|
SURAT DARI MARIYAH
![]() [AP]
Kepada: Saudara-saudaraku di
Jakarta yang berbahagia,
Aku selalu ikut bahagia
mendengar kabar kalian di Jakarta yg "berbahagia" masih bisa
menonton Konser Krisdayanti, berbelanja di mall-mall, makan minum
setiap hari di cafi-cafi, atau bisa kuliah sampai pasca sarjana.
Kami mencoba merasakan kebahagian itu, kendati semua itu hanya ada
di "mimpi-mimpi" kami.
Aku juga ikut sedih
kala saudara-saudaraku di Bali menjadi korban bom, dan sekarang
(kabarnya) juga kembali terjadi di Jakarta. Kami sangat bisa
merasakan kesedihan itu, karena kami SUDAH SERING kehilangan
orang-orang tercinta
Tapi, bisakah kalian
MERASAKAN apa yang kami rasakan di Aceh saat ini: setiap hari
berlari di tengah desingan peluru dan roket/bom yang berjatuhan,
serta melihat lebih banyak mayat, darah, luka, kesedihan, dan
ketakutan?
BIASAKAH KALIAN
MEMBAYANGKANNYA?
Aku bersama sejumlah janda
yang dicari-cari oleh TNI/Polri, terpaksa mengungsi/bersembunyi di
dalam hutan. Anakku yang masih kecil kutitipkan pada Ibu (neneknya)
yang bersama warga kampungku telah mengungsi ke camp pengungsi atas
perintah TNI.
Kalian mungkin akan
bertanya: Mengapa aku harus sembunyi? Apakah aku punya salah? Ya.
Pertanyaan ini selalu mengusik hatiku: APAKAH AKU BENAR-BENAR
BERSALAH?
Masalahnya adalah, aku
tak bisa kuliah bahkan tak mampu menamatkan Madrasah Aliyah, karena
orangtuaku miskin. Rumah kami dibakar. Suamiku mati ditembak
semena-mena semasa Jeda Kemanusiaan (pada masa damai) tahun 2001
lalu. Salahkah kalau aku sakit hati?
Lalu aku mendengar ceramah
tentang Negara Aceh yang dulu pernah berdaulat selama empat abad.
Bersama perempuan-perempuan dari desa lain, kami mulai merajut
MIMPI: Andai kami nanti merasakan kemerdekaan yang sebenarnya,
rakyat Aceh akan mengatur hidupnya sendiri dalam sebuah negara
kecil. Rakyat lebih cepat sejahtera dari hasil bumi yang ada.
Keadilan ditegakkan. Jika satu orang mati di sebuah kampung,
"presiden kami" ikut prihatin, dan "polisi kami" mengusutnya dengan
sungguh-sungguh.
Andai merdeka nanti, Aku
akan kuliah lagi. Aku bisa bekerja dengan gaji lumayan, dan mampu
membangun rumah yang layak untuk keluargaku. Aku akan melihat
kampung kami damai dan makmur. Tiap tahun, zakat yang kami kumpulkan
akan kami sumbang untuk saudara-saudara kami di Bengkulu, Jambi,
bahkan di Pulau Jawa.
APAKAH MIMPI ITU SALAH atau
HARAM saudaraku?
Padahal Aku tak berzina, tak
melakukan korupsi, dan tak mencuri. Kami juga tak merampok tanah
milik orang lain. Aku lahir dan besar di tanah ini. Bukankah ini
tanah kami? Aku juga tak pernah membunuh orang,
karena sebetulnya aku tak punya senjata.
TAPI, MENGAPA KAMI TERUS
DIBURU TENTARA?
Kami sangat ketakutan.
Setiap kali ada helikopter atau pesawat TNI melintas di atas, kami
harus berlari-lari bersembunyi menyelamatkan diri agar terhindar
dari bom dan roket yang dijatuhkan. Beberapa temanku telah
ditangkap, dan ada yang dibunuh.
Paman seorang temanku
harus diamputasi kakinya akibat ditembak tentara. UNTUNG dia masih
hidup. Karena sudah terlalu banyak yang mati. Sudah tak terhitung
lagi. Ada yang tak ditemukan mayatnya. Ada pula yang sempat
disembahyangkan dan dikubur.
Di desa tetangga, ada anak
SMP yang diperkosa tiga tentara, 23 Mei 2003 lalu. Rasa sakit dan
vaginanya bernanah, masih bisa ditahan. Tapi, sekarang, sudah dua
bulan ia tak mendapat haid. Dia datang padaku dan menangis, "Saya
tak mau hamil! Saya mau sekolah lagi! Tolonglah saya!" katanya,
sambil terus menangis.
Saudaraku, KAMI HARUS
MENGADU KEMANA?
Sudah hampir tiga bulan aku
dan teman-temanku tak bisa keluar dari hutan ini. Kami hanya makan
nasi dan ikan asin sehari sekali. Kadang kami mencari kelapa muda
atau apa saja yang bisa dimakan. Tadi malam, bayi temanku meninggal
dalam pelukan ibunya akibat diare dan kekurangan gizi...
Sudah hampir tiga bulan kami
tak pernah nonton teve lagi. Tempo hari, aku sering menonton di
teve, kalian di Jakarta berdemo menentang perang Iraq. Ribuan orang
turun ke jalan untuk memprotes perang Iraq. Mendukung
perdamaian. Adakah sekarang kalian juga turun ke
jalan MENENTANG PERANG di Aceh? Aku ingin sekali menontonnya!
Karena KAMI JUGA CINTA DAMAI
seperti kalian. Kami ingin perang segera
berakhir...
Aku rindu sekali pada anakku. Aku
harus bekerja lagi di sawah untuk memberi makan anakku...
Nisam, 5 Agustus 2003
Salam dari Aceh,
MARIYAH |