----- Original Message -----
Sent: Tuesday, August 12, 2003 4:39 PM
Subject: [say-no-to-war] SURAT DARI MARIYAH

 

SURAT DARI MARIYAH


[AP]

 Kepada: Saudara-saudaraku di Jakarta yang berbahagia,

    Aku selalu ikut bahagia mendengar kabar kalian di Jakarta yg "berbahagia" masih bisa menonton Konser Krisdayanti, berbelanja di mall-mall, makan minum setiap hari di cafi-cafi, atau bisa kuliah sampai pasca sarjana. Kami mencoba merasakan kebahagian itu, kendati semua itu hanya ada di "mimpi-mimpi" kami.

     Aku juga ikut sedih kala saudara-saudaraku di Bali menjadi korban bom, dan sekarang (kabarnya) juga kembali terjadi di Jakarta. Kami sangat bisa merasakan kesedihan itu, karena kami SUDAH SERING kehilangan orang-orang tercinta

     Tapi, bisakah kalian MERASAKAN apa yang kami rasakan di Aceh saat ini: setiap hari berlari di tengah desingan peluru dan roket/bom yang berjatuhan, serta melihat lebih banyak mayat, darah, luka, kesedihan, dan ketakutan?

     BIASAKAH KALIAN MEMBAYANGKANNYA?

    Aku bersama sejumlah janda yang dicari-cari oleh TNI/Polri, terpaksa mengungsi/bersembunyi di dalam hutan. Anakku yang masih kecil kutitipkan pada Ibu (neneknya) yang bersama warga kampungku telah mengungsi ke camp pengungsi atas perintah TNI.

     Kalian mungkin akan bertanya: Mengapa aku harus sembunyi? Apakah aku punya salah? Ya. Pertanyaan ini selalu mengusik hatiku: APAKAH AKU BENAR-BENAR BERSALAH?

     Masalahnya adalah, aku tak bisa kuliah bahkan tak mampu menamatkan Madrasah Aliyah, karena orangtuaku miskin. Rumah kami dibakar. Suamiku mati ditembak semena-mena semasa Jeda Kemanusiaan (pada masa damai) tahun 2001 lalu. Salahkah kalau aku sakit hati?

    Lalu aku mendengar ceramah tentang Negara Aceh yang dulu pernah berdaulat selama empat abad. Bersama perempuan-perempuan dari desa lain, kami mulai merajut MIMPI: Andai kami nanti merasakan kemerdekaan yang sebenarnya, rakyat Aceh akan mengatur hidupnya sendiri dalam sebuah negara kecil. Rakyat lebih cepat sejahtera dari hasil bumi yang ada. Keadilan ditegakkan. Jika satu orang mati di sebuah kampung, "presiden kami" ikut prihatin, dan "polisi kami" mengusutnya dengan sungguh-sungguh.

    Andai merdeka nanti, Aku akan kuliah lagi. Aku bisa bekerja dengan gaji lumayan, dan mampu membangun rumah yang layak untuk keluargaku. Aku akan melihat kampung kami damai dan makmur. Tiap tahun, zakat yang kami kumpulkan akan kami sumbang untuk saudara-saudara kami di Bengkulu, Jambi, bahkan di Pulau Jawa.

   APAKAH MIMPI ITU SALAH atau HARAM saudaraku?

    Padahal Aku tak berzina, tak melakukan korupsi, dan tak mencuri. Kami juga tak merampok tanah milik orang lain. Aku lahir dan besar di tanah ini. Bukankah ini tanah kami? Aku juga tak pernah membunuh orang, karena sebetulnya aku tak punya senjata.

    TAPI, MENGAPA KAMI TERUS DIBURU TENTARA?

    Kami sangat ketakutan. Setiap kali ada helikopter atau pesawat TNI melintas di atas, kami harus berlari-lari bersembunyi menyelamatkan diri agar terhindar dari bom dan roket yang dijatuhkan. Beberapa temanku telah ditangkap, dan ada yang dibunuh.

     Paman seorang temanku harus diamputasi kakinya akibat ditembak tentara. UNTUNG dia masih hidup. Karena sudah terlalu banyak yang mati. Sudah tak terhitung lagi. Ada yang tak ditemukan mayatnya. Ada pula yang sempat disembahyangkan dan dikubur.

    Di desa tetangga, ada anak SMP yang diperkosa tiga tentara, 23 Mei 2003 lalu. Rasa sakit dan vaginanya bernanah, masih bisa ditahan. Tapi, sekarang, sudah dua bulan ia tak mendapat haid. Dia datang padaku dan menangis, "Saya tak mau hamil! Saya mau sekolah lagi! Tolonglah saya!" katanya, sambil terus menangis.

    Saudaraku, KAMI HARUS MENGADU KEMANA?

    Sudah hampir tiga bulan aku dan teman-temanku tak bisa keluar dari hutan ini. Kami hanya makan nasi dan ikan asin sehari sekali. Kadang kami mencari kelapa muda atau apa saja yang bisa dimakan. Tadi malam, bayi temanku meninggal dalam pelukan ibunya akibat diare dan kekurangan gizi...

    Sudah hampir tiga bulan kami tak pernah nonton teve lagi. Tempo hari, aku sering menonton di teve, kalian di Jakarta berdemo menentang perang Iraq. Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes perang Iraq. Mendukung perdamaian.  Adakah sekarang kalian juga turun ke jalan MENENTANG PERANG di Aceh?  Aku ingin sekali menontonnya!

    Karena KAMI JUGA CINTA DAMAI seperti kalian. Kami ingin perang segera berakhir...

   Aku rindu sekali pada anakku. Aku harus bekerja lagi di sawah untuk memberi makan anakku...

Nisam, 5 Agustus 2003

Salam dari Aceh,

MARIYAH



Kirim email ke