calo" ekonomi. Yap! pelacuran adalah musuh utama dari kaum wanita! Tetapi mengapa tidak ada yang bercuap anti pelacuran sebaliknya malahan mencerca poligami ala Islam? Jawabnya dua kata : STUPID!, HYPOCRITE!. Eko Raharjo Calgary --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #180 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
